Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Calon Keluarga Baru Anderson


__ADS_3

"Serius sayang. Kamu jangan bercanda Nak. Mana mungkin Brian mau makan pete" ucap Mama Ratih tak percaya.


"Tapi memang itu kenyataan nya Mah. Kalau nggak percaya tanya aja sama Mas Dayyan" ucap Breena acuh. Karena dia masih fokus sama makanan nya.


Mama Ratih beralih menatap ke arah menantu nya. Ia ragu untuk bertanya.


"Yang di bilang Breena benar Mah. Mas Brian memang lagi makan nasi goreng campur pete. Bahkan kata Daddy Martin pun dia sudah minta makanan itu dalam beberapa hari ini" jelas Dayyan.


"Dugaan Breena sama Umma Hanum sih, Mbak Ani hamil Mah" ucap Breena tiba tiba.


Mama Ratih pun tampak berpikir. Dia yang seorang Dokter Kandungan paham betul soal mood seseorang yang tengah berubah. Apa lagi seseorang itu mengingin kan seseuatu yang tidak pernah di makan nya sebelum nya. Dia tau itu gejala apa.


Dengan gerakan cepat Mama Ratih menuju ke arah pelaminan, yang mana Brian baru selesai makan.


"Bri, are you okey?" tanya Mama Ratih.


"Okey Mah. Kenapa?" tanya Brian yang kebingungan dengam ekspresi Mama Ratih.


"Tidak kenapa kenapa. Ani boleh Mama pegang tangan kamu?" tanya Mama Ratih meminta izi.


"Boleh Mah"


Walau pun ia juga kebingungan dengan apa yang di minta oleh Mama dari Breena ini pun, dia tetap memberikan tangan nya.


"Mama Ratih pun langsung menekan di pergelangan tangan Ani. Mencari jawaban dari apa yang di kata kan oleh Breena"


Dengan mode serius Mama Ratih berusaha mencari jawaban nya. Dan seketika senyum Mama Ratih mengembang. Ia sudah mendapat kan jawaban nya.


"Rat, kamu kenapa?" tanya Mommy Aletha.


"Ani apa kamu ada mengalami mual, muntah dan kepala pusing?" tanya Mama Ratih dan mengacuhkan pertanyaan dari sahabat nya itu.


"Tidak ada Mah. Tapi Mas Brian yang selalu mual muntah dan kepala nya pusing. Kenapa Mah?"


"Sudah berapa hari seperti itu?"

__ADS_1


"Sudah beberapa hari ini Mah"


"Oke besok datang lah ke rumah sakit, dan temui Dokter Kandungan. Atau kalau kamu mau, kamu bisa datang ke rumah sakit Mama, dan jumpai Mama" ucap Mama Ratih memberi saran.


Semua yang ada di sana terdiam mendengar saran yang di berika oleh Mama Ratih. Apa lagi Mommy Aletha. Ia benar benar mencerna apa yang di ucap kan oleh sahabat nya itu. Tetapi berbeda dengan Umma Hanum, ia sudah tersenyum bahagia.


"Ini maksud nya apa Ratih? Kenapa kamu suruh mereka untuk menjumpai Dokter Kandungan?" tanya Daddy Martin.


"Di dunia medis ada nama nya istilah syndroum couvade. Itu adalah kehamilan simpak. Syndroum couvade ini akan terjadi ketika istri hamil tetapi yang mengalami mual muntah, kepala pusing, dan mengidam atau menginginkan sesuatu makanan yang aneh aneh atau biasa kita bilang ngidam itu adalah sang suami. Dari yang aku rasakan tadi, denyut nadi Ani itu berbeda. Maka nya aku saran kan besok mereka menemui Dokter Kandungan untuk memastikan kebenaran nya" jelas Mama Ratih. Ia sudah seperti berbicara dengan keluarga pasien nya.


"Ja–jadi ada kemungkinan kalau menantu ku hamil Rat?" tanya Mommy Aletha terbata.


"Ya. Dari yang ku rasakan tadi seperti itu. Tidak mungkin aku salah mendiagnosi. Kamu tau sendiri sudah berapa lama aku menjadi Dokter Kandungan"


"Mah" lirih Brian yang sedari tadi hanya mendengar kan apa yang di kata kan oleh Mama Ratih.


"Iya Boy"


"Mama tidak berbohong kan? Mama serius kan sama yang Mama ucap kan?"


