
Setelah kepergian keluarga Doni Abraham. Tuan Steven pun mendekat kearah Tuan Martin. Ia memandang kecewa dengan sahabatnya itu.
"Aku tak menyangka kau sekarang seperti ini Martin. Kita tau betul siapa orang dibalij kesuksesan yang kau dapatkan sekarang ini. Ia bukan orang yang menuntut harus dibalas budinya. Kau tak ingat selama kau menjadi anak yatim dari SMP sampai kuliah. Bahkan sampai kau sukses siapa yang membiayai kebutuhanmu. Doni benar kau seperti kacang yang lupa kulitnya. Aku tak bisa mengenal siapa kau sekarang Martin. Apa karena uang kau berubah Martin. Aku tak membela siapa pun disini Martin. Tapi renungkanlah semua perbuatanmu. Aku permisi" ucap Tuan Steven.
Setelah mengatakan itu Tuan Steven membawa istri serta anaknya pulang ke mansion mereka. Anggi pun bahkan ikut bersama mereka.
Setelah kejadian terbongkarnya fakta yang sebenarnya tentang hubungan antara Brian dan Breena. Acara pun kembali dilanjutkan. Walau pun hanya ada Tuan Martin dan Nyonya Aletha yang ada didalam ruangan itu. Sementara Brian sudah membawa Quin pergi kembali ke mansion mereka.
...----------------...
Sementara itu dirumah keluarga Doni Abraham.
Saat ini Mama Ratih sedang berada dikamarnya bersama Papa Doni. Mereka baru saja sampai dirumah.
"Pah, Mama bahagia. Akhirnya semua nya sudah terbongkar. Dan putri kita sudah tidak disalahkan lagi atas gagalnya pertunangan mereka dulu. Semoga saja setelah ini tidak ada lagi berita tentang keluarga mereka yang membawa bawa nama Breena lagi Pah" ucap Mama Ratih penuh harap.
"Papa akan pasti kan itu Mah. Karena Papa tidak ingin melihat putri Papa terluka lagi oleh keluarga mereka" ucap Papa Doni.
"Iya uda ayo kita istirahat Pah. Ini sudah terlalu malam.
"Iya Mah. Lagian besok Papa banyak kerjaan. Besok Papa mau ke rumah sakit mereka dan membawa kembali dokter dokter kita kembali ke rumah sakit kita"
Kemudian Papa Doni merebahkan tubuhnya dan menarik Mama Ratih kedalam pelukannya. Tak lupa kecupan dikening Mama Ratih.
Sedangkan dikamar Breena. Dayyan terus memeluk istrinya. Ia terus menenangkan Breena.
"Mas"
"Iya sayang"
"Apa setelah ini semua akan baik baik saja?" tanya Breena takut.
"Iya sayang semua akan baik baik saja. Mas akan memastikan itu. Mereka tak akan mengganggu kamu lagi"
"Terima kasih Mas. Breena mencintai Mas" ucap Breena kemudian mencium pipi suaminya.
"Mas juga mencintai kamu sayang. Tetap lah tersenyum dan bahagia sayang" balas Dayyan kemudian ia mencium singkat bibir Breena.
"Ayo tidur sayang. Besok kita juga akan sibuk. Bukan kah besoj kamu akan kekampus untuk daftar ujian skripsi dan menemui dosen"
"Iya Mas. Besok Breena sudah mulai disibukkan dengan urusan di kampus"
"Sekarang tidur iya" ucap Dayyan lalu ia mengeratkan pelukannya.
Breena pun memejamkan mata nya. Sedangkan Dayyan mengelus kepala Breena sambil menyanyikan sholawat. Tak membutuhkan waktu lama Breena dan Dayyan pun menuju kealam mimpi mereka.
...----------------...
__ADS_1
Keesokan harinya, kabar ditariknya dua pemegang saham terbesar di perusahaan AD Grup pun terdengar diseluruh perusahaan perusahaan lainnya.
Bahkan kabar itu membuat saham diperusahaan AD Grup semakin menurun.
