Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bertemu Keluarga Pak Bagaskara


__ADS_3

Suasana didalam ruang rawat Bu Ayu sangat ramai. Bagaimana tidak, saat ini baik keluarga Danuarta, Anderson, Abraham, keluarga Bapak Hermawan, berada di dalam ruang rawat itu. Mereka semua sedang membicarakan rencana pernikahan Brian dan Ani yang akan di laksana kan 2 hari lagi di Bandung.


Di kubu para Bapak Bapak sedang melakukan pembicaraan yang serius. Mereka sedang membicarakan rencana mereka siapa saja yang akan ikut ke Bandung besok.


"Bagaimana Steve, apa kamu juga ikut? Karena setau ku putri mu itu tidak mungkin meninggalkan Bunda Ayu nya" tanya Papa Doni.


"Aku juga belum tau. Rasa nya aku sungkan dengan keluarga Kyai kalau tidak menghadiri acara pernikahan anak nya dengan anak mu Martin" jawab Daddy Steven.


"Kalau aku tidak masalah. Aku tau bagaimana keadaan disini. Tidak mungkin kita membawa Bu Ayu saat kondisi kaki nya seperti itu" jelas Daddy Martin.


"Maka nya itu aku bingung Martin. Istri ku pun sebenarnya juga ingin ikut. Tapi kembali lagi ia memikirkan keadaan Bu Ayu. Kalau kami juga ikut dan membawa nya, kesan nya seperti memaksa kan keadaan nya" jelas Daddy Steven.


"Kalau menurut ku. Besan ku itu tidak mungkin marah atau kecewa kalau keluarga mu tidak datang Stev. Beliau orang yang sangat baik dan perhatian. Tidak mungkin beliau akan berpikiran yang tidak tidak. Sedang kan mereka juga sudah tau bagaimana kondisi Bu Ayu saat ini. Justru kalau kalian juga datang. Yang ada beliau akan merasa tidak enak hati kepada kalian. Jadi menurut ku lebih baik kalian tidak usah ikut kesana. Bukan melarang, tapi kita lihat keadaan yang tidak memungkin kan, apa lagi Bu Ayu baru saja sadar" jelas Papa Doni.


"Pak Doni benar besan. Kalau kita paksakan takut nya juga kondisi Bu Ayu yang tidak kuat. Kita semua tau Bu Ayu juga harus menjalani terapi agar kaki nya bisa berfungsi dengan baik seperti sedia kala" ucap Ayah Hermawan menimpali ucapan Papa Doni.


"Iya besan mu ada benar nya juga Stev. Aku juga tidak memaksa kau dan keluarga mu datang. Nanti saja kalau sudah acara resepsi kalian datang nya" ucap Daddy Martin yang juga menyetujui ucapan dari Papa Doni dan Ayah Hermawan.


"Baik lah kami besok tidak ikut. Maaf Martin" ucap Daddy Steven dengan wajah yang bersalah.


"Tidak perlu meminta maaf, kita semua disini tau bagaimana kondisi disini" ucap Daddy Martin sambil menepuk pundak Sahabat nya itu.


Sedang kan di para Ibu Ibu mereka telah memutuskan yang akan pergi hanya keluarga Abraham dan Anderson saja. Sedangkan Breena dan Dayyan sudah terlebih dahulu pergi ke Bandung. Mereka akan membantu mempersiap kan hari pernikahan nya Ani dan Brian.


...----------------...


Di sebuah rumah minimalis namun mewah. Pak Bagaskara sengaja mengajak anak dan istri nya untuk berlibur ke Bandung.


Ia sengaja mengatakan kalau mereka akan berlibur ke sebuah pesantren yang ada di Bandung. Dan Pak Bagaskara juga akan bertemu dengan teman nya di pesantren itu.


Itu di lakukan oleh nya karena ia tak mau mata mata yang di utus oleh Arsenal memgetahui kalau ia akan menikahkan keponakan nya. Gadis yang selama ini di cari oleh Arsenal.


"Pah, tolong jawab jujur sebenarnya kita ngapain ke Bandung? Lagi pula tumben tumbenan Papa ngajak kita ke pesantren" tanya sang istri ketika mereka selesai mempacking pakaian mereka.


"Papa tidak bisa mengatakan nya sekarang Mah. Besok Mama akan tau. Jadi Papa mohon untuk tidak bertanya soal ini lagi. Ini demi sebuah nyawa Mah. Papa harap Mama bisa mengerti maksud Papa" ucap Pak Bagaskara.


"Baik lah Pah, Mama tidak akan bertanya lagi. Walau pun sebenarnya Mama sangat penasaran" ucap sang istri dengan wajah cemberut nya.


...----------------...


Sementara itu di sebuah mansion mewah, Arsenal mendapatkan kabar dari anak buah nya yang memata matai Bagaskara. Kalau Bagaskara akan pergi ke Bandung.


"Ikutin terus dia. Jangan sampai kalian gagal lagi" perintah nya.


"Siap Tuan"

__ADS_1


Setelah anak buah nya keluar dari ruangan nya. Arsenal pun mengambil sebuah figura berisikan tiga orang didalam nya.


"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari ku Aska. Kau seakan sedang menyembunyikan sesuatu dari ku. Apa selama ini kamu tau dimana keberasaan dia. Lia dimana kamu sekarang" gumam nya sambil menatap tajam foto yang ada di tangan nya.


...----------------...


Keesokan hari nya keluarga Abraham dan Anderson pun berangkat pagi ke Bandung. Mereka akan menginap di salah satu hotel milik keluarga Anderson.


