Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kelahiran Baby Twins Dan Diberikan Kejutan


__ADS_3

Semua oranf kageet nendengarr teriakan Dayyan. Mama Ratih, Umma Hanum pun langsung berlari menghampiri Breena. Mama Ratih langsung mengecek kondisi Breena.


Begitu pun dengan Papa Doni dan Abah Arsya, mereka juga berlari menghampiri Breena. Terlihat jelas wajah wajah khawatir mereka.


"Mah bagaimana?" tanya Papa Doni.


"Ketuban nya uda pecah Pah. Kita harus segera membawa Breena ke rumah sakit. Tapi rumah sakit kita terlalu jauh dari sini Pah" ucap Mama Ratih tenang.


Walau pun sebenar nya ia sangat tegang dan khawatir dengan kondisi Breena. Tapi dia harus tenang dan tak boleh panik.


"Kita ke rumah sakit terdekat saja Mah. Kalau tidak salah rumah sakit Erlangga's tidak jauh dari sini"


"Tapi bagaimana dengan permintaan Breena Pah?"


"Nanti kita tanya kan sama dokter Erlangga apakah boleh atau tidak. Kalau tidak pun kita tetap harus mematuhi prosedur rumah sakit itu Mah"


"Ayo Dayyan kita bawa Breena sekarang ke rumah sakit." ajak Papa Doni.


Dayyan dengan sigap pun menggendong Breena, ia berjalan cepat menuju mobil nya. Disusul oleh Umma Hanum dan Abah Arsya.


Sedangkan Mama Ratih dan Papa Doni sedang berpamitan dengan pemilik rumah beserta sahabat sahabat nya.


"Maaf Pak Galih, kami telah membuat keributan karena anak saya mau melahir kan. Kami mohon izin pulang terlebih dahulu" ucap Papa Doni sopan.


"Tidak apa Pak Martin. Keselamatan anak dna cucu cucu anda itu yang utama"


"Kami ke rumah sakit dulu Letha. Maaf tidak bisa ikut sampai acara selesai" ucap Mama Ratih merasa bersalah.


"Tak apa Ratih. Nanti kami nyusul kalau acara nya uda selesai" ucap Mommy Aletha yang memahi situasi nya yang memang genting.


"Jangan lupa kalau nyusul bawa hadiah untuk baby twins" canda Mama Ratih.


Di situasi tegang, Mama Ratih masih sempat sempat nya bercanda. Hal itu di buat nya untuk menghilangkan kegugupan nya.


"Oohh astaga, belum lahir uda minta hadiah. Mana dua lagi. Nggak mungkin kan cuma ngasih satu aja" keluh Mommy Aletha menanggapi candaan Mama Ratih.


Seketika suasana tegang berganti dengan kekehan dari semua orang.


...----------------...


Saat ini Dayyan sedang mengendarai mobil nya menuju ke rumah sakit Erlangga's dengan kecepatan penuh. Yang ia pikir kan saat ini adalah kondisi istri dan calon anak anak nya.


"Ssshhhh Umma, sakit" ucap Breena menahan rasa sakit di perut nya.


"Banyak dzikir sayang. Nikmati saja rasa sakit nya. Insya Allah pasti sedikit sedikit akan berkurang" ucap Umma Hanum sambil mengelus perut buncit Breena.


"Sabar iya sayang. Bentar lagi kita akan sampai" ucap Dayyan tanpa melihat kearah istri nya.


"Iya Mas. Ssshhh"


Breena terus berdzikir di dalam hati nya. Ia juga ikut mengelus perut buncit nya. Umma Hanum pun juga menyandung kan sholawat untuk kedua cucu nya yang sedang mencari jalan untuk keluar.


Sesampai nya di rumah sakit, Dayyan langsung menggendong Breena menuju ke ruang UGD.


"Suster tolong istri saya mau melahirkan" ucap Dayyan ketika bertemu seorang perawat di depan pintu UGD

__ADS_1


Perawat itu pun dengan sigap membantu Dayyan membaringkan Breena di brangkar. Kemudian ia menelpon dokter kandungan untuk segera datang ke ruang UGD.


"Umma bagaimana?" tanya Mama Ratih yang baru saja tiba.


"Masih di periksa sama dokter Bu Ratih"


Papa Doni masih sibuk menelpon Dokter Erlangga untuk meminta izin kepada nya membantu kelahiran Breena.


Dokter Erlangga yang kebetulan sedang shift malam pun, segera menghampiri Papa Doni di ruang UGD.


"Dokter Doni"


"Dokter Erlangga"


Kedua dokter itu pun saling berjabat tangan. Kemudian Papa Doni menyampaikan keinginan anak nya sebelum melahirkan.