Semua karyawan disibukkan oleh pekerjaan mereka setelah mendengar kabar itu. Mereka dituntut untuk membantu para petinggi agar saham kembali naik lagi.
"Selamat pagi Tuan Besar" sapa Gabriel ketika ia memasuki ruangan Tuan Martin.
"Pagi Gabriel. Sampaikan apa yang ingin kamu katakan"
"Ada kabar buruk Tuan. Saham perusahaan kita semakin menurun. Apa lagi setelah mendengar kabar dua pemegang saham terbesar kita menarik investasi mereka. Kalau ini tidak segera diatasi perusahaan akan bangkrut Tuan"
"Iya aku sudah menduga itu pasti akan terjadi" ucap Tuan Martin.
"Ada lagi?" lanjutnya.
"Para pemegang saham ingin mengadakan rapat pemegang saham dadakan Tuan"
"Jam berapa?"
"Jam 10:00 nanti Tuan"
"Baiklah persiapkan semuanya. Kita harus menghadapi masalah ini" ucap Tuan Martin yang kini hanya bisa pasrah.
"Baik Tuan" setelah mengatakan itu Gabriel pun kembali ke ruangannya. Ia akan mempersiapkan semua nya untuk rapat dadakan ini.
"Apa yang harus kulakukan? Perusahaan ku diambang kebangkrutan. Dan rumah sakit yang dipimpin anak ku pasti juga segera tutup. Karena kekurangan dokter dan dana untuk membayar para dokter. Apa aku harus menemui Doni secara pribadi? Iya mungkin jika aku menemuinya secara pribadi, ia mau memaafkan kami" gumam Tuan Martin.
...----------------...
Tak terasa sekarang sudah pukul 10:00 dan saatnya rapat pemegang saham dadakan akan dimulai. Namun dari semua para pemegang saham itu ada beberapa pemegang saham yang tidak datang dan hanya diwakilkan oleh asistennya.
"Selamat pagi semua. Mari kita mulai rapat ini" ucap Tuan Martin.
"Tuan Martin bagaimana ini? Kenapa dua pemegang saham terbesar bisa menarik saham mereka semua?" tanya salah seorang pemegang saham.
"Ini semua memang salah kami. Seharusnya kami mendengarkan ancaman mereka namun kami justru mengabaikannya. Dan berpikir kalau Doni Abraham tidak akan melakukan itu kepada sahabatnya"
"Jangan pernah membawa persahabatan didunia bisnis Tuan Martin. Didunia bisnis ini sahabat itu bisa jadi lawan. Jadi bagaimana dengan saham di perusahaan Anda? Saham kalian semakin menurun. Kalau seperti ini lebih bagus saya menarik semua saham saya sama seperti Tuan Doni dan Tuan Dayyan" ucap pemegang saham yang lain.
"Beri kami waktu Tuan. Kami akan berusaha untuk menaikkan kembali saham perusahaan kami" pinta Tuan Martin.
"Kami beri satu minggu Tuan Martin. Kalau saham kalian tidak naik juga dan justru semakin menurun. Maka saya akan menarik semua saham saya" ancam pemegang saham yang lain.
"Benar itu Tuan Martin. Kami semua akan menarik semua saham kami jika dalam waktu satu minggu saham kalian tidak ada kenaikan sama sekali"
"Terima kasih Tuan. Saya akan melakukan apa sja untuk menaikkan saham perusahaan kami"
__ADS_1
Rapat pun selesai. Dan para pemegang saham kembali ke perusahaan mereka masing masing.
...----------------...
Sementara itu di rumah sakit Anderson Hospital tengah ada keributan.
Papa Doni pagi pagi sekali datang dan meminta rapat pemegang saham dilakukan disana.
Walau pun Papa Doni bukan pemilik rumah sakit itu, namun ia bisa saja meminta rapat pemegang saham kapan saja. Karena ialah pemilik saham terbesar dirumah sakit itu.
Saat ini para petinggi rumah sakit, pemegang saham, serta pemilik rumah sakit sedang duduk dengan gelisah menunggu kedatangan Papa Doni.
