
Setiba nya di rumah sakit. Anggi langsung berlari menuju ruang operasi. Ia tak lagi memperhatikan keadaan nya. Yang lebih di khawatir kan nya adalah kondisi Bunda Ayu nya.
Anggi terus berlari bahkan ia sampai menabrak beberapa pengunjung di lorong menuju ruang operasi.
Dari kejauhan ia sudah melihat keluarga nya disana. Daddy nya berjalan mondar mandir menunggu Dokter yang mengoperasikan Bunda nya keluar.
"Daddy" panggilnya ketika ia sudah berdiri dihadapan sang Daddy.
"Sayang. Kamu kesini sama siapa?" tanya Daddy Steven ketika ia tak melihat siapa pun di belakang anak nya itu.
"Sama Mommy. Mas Dion, Ayah sama Bunda juga. Mereka masih di belakang Dad" jelas Anggi yanh dibalas anggukan oleh Daddy Steven.
"Operasi nya belum selesai Dad?" tanya Anggi yang melihat lampu merah masih menyala. Menandakan kalau operasi nya masih berjalan.
"Belum sayang. Ini uda 2 jam Daddy dan yang lain nya menunggu"
"Bagaimana dengan darah yang dibutuhkan Dad?" tanya Anggi khawatir.
"Alhamdulillah cukup sayang. Dari rumah sakit lain mengirimkan 2 kantung. Dan dari Dayyan ia memberikan 2 kantung juga" jelas Daddy Steven.
"Alhamdulillah. Terus dimana Breena dan Mas Dayyan Dad?" tanya Anggi yang tak melihat keberadaan Breena.
"Dayyan lagi istirahat sayang ditemani Breena. Mereka ada dilantai 5"
"Terus bagaimana dengan yang nabrak Dad. Apa uda ketangkap?"
"Uda. Tapi dia masih belum mau berbicara. Pak Aji dan bawahan nya masih berusaha mengintrogasi nya. Semoga aja dia mau berbicara sayang"
"Apa Anggi boleh menemui nya Dad?" tanya Anggi ragu.
Daddy Steven yang mendengar permintaan anak nya itu pun terdiam cukup lama. Ia ragu apa ketika anak nya dibawa kesana si pelaku akan membuka mulut nya atau tidak.
"Boleh iya Dad" tanya Anggi sekali lagi.
"Iya. Tapi nanti iya sayang. Kita tunggu operasi Bu Ayu selesai dulu"
"Sekarang aja Dad. Disini juga uda banyak orang yang nungguin Bunda"
"Iya uda kita berangkat sekarang" putus Daddy Steven.
"Mas ikut iya sayang" ucap Dion. Mana mungkin ia membiarkan begitu saja istri nya pergi menemui si pelaku penabrak Bunda Ayu. Walau pun pergi nya sama mertua nya. Tetap aja dia nggak rela.
"Mom, Daddy pergi dulu iya. Daddy mau menyelesaikan masalah ini dulu" pamit Daddy Steven pada Mommy Rianti.
"Hati hati iya Dad"
Setelah mengatakan itu, Daddy Steven, Anggi, dan Dion pun pergi menuju markas Daddy Steven.
__ADS_1
Satu jam berselang Daddy Steven pun sampai disebuah bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Bangunan ini dulu nya dijadikan markas oleh Daddy Steven dan para anak buah nya.
Daddy Steven dulu nya adalah seorang mafia juga. Ia berhenti menjadi mafia ketika anak nya di culik. Dan mulai lagi menjadi mafia ketika ia kembali ke Indonesia. Dalam artian Daddy Steven fakum dari dunia gelap nya selama 26 tahun.
"Ayo turun" ajak Daddy Steven yang sudah mematikan mesin mobil nya.
"Ini dimana Dad?" tanya Anggi takut.
"Ini markas Daddy. Ayo kita masuk. Mereka sudah menunggu kita" ajak Daddy Steven yang sudah mulai melangkahkan kaki nya meninggalkan kebingungan di anak dan menantu nya.
"Maksud Daddy apa iya Mas? Apa Daddy seorang mafia iya?" tebak Anggi.
"Mas juga nggak tau sayang. Semua informasi tentang keluarga kamu sulit untuk diselidiki" ujar Dion
"Iya uda ayo kita kedalam. Takut Daddy menunggu lama" ajak Dion sambil menggandeng tangan Anggi.
"Selamat datang kembali Tuan Besar" ucap para bawahan nya Daddy Steven.
"Hmm"
"Pak Aji" panggil Daddy Steven.
Pak Aji yang dipanggil pun langsung melangkah mendekat kearah Daddy Steven.
