
Mendengar pertanyaan itu dari orang tua nya, membuat Breena dan Dayyan saling pandang. Bagaimana bisa mereka bertanya seperti itu dengan santai nya. Sementara anak dan menantu nya sedang kebingungan dan khawatir karena tidak menemukan keberadaan ketiga anak nya di dalam kamar dan seisi rumah.
"Mah dari mana?" tanya Breena sambil mengambil Adga.
"Dari jalan jalan di taman kompleks sama cari bubur ayam" jawab Mama Ratih santai masih belum tau bagaimana kekhawatiran mereka tadi.
"Kalian kenapa sih?" tanya Papa Doni.
"Kami khawatir Pah. Kami nggak menemukan baby triple K di kamar nya. Kami pikir di culik sama orang. Tapi kami juga nggak menemukan kalian semua di rumah ini. Itu semakin membuat kami khawatir. Takut terjadi apa apa sama kalian semua" jelas Dayyan yang sudah mengambil alih Amdra dari gendongan Umma Hanum.
"Oohhh" jawab kedua orang tua Breena dan Dayyan serempak"
"Oohh aja?"
Breena tak habis pikir. Bagaimana bisa kedua orang tua nya dan mertua nya hanya menanggapi perkataan suami nya dengan kata oohh aja.
"Iya terus apa lagi?" tanya Mama Ratih sambil berjalan memasuki rumah.
"Jelasin dong Mah. Kenapa bawa baby triple K nggak bilang bilang dulu. Biar kami nggak kecarian" protes Breena mengikuti Mama nya.
"Iya salah kan kalian berdua lah. Uda lewat subuh belum keluar juga. Kita kan mau jalan jalan di taman kompleks. Mama juga uda ketuk pintu kamar kalian. Tapi nggak ada sahutan. Iya uda kami pergi aja bawa anak anak kalian" ucap Mama Ratih tenang sambil menyiap kan bubur ayam yang di bawa nya tadi.
Breena menatap Dayyan. Meminta penjelasan dari nya. Tadi setelah sholat subuh mereka memang tertidur lagi setelah melakukan ibadah halal mereka. Mungkin karena kelelahan jadi mereka tidak mendengar panggilan dari luar.
Breena pun menunduk malu dengan rona merah di pipi nya. Sedangkan Dayyan berusaha mengalih kan pandangan nya ke arah nya. Namun nasib beruntung belum memihak nya. Abah dan Papa nya justru menggoda nya dengan menaik turun kan alis mata nya. Sambil tersenyum jahil. Itu membuat Dayyan semakin mati kutu.
"Maaf Mah. Tadi kami tidur lagi jadi nggak dengar panggilan Mama" lirih Breena yang masih bisa di dengar dengan yang lain nya.
__ADS_1
"Ooohhh tidur lagi rupa nya" ucap Mama Ratih dengan suara jahil nya.
"Terus tuh pipi kenapa merah gitu? Kamu kebanyakan pakai blush on iya?"
"Ng – nggak ada Mah. Mana ada Bree pakai blush on" elak Breena memalingkan wajah nya.
"Uda uda ayo kita mulai sarapan nya. Kasihan tuh menantu Umma, uda merah begitu pipi nya di goda terus. Ayo Cintya, kita sarapan bersama" ajak Umma Hanum menyudahi besan nya yang sedang menggoda anak nya sendiri.
Sarapan pagi itu pun di mulai. Seperti biasa hanya ada keheningan di atas meja makan itu.
Sedangkan ketiga anak Breena sedang di asuh oleh ketiga pengasuh nya. Mereka bertiga di bawa ke ruangan bermain yang sengaja di buat oleh Mama Ratih.
Setelah selesai sarapan Cintya berinisiatif membersih kan piring piring kotor. Namun sebelum itu Dayyan mulai membuka suara nya.
"Cintya nanti kami tunggu di ruang keluarga. Karena ada yang ingin saya sampai kan sama kamu" ucap Dayyan sebelum ia pergi meninggal kan ruang makan.
Breena dan Dayyan beserta kedua orang tua dan mertua nya pun beranjak dari ruang makan ke ruang keluarga. Mereka menunggu kedatangan Cintya.
Sedangkan anak anak nya Cintya sudah pergi terlebih dahulu ke ruang bermain menyusul ketiga anak anak Breena.
Tak berselang lama, Cintya pun datang. Ia duduk di sofa yang memang tinggal satu.
"Ada apa iya Gus?" tanya Cintya yang menunduk kan wajah nya.
