Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Pantai Pink


__ADS_3

Keesokan hari nya, mereka berkumpul di lobby hotel dan akan sarapn di restauran hotel itu. Breena dengan semangat meminta sarapan di suapi oleh Dayyan. Dan dengan senang hati Dayyan pun menyuapi istri nya yang manja.


"Jadi kita kemana dulu ini?" tanya Juan setelah mereka menyelesaikan sarapan nya.


"Gimana kalau kita cari sarabi laklak dulu" ucap Breena memberi usul. Soal nya ia sudah sangat ingin merasakan makanan khas Lombok itu.


"Boleh juga. Nanti setelah mendapatkan sarabi itu kita langsung ke pantai pink" ucap Brian.


"Baiklah ayo kita berangkat. Keburu siang nanti kita sampai di pantai pink nya" ajak Juan.


Entah kenapa jadi Juan yang bersemangat ingin ke pantai pink.


Mereka semua pun mulai meninggalkan hotel. Mereka menyewa mobil yang biasa nya disewakan oleh pihak hotel.


Dengan berbekal dari informasi yang diberikan oleh pihak hotel, mereka tak susah untuk mencari penjual sarabi laklak. Hanya membutuhkan waktu 10 menit, mereka sudah mendapati penjual sarabi laklak.


Breena membeli banyak sarabi itu. Hitung hitung untuk makan nya dijalan nanti.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Breena mereka pun menuju ke arah pantai pink. Mereka memilih jalur darat menuju pantai pink.


Selama di perjalanan Breena bermanja manja di bahu suami nya. Ia tak mau lepas dari tubuh suami nya itu. Ntah kenapa lagi dengan Breena. Selama ia hamil ia bukan seperti Breena yang dulu.


Juan dan Brian yang melihat tingkah Breena pun hanya bisa menghela nafas mereka. Bahkan mereka menggeleng kan kepala ketika melihat Breena cemberut karena Dayyan yang tak mau menyuapi nya sarabi laklak yang mereka beli tadi.


Sementara di kursi belakang Ani Selvi dan Quin lebih banyak bercerita, lebih tepat nya Ani dan Selvi yang bercerita. Quin lebih banyak menonton kartun kesukaan nya di ponsel sang Daddy.


Tak terasa 2 jam perjalanan mereka menuju ke pantai pink akhir nya sampai juga. Setelah memarkirkan mobil nya. Mereka pun berjalan menuju ke bibir pantai.


Dengan antusias nya Breena berlari menuju bibir pantai. Melihat Breena berlari membuat Dayyan pun ikut berlari mengejar istri nya.


"Jangan lari sayang. Ingat ada Dedek disini" ucap Dayyan sambil mengelus perut Breena.

__ADS_1


Menyadari kesalahan nya. Breena pun menunduk takut. Ia begitu antusias melihat pantai pink.


"Maaf" lirih Breena menahan tangis nya.


"Iya nggak papa, tapi jangan di ulang iya. Kasihan dedek kalau dibawa lari" ucap Dayyan lembut.


"Mau main pasir?" tawar Dayyan.


Breena hanya menjawab dengan anggukan. Ia masih takut dimarah oleh Dayyan.


"Mas nggak marah sayang. Mas hanya takut kamu dan dedek kenapa kenapa. Jangan sedih lagi iya"


Dayyan pun langsung membawa Breena bermain pasir yang berwarna pink.


Pantai pink merupakan pantai dengan pasir putih yang berwarna kemerah merahan. Karena perpaduan antara warna putih dan warna merah sehingga pasir di pantai pink mirip dengan warna merah muda.


Warna pink pada pasir di pantai ini terjadi karena pasir putih menyatu dengan butiran terumbu karang berwarna merah, dan berefek kemerahan setelah bercampur dengan air laut. Kemudian pantulan dari sinar matahari sehingga membuat warna pink pada pasar ini semakin terlihat. Warna pink pada pasir pantai ini sangat bervariasi. Pada pagi hari sekitar 20-30%, siang hari sekitar 50% dan semakin sore warna nya akan terlihat jelas antara 80-90%.


Selain pasir nya yang berwarna pink, laut di pantai pink masih sangat jernih. Sehingga saat naik sampan dapat melihat keindahan bawah laut dari atas permukaan air lautnya.


Saat ini Breena di temani oleh Ani Selvi dan Quin sedang bermain pasir. Mereka membuat rumah rumahan dari pasir yang berwarna pink.


Sedangkan Dayyan sedang duduk bersama Brian dan Juan di joglo yang mereka pesan untuk beristirahat.


"Gimana rasa nya menghadapi orang hamil Mas?" tanya Juan membuka perbincangan mereka.


