Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Ketemu Mantan Kang Senior, Borong Batagor Lagi


__ADS_3

Bapak penjual es dawet itu bergetar menerima uang yang di berikan oleh Dayyan. Ia tak menyangka orang yang baru di jumpai nya. Yang terlah membeli semua es dawet nya. Justru membantu nya mengatasi biaya sekolah anak nya.


"Terima kasih Mas. Terima kasih" ucap si penjual es dawet dengan suara bergetar nya.


"Sama sama Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum" pamit Dayyan lalu meninggal kan si penjual es dawet.


"Wa'alaikum salam. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah mendatang kan seseorang yang berbaik hati membantu kesusahan saya" ucap syukur si penjual es dawet.


Setelah Dayyan memasuki mobil nya. Dayyan pun kembali melajukan mobil nya menuju ke arah rumah kedua orang tua nya.


Hari sudah menjelang sore. Bahkan ini sudah mendekati waktu Ashar. Perjalanan mereka hanya tinggal satu jam lagi. Setelah ini mereka akan berhenti terlebih dahulu di masjid terdekat untuk menunai kan ibadah mereka.


Dua puluh menit kemudian adzan Ashar pun terdengar. Dayyan membelok kan mobil nya menuju ke masjid tersebut. Di ikuti oleh sembilan mobil lain nya.


"Kita Sholat Ashar dulu iya. Setelah itu kita lanjut lagi. Laki laki duluan sholat nya berjamaah. Yang perempuan bergantian iya. Karena ada empat baby yang harus di jaga" ucap Dayyan ketika mereka sudah berkumpul di halaman masjid.


Para lelaki pun langsung menuju ke tempat berwudhu. Setelah selesai mereka langsung memasuki masjid.


"Assalamualaikum" ucap Imam masjid tersebut mendekati Dayyan.


"Wa'alaikum salam" jawab Dayyan.


"Gus Dayyan"


"Iya Pak Imron"


"Silah kan Gus, Gus saja yang menjadi Imam nya" ucap Pak Imron mempersilah kan Dayyan menjadi Imam untuk sholat Ashar mereka saat ini.


Dayyan pun langsung mengambil sab di sab Imam. Kemudian Dayyan pun meminta jamaah untuk merapat kan barisan nya.


Breena yang mendengar suara merdu suami nya tersenyum. Suara merdu yang selalu menentramkan hati nya.


Selesai sholat, Dayyan pun berpamitan dengan Imam Masjid.


"Terima kasih Gus, sudah mau menjadi Imam di sholat Ashar hari ini di masjid kita" ucap Pak Imron.


"Iya Pak sama sama. Kalau begitu kami permisi dulu. Mau gantian dengan beberapa pelayan dan pengasuh bayi bayi kami" pamit Dayyan.


Dayyan dan yang lain nya pun melangkah keluar. Di teras masjid Dayyan berpapasan dengan beberapa jamaah Masjid yang ikut sholat Ashar disana.


Banyak yang melirik Dayyan. Apa lagi ada beberapa jamaah yang mencium tangan Dayyan takdim.


"Siapa dia iya?" tanya seorang perempuan yang memperhatikan Dayyan sedari tadi.

__ADS_1


"Kamu tak tau dia siapa?" tanya teman nya.


"Siapa rupa nya? Kenapa merek begitu sopan dan dia begitu di segani seperti itu?"


"Dia salah satu Gus di daerah Bandung. Abah nya pemilik pesantren Al-Hidayah. Kyai Arsya"


"Wooowww. Tumben banget dia sholat disini."


"Kau tak lihat disana banyak teman teman nya dan juga pria berbaju hitam hitam itu. Itu uda pasti mereka ada urusan datang kesini. Lagian itu juga ada istri nya"


"Kamu kenal sama mereka?"


"Siapa sih yang nggak kenal sama pasangan Gus Dayyan dan Ning Breena. Semua pasti kenal lah. Asal kamu tau aja tadi yang jadi Imam nya juga Gus Dayyan."


"Seterkenal itu mereka?" tanya perempuan itu tak percaya.


Teman nya hanya mengangguk kan kepala nya. Ia tak mau membeber kan siapa sebenar nya Gus Dayyan itu. Karena bagaimana pun Gus Dayyan adalah anak dari Kyai nya dulu tempat dia menuntut ilmu.