"Maaf sebelum nya. Saya tidak tau kalau Umma dan Abah ada di Jakarta. Maka nya saya meminta kamu ke Bandung. Jadi nya kamu harus repot menyusul Umma dan Abah kesini" ucap Dayyan memulai pembicaraan.
"Tidak apa apa Gus. Saya justru berterima kasih karena keluarga Gus mau menerima kedatangan saya" ucap Cintya merasa tak enak hati telah merepot kan keluarga Guru nya dulu.
__ADS_1
"Kamu tidak merepot kan kok Cin. Biasa aja iya" ucap Umma Hanum memberikan senyum hangat nya.
"Cintya. Kita tau bagaimana keadaan kamu yang sekarang sedang tidak baik baik saja. Disini saya ingin menyampaikan sebuah tawaran untuk mu. Mungkin ini bisa membantu mu untuk melanjut kan hidup mu dengan kedua putri mu. Iya walau pun saya tau, kalau setiap bulan nya kamu akan mendapat kan biaya dari Rendra untuk kedua putri kalian. Tapi itu hanya untuk kedua anak mu bukan untuk mu" ucap Dayyan.
"Iya Gus. Saya tau soal itu. Maka nya niat saya juga ingin mencari pekerjaan untuk bisa melanjutkan hidup saya sendiri"
"Begini Cintya. Saya sudah meminta pendapat dari istri dan kedua orang tua saya serta mertua saya. Awal nya saya ingin menawar kan kamu untuk bekerja di kantor saya. Tapi Umma melarang. Kata nya di pondok pesantren sedang membutuh kan seorang pengajar. Apa kamu bersedia bekerja disana?" tanya Dayyan.
Cintya langsung mengangkat kepala nya. Menatap satu persatu orang yang ada di hadapan nya. Mata nya berkaca kaca. Ternyata masih ada orang yang peduli dengan nya.
"Bagaimana Cintya, apa kamu mau? Kamu jangan khawatir nanti disana kamu bis menempati rumah dinas untuk ustadz dan ustadzah disana. Dan anak anak mu pun juga bisa bersekolah di sana juga" ucap Umma Hanum menimpali ucapan putra nya.
"Apa tidak masalah Umma kalau saya mengajar disana?"
"Tidak akan ada masalah. Siapa yang kan mempermasalah kan nya?" tanya Umma Hanum penasaran.
Cintya menggeleng kan kepala nya. Dia tidak tau mau menjawab apa.
"Kamu akan aman selama disana Cintya. Tidak akan ada yang akan mengusik mu. Apa kamu takut kalau Laura akan mendatangi mu disana?" tanya Dayyan yang mendapati anggukan dari Cintya.
"Laura sudah berada di dalam penjara Cintya. Dia ada di penjara internasional. Karena dia melakukan kejahatan nya di Jepang. Jadi akan sangat susah untuk membebaskan nya." jelas Dayyan.
Cintya terkejut mendengar itu. Kalau Laura di penjara pasti suami nya pun juga akan ikut di penjara. Lalu bagaimana nasib kedua putri nya nanti. Cintya gelisah memikir kan hal itu. Bagaimana dia akan menjawab ketika kedua putri nya merindukan Abi mereka.
"Kamu tenang saja Cintya. Rendra tidak ikut ku laporkan ke polisi. Karena memang semua nya adalah ulah Laura. Dia yang memang merencanakan ini semua. Rendra saat ini masih di Jepang. Masih bekerja di perusahaan yang sama. Namun saya menurun kan jabatan nya, menjadi staff biasa di divisi pemasaran" jelas Dayyan yang melihat gelagat kegelisahan nya Cintya.
"Terima kasih Gus. Terima kasih sudah memberikan nya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri nya. Sungguh sebenar nya Mas Rendra itu orang yang baik. Abi yang baik juga untuk kedua putri nya, bahkan dia juga suami yang baik. Hanya saja dia sedang di selimuti hawa nafsu, maka nya dia melakukan itu semua. Saya atas nama Mas Rendra dan Abi anak anak meminta maaf kepada Gus Dayyan dan Keluarga. Maaf karena ulah Mas Rendra, Gus mengalami kerugian yang besar" ucap Cintya yang sudah tak bisa lagi menahan laju air mata nya.
__ADS_1
"Tak apa Cintya. Semoga Rendra bisa berubah. Bagaimana dengan tawaran saya tadi?" tanya Dayyan lagi.