Tetapi tidak dengan Keluarga Abraham. Mereka akan menginap di rumah Kyai Arsya, besan mereka. Begitu juga dengan keluarga Bagaskara, mereka akan menginap di pesantren agar tidak di curigai oleh anak buah nya Arsenal.


Begitu mereka sampai di Bandung. Mereka berpisah, Papa Doni ke arah jalan yang menuju pesantren sedangkan Daddy Martin menuju ke hotel nya.


"Assalamualaikum" ucap Papa Doni dan Mama Ratih berbarengan setelah mereka sampai di rumah Kyai Rasya.


"Wa'alaikum salam. Pah, Mah. Ayo masuk" ajak Dayyan menyambut kedua mertua nya. Ia pun menyalami dan mencium tangan kedua mertua nya.


"Mana Breena Nak?" tanya Mama Ratih yang tak melihat putri nya.


"Biasa Mah. Lagi ke area asrama putri nyarik buah kelengkeng kata nya Mah sama Mbak Dina dan Mbak Vani" jawab Dayyan.


Sesampai nya di ruang tamu, Mama dan Papa Breena bisa melihat banyak tamu para Kyai dan Bunyai di ruangan itu.


"Assalamualikum" ucap salam Mama dan Papa Breena berbarengan.


"Wa'alaikum salam besan. Sudah sampai. Maaf tidak menyambut kalian di depan. Lagi banyak tamu" jawab Umma Hanum yang tak enak tidak menyambut besan nya itu.


Kemudian Abah Arsya memperkenalkan Papa Doni dan Mama Ratih kepada para tamu nya.


"Ayo duduk Bu Ratih. Atau mau istirahat dulu?"


"Saya mau menyusul Breena aja Umma. Kata Dayyan tadi Breena lagi ke asrama putri iya?" tanya Mama Ratih memastikan.


"Iya kata nya pengen makan buah kelengkeng yang ada di asrama putri. Mau saya antar Bu Ratih?"


"Terus bagaimana dengan tamu tamu nya Umma?" tanya Mama Ratih segan.


"Tidak papa Bu Ratih. Ada Abah disini"


Setelah mengatakan itu Umma Hanum dan Mama Ratih pun pergi menyusul Breena yang sedang berada di asrama putri.


Satu jam berlalu, kedatangan sebuah mobil di halaman depan rumah Abah Arsya membuat perhatian sebagian para satri yang membantu menghias rumah pun teralihkan.


Seorang pria dan wanita paruh baya turun dari mobil itu. Disusul oleh seorang pria tampan yang juga ikut turun dari dalam mobil.


"Assalamualaikum" sapa Pak Bagaskara sopan.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Ada apa iya Pak? Ada yang bisa saya Bantu?" tanya santri itu.


"Saya mau bertemu dengan Abah Arsya. Apa bisa?" tanya Pak Bagaskara sopan.


"Bisa Pak. Saya panggil dulu Kyai nya. Silahkan duduk di ruang tamu dulu iya Paj" ucap santri itu sopan.


Kemudian ia pamit memanggil Abah Arsya.


Selang 5 menit, Abah Arsya pun keluar. Senyum mengembang di bibir nya.


"Pak Bagaskara. Kalian sudah sampai? Bagaimana perjalanan nya?" tanya Abah Arsya menyambut kedatangan paman nya Ani.


"Alhamdulillah lancar Pak Kyai. Oiya perkenalkan ini istri saya Mayang dan ini anak saya Dendy Pak Kyai" ucap Pak Bagaskara memperkenal kan anak dan istri nya.


"Salam kenal Ibu dan Nak Dendy. Saya Kyai Arsya pemilik pondok pesantren ini" ucap Abah Arsya ramah.


Pak Bagaskara pun celingukan memperhatikan setiap ruangan yang dapat dilihat nya. Namun yang ia cari tak ada.


"Apa Bapak mencari nya?" tanya Abah Arsya yang sejak tadi memperhatikan nya.


"Iya Pak Kyai"


"Dia ada dikamar. Ayo saja antarkan ke kamar nya" ajak Abah Arsya.


"Ayo Mah, Dendy. Kita ikuti Pak Kyai"


Keempat orang itu pun beranjak dari ruang tamu menuju ke kamar Ani yang ada di lantai dua rumah Abah Arsya.


Tok tok tok


"Nduk. Apa Abah boleh masuk?" tanya Abah Arsya.


"Masuk Abah, pintu nya tidak Ani kunci" jawab Ani lalu ia menaruh Al-Qur'an nya di atas nakas.


"Lihat siapa yang Abah bawa"


Muncul lah dari balik pintu itu Pak Bagaskara dan istri nya, di susul dibelakang nya Dendy.


"Paman" ucap Ani lalu ia memeluk paman nya itu.


Istri Pak Bagaskara pun terkejut melihat suami nya yang di peluk dan memeluk seornag gadis cantik. Bahkan Pak Bagaskara tak segan mencium kening Ani di depan istri dan anak nya. Sehingga membuat wajah istri nya Pak Bagaskara memerah.


"Pah" bentak Bu Mayang, membuat pelukan antara om dan Keponakan itu telepas.


"Jangan marah Mah. Ayo kamu perhatikan wajah nya mirip sama siapa?" ucap Pak Bagaskara.

__ADS_1


Bu Mayang pun memperhatikan wajah Ani. Terlihat di sorot mata Ani ada kerinduan disana.


"Li.. Li.. Lia" ucap Bu Mayang terbata


__ADS_2