
Setelah selesai berbicara dengan Umma Hanum, Cintya langsung mematikan telpon nya. Ia kemudian memanggil Kang Amin dan mengatakan pada Kang Amin sesuai dengan apa yang di katakan oleh Umma Hanum.
Kang amin pun memanggil Mbak Dina meminta nya untuk mengantar kan Cintya ke kamar tamu.
"Silah kan masuk Mbak. Ini kamar nya" ucap Mbak Dina sopan.
"Terima kasih Mbak Dina"
Mbak Dina pun segera beranjak ke dapur untuk melanjutkan tugas nya. Sedangkan Cintya mengajak anak anak nya masuk ke dalam, mandi lalu beristirahat. Perjalanan mereka panjang. Belum lagi besok pagi mereka akan melakukan perjalanan jauh lagi ke Jakarta.
"Umi, kapan kita bertemu Abah pondok?" tanya putri pertama nya lagi.
"Besok iya sayang. Besok kita ke Jakarta ke rumah nya Gus ganteng. Mau?"
"Mau Umi mau" jawab ke dua anak nya semangat.
...****************...
Di Jepang, Dayyan sudah menyelesai kan semua pekerjaan nya. Dan hari ini dia dan Dion akan kembali ke Indonesia. Sebelum nya Dayyan dan Dion pergi berbelanja membeli oleh oleh untuk keluarga mereka.
Dayyan membeli begitu banyak mainan untuk ketiga putra putri nya. Bahkan tak tanggung tanggung, Dayyan membeli sampai tiga kotak besar berisi kan mainan semua ny. Tak lupa dia juga membeli kan mainan untuk Quin.
Setelah dari toko mainan, Dayyan dan Dion menuju ke toko pakaian dan perhiasan. Kalau Dion hanya membeli cincin untuk Anggi. Berbeda dengan Dayyan, dia membeli kan kalung dan gelang couple Ibu dan anak. Dia membeli itu untuk Breena dan Deera.
Dan disini lah Dayyan dan Dion berada. Di bandara Osaka Jepang. Mereka sedang menunggu jadwal keberangkatan pesawat mereka.
"Kau sudah memberitahu Breena kalau kita akan kembali?" tanya Dion di sela sela ia memain kan ponsel nya.
"Belum. Aku sengaja nggak kasih tau dia kalau kita hari ini kembali" jawab Dayyan sambil senyum senyum sendiri.
"Lah kenapa jadi senyum senyum gitu?" tanya Dion menatap aneh ke arah sahabat sekaligus bos nya itu.
"Lagi bayangin Breena terkejut lihat aku tiba tiba uda sampai rumah" jawab Dayyan dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah tampan nya.
"Lebay" sindir Dion.
__ADS_1
Tak berselang lama suara informasi keberangkatan ke Indonesia pun terdengar. Dayyan dan Dion segera beranjak menuju ke pesawat.
"Tunggu Abi sayang" gumam Dayyan ketika pesawat mereka sudah mengudara.
...----------------...
Pagi hari di pondok pesantren Al-Hidayah. Cintya sedang sibuk mengurusi kedua anak nya. Mereka akan berangkat ke Jakarta setelah selesai sarapan.
Cintya membawa ke tiga koper milik nya keluar kamar dan meletak kan nya di sudut ruang keluarga. Kemudian ia melangkah ke dapur bersama kedua anak nya untuk sarapan bersama dengan para Mbak ndalem.
"Assalamualikum" sapa Cintya ketika melihat ketiga Mbak Ndalem sedang membersihkan sisa masakan mereka.
"Wa'alaikum salam Mbak Cintya" jawab Mbak Dina ramah.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya Cintya yang merasa tak enak hati karena tidak membantu mereka tadi.
"Tidak isah Mbak. Semua uda selesai kok. Mbak tunggu di ruang makan aja" jawab Mbak Dina.
"Nggak usah Mbak. Kita makan di dapur saja bareng sama Mbak semua nya" tolak Cintya.
"Loh kenapa? Mbak kan tamu nya Umma"
"Iya uda kalau gitu ayo kita sarapan Mbak. Sebentar lagi Kang Amin datang. Apa setelah sarapan Mbak langsung berangkat ke Jakarta?" tanya Mbak Dina.
