
Pagi hari Dion sudah berada di Apartemen Anggi. Ini masih jam 08:00 WIB. Ini terlalu pagi untuk orang bertamu. Tapi tujuan Dion datang sepagi ini adalah untuk menjemput calon mantu Bunda nya.
"Bee" sapa Dion ketika Anggi sudah membukakan pintu apartemen nya.
"Mas. Ada apa sepagi ini uda disini?" tanya Anggi heran.
"Mau jemput kamu sayang" jawab Dion santai.
"Kita kan nggak ada janji mau pergi kemana hari ini Mas. Kenapa kamu mau jemput aku?"
"Kata Bunda Dion cepat bangun ini uda siang, cepat jemput mantu Bunda. Bunda pengen masak bareng sama mantu Bunda. Gitu sayang, maka nya aku uda ada disini sepagi ini" jawab Dion menirukan omongan Bunda nya.
"Mas itu heran sayang. Bunda lebih sayang sama kamu dari pada sama Mas. Kalau sama Mas itu Bunda bawaannya mau marah aja" protes Dion.
"Bagus dong kalau Bunda sayang sama aku Mas. Berarti aku sesuai sama menantu idamannya Bunda. Apa Mas nggak suka iya kalau Bunda lebih sayang sama aku?" tanya Anggi sedih.
"Iya senang dong Bee. Bunda itu beda perlakuannya ke kamu. Kalau dulu ke mantan mantan aku, Bunda cuek banget kadang juga ketus" jelas Dion membawa Anggi kedalam pelukannya.
"Aku bahagia Mas kenal sama kamu. Bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu sungguhan. Terima kasih sudah mau berbagi Ibu sama ku Mas" ucap Anggi yang sudah meneteskan air matanya.
"Ssssttt jangan nangis sayang. Kamu juga nanti jadi anak nya Bunda. Bukan nanti bahakan sekarang pun kamu sudah jadi anak nya bunda. Sekarang kamu siap siap iya. Nanti keburu Bunda marah lagi karena lama nungguin aku yang jemput kamu" ucap Dion sambil mengelus kepala Anggi.
"Terima kasih Mas. Iya lepas dong pelukannya biar aku ganti baju" sindir Anggi karena Dion bukannya melepaskan pelukannya justru malah mengeratkan pelukan itu.
"Hehehehe Mas kangen banget sayang" ucap Dion lalu mencuri cium dibibir Anggi sekilas.
"Iiihhh cium cium. Mesum kamu Mas" protes Anggi.
"Sekali aja sayang. Uda lama Mas nggak cium kamu"
"Tuh kan tambah mesum. Uda ach aku mau ganti baju dulu Mas" ucap Anggi sambil melepaskan pelukan mereka.
"Mau aku temani sayang?" goda Dion.
"Masss nikahin dulu baru boleh" protes Anggi semakin sebel melihat kekasihnya.
"Oke nanti kita bahas dirumah bersama Ayah dan Bunda iya sayang"
Anggi hanya menganggukkan kepalanya.
Menunggu beberapa menit akhirnya mereka berdua pun meninggalkan apartemen Anggi menuju kerumah orang tua Dion.
...----------------...
Seorang petugas panti asuhan memanggil Ibu pemilik panti asuhan tersebut.
"Permisi Bu Ayu" panggil Bu Ida
"Ada apa Bu Ida?"
__ADS_1
"Didepan ada tamu Bu, ingin bertemu dengan Ibu" beritahu Bu Ida.
"Iya sudah saya kedepan dulu, tolong buatkan mereka teh dan cemilan iya Bu Ida"
"Iya Bu. Kalau gitu saya kebelakang dulu Bu" pamit Bu Ida yang langsung kebelakang area dapur.
"Selamat pagi Tuan Nyonya. Perkenalkan saya Bu Ayu pemilik panti asuhan ini. Ada yang bisa dibantu Tuan Nyonya?" tanya Bu Ayu ketika ia melihat tamunya.
"Perkenalkan saya Steven Danuarta, ini istri saya Rianti dan ini anak saya Thomas. Iya Bu Ayu ada yang ingin saya tanyakan pada Ibu" ucap Daddy Steven sopan.
"Ada apa iya Tuan?"
"Apa Ibu pernah menemukan seorang bayi perempuan dengan mata berwarna biru, memakai kalung dengan liontin berwarna biru sekitar 26 tahun yang lalu Bu?" tanya Daddy Steven.
Bu Ayu pun seketika berpikir. 26 tahun yang lalu itu sudah sangat lama.
"Kalau tidak salah dia memakai gaun berwarna biru juga Bu. Ini foto nya" sambung Mommy Rianti sambil menunjukkan foto Anggi sebelum ia menghilang.
"Nama nya Anggita Maharani Danuarta Bu" lanjut Mommy Rianti lagi.
"Sebentar Tuan Nyonya" ucap Bu Ayu.
Kemudian Bu Ayu pergi kedalam kamarnya untuk mengambil foto Anggi dan baju milik Anggi dulu yang dia simpan didalam kotak kecil.
