
Dua minggu telah berlalu. Dari awal Breena KOAS di hari pertama nya yang sukses membuat mood nya jelek. Dan berakhir dengan ia yang jalan jalan dengan teman nya ke Mall.
Breena pun menjalani KOAS nya dengan tenang. Tidak ada kendala yang terlalu berat untuk nya. Ia pun hanya mendapat kan dua shift saja. Yaitu pagi dan siang. Untuk shift malam itu tidak berlaku untuk nya. Bukan karena ia anak dari pemilik rumah sakit. Tetapi karena ia yang sedang hamil.
Memang peraturan dari rumah sakit seperti itu. Bagi siapa pun yang hamil, baik perawat dan Dokter. Maka shift malam tidak di berlakukan untuk mereka. Mereka hanya akan masuk di dua shift saja.
Sedang kan untuk Wily, ia akan masuk di tiga shift itu. Dengan jadwal yang sudah di atur oleh Dokter Doni. Dan Wily pun juga sudah menempati mess dari rumah sakit.
Sebuah mess yang bisa di bilang mewah. Dengan fasilitas yang lengkap di dalam nya. Wily adalah Dokter KOAS yang beruntung karena mendapat kan Mess itu. Mess itu sebenar nya di sediakan hanya untuk Dokter Dokter tetap. Tetapi karena Papa Doni yang melihat Wily yang bukan asli orang Jakarta pun. Akhir nya memberikan nya izin menempati salah satu kamar di Mess tersebut.
...----------------...
Tak hanya Breena dan Wily yang menjalani KOAS mereka dengan lancar tanpa kendala. Di Pratama.Corp Dayyan juga mengerjakan pekerjaan nya tanpa ada nya kendala yang membuat nya emosi. Semua pekerjaan nya sangat lancar. Bahkan di sela sela kesibukan nya mengurus kantor. Ia masih sempat sempat nya berdakwah di beberapa Masjid dan acara acara syukuran.
Bahkan kalau pun sempat dan waktu nya tidak bertabrakan dengan waktu KOAS nya sang istri. Ia juga akan mengajak isrti nya itu mengisi acara nya berdakwah.
Breena selalu bersemangat kalau di ajak sang suami menemani nya berdakwah. Dengan semangat Ibu hamil itu akan duduk di depan memandangi sang suami sambil mengelus perut buncit nya.
...----------------...
Hari ini Ani sedang sibuk dengan mengurusi suami nya yang sedang dalam mode manja. Entah kenapa beberapa hati ini suami nya itu senang sekali bermanja manja dengan nya. Bahkan Quin pun kalah manja nya dari sang Daddy.
Seperti pagi ini, dengan tak tau malu nya Brian meminta Ani menyuapi nya saat mereka sedang sarapan.
"Sayang" panggil nya manja. Membuat semua yang ada di meja makan itu menatap nya heran.
"Iya Mas bentar. Ani nyuapi Quin dulu"
"Sayang. Mas juga mau di suapin" rengek Brian membuat semua yang ada di situ bergidik ngeri melihat nya.
"Kamu kenapa sih Bri? Kenapa jadi manja gini?" tanya Mommy Aletha.
__ADS_1
"Nggak tau Mom. Brian pengen di suapin pagi ini" ucap Brian manja.
"Huft. Ani suapin suami kamu itu. Biar Quin Mommy yang suapin. Entah kenapa pagi ini dia uda seperti anak kecil yang makan nya minta di suapin" ucap Mommy Aletha memandang sinis anak nya.
"Baik Mom"
Ani pun mulai menyuapi suami nya, dengan makanan yang sudah berada di atas piring suami nya.
Dengan telaten Ani menyuapi nya sampai habis. Brian pun bahkan tambah ketika nasi yang ada di piring nya itu habis.
"Sayang, hari ini vonis untuk keluarga nya Paman Arsenal. Apa kamu mau menghadiri nya?" tanya Brian ketika ia sudah selesai menghabis kan sarapan nya.
"Emm apa wajib datang iya Mas?" tanya Ani ragu.
"Iya nggak juga. Kan bisa di wakil kan sama Paman Aska. Sekarang tinggal kamu nya aja. Mau datang apa nggak?" ucap Brian lembut.