"Bagaimana?" tanya Daddy Steven dingin.
"Dad" panggil Anggi.
"Sini sayang"
Daddy Steven meminta Anggi dan Dion berdiri disamping nya. Kemudian Daddy Steven menatap kearah semua anak buah nya.
"Perkenal kan. Dia putri ku yang hilang. Anggita Maharani Danuarta. Dan disebelah nya adalah suami nya Dion Wijaya" ucap Daddy Steven memperkenalkan anak dan menantu nya.
"Selamat datang Nona Muda dan Tuan Muda. Selamat atas pernikahan kalian" ucap semua anak buah Daddy Steven.
"Terima kasih" jawab Anggi dengan senyum manis nya.
"Daddy sudah datang" ucap Thomas dari atas tangga.
"Loohh Thomas ada disini Dad?" tanya Anggi tak percaya melihat adik nya yang jarang dilihat nya ada di markas Daddy nya.
"Iya Daddy yang minta Thomas belajar bela diri disini sama Uncle Aji" jelas Daddy Steven.
Thomas pun berjalan kearah sang kakak dan memeluk kakak nya posesif.
"Kenapa hmm?"
__ADS_1
"Thomas rindu" jawab Thomas yang semakin mengeratkan pelukan nya.
"Kakak juga rindu. Kamu jarang sekali mengunjungi kakak mu ini" protes Anggi.
"Maaf" lirih Thomas.
"Sudah sudah. Sayang kenal kan ini Uncle Aji, kaki kanan Daddy. Dia lah yang menjaga markas ini selama Daddy berada di London"
"Senang bertemu dengan Uncle" ucap Anggi sambil menyalami tangan Uncle Aji.
"Senang juga bertemu kembali dengan anda Nona. Anda tumbuh menjadi gadis yang cantik. Bahkan sedari bayi Anda memang sudah terlihat kecantikan nya" puji Pak Aji.
"Terima kasih Uncle" ucap Anggi tersenyum ramah.
"Tapi Dad, bisa Daddy jelaskan maksud nya apa bilang kalau ini markas?"
"Selamat datang di dunia gelap sayang. Dunia Mafia. Daddy dulu adalah seorang mafia. Daddy ketua mafia dari King. Daddy berhenti setelah pindah Ke London. Dan sekarang Daddy aktif lagi sejak kembali ke negara ini" ucap Daddy Steven dengan senyum bangga nya.
Anggi dan Dion pun sontak terkejut mendengar satu fakta tentang Daddy Steven yang selama ini tidak mereka ketahui.
"Uda jangan terkejut begitu. Sekarang ayo kita lihat si penabrak Bu Ayu" ajak Daddy Steven.
Daddy Steven pun berjalan menuju ke ruang bawah tanah tempat penjara di markas itu berada.
Dengan berjalan di belakang nya tentu saja Uncle Aji. Dan Anggi serta Dion yang juga ikut mengekori dibelakang.
"Buka sel nya" perintah Uncle Aji.
Sel terbuka. Terlihat di dalam sel itu ada seorang pemuda yang sedang duduk meringkuk di sudut ruangan.
Mndengar ada yang datang. Ia pun langsung mendongak kan kepala nya. Melihat siapa yang datang kali ini. Ia menatap satu persatu kearah 4 orang yang sedang berdiri di dalam ruangan nya.
Mata nya pun terhenti saat bertatapan dengan Anggi. Dia menatap dalam wajah cantik Anggi dan mata biru Anggi. Dari tatapan mata nya terlihat dia begitu menyesal, kecewa dan ada tatapan dendam disana.
Anggi yang melihat pemuda itu pun sama terkejut nya. Ia memandang sedih kearah pemuda itu.
Pemuda yang tumbuh besar bersama nya di dalam panti asuhan milik Bu Ayu. Pemuda yang dua tahun diatas nya. Pemuda yang selalu menemani nya disaat ia sedih. Tapi kenapa ia tega menabrak Bunda nya. Bunda yang sudah membesarkan nya.
"Wildan" lirih Anggi dengan mata yang berkaca kaca.
Pemuda itu tak bergeming. Ia menatap lekat mata biru itu yang sudah meneteskan air mata nya.
"Kenapa kamu tega melakukan ini sama Bunda Wil? Apa salah Bunda?" tanya Anggi yang sudah mulai terisak.
Wildan pun masih terdiam. Ia menatap tak suka ke arah Anggi. Tatapan yang tak pernah Anggi dapatkan dari dulu darinya.
"Jawab Wil. Kenapa kamu tega menabrak orang yang sudah membesarkan mu?" teriak Anggi.
__ADS_1
"DENDAM"