
Dayyan melajukan mobil nya terlebih dahulu. Dia berada di barisam terdepan untuk memimpin jalan. Di belakang nya di ikuti mobil Brian beserta mobil pelayan dan bodyguard nya. Di lanjut kan lagi oleh mobil Ansel, Dion dan bodyguard nya, lalu mobil Angga dan yang terakhir mobil tunangan nya Anita.
Iring iringan mobil mewah mereka menyita perhatian para pengguna jalan. Sepuluh mobil mewah keluaran luar negeri itu saling beriringan melaju di jalan raya.
Di dalam mobil Dayyan, hanya ada keheningan. Ketiga bayi kembar mereka sedang tertidur di pangkuan pengasuh nya masing masing. Sedang kan Breena sedang sibuk memakan cemilan yang di bawa nya.
Tak berbeda jauh dengan di mobil Brian. Baby Keen pun juga tertidur. Ani sendiri sedang bermanja di lengan suami nya.
Di mobil yang di kendarai Angga justru ramai dengan canda tawa nya Quin dan Nova. Ibu dan anak itu saling bertukar canda tawa. Angga yang melihat nya pun tersenyum lebar. Ia membayang kan ketika nanti dia sudah menikah dengan Nova dan memiliki anak pasti rumah mereka nanti akan terlihat ramai dengan suara anak mereka.
"Mom, apa Mommy akan menikah dengan Om Angga?" tanya Quin tiba tiba.
"Emmm apa Quin memperboleh kan nya?"
Quin yang mendapat pertanyaan itu pun justru terdiam. Dia seperti orang yang sedang berpikir.
"Kalau memang Om ini bisa buat Mommy bahagia, Quin kasih izin Mommy menikah dengan Om ini"
Jawaban yang di berikan Quin pun membuat Nova mandang nya berkaca kaca. Putri kecil nya tumbuh dengan pemikiran yang dewasa sebelum waktu nya.
"Om akan selalu membahagia kan Mommy kamu Quin. Janji." ucap Angga serius.
"Terima kasih Om" jawab Quin dengan senyum tulus nya.
Nova membawa Quin kedalam pelukan nya. Ia bahagia, Putri nya mau mengizin kan nya menikah lagi.
"Kalau begitu jangan panggil Om lagi iya. Tapi panggil yang lain" pinta Angga.
"Apa iya? emm"
"Gimana kalau Papi?" ucap Nova memberi saran.
"No no. Quin uda punya Daddy, Bunda, Mommy. Tapi Quin belum punya Ayah. Kalau gitu Quin akan panggil Ayah aja gimana?" tanya Quin
"Ayah? Emmm boleh sayang. Jadi mulai hari ini Quin panggil Om dengan sebutan Ayah iya. Karena sebentar lagi Ayah akan menikah sama Mommy"
"Iya Ayah" ucap Quin berbinar.
__ADS_1
Nova tak kuasa menahan air mata nya. Ia menetes kan air mata nya. Bahagia melihat anak nya yang mau menerima Angga sebagai Ayah sambung nya.
Sudah satu jam mereka berada di perjalanan. Namun perjalanan mereka harus terhenti dulu sebab ibu hamil yang tiba tiba saja mengingin kan sesuatu yang di lihat nya di jalan.
Sepuluh mobil itu pun terparkir cantik di pinggir jalan. Semua orang turun dari dalam mobil.
Para pengawal dengan sigap memayungi para baby agar tidak kepanasan. Bukan hanya para baby. Tapi satu ibu hamil pun juga ikut di payungi.
Saat ini mereka semua sudah berada di salah satu warung bakso yang cukup terkenal. Kedatangan para pengusaha itu pun membuat heboh para pengunjung. Dengan sigap para bodyguard melindungi Tuan dan Nona mereka.
"Pak, apa disini ada ruangan khusus nya?" tanya Dayyan mendekati si pemilik warung.
"Maaf Tuan tidak ada" jawab si pemilik warung sopan.
"Kalau begitu kami harus menempati banyak meja Pak, karena kami banyak orang nya. Apa bapak tidak keberatan kalau semua meja yang kosong ini kami tempati?" tanya Dayyan lagi.