Ani masih terdiam. Ia sangat ragu untuk datang ke sidang vonis Paman nya itu.
"Ani akan datang Mom. Tapi Mas juga ikut iya" ucap Ani penuh harap kalau suami nya bisa ikut menemani nya.
"Iya sayang pasti Mas akan menemani kamu kesana"
Setelah itu mereka semua pun bubar untuk memulai aktivitas nya. Daddy Martin yang akan ke kantor untuk menggantikan Brian. Mommy Aletha yang akan pergi ke salon bersama dengan Mommy Rianti dan Mama Ratih. Sedang kan Quin sudah pergi bersama pengasuh nya bermain di halaman belakang.
Ani dan Brian sedang bersiap menuju ke pengadilan untuk menyaksikan jalan nya persidangan keputusan hari ini.
Beberapa menit berada di jalan, akhir nya Ani dan Brian pun sampai di pengadilan. Mereka sudah melihat Paman Aska nya sudah berdiri di dekat pintu masuk ruang sidang menunggu mereka.
"Itu Paman sayang. Ayo kita kesana" ajak Brian sambil menggandeng tangan Ani.
Ani hanya diam. Ia mengikuti kemana pun suami nya membawa nya. Ani masih menguasai hati nya yang mulai gelisah tak karuan.
__ADS_1
"Assalamualaikum Paman" sapa Brian ketika ia dan Ani sudah berada di dekat Bagaskara.
"Wa'alaikum salam. Kalian sudah sampai?" jawab Bagaskara.
"Iya Paman baru saja"
"Iya uda kalau begitu ayo kita masuk. Sebentar lagi persidangan nya akan di mulai" ajak Bagaskara.
Ani dan Brian pun mengikuti Bagaskara dari belakang. Mereka duduk di bangku paling depan.
Tak lama mereka duduk. Persidangan pun di mulai. Sejak dimulai nya persidangan Arsenal lebih banyak menunduk kan kepala nya. Ia sangat menyesali perbuatan nya. Hanya karena hasutan dari istri nya yang tak mau hidup miskin. Ia sampai gelap mata melenyap kan Ayah tiri dan saudara tiri nya beserta istri nya.
Hakim pun sudah mulai membacakan vonis. Yang pertama di bacakan vonis nya adalah Alya Sativa istri dari Arsenal Ezio. Alya di jatuhi hukuman 20 tahun penjara. Karena ia telah menghasut suami nya untuk melenyapkan keluarga Admaja agar seluruh harta keluarga Admaja jatuh ke tangan mereka.
Alya yang menerima vonis hukuman selama 20 tahun penjara itu pun tidak terima. Ia berteriak memaki hakim yang sudah menjatuh kan vonis kepada nya.
Lalu ia berbalik dan menatap Ani dan Bagaskara dengan tatapan kebencian.
"Ini semua gara gara kamu anak sialan. Kalau kamu tidak kembali. Maka semua ini tidak akan terjadi" maki nya meneriaki Ani.
Ani yang mendapat teriakan seperti itu pun hanya bisa menunduk. Tak terasa air mata nya pun menetes. Baru kali ini ia di teriaki seperti itu.
Polisi yang melihat kekacauan itu pun langsung mengaman kan Alya dan membawa Alya ke dalam sel tahanan yang ada di pengadilan itu.
Sedang kan Arsenal yang melihat kelakuan istri nya itu pun menunduk malu. Ia dengan ragu menatap kearah Ani dan Bagaskara. Bisa dilihat nya punggung keponakan nya itu bergetar di dalam pelukan suami nya. Sedangkan suami nya sedang berusaha untuk memberikan kekuatan dan menghentikan nya menangis.
Ada tatapan kesedihan yang ia perlihat kan. Ia sedih melihat keadaan keponakan nya itu. Namun tatapan sedih itu pun berganti cepat menjadi tatapan yang menyesal dan bersalah. Sungguh ia sangat menyesal mengikuti keinginan istri nya itu yang gila harta.
Sedangkan Lio hanya bisa menunduk. Ia pun merasa bodoh mau saja mengikuti rencana Mama nya. Bahkan ia juga mengancam Papa nya juga kalau ia tak mau hidup miskin.
Sungguh penyesalan mereka tak ada arti nya saat ini.
__ADS_1