"Maaf Tuan Nyonya. Apa bayi ini yang Tuan dan Nyonya maksud?" tanya Bu Ayu menunjukkan foto yang sama dengan foto milik Mommy Rianti.
Dengan cepat Mommy Rianti mengambil foto yang diulurkan oleh Bu Ayu. Seketika Mommy Rianti pun menangis.
"Maaf Nyonya apa benar ini juga gaunnya?" tanya Bu Ayu sambil mengeluarkan gaun bayi milik Anggi.
"Benar Bu Ayu" jawab Mommy Rianti memeluk gaun bayi itu.
"Dad, putri kita Dad. Kenapa mereka tega membuang putri kita disini Dad" tangis Mommy Rianti pecah ketika mengingat anaknya harus hidup di panti asuhan.
"Maaf Bu Ayu, kalau foto dan gaunnya ada. Lalu dimana anak saya dan kalungnya?" tanya Daddy Steven.
"Kalungnya tidak pernah saya lepaskan Tuan. Saya terus minta sama Anggi untuk memakainya, agar dia segera bertemu dengan orang tuanya. Namun sudah 26 tahun tetap saja belum ada yang datang mengakui kalau Anggi anak mereka" jelas Bu Ayu.
"Lalu dimana anak saya sekarang Bu?" tanya Mommy Rianti.
"Anggi sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang sangat cantik. Dia sekarang sudah bekerja selama 3 tahun di perusahaan besar. Maaf saya tidak tau nama perusahaan nya. Tapi Anggi cerita kalau dia bekerja sebagai sekretaris CEO di perusahaan itu. Biasanya Anggi akan datang kesini setiap awal bulan. Dia selalu menyisihkan gajinya untuk membantu keuangan disini. Jadi Anggi sudah tidka tinggal disini lagi Nyonya Tuan. Dia tinggal di apartemen dekat dengan tempat kerjanya" jelas Bu Ayu.
"Bu bisakah Ibu menelponnya dan memintanya untuk datang kesini?" tanya Mommy Rianti penuh harap.
"Sebentar Nyonya, saya coba dulu iya" ucap Bu Ayu. Kemudian ia menelpon Anggi.
Tttuuuttt ttttuuuttt
Sudah dua kali Bu Ayu mencoba menelponnya, namun tak diangkat. Bu Ayu pun tidak putus semangat, ia terus menelpon Anggi.
__ADS_1
Sementara Anggi sedang sibuk membantu Bunda nya Dion memasak. Ponselnya ditinggal didalam tasnya.
"Sayang ponsel kamu bunyi terus dari tadi. Dari Ibu Panti, sepertinya penting. Kamu angkat dulu sayang" ucap Dion sambil menyodorkan ponsel Anggi.
"Terima kasih Mas"
"Hallo Assalamualaikum Bunda" ucap Anggi riang.
"Wa'alaikum salam sayang. Kamu lagi apa? Dari tadi Bunda telepon nggak kamu angkat" tanya Bu Ayu.
Dipanti hanya Anggi lah yang memanggilnya Bunda.
"Hehehe maaf Bunda. Anggi lagi masak sama Bunda nya Mas Dion. Ada apa Bunda?"
"Sayang bisakah kamu datang ke panti sekarang?"
"Bunda sakit?" tanya Anggi khawatir.
"Tidak sayang. Tapi bisakan kamu datang sekarang?" tanya Bu Ayu memastikan.
"Bisa Bunda. Tunggu iya Anggi pamit dulu sama Bunda nya Mas Dion"
"Iya sayang. Bunda tunggu iya. Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam Bunda" jawab Anggi kemudian mematikan teleponnya.
"Ada apa Sayang?" tanya Bunda Dion yang melihat kekhawatiran Anggi.
"Bun, kalau Anggi pamit boleh nggak?" tanya Anggi hati hati.
"Kenapa sayang? Ada apa sama Bu Ayu?" tanya Bunda Dion.
"Nggak tau Bunda, tapi Bunda Ayu minta Anggi kesana sekarang" jawab Anggi menunduk.
"Iya uda pergi lah nak. Jangan buat Bunda mu itu terlalu lama menunggu. Mungkin ada hal penting yang mau dikatakan sama dia"
"Nggak papa Bunda? Kan Bunda hari ini ingin Anggi temani masak" tanya Anggi tak enak hati.
"Masih ada hari esok sayang" ucap Bunda Dion kemudian ia memanggil anaknya itu.
"Dion" teriaknya.
"Hadeeeuuuhhh Bunda bisa nggak sih nggak teriak gitu. Elegan dikit dong Bunda" protes Dion.
"Nggak usah protes. Sekarang kamu antarkan Anggi ke panti" pinta Bunda nya.
"Ke panti? Ada apa sayang?" tanya dion yang hanya dibalas gelengan oleh Anggi.
"Iya ud aayo kita kesana sekarang" ajak Dion sambil menarik tangan Anggi.
__ADS_1
"Kami pergi dulu Bunda. Assalamualaikum" ucap Anggi agak berteriak karena ia sudah di tarik oleh Dion.
"Wa'alaikum salam. Anak itu semangat banget kalau uda disuruh ke panti" omelnya melihat tingkah anaknya.