"Tidak apa apa Tuan. Nanti kalau ada pelanggan bisa duduk di luar mereka"
"Terima kasih Pak"
Setelah mengatakan itu, Dayyan pun mengajak yang lain nya menempati meja yang masih kosong.
"Permisi Nona Tuan, silah kan menu nya" ucap salah satu karyawan di meja Dayyan dan Breena.
"Mbak kalian pesan terlebih dahulu aja. Biar Adga, Deera sama Andra kami yang jaga terlebih dahulu" ucap Breena menyuruh pengasuh anak nya untuk duluan makan.
"Mboten Ning. Sebaik nya Gus dan Ning saja yang makan terlebih dahulu. Kami belakangan aja" jawab pengasuh Deera.
"Kalian duluan saja. Biar triple K kami yang jaga" ucap Dayyan.
"Tapi Gus"
"Nggak ada penolakan Mbak" ucap Dayyan tegas.
Mau tidak mau pengasuh triple K pun memesan bakso mereka terlebih dahulu. Sementara triple K akan di jaga oleh Breena, Dayyan dan Ansel.
Begitu pun juga dengan Brian dan Ani, mereka juga meminta pengasuh anak nya dan pelayan yang ikut dengan mereka makan terlebih dahulu.
__ADS_1
Sedang kan yang lain nya, juga memesan makanan mereka terlebih dahulu.
"Ayo Syeril di pesan, jangan sungkan sungkan. Anggap aja kita semua ini sahabat kamu. Jangan anggap kalau kita ini orang asing loh" ucap Nova yang satu meja dengan Syeril, Anita dan tunangan Anita.
"I–iya Mbak" jawab Syeril terbata.
"Sama mereka ini jangan sungkan dan malu malu Syeril. Karena kalau kamu uda gabung sama mereka. Itu arti nya kamu uda jadi sahabat mereka juga. Jadi santai aja" jawab Anita yang memang uda tau bagaimana cirle pertemanan Breena dan yang lain nya.
Makanan pesanan mereka pun datang. Tak tanggung tanggung mereka memesan banyak sekali. Bahkan sang pemilik warung pun sampai kerepotan melayani pesanan mereka. Terutama pesanan Ibu hamil.
Anggi yang memang sedang ngidam pun memesan semua menu bakso yang ada di buku menu. Ralat tidak semua. Tapi hanya bakso mercon lah yang tidak di bolehi oleh Dion.
Anggi padahal sudah sangat ingin memakan bakso mercon itu, tapi di larang keras oleh Dion. Awal nya Anggi sampai ngambek tapi begitu mendengar ancaman dari Dion, Anggi pun akhir nya menurut.
Pengasuh anak anak Breena terlebih dahulu selesai makan. Mereka langsung meminta gantian oleh Breena. Begitu pun dengan pengasuh anak Brian
Kini giliran Breena, Dayyan, Ansel, Brian dan Ani lah yang makan. Mereka menikmati bakso yang sangat nikmat di lidah mereka.
Bahkan untuk ukuran kuah nya saja pun sangat menggoda di lidah mereka.
"Pak" panggil Dayyan pada pemilik warung.
"Iya Tuan, ada yang bisa di bantu?" tanya si pemilik warung sopan.
"Apa bakso nya masih tersisa banyak?" tanya Dayyan.
"Masih Tuan"
"Kalau begitu saya minta tolong bungkus kan sekitar 1000 bungkus bisa Pak? Tapi kuah nya di pisah" pinta Dayyan.
Si pemilik warung pun terdiam. Ia begitu syok mendengar apa yang di katakam oleh Dayyan.
"Pak apakah bisa?" tanya Dayyan lagi.
"Bisa Tuan. Tapi sedikit lama bungkus nya, karena banyak Tuan. Apa Tuan bisa menunggu nya?" tanya si pemilik warung ragu.
"Bisa Pak"
__ADS_1
"Iya uda kalau gitu biar saya siap kan dulu Tuan"
Setelah mengatakan itu si pemilik warung pun langsung meminta bantuan beberapa karyawan nya untuk membungkus 1000 bakso yang di pesan oleh Dayyan.