"Iya Mbak. Kami langsung berangkat nanti. Sesuai sama perintah nya Umma Hanum"
Acara sarapan pun di lengkapi dengan keheningan. Setelah selesai sarapan Cintya pun pamit kepada semua Mbak Ndalem.
"Terima kasih untuk bantuan nya Mbak. Maaf kalau kami sudah merepot kan Mbak Mbak semua nya"
"Tidak apa Mbak Cintya. Mbak nggak merepot kan kok. Hati hati di jalan iya Mbak. Salam sama Umma dan Abah" jawab Mbak Dina.
"Iya Mbak. Sekali lagi terima kasih"
Setelah mengatakan itu Cintya pun membawa ke dua anak mya untuk masuk kedalam mobil. Kang Amin sudah menunggu di dalam mobil bersama dengan seorang santri perempuan yang menumpang. Karena sekalian ke Jakarta.
__ADS_1
Tiga jam perjalanan, akhir nya mobil yang di kendarai Kang Amin sampai di sebuah rumah minimalis tapi terlihat mewah.
Umma Hanum yang sudah di beri kabar olwh Kang Amin pun menunggu di teras rumah sambil menggendong Adga di gendongan nya.
Umma Hanum tak sendirian, ia bersama dengan Breena, ketiga anak nya serta ketiga pengasuh nya. Mereka sedang bersantai di teras rumah, menjemur ketiga bayi kembar nya.
"Siapa itu Umma?" tanya Breena ketika melihat Cintya dan kedua anak nya turun dari mobil dan menuju ke arah mereka. Sedangkan Kang Amin sedang menurun kan koper koper milik Cintya.
"Dia Cintya, mantan istri nya Rendra. Kepercayaan Dayyan di Jepang. Nanti Umma cerita sama kamu. Atau kamu aja yang nanyak sama suami kamu. Umma juga belum tau pasti cerita nya bagaimana" jawab Umma Hanum sambil tersenyum menyambut kedatangan Cintya.
"Assalamualaikum Umma" sapa Cintya memberi salam
"Wa'alaikum salam Cintya" jawab Umma Hanum.
Umma Hanum kemudian menyerah kan Kadga ke pada pengasuh nya. Kemudian Umma Hanum memeluk Cintya erat. Seketika air mata yang di tahan Cintya di depan anak anak nya pun luruh membasahi pipi nya.
"Ayo masuk. Hapus air mata mu. Jangan nangis di depan anak anak mu. Nanti mereka khawatir dan sedih melihat Umi nya menangis" ucap Umma Hanum sambil mengusap punggung Cintya.
Cintya mengangguk kan kepala nya. Ia juga buru buru menghapus air mata nya.
"Apa kalian tidak merindukan Umma pondok sayang sayang nya Umma?" tanya Umma Hanum setelah melepaskan pelukan nya dengan Cintya.
Kedua anak Cintya langsung berlari menghampiri Umma Hanum. Mereka juga memeluk tubuh Umma Hanum yang sudah mensejajar kan tinggi nya dengan tinggi mereka.
"Waaahhh kalian sudah besar ternyata. Umma sangat merindukan kalian"
"Kami juga merindukan Umma" ucap kedua anak Cintya kompak.
Cintya tersenyum melihat wajah bahagia anak anak nya. Lalu Cintya menghampiri Breena, kemudian mencium tangan Breena. Namun dengan cepat Breena menarik nya. Ia tak suka tangan nya di cium dengan orang yang lwbih tua dari nya.
Cintya yang kaget dengan tarikan tangan Breena itu pun, hanya bisa menunduk. Ia berpikir Breena tak menyukai kedatangan nya.
"Maaf Mbak. Bukan saya tak suka dengan kedatangan Mbak. Tapi saya memang tak suka ada orang yang lebih tua mencium tangan saya" jelas Breena.
"Jangan seperti itu Cintya. Breena, menantu Umma memang seperti itu anak nya. Dia tak suka terlalu di hormati dan di segani dengan orang yang lebih tua dari nya. Apa lagi sampai mencium tangan nya. Itu hal yang tak pernah di sukai nya." jelas Umma Hanum memberitahu.
__ADS_1
"Tapi kan Umma. Ning Breena ini istri nya Guse. Nggak mungkin saya tak menghormati nya" bela Cintya.
"Bahkan dia tak suka di panggil Ning kalau lagi di luar pondok Cintya" jawab Umma Hanum terkekeh membuat Breena mendengus tak suka.