
Dayyan dan Breena masih menunggu di depan ruangan Mama Ratih. Sesekali suster datang menawarkan agar Breena menunggu di ruangan suster itu saja. Tetapi ditolak mentah mentah oleh Dayyan dan Breena.
Perlakuan istimewa itu pun kembali membuat bisik bisik disana.
"Enak banget iya Pah, mereka diperlakukan istimewa begitu" ucap salah satu ibu hamil kepada suaminya.
"Jangan sembarangan ngomong Mah" tegur sang suami.
"Iya kan Mama nggak salah Pah. Tumben tumbenan ada pasien yang diperlakukan seistimewa itu Pah"
"Wajib lah Mah mereka diistimewakan. Mereka itu anak dan menantu dari pemilik rumah sakit ini. Bahkan Dokter Ratih itu Mama dari si perempuan" jelas lelaki itu.
"Papa kenal dengan mereka?"
"Kenal sih nggak terlalu Mah. Tapi kantor Papa pernah kerja sama dengan perusahaan suaminya. Mereka itu orang kaya tapi baik dan sederhana Mah"
"Oohh pantesan iya Pah mereka di perlakukan istimewa begitu"
"Iya Mah. Lihat Mah itu Papa si perempuan datang" ucap si lelaki itu ketika melihat Papa Doni yang datang menghampiri ruangan istrinya.
"Sayang kenapa nggak langsung masuk aja? Pasti kalian sudah menunggu lama kan" ucap Papa Doni saat kaki nya sudah mendekat kearah anak dan menantunya.
"Pah, uda siap visit nya?" tanya Dayyan sambil mencium tangan Papa Doni bergantian dengan Breena.
"Sudah nak. Tadi Papa keruangan kamu tapi kata suster kamu lagi ke ruangan Mama. Kenapa kalian nggak langsung masuk aja?" tanya Papa Doni lagi.
"Nggak enak lah Pah sama ibu ibu yang sudah antri duluan. Mama tadi juga nyuruh gitu tapi kami tolak Pah. Biar kami diperiksa sesuai no antrian aja Pah" jelas Dayyan.
"Sus, tinggal berapa antrian lagi anak saya?" tanya Papa Doni sama suster yang berjaga di depan ruangan Mama Ratih.
"Ada 2 ibu hamil lagi Tuan. Apa setelah ini mau Nona Breena duluan Tuan?" tanya si suster dengan sopan.
"Tidak perlu sus. Kami sesuai antrian saja. Kasihan sama ibu ibu yang sudah menunggu sedari tadi kalau harus di dahului" tolak Dayyan lagi.
Papa Doni pun tersenyum bangga melihat sikap menantunya itu. Walau pun ia memiliki kekuasaan untuk diperiksa terlebih dahulu. Namun ia tidak mau seperti itu. Ia lebih mementingkan pasien yang duluan mengambil antrian.
Akhirnya Papa Doni pun juga ikut menunggu disana. Dayyan dan Papa Doni asyik berbincang, membahas tentang rencana Dayyan yang akan menanam saham dirumah sakit nya. Sedangkan Breena sedang asyik memainkan ponselnya.
Beberapa menit menunggu akhirnya tiba giliran Breena. Papa Doni, Dayyan, dan Breena pun masuk kedalam ruangan Mama Ratih.
"Lohh Papa juga ikut?" tanya Mama Ratih ketika melihat suaminya juga ikut masuk kedalam ruangan nya bersama anak dan menantunya.
"Iya Mah, Papa mau lihat cucu Papa juga" ucap Papa Doni yang sangat antusias.
"Baiklah. Sayang kamu mau di tes dulu apa langsung USG aja?" tanya Mama Ratih.
"Langsung aja deh Mah. Breena sangat penasaran ini Mah"
"Penasaran kenapa?"
"Emmhh kami kan baru melakukan nya beberapa minggu ini aja Mah, uda gitu pernikahan kami juga kan baru mau 2 bulan. Masa ia uda jadi aja Mah" ucap Breena sambil melirik kearah suaminya.
"Itu tidak ada masalah nya sayang. Kalau kalian sedang melakukan nya pada saat kamu lagi masa subur. Itu pasti membuahkan hasil sayang. Kalau gitu kita USG sekarang aja iya biar nggak penasaran" tanya Mama Ratih.
Breena hanya menganggukan kepala nya. Kemudian ia dibantu oleh suster berbaring di brangkar. Perut Breena pun di olesi oleh Gel. Kemudian Mama Ratih pun mulai mengarahkan alat USG nya diperut Breena.
__ADS_1
Dayyan dengan setia menggenggam tangan Breena yang tampak gugup. Sedangkan Mama Ratih dan Papa Doni pun terlihat serius menatap layar monitor dihadapan Mama Ratih.
Bibir Mama Ratih dan Papa Doni pun melengkung sempurna melihat hasil di layar monitor. Terlihat ada dua kantung bayi yang masih sangat kecil.
"Wwwaaaahhh ada Dua" ucap Papa Doni semangat.
Dayyan dan Breena saling menatap.
"Dua Pah?" tanya Dayyan dan Breena kompak.
"Iya sayang. Coba kamu lihat dengan teliti Dayyan. Disini ada dua kantung bayi yang masih sangat kecil. Usia nya masih 4 minggu" jelas Mama Ratih.
"Alhamdulillah ya Allah. Hamba Engkau percayakan memiliki anak 2 sekaligus" ucap Dayyan penuh syukur.
Breena pun meneteskan air matanya. Ia sangat bersyukur langsung dipercaya memiliki dua anak sekaligus.
"Mas" ucap Breena lembut.