Pintu ruang rapat pun terbuka. Didepan pintu ruang rapat terlihat Papa Doni yang berdiri bersama asisten nya. Suasana didalam ruang rapat itu semakin menengang ketika semua peserta rapat melihat raut wajah tak bersahabatnya Papa Doni.
"Selamat pagi semuanya. Saya tidak akan berbasa basi lagi. Mulai saat ini saya menarik semua saham saya di rumah sakit ini. Dan juga saya akan menarik semua dokter dokter saya untuk kembali ke rumah sakit saya" ucap Papa Doni tegas.
Hal itu mengejutkan semua petinggi rumah sakit dan pemegang saham. Tidak ada angin tidak ada hujan, dan tidak ada masalah kenapa tiba tiba Papa Doni menarik sahamnya beserta dokter miliknya.
"Maaf Tuan Doni. Kenapa anda tiba tiba menarik saham anda dan para dokter anda?" tanya kepala dokter dirumah sakit itu.
"Saya rasa kalian sudah melihat berita yang ada tadi malam. Jadi saya tidak perlu menjelaskannya lagi kepada kalian" ucap Papa Doni yang memandang tajam kearah Ibra.
"Damian, telepon semua dokter kita. Bilang sama mereka untuk mengemasi semua barang barangnya yang ada didalam ruangannya. Beri mereka waktu 45 menit untuk membereskan barang barangnya. Saya tunggu di lobby" ucap Papa Doni tegas lalu ia berdiri dan akan meninggalkan ruangan rapat yang tegang itu.
"Om Doni. Apa kah tidak ada cara lain lagi selain ini?" tanya Ibra yang kini menatap sendu kearah Papa Doni.
"Apa maksudmu Ibra? Cara apa yang kau maksud?"
"Ibra tau Daddy dan Brian sudah membuat banyak kesalahan kepada keluarga Om, terutama ke Breena. Tapi Ibra mohon Om jangan tarik saham Om di rumah sakit ini" mohon Ibra yang kini matanya sudah berkaca kaca.
"Apakah kalian ada yang memohon dan meminta maaf atas kelakuan adikmu itu Ibra? Kami diam saja ketika kalian menyakiti putriku. Tapi kenapa begitu aku membalasnya kalian seolah olah menjadi korban disini? Apa karena harta kalian sampai lupa kepada orang yang telah membantu kalian sampai kalian memiliki apa pun sekarang?" ucap Papa Doni menahan emosinya.
"Maaf Om. Ibra tau kesalah keluarga Ibra begitu fatal. Tapi bagaimana nasib kedua anak Ibra kalau rumah sakit ini tutup Om?"
"Apa kalian juga memikirkan bagaimana nasib putriku ketika kalian sakiti? Kau masih muda Ibra. Kau seorang dokter. Kau masih bisa bekerja di rumah sakit yang lainnya"
"Apa Ibra boleh memeluk Om untuk yang terakhir kalinya?" ucap Ibra memohon.
Papa Doni hanya menganggukkan kepalanya. Ibra pun segera memeluk Om nya itu.
"Maafin Ibra Om. Maafin keluarga Ibra juga" ucap Ibra yang tak mendapatkan balasan apa pun dari Papa Doni.
Setelah puas memeluk Om nya. Papa Doni pun segera keluar dari ruang rapat dan menuju ke lobby rumah sakit itu.
Sesampainya di lobby, ia sudah melihat 25 dokter miliknya sudah berkumpul dilobby dengan barang barang pribadi mereka yang ada diruangan mereka masing masing.
"Selamat pagi semua. Mulai hari ini kalian sudah tidak bertugas lagi dirumah sakit ini. Mulai besok kalian akan kembali ke rumah sakit saya. Terima kasih" ucap Papa Doni tanpa basa basi.
__ADS_1
"Siap Tuan" jawab mereka semua serempak.
Setelah mendapatkan jawaban dari para dokternya. Papa Doni pun menuju ke mobilnya bersama Damian. Ia akan ke perusahaan AD Grup.