Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Thomas Merajuk


__ADS_3

Anggi yang mendengar suara adik nya yang seperti sedang merajuk itu pun melonggar kan pelukan nya. Lalu ia melihat ke arah belakang Daddy nya.


Thomas berdiri bersama dengan Vincent sambil mensedekap tangan di dada nya. Dengan wajah yang merajuk dan bibir yang sengaja di kerucut kan nya ke depan. Anggi yang melihat itu bukan nya kasihan, justru dia semakin gemes dengan adik nya itu.


Anggi yang akan melepas kan pelukan Daddy nya, justru malah semakin erat pelukan nya. Daddy Steven yang sangat merindukan putri nya itu, justru memeluk putri nya semakin erat.


"Jangan peduli kan dia sayang. Biar kan saja dia nya" ucap Daddy Steven tanpa merasa bersalah.


Semua orang yang ada di luar menahan tawa mendengar ucapan Daddy Steven. Berbeda dengan Thomas, dia justru semakin mengerucut kan bibir nya.


"Mom, lihat lah mereka. Mereka melupakan aku" adu Thomas pada sang Mommy.


Mommy Rianti menghela nafas nya kasar. Dia sangat bosan dengan kelakuan suami dan anak nya itu. Setiap hari selalu saja mereka berebut ingin memeluk putri nya yang sedang hamil.


Bahkan mereka juga selalu mencium perut Anggi setiap mereka akan pergi bekerja atau pun kuliah. Kelakuan mereka sudah seperti suami nya Anggi sendiri. Dion pun harus ikhlas dan sabar dengan kelakuan mereka.


"Thomad, Daddy. Apa kalian tak malu melakukan itu? Kalian berebut Anggi di depan banyak orang. Apa kalian tak sadar kalau kalian sudah menjadi tontonan orang orang hah?" tanya Mommy Rianti yang mulai jengkel dengan suami dan putra nya.


Daddy Steven tak peduli. Dia masih saja memeluk putri nya itu. Berbeda dengan Thomas, dia justru menatap kesekeliling tempat nya saat ini. Dan benar saja, mereka menjadi tontonan orang orang yang ada disana.


"Hmm baik lah, aku mengalah" ucap Thomas pasrah.


Daddy Steven pun menatap ke arah putra nya dengan memamer kan senyum kemenangan nya. Thomas hanya bisa mendengus melihat tingkah Daddy nya.


"Ayo ayo kita semua nya masuk. Kenapa malah berdiri di luar saja" ajak Abah Arsya mengajak semua tamu nya masuk.


Para pria memutus kan untuk berkumpul di ruang tamu. Sedang kan para wanita berkumpul di ruang tengah. Karena di ruang tengah itu ada karpet bulu yang bisa di gunakan oleh para baby untuk tiduran.


"Dion, kau tau apa kesalahan mu?" tanya Daddy Steven menatap tajam ke arah menantu nya itu.


Dion menunduk dan menggeleng kan kepala nya. Ia tak berani menatap ke arah mertua nya itu.

__ADS_1


"Kau yakin tak tau?" tanya Daddy Steven sekali lagi. Dan lagi Dion menjawab nya dengan gelengan kepala.


Dion sudah seperti tersangka yang sedang di intrograsi oleh Polisi. Dia sedari tadi hanya bisa menunduk sambil memikir kan apa kesalahan nya kali ini.


"Kenapa kau biar kan putri ku yang sedang hamil itu memetik buah strawberry sendirian hah?" tanya Daddy Steven yang sudah mulai kesal dengan Dion.


Dion pun langsung mengangkat kepala nya. Ia tak percaya Daddy nya itu bertanya seperti itu.


Memang tadi saat di kebun strawberry Anggi memang tak memperboleh kan Dion untuk membantu nya memetik buah itu.


"Maaf Daddy. Bukan Dion sengaja membiar kan Anggi memetik strawberry nya sendirian. Tapi Anggi sendiri yang melarang Dion untuk membantu nya. Kata nya dia ingin memetik buah itu sendirian." jelas Dion.