"Ya Mama serius. Maka nya Mama minta kamu temui Dokter Kandungan untuk pemeriksaa yang lebih jelas lagi"


"Selamat iya Tha, kamu akan nambah cucu. Anak kita sama sama hami" ucap Mama Ratih dengan girang nya.


"Terima kasih Ratih. Alhamdulillah ya Allah" ucap Mommy Aletha.


Dad, kita mau nambah cucu lagi Dad" lanjut Mommy Aletha.


"Iya Mom. Cucu kita akan nambah lagi. Quin pasti senang mau punya adik" ucap Daddy Martin.


Ani terdiam mendengar semua nya. Wajah nya pun tidak memperlihat kan kalau dia bahagia atas kehamilan nya.


"Sayang kamu kenapa? Apa kamu tidak bahagia hamil anak Mas?" tanya Brian dengan wajah sedih nya.


"Maaf Mas. Bukan Ani tidak bahagia. Tapi bagaimana dengan Quin? Dia baru aja merasakan kasih sayang dari Ani. Tapi sekarang Ani sudah hamil. Apa dia tidak akan sedih Mas?" tanya Ani dengan mata berkaca kaca.

__ADS_1


"Kamu tenang aja sayang. Quin pasti nggak akan marah sama kamu. Sebisa mungkin nanti kita jelas kan sama anak kita iya"


Ani pun hanya nengangguk kan kepala nya. Acara resepsi pun terus berlanjut sampai jam 01:00 dini hari. Karena banyak tamu yang di undang.


Ani dan Brian sudah memasuki kamar mereka. Kamar itu adalah kamar biasa nya Brian akan menginap disana. dan itu memang kamar khusus milik Brian.


Karena kelelahan Ani dan Brian memutuskan untuk segera beristirahat saja. Ani tidur membelakangi Brian. Namun tangan Brian dengan cepat memeluk tubuh mungil istri nya itu.


Tangan Brian menetap di perut Ani. Dengan sayang Brian mengelus perut Ani. Senyum terus terlukis di wajah tampan nya yang membuat nya semakin tampan.


...----------------...


Keesokan hari nya tepat jam 10:00 pagi, Brian membawa Ani ke rumah sakit milik keluarga Abraham.


Kenapa tidak ke rumah sakit keluarga Anderson? Ya jawaban nya adalah Ani hanya mau di periksa oleh Mama Ratih. Bukan Brian tak menawar kan ke rumah sakit mereka saja. Tapi Ani menolak nya. Dan tetap meminta di antar kan kesana saja.


Dengan terpaksa Brian membawa nya kesana. Bukan tanpa alasan. Brian tak enak dengan Mas nya yang mengelola rumah sakit milik keluarga mereka. Tetapi dengan penuh perhatian Ibra justru meminta Brian membawa nya ke rumah sakit milik Papa Doni.


Dan disini lah mereka sekarang, di depan ruangan poli kandungan Mama Ratih. Brian sudah mendaftar tadi, jadi mereka tidak perlu menunggu lama untuk mengambil nomor antrian.


"Nyonya Ani Yulia Admaja, Silah kan masuk" panggil suster.


Ani dan Brian oun beranjak. Lalu masuk ke dalam ruangan yang sudah ada Mama Ratih nya.


"Jadi kalian memilih kesini?" tanya Mama Ratih ketika melihat Ani dan Brian yang memasuki ruangan nya.


"Iya Mah. Ani lebih milih di periksa sama Mama" ucap Brian yang sedang menyalami dan mencium tangan Mama Ratih.


"Oke sudah siap periksa sekarang?"


"Sudah Mah, Brian sudah tidak sabar ini"


Ucapan Brian membuat yang ada di dalam ruangan itu tersenyum.


Ani di bantu oleh Anita untuk naik ke ranjang pemeriksaan. Anita menyibak kan gamis Ani, lalu bagian bawah Ani di tutupi oleh selimut. Anita pun langsung memberikan gel di perut Ani.

__ADS_1


Mama Ratih langsung mengambil doppler dan menempelkan nya di perut Ani. Dengan serius Mama Ratih mencari dimana letak bayi mereka.


"Lihat lah ini dia nya. Waaahh kamu beneran uda ada didalam tubuh Bunda mu sayang" ucap Mama Ratib senang.


__ADS_2