
Dayyan dan ansel begitu serius membahas masalah bisnis mereka. Bahkan Ansel sampai membiarkan kekasihnya bersama dengan Anita.
Iya Windy dan Anita sedang mengobrol tentang apa saja yang mereka alami didalam ruang sidang tadi selama berjam jam. Mereka banyak dicecar pertanyaan pertanyaan dari dosen penguji mereka. Dan syukur nya mereka berdua mampu menjawab pertanyaan yang mereka anggap sebagai pertanyaan jebakan itu. Dengan kata lain mereka berdua telah lulus dan tinggal menunggu wisuda nya. Dan kini mereka tinggal menunggu Breena.
Sangking serius nya Dayyan dan Ansel membahas masalah bisnis. Kedua lelaki tampan itu tak menyadari kalau keluarga mereka datang.
Bahkan bisik bisik pun terjadi disana. Karena kehadiran dari seorang Brian Anderson. Siapa yang tak mengenal nya. Semua mahasiswa disana mengenal dirinya sebagai mantan calon tunangannya Breena.
"Ekhem"
Suara deheman yang keras mengalihkan keseriusan antara Dayyan dan Ansel. Mereka berdua beralih kearah suara. Dan ternyata itu adalah suara deheman nya Papa Doni.
Dapat dilihat oleh Dayyan dan Ansel. Kalau disamping Papa Doni ada Mama Ratih. Dibelakang nya ada kedua orang tua Dayyan. Lalu Mbak Ani, Brian dan Quin. Mereka sudah seperti satu keluarga bahagia.
"Papa kesini juga?" tanya Dayyan yang masih tak menyangka dengan kehadiran mertua nya disana.
"Iya lah. Emang kamu aja yang mau nemanin Breena. Papa sama yang lain juga mau kali" protes Papa Doni.
Seketika Dayyan tersadar, ia pun berjalan menghampiri mertua dan kedua orang tua nya. Ia menyalami dan mencium tangan keempat paruh baya itu.
Begitu pun juga dengan Ansel.
"Papa apa kabar?" sapa Ansel.
"Alhamdulillah Papa baik. Kamu kenapa nggak pernah lagi kerumah?" tanya Papa Doni.
"Hehehe sibuk Pah. Urusan kantor banyak banget" keluh Ansel.
"Mah" ucap Ansel sambil mengulurkan tangan nya. Namun Mama Ratih justru memeluk nya.
Ansel pun juga membalas pelukan itu. Bahkan ia sampai meneteskan air matanya. Ia begitu menyayangi Mama Ratih. Mama yang selalu merawat nya dulu saat kecil sampai ia SMA.
"Anak nakal. Kenapa nggak pernah lagi kerumah. Kamu uda nggak ingat sama Mama mu ini? Apa kamu uda dapat Mama baru makanya kamu lupa sama Mama. Uda nggak sayang lagi sama Mama?" omel Mama Ratih didalam dekapan nya Ansel.
"Ansel selalu ingat sama Mama. Ansel nggak pernah nggak sayang sama Mama. Tapi beneran Ansel lagi sibuk banget Mah sama urusan kantor. Maafin Ansel Mah" jelas Ansel lembut.
Papa Doni yang melihat interaksi antara istri dan anak kakak nya itu pun hanya bisa menggelengkan kepala nya. Ia tau kalau istrinya itu sangat menyayangi Ansel.
"Uda drama nya Mah. Nggak malu dilihat sama besan dan mahasiswa lain nya?" tanya Papa Doni.
"Biar aja orang sama anak sendiri juga" cemberut Mama Ratih.
"Ayo duduk dulu Pah Mah Bah Umma" ucap Dayyan mempersilahkan para orang tua duduk dikursi tunggu yang ada.
Kedua sahabat Breena pun mendekat. Mereka menyalami tangan kedua orang tua dan mertua Breena.
...----------------...
Sedangkan di perusahaan Pratama.Corp tampak seorang pria tengah mengomel. Ia mengomelin atasan nya yang tiba tiba saja mengabarinya kalau ia tidak bisa datang ke kantor.
Iya dia adalah Dion, asisten nya Dayyan. Sedari tadi ia terus sama mengomel.
__ADS_1
"Kenapa sih Mas ngomel mulu dari tadi" keluh Anggi yang merasa bosan melihat kekasihnya terus saja mengomel tanpa henti.
"Sebel sayang sama atasan kamu itu. Uda tau kerjaan dikantor lagi banyak. Eehh malah dia tiba tiba aja bilang nggak bisa datang ke kantor. Mana ada meeting lagi nanti"
"Kalau kamu lupa atasan aku itu sahabat kamu juga loh Mas. Mungkin dia lagi ada urusan penting Mas. Jadi nggak bisa datang hari ini. Apa kamu uda tanya apa alasan nya nggak datang Mas?" tanya Anggi lembut sambil mengelus lengan kekasih nya itu.
"Kata nya Breena sidang sayang. Jadi dia mau nemanin Breena"
"Iya wajar sih Mas kalau dia nggak datang. Secara yang sidang istri kesayangannya. Uda iya jangan ngomel lagi. Ingat Mas kita mau tunangan loh"
"Iya sayang iya Mas nggak ngomel lagi. Iya uda Mas ke ruangan Mas dulu iya" pamit Dion yang hanya di anggukin oleh Anggi. Tak lupa sebelum pergi ia menyempatkan untuk mencium kening kekasih nya itu.
...----------------...
Kembali ke kampus Breena.
Bisik bisik masih terdengar disekitaran keluarga Breena karena keberadaan Brian.
Ansel yang sedari tadi tidak fokus pun beralih menatap ke arah Brian.
