
Tepat pukul 03:00 pagi. Breena terbangun karena haus. Ia melihat gelas nya yang ada di atas nakas kosong. Breena pun dengan perlahan turun dari atas tempat tidur nya dan berniat mengambil air minum di dapur.
Sebelum pergi, Breena meletak kan bantal dan gulung di samping Andra. Karena bayi itu tidur bersama dengan nya. Setelah itu Breena melihat kedua anak nya yang tertidur di dalam box bayi mereka.
Setelah di rasa aman untuk di tinggal kan, Breena pun langsung menggunakan hijab instan nya, lalu berjalan perlahan dan membuka pintu dengan sangat hati hati. Takut membangunkan keempat kesayangan nya itu.
Breena berjalan menuju ke dapur. Di dapur dia bertemu dengan salah satu mbak khadamah yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ning"
"Iya Mbak. Abis ngapain?"
"Ambil wudhu Ning. Mau tahajud. Ning mau ngapain?"
"Mau ambil minum mbak. Gelas di dalam kamar kosong jadi saya turun ke bawah"
"Nggih Ning."
Mbak khadamah itu pun menunggui Breena yang sedang mengambil air minum. Breena menatap heran dengan mbak khadamah itu.
"Kenapa nggak langsung ke kamar mbak? Kan tadi kata nya mau tahajud" tanya Breena.
"Saya nungguin Ning dulu baru sholat tahajud Ning" jawab nya sopan.
"Saya sudah selesai kok mbak. Mbak lanjut aja. Saya juga mau ke kamar lagi"
"Nggih Ning. Kalau gitu saya permisi dulu"
"Iya mbak"
Breena dan mbak khadamah itu pun langsung meninggal kan dapur.
Sesampai nya di kamar, Breena melihat suami nya yang sudah bangun dan duduk di headboard tempat tidur mereka.
"Lohh kamu kok bangun Mas?" tanya Breena pelan takut membangun kan anak anak nya.
__ADS_1
"Kebangun sayang. Kamu dari mana?"
"Dari dapur Mas ambil minum."
Dayyan pun menarik Breena mendekat ke arah nya. Dayyan langsung memeluk tubuh istri nya itu.
"Andra kenapa di pindah Mas?"
"Iya tadi pempes nya penuh. Abis Mas gantiin tidur lagi. Iya uda Mas pindah kan aja ke box nya." jawab Dayyan yang sudah menenggelam kan wajah nya di ceruk leher sang istri.
Dayyan menghirup dalam dalam wangi tubuh istri nya itu. Dia begitu candu dengan wangi nya. Bagi Dayyan wangi tubuh Breena bisa membuat nya tenang dan nyaman.
"Tolong kondisikan tangan nya Mas. Nggak usah nakal. Ayo kita tahajud Mas." ucap Breena kesal.
Dayyan hanya menampil kan senyuman polos nya. Modus nya terbaca oleh sang istri. Dengan patuh nya Dayyan pun beranjak dari tempat tidur nya dan menuju kamar mandi mengambil wudhu.
Breena pun dengan sigap langsung menyiap kan sajadah, mukena nya serta koko dan sarung untuk suami nya.
Setelah Dayyan keluar, Breen apun langsung masuk ke kamar mandi bergantian dengan Dayyan.
Dayyan dan Breena pun langsung sholat tahajud bersama. Selesai sholat tahajud Dayyan membaca kitab kuning nya. Sedang kan Breena mengambil al-qur'an nya. Mereka melakukan itu sambil menunggu adzan subuh.
Dayyan dan Abah Arsya pun pergi bersama ke masjid, di perjalanan mereka bertemu dengan Brian, Ansel, Angga, Dion, dan Arya, serta para bodyguard yang beragama islam.
Sesampai nya di masjid sudah banyak para santri serta ustadz yang sudah datang.
"Ayo Brian, pagi ini Abah ingin kamu yang jadi imam nya" pinta Abah Arsya
Brian pun terkejut dengan permintaan Abah nya itu. Bagaimana bisa Abah Arsya tiba tiba meminta nya menjadi imam.