Dayyan pun bertemu dengan Breena di teras Masjid. Dayyan langsung menyodor kan tangan nya. Dan langsung di sambut oleh Breena dengan takdim.


Mereka semua bersama sama berjalam menuju ke parkiran mobil mereka. Breena, Dayyan dan Ansel pun langsung mengambil alih anak anak Breena. Agar mereka menjalan kan sholat Ashar nya terlebih dahulu.


Sambil menunggu pengasuh bayi mereka dan pelayan yang lain nya, Breena mengajak Dayyan melihat lihat ke penjual yang ada di sekitaran masjid. Dan tujuan Breena berhenti di penjual batagor.


"Abi mau batagor?"


Breena pun langsung menuju ke penjual batagor itu.


"Assalamualaikum" sapa Breena ketika sudah berdiri di samping gerobak batagor tersebut.


"Wa'alaikum salam" ucap si penjual yang langsung melongo melihat siapa yang datang.


"Astafirullah, Gus Dayyan, Ning Breena" ucap si penjual yang langsung mencium tangan Dayyan berkali kali. Lalu ia menangkup kan kedua tangan nya ke arah Breena.


"Silah kan duduk dulu Gus Ning" ucap Hasan ramah.


Breena dan Dayyan pun memilih duduk di kursi yang sudah di sedia kan.


"Abi kenal?" bisik Breena.


"Kenal Umi. Dia Kang Hasan salah satu Kang senior di pondok" jelas Dayyan yang hanya di angguki oleh Breena.


"Gus mau pesan apa?" tanya Hasan menghampiri Dayyan.

__ADS_1


"Saya mau pesan batagor kamu Kang Hasan"


"Mau berapa Gus?"


"Bungkus aja seberapa ada nya"


Hasan yang mendengar apa yang di bilang Dayyan pun terdiam.


"Gus serius?" tanya Hasan tak percaya.


"Iya Kang Hasan. Bungkus aja seadanya batagor kamu. Nanti mau saya bagi kan sama santri di pondok"


"Alhamdulillah. Tunggu sebentar iya Gus, Ning, saya bungkus kan dulu" ucap Hasan dengan mata yang berbinar.


"Buat kan dua porsi untuk saya makan disini dulu iya Kang Hasan" pinta Dayyan.


"Nggih Gus"


"Kamu uda berapa lama mboyong Kang Hasan?" tanya Dayyan tiba tiba.


"Sudah sekita lima bulanan Gus. Saya menikah dengan salah satu santri senior di pondok nya Abah. Kita sama sama mboyong. Lalu buka usaha batagor Gus disini" ucap Hasan.


"Selamat iya. Kenapa kamu tidak mengundang saya Kang?"


"Maaf Gus. Waktu itu saya mau mengundang. Tapi kata Abah, Ning Breena lagi hamil besar dan nggak mungkin melakukan perjalanan jauh. Maka nya saya mengurung kan niat saya untuk mengundang Gus dan Ning." jelas Hasan.


"Oohh iya tak apa Kang Hasan"


"Silah kan di nikmati Gus. Saya mau lanjut bungkus kan pesanan Gus Dayyan dulu"


"Iya silah kan Kang. Maaf merepot kan"


"Nggak papa Gus"


Kang Hasan pun langsung melanjutkan pekerjaan nya. Sedang kan Dayyan dan Breena melanjutkan acara makan nya. Tak lama datang lah Ansel dan Windy beserta Andra yang ada di gendongan nya Windy.


"Waaahhh dasar adik durhakim. Kakak nya lagi kesusahan jagain anak nya. Lah nih pasangan suami istri malah enak enakan makan batagor" omel Ansel yang melihat Adik dan suami nya yang merasa tak bersalah telah meninggal kan anak nya bersama Ansel dan Windy.


"Enak banget iya kaya nya" ucap Windy yang menatap Breena yang lahap memakan batagor nya.


"Memang enak banget. Kalau mau pesan aja. Kita juga lagi nungguin pesanan kita kok" ucap Breena.


"Pesanan apa lagi Dek?" tanya Ansel penasaran.

__ADS_1


"Hehehhe pesanan batagor untuk para santri Kak" ucap Breena dengan wajah polos nya.


"Lagi?"


__ADS_2