"Lalu kau membiar kan nya?" tanya Daddy Steven yang masih tak menerima penjelasan Dion.


Dion pun hanya bisa mengangguk kan kepala nya.


"Kenapa?"


"Terus kalian kemana kan buah sebanyak itu?"


"Kami bermaksud mengirim nya ke panti asuhan nya Bunda Ayu, Dad. Dari pada busuk tidak termakan. Lebih bagus kami beri kan ke adik adik yang di panti. Kami selalu seperti itu Dad, sejak kami masih pacaran."


"Apa sidah di kirim?" tanya Daddy Steven penasaran.


"Sudah Dad. Bodyguard yang beragama Nonmuslim yang mengantar kan nya langsung Dad. Apa Daddy Marah?" tanya Dion dengan wajah memelas nya.


Daddy Steven pun tak bisa melanjut kan marah nya. Dia justru bangga dengan anak dan menantu nya itu. Walau pun sekarang mereka sudah menjadi orang kaya. Tapi tetap saja mereka masih mau berbagi dengan adik adik yang di panti asuhan nya Bunda Ayu. Bunda yang sudah membesar kan Anggi selama ini.


"Daddy Tak marah. Tapi kenapa hanya strawberry yang kalian kirim kan kesana?"


"Lalu kami harus mengirim kan apa lagi Dad?" tanya Dion tak paham maksud Daddy nya itu.

__ADS_1


"Kenapa kalian tak mengirim kan makanan juga kebutuhan yang lain nya untuk mereka?"


"Maaf Dad. Tapi kalau untuk itu sudah terjadwal Dad. Setiap bulan nya, kami sudah menyisih kan penghasilan kami untuk panti asuhan Bunda Ayu, Dad. Jadi strawberry ini di luar dari setiap bulan yang kami beri kan." jelas Dion santai.


"Oohh ya sudah" jawab Daddy Steven tanpa dosa.


"Apa Daddy masih marah?" tanya Dion lagi.


"Tentu saja" jawab Daddy Steven cepat.


"Kali ini apa lagi salah Dion, Dad?" tanya Dion penasaran.


"Kenapa kau harus berpikir dulu untuk membuat kan Anggi kebun strawberry yang di minta nya?"


"Maaf Dad. Dion memang harus memikir kan itu dulu."


"Kenapa?"


"Dion harua meminta izin dulu sama Daddy. Nggak mungkin kan Dion tiba tiba sudah nyuruh tukang bunga untuk membuat kebun strawberry di belakang mansion. Sementara mansion itu milik Daddy. Kecuali mansion itu punya Dion sendiri. Pasti tanpa berpikir dan meminta izin, Dion langsung detik itu juga membuatkan Anggi kebun strawberry sesuai yang diminta nya" jelas Dion.


"Ehh bener juga iya"


Jawaban yang di lontar kan Daddy Steven membuat yang lain nya yang sedari tadi diam kini justru tertawa. Mereka merasa lucu dengan jawaban yang diberikan oleh Daddy Steven.


"Dion uda benar Steven. Dia memang harus izin dulu sama mu, untuk mengubah halaman belakang mansion mu menjadi kebun strawberry. Kalau lah seandainya dia langsung membuat nya. Apa kau tak marah? Apa kau tak berpikiran kalau Dion itu sudah lancang? Dia masih menghargai dirimu Steven sebagai tuan rumah. Maka nya dia masih memikir kan keinginan istri nya. Walau pun istri nya itu putri mu sendiri" ucap Papa Doni yang membenar kan tindakan Dion.


Daddy Steven pun langsung berpikir. Benar apa yang di lakukan oleh Dion. Daddy Steven tak menyangka kalau Dion memiliki sopan santun yang sangat tinggi. Dia masih bisa menghargai pemilik rumah tersebut.


Daddy Steven pun meminta Dion untuk maju.


"Kau tenang saja, Daddy sudah menyuruh tukang kebun kita untuk membuat kebun strawberry sesuai permintaan anak dan istri mu" bisik Daddy Steven yang hanya bisa di dengar oleh Dion.

__ADS_1


"Terima kasih Dad" ucap Dion tulus.


__ADS_2