Dayyan dan yang lain nya sudah menahan tawa melihat kegugupan Brian. Bagaimana bisa seorang CEO yang selalu bertemu dengan klien penting tidak pernah gugup. Justru ketika di minta jadi imam saja dia nya gugup.
Brian pun menghela nafas nya untuk mengatur kegugupan nya. Lalu ia tersenyum melihat Abah Arsya yang juga tersenyum melihat nya.
"Siap Abah" ucap Brian lantang.
__ADS_1
Brian pun langsung mengambil sab di barisan imam. Kemudian Abah Arsya dan yang lain nya mengambil di sab pertama yang memang sudah sengaja di kosong kan oleh para ustadz.
Dengan suara tegas dan lantang Brian menjadi imam di subuh pertama nya di pesantren Abah Arsya.
Selesai sholat subuh banyak yang memuji Brian. Sedang kan Brian menjawab nya dengan senyuman saja. Dia tidak mau sesumbar dan sombong dengan apa yang sudah di lakukan nya.
Di ndalem, para pengasuh ketiga anak Breena sudah datang. Mereka pun segera mengambil alih ketiga bayi yang masih tertidur itu.
Mereka membawa ketiga bayi itu ke kamar yang memang sudah di sedia kan untuk ketiga bayi gembul itu. Mereka langsung mendorong box ketiga bayi yang masih tidur itu.
Sedang kan Breena sudah berkutat di dapur bersama dengan beberapa mbak khadamah. Pagi ini Breena ingin sarapan pagi dengan hasil masakan nya. Bukan masakan dari mbak khadamah.
Dengan cekatan tangan Breena mengolah beberapa bahan makanan yang akan menjadi menu sarapan mereka.
Breena sangat serius memasak menu sarapan nya, sampai dia tak menyadari kehadiran suami nya yang sudah berdiri di ambang pintu dapur.
Dayyan yang sudah tak sabar pun meminta mbak khadamah meninggal kan istri nya yang sedang fokus memasak itu.
"Dduuhhh serius banget sih Umi" ucap Dayyan tib tiba sambil memeluk Breena dari belakang.
Breena yang mendapati kedatangan suami nya pun hanya tersenyum. Ia membiar kan suami nya melakukan apa yang sedang dilkaukan nya.
"Iya Abi. Umi mau pagi ini sarapan dari masakan Umi. Tak apa kan Abi?" tanya Breena yang tangan nya masih fokus memasak.
"Tak apa kalau untuk hari ini. Tapi besok besok Abi nggak mau lihat Umi sibuk di dapur lagi. Ingat Umi. Peraturan di rumah Jakarta juga berlaku disini. Jadi Abi hanya akan mengizinkan untuk hari ini saja. Paham sayang nya Abi?" tanya Dayyan sambil mencium pipi kanan Breena.
"Paham Abi. Terima kasih sudah mengizin kan Umi masak pagi ini" ucap Breena lembut.
"Iya uda Abi mau joging dulu iya sama yang lain nya. Boleh sayang?"
"Boleh Abi. Ingat jangan jauh jauh. Jaga hati jaga mata juga" canda Breena.
Dayyan terkekeh dengar candaan istri nya itu. Bagi nya tak ada yang lebih baik dari sang istri. Hanya Breena lah yang ada di hati nya. Bahkan dari tiga tahun sebelum ia berani melamar Breena.
"Siap Umi. Abi akan menjaga hati dan mata Abi hanya untuk Umi seorang"
__ADS_1
Breena pun berbalik. Ia tersenyum manis melihat suami nya yang sudah menggunakan baju olahraga.
Breena langsung menyalami dan mencium tangan Dayyan. Tak lupa Dayyan juga menyemat kan ciuman nya di kening dan puncak kepala Breena. Setelah itu Dayyan pun langsung keluar menuju ke halaman rumah yang ternyata yang lain nya sudah berkumpul.