"Ia sayang. Kita langsung diberi dua anak. Terima kasih sayang terima kasih sudah mau menjadi ibu dari anak anak Mas" ucap Dayyan sambil menciumi wajah istrinya bertubi tubi.
Setelah selesai suster pun membersihkan bekas Gell diperut Breena. Kemudian Breena berjalan ke meja kerja Mama Ratih.
"Di jaga iya sayang cucu cucu Mama. Banyak makan makanan yang bergizi iya. Tidak boleh melakukan pekerjaan yang berat juga" pesan Mama Ratih sambil menulis hasil pemeriksaan nya di buku Pink milik Breena.
"Iya Mah. Breena sama Mas Dayyan pasti menjaga cucu cucu Mama ini" ucap Breena sambil mengelus perut nya.
"Nanti Mama kasih obat pereda mual nya iya sama vitamin buat kamu dan bayi nya"
"Dan kamu Dayyan. Pesan Mama jangan terlalu sering untuk berhubungan. Ini kandungan Breena masih muda dan rentan banget apa lagi kembar. Jadi untuk berjaga jaga berhubungan nya di batasi dulu iya. Dan harus pelan pelan" lanjut Mama Ratih memberikan pesan yang sukses membuat wajah Breena dan Dayyan memerah.
"Iya sayang. Dijaga baik baik iya Nak"
"Ayo kita kembali kekamar kamu sayang. Sebentar lagi pasti mertua kamu akan sampai" ajak Papa Doni sambil mengambil alih kursi roda yang di dudukin oleh Breena.
Dayyan yang ingin mendorong kursi roda Breena pun harus mengalah ketika Papa mertua nya sudah terlebih dahulu mendorong Breena keluar.
Begitu keluar ruangan. Banyak pasang mata yang menatap kearah tiga orang dewasa itu. Breena yang duduk dikursi roda didorong oleh pria paruh baya yang masih menggunakan jas dokternya. Lalu ada Dayyan yang berjalan sambil menggenggam tangan Breena. Banyak yang iri dengan mereka bertiga.
"Sayang kamu ada yang mau dimakan nggak?" tanya Papa Doni.
"Nggak ada Pah. Breena belum pengen apa apa" ucap Breena sambil berpikir.
"Beneran nggak ada sayang?" tanya Dayyan yang tak yakin dengan ucapan istrinya.
"Emmhhhh" Breena pun masih berpikir.
Tak lama setelah mereka sampai di kamar Breena. Tiba tiba Breena mengatakan sesuatu.
"Mas" panggil Breena pelan.
"Iya sayang"
"Emmhh Breena pengen makan ayam bakar buatan Mommy Gantari Mas sama rujak mangga muda dan belimbing. Tapi pake bumbu rujak buatan Umma" ucap Breena pelan.
"Siapa sayang, Mommy Gantari? Mas tidak pernah mendengar nama nya" ucap Dayyan bingung.
__ADS_1
Papa Doni pun terkekeh mendengar ucapan anak dan menantunya.
"Gantari itu Kakak Papa nak. Waktu kalian menikah dia dan suami nya lagi ada di Amerika. Jadi tidak bisa datang keacara kalian. Hanya Ansel yang datang. Sebentar iya Papa telepon dulu dia nya" ucap Papa Doni.
Kemudian Papa Doni pun menelpon Kakak satu satu nya itu.
"Hallo" ucap seorang wanita paruh baya dengan lembut.
"Iya hallo Mbak"
"Ada apa Doni? Tumben kamu telepon Mbak?"
"Hehehe iya Mbak. Emmhh Mbak uda balik ke Indo belum?"
"Uda. Mbak sampai di Indo 2 hari yang lalu. Ada apa Dek?" tanya Mommy Gantari lagi.
"Breena mau bicara dengan Mommy nya kata nya" ucap Papa Doni dengan senyum jahilnya menyerahkan ponselnya pada Breena.
"Mommy"
"Iya Princess ada apa?"
"Breena boleh minta di buatkan ayam bakar buatan Mommy nggak?" tanya Breena pelan.
"Tumben minta ayam bakar buatan Mommy. Nggak biasa nya kamu seperti ini"
"Anak anak Breena yang minta Mommy" ucap Breena lirih.
"Anak anak kamu?" tanya Mommy Gantari bingung.
"Princess kamu hamil sayang?" tanya Mommy Gantari semangat.
Bahkan suara nya sampai terdengar oleh anak dan suaminya.
Calvin yang sedang memeriksa berkas dokumen pun berhenti dan menatap kearah istrinya. Sedangkam Ansel yang sedang berkirim pesan kepada Windy pun juga menatap ke arah Mommy nya
"Iya Mom. Mungkin mereka ingin bertemu dengan Mommy, maka nya mereka ingin makan ayam bakar buatan Mommy" ucap Breena manja.
"Baik lah untuk cucu Mommy. Akan Mommy masak kan buat kamu. Nanti Mommy sama Daddy yang antar ke rumah sakit iyaa. Kamu istirahat saja Princess"
"Terima kasih Mom. Breena tunggu ia ayam bakar buatan Mommy. Love you Mom"
"Love you too princess nya Abraham"
Kemudian Breena pun mematikan panggilan nya. Dan menatap lagi kearah sang suami.
"Nanti diantar sama Mommy Gantari Mas" ucap Breena dengan senyum bahagia nya.
"Iya uda Mas pulang dulu iya. Mau ambil rujak buat kamu sayang"
"Iya Mas hati hati iya. Breena biar sama Papa dulu"
"Iya, mas pergi dulu iya" ucap Dayyan sambil mencium kening Breena.
Kemudian ia mencium tangan mertuanya. Dan pergi melangkah ke area parkir.
__ADS_1