"Mau apa Lu kesini?" tanya Ansel dengan nada yang tak bersahabat.
"Mau ikut aja nemanin Breena sidang. Apa nggak boleh?" tanya Brian santai.
"Pah bisa jelasin kenapa orang satu ini ada disini juga sama Papa?" tanya Ansel pada Papa Doni.
"Uda jangan ribut disini Sel. Nanti Papa jelasin dirumah iya. Papa nggak mau tau sepulang dari sini kamu harus nginap dirumah" ucap Papa Doni tegas tanda ia tidak menerima penolakan.
Sudah 2 jam lebih mereka menunggu Breena yang sedang berjuang diruang sidang. Mereka tampak gelisah.
Tepat di 3 jam mereka menunggu, akhirnya Breena keluar dengan senyum yang mengembangnya.
Semua anggota keluarga nya pun berdiri menyambut Breena. Dan orang pertama yang di carinya adalah sang suami.
Breena menatap kesegala arah. Berharap ia dapat melihat keberadaan suaminya. Namun ia tak menemukan nya. Seketika senyum yang mengembang diwajahnya pun memudar.
"Loh anak Mama kenapa ini?" tanya Mama Ratih ketika melihat wajah Breena yang berubah.
"Mah, Mas Dayyan mana?" tanya Breena lirih.
"Sayang" panggil Dayyan dari balik punggung keluarganya.
Semua orang menoleh kebelakang. Tampak Dayyan sedang berdiri dengan sebuah bucket bunga mawar kesukaan Breena.
Breena yang melihat suami nya pun langsung tersenyum dan berlari menghampiri sang suami.
Breena memeluk suaminya dengan erat.
"Mas, Breena lulus Mas" ucap Breena dengan senyum bahagia nya.
"Selamat sayang. Mas bangga sama kamu" ucap Dayyan langsung memberikan ciuman dikening nya.
__ADS_1
Kemudian Dayyan melepaskan pelukan nya dan menyerahkan bucket bunga yang ada ditangan kanan nya.
"Untuk istri cantik nya Mas. Bunga cantik untuk wanita yang cantik juga" ucap Dayyan sambil mengulurkan bunga mawar itu kepada Breena.
Breena pun menerima nya. Lalu ia melihat diantara bunga bunga mawar itu ada sebuah kotak. Ia pun langsung mengambilnya dan membuka nya.
Seketika Breena terdiam melihat isi nya. Bukan iya tak punya satu set perhiasan. Bahkan ia memiliki nya beberapa. Namun yang diberikan oleh Dayyan adalah satu set perhiasan limited edition.
"Mas, ini beneran untuk Breena?" tanya Breena tak menyangka.
"Iya sayang. Ini untuk istri kesayangan Mas. Hadiah dari Mas karena kamu lulus sidang" ucap Dayyang lalu mengambil cincin yang ada didalam kotak itu, dan memakaikan nya dijari Breena.
"Cantik. Sama seperti orang nya. Cantik wajah nya dan cantik hatinya" ucap Dayyan tulus.
"Terima kasih Mas" ucap Breena yang langsung memeluk suami nya itu.
Mereka berdua melupakan keberadaan mereka di tempat umum itu.
"Umma apa benar itu putra kita?" tanya Abah Araya tak percaya melihat anak nya.
"Iya Bah, itu putra kita" ucap Umma Hanum meyakinkan sang suami.
"Nggak salah kan Umma. Kenapa anak kita jadi berubah romantis gitu"
"Umma juga nggak tau Bah. Umma juga baru kali ini lihat Dayyan kaya gini"
"Ani apa itu beneran Mas mu nduk?" tanya Abah Arsya yang masih tak percaya.
"Nggih Bah. Itu memang Mas Dayyan" ucap Ani tanpa menatap sang Abah angkat nya. Karena ia sedang membersihkan mulut dan tangan Quin yang kotor karena terkena ice cream.
"Pak Doni, apa Dayyan selalu bersikap seperti itu kepada Breena" tanya Abah Arsya lagi pada Papa Doni.
"Iya besan. Memang nya kenapa?"
"Itu bukan seperti putra ku besan. Putra ku itu orang yang dingin. Tapi ini dia jadi manis dan hangat" jelas Abah Arsya yang masih saja tak percaya kalau dihadapan nya ini adalah anak nya.
"Maaf Abah. Kalau di anak zaman now itu nama nya Bucin Abah" jawab Ansel.
"Apa itu bucin Nak?" l
"Budak cinta Abah. Itu arti nya Dayyan sangat menyayangi dan mencintai Breena Abah" jelas Ansel. Yang hanya diangguki oleh Abah Arsya.
"Mau sampai kapan kalian berdua berpelukan? Apa kamu tidak ingin memeluk kami ini sayang" sindir Mama Ratih.
Breena dan Dayyan pun melepas pelukan nya. Lalu Breena memeluk Mama Ratih dan Umma Hanum secara bergantian. Kemudian ia memeluk lama pada Papa Doni, dan beralih ke Abah Arsya. Dilanjut kepada Ansel dan kedua sahabat nya. Tak tertinggal Mbak Ani juga ikut dipeluk nya.
Sedangkan Brian hanya bisa mengucapkan selamat tanpa ada nya pelukan.
"Ayo karena hari ini adalah hari bahagia nya Breena dan sahabat nya. Jadi hari ini Dayyan uda booking satu restauran untuk kita mengadakan syukuran atas lulus nya Breena" ucap Dayyan yang membuat suasana menjadi heboh karena teriakan ketiga wanita yang baru saja di sidang oleh dosen mereka.
"Yyyyeeeeehhh makan makan" ucap ketiga nya kompak
__ADS_1