"Begini dokter, anak saya ingin melahirkan di tangani langsung oleh Mama nya. Dan dia juga meminta saya dan suami nya untukendampingi nya juga. Apakah boleh Dokter Erlangg" tanya Papa Doni


Dokter Erlangga berpikir sejenak. Ia bimbang apakah memperboleh kan atau tidak. Bagaimana pun juga Dokter Doni pemilik rumah sakit besar juga. Tentu Dokter Doni tau prosedur nya. Tapi disatu sisi ini adalah permintaan putri nya Dokter Doni.


"Baik lah boleh Dokter Doni. Tapi dengan syarat saya yang akan menjadi dokter anak nya" ucap Dokter Erlangga memberi izin.


"Terima kasih Dokter Erlangga"


Setelah mendapatkan izin, Dokter Erlangga bersama Mama Ratih dan Papa Doni pun memasuki ruangan UGD tersebut. Terlihat Dayyan yanh sedang menenangkan Breena disana.


Juga ada Dokter yang sedang memeriksa kandungan Breena, karena memang tidak ada data data Breena di rumah skait itu.


"Dokter Kaela, biar Dokter Ratih saja yang menangani nya. Pasien adalah anak Dokter Ratih. Dan pasien ingin Mama nya yang menangani persalinan nya" ucap Dokter Erlangga.


"Baik Dokter"


"Sudah pembukaan sepuluh. Sebaik nya kita bawa ke ruang bersalin saja" ucap Mama Ratih.


Para perawat pun langsung mendorong ranjang rumah sakit Breena menuju ke ruang bersalin. Di ikuti oleh Dayyan, Umma Hanum dan Abah Arsya. Sedangkan Mama Ratih, Papa Doni, Dokter Kaela dan Dokter Erlangga menuju ke ruangan steril.


Dua puluh menit berselang, semua dokter sudah bersiap. Mama Ratih sudah bersiap di posisi nya, begitu pun dengan para Dokter yang membantu.


Breena memegang tangan Papa Doni dan Dayyan di kedua sisi nya.


"Bree, ikuti aba aba Mama oke"


Breena hanya mengangguk kan kepala nya. Ia sedang menikmati rasa sakit yang di rasakan nya.


"Tarik nafas, buang perlahan. Dalam hitungan ketiga kamu mengejan oke"


Breena lagi lagi hanya mengangguk kan kepala nya.


Satu


Dua


Tiga


"aaagggrrrhhh" teriak Breena sambil mengeratkan genggaman tangan nya.

__ADS_1


Hoooeek hhooeeekk


Dalam satu kali mengejan bayi pertama Breena sudah lahir.


"Alhamdulillah" ucap Papa Doni dan Dayyan berbarengan.


"Terima kasih sayang" ucap Dayyan sambil mencium puncak kepala Breena.


Breena hanya bisa mengangguk kan kepala nya. Ia bahkan sudah meneteskan air mata nya.


"Bayi nya laki laki sayang" ucap Mama Ratih sambil mengangkat bayi pertama Breena. Llau Mama Ratih menyerahkan bayi itu kepada Dokter Erlangga, agar segera di bersihkan dan di periksa kesehatan nya.


Tujuh menit berselang, Breena kembali merasakan sakit di perut nya.


"Mah" lirih Breena.


Mama Ratih tersenyum. Kemudian mengecek kembali, ternyata kepala bayi kedua Breena pun sudah terlihat.


"Ayo kita ulangi lagi sayang. Seperti tadi ia tarik nafas terus hembuskan, lalu mengejan" peri tah Mama Ratih.


Breena pun kembali mengulangi nya.


Satu


Dua


Tiga


"Aaagggrrhhh" sama seperti tadi dalam satu kali mengejan bayi kedua Breena pun sudah lahir.


"Alhamdulillah ya Allah" ucap Papa Doni dan Dayyan.


Dayyan langsung memeluk Breena. Ia menangis di pelukan Breena.


"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah berjuang melahirkan anak anak kita" ucap Dayyan di sela isakan nya.


"Bayi nya perempuan" ucap Mama Ratih. Lalu menyerahkan bayi perempuan itu ke seorang perawat.


Kedua bayi Breena dan Dayyan pun sedang di bersihkan lalu di periksa seluruh kesehatan nya.


Mama Ratih yang berniat mengeluarkan plasenta nya pun di buat terkejut.


"Woooww kejutan" kata Mama Ratih dengan binar bahagia nya.


Dayyan dan Papa Doni pun seketika menoleh kearah Mama Ratih.


"Kenapa Mah?" tanya kedua nya kompak.


Belum sempat menjawab Breena kembali merasakan sakit di perut nya.


"Aggghhh"


Hoeekk


Hooeekk

__ADS_1


Tangis bayi ketiga pun terdengar memekak kan ruangan bersalin itu, membuat Dayyan dan Papa Doni melongo tak percaya.


"Kejutan, bayi ketiga nya laki laki" ucap Mama Ratih antusias.


__ADS_2