"Rasa nya sangat bahagia Mas. Walau pun terkadang harus menahan kesal dan sedikit emosi. Apa lagi Breena, Mas tau sendiri ngidam nya sedikit aneh" jawab Dayyan dengan senyum yang mengembang menatap sang istri yang tertawa senang.


"Breena memang seperti itu Mas. Dari dulu apa pun permintaan nya walau pun terlihat aneh tapi tetap akan kami penuhi. Dia begitu dimanja di 4 keluarga besar Mas" jelas Juan sambil menatap kearah tempat Breena dan kekasih nya berada.


"Mungkin juga karena itu, apa pun yang di minta nya jadi kami penuhi Mas. Dia uda jadi princess di keluarga kami" tambah Brian menimpali ucapan Juan.

__ADS_1


"Awal nya saya merasa tidak enak melihat ngidam nya yang aneh aneh itu Mas. Saya merasa dia yang hamil anak saya, tapi kenapa ngidam nya ke semua orang terdekat nya. Itu membuat saya heran. Tapi melihat keantusiasan kalian menyikapi ngidam Breena, saya bahagia melihat keinginan istri saya terpenuhi. Terima kasih karena sudah mau dibuat susaah dengan ngidam istri saya Mas" ucap Dayyan tulus.


"Sama sama Mas. Kami sudah menganggap Breena itu adik kami sendiri Mas. Ia begitu di manja dengan keluarga kami" ucap Brian


"Jadi jangan sungkan setiap Breena ngidam. Dan menginginkan sesuatu dari kami Mas" ucap Juan.


Breena dan yang lain nya bersenang senang di pantai pink. Mereka menghabis kan waktu siang sampai sore disana. Setelah Ashar mereka pun memilih beranjak dari sana dan melanjutkan tujuan mereka yang akan ke Aceh untuh memenuhi ngidam Breena.


Selama perjalanan menuju ke hotel, Breena pun tertidur didalam pelukan suami nya. Dayyan yang tau istri nya kelelahan pun mengusap usap perut sang istri. Tak lupa ia juga membacakan surat Yusuf dan surat Mariyam.


Brian yang sesekali mencuri pandang dari kaca pun tersenyum melihat Breena yang begitu disayang oleh suami nya. Ia jadi lega melihat Breena jatuh ke lelaki yang sangat menyayangi nya.


Sesekali pandangan nya bertemu dengan Ani yang sedang memangku anak nya yang sudah tertidur. Brian pun memberikan senyuman manis nya dan dengan malu malu Ani membalas nya, kemudian menunduk kan kepala nya lagi.


Selama 2 jam perjalanan pulang ke hotel, hanya keheningan yang ada didalam mobil itu. Begitu sampai di hotel Brian langsung menyerahkan mobil sewaan nya ke pihak hotel dan meminta supir hotel untuk mengantarkan mereka ke Bandara.


Setelah bersiap, mereka pun berkumpul kembali di lobby. Dengan Juan yang sudah memakai seragam pilot nya, beserta Co-Pilot dan seorang pramugari yang juga sudah ikut bergabung dengan dengan Breena dan yang lain nya.


Dengan diantar dua mobil, mereka pun menuj ke Bandara. Sesampainya di bandara dengan melewati jalur khusu jet pribadi. Mereka pun berjalan beriringan. Dengan Breena yang bergelayut manja dilengan suami nya. Brian yang berjalan sambil memegang tangan kiri Quin dan Ani yang memegang tangan kanan Quin. Mereka sudah seperti keluarga yang bahagia. Sedangkan Juan yang berjalan dengan seragam pilot nya dengan tangan kiri yang menggerek koper dan tangan kanan yang merangkul pinggang Selvi. Serta Co-Pilot dan Pramugari yang berjalan dibelakang mereka dengan menggeret koper mereka masing masing.


...----------------...


Sementara itu di sebuah ruangan ada beberapa orang yang sedang berkumpul dan merencanakan sesuatu.


"Kamu yakin ini tidak akan ketahuan?" tanya salah seorang pria yang ikut berkumpul.


"Tidak. Karena dia lagi sibuk mengurusi istrinya yang sedang hamik dan ngidam yang aneh aneh itu" ucap pria yang lain nya percaya diri.


"Bagaimana dengan asisten nya itu?"


"Dia juga lagi sibuk berbulan madu. Jadi kecil kemungkinan ini akan ketahuan oleh mereka bertiga"

__ADS_1


"Oke kalau begitu, nanti akan aku buat laporan keuangan yang palsu untuk nya"


Setelah mengatakan itu, pria itu pun meninggalkan ruangan milik atasan nya itu. Entah apa yang mempengaruhi kedua pria itu yang ingin menggelapkan dana dari proyek yang mereka kerjakan.


__ADS_2