Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bab 8. Acara Syukuran


__ADS_3

Keesokan harinya.


Saat ini dipesantren semua orang pada sibuk menyambut acara syukuran pernikahan anak dari pemilik pondok pesantren.


Banyak kyai pemilik pesantren pesantren terkenal yang diundang. Para kerabat juga sudah banyak yang berdatangan, memenuhi ndalem Abah Arsya.


Para santi yang masuk dalam pemain hadroh pun sudah memulai aksi mereka. Lantunan lantunan sholawat pun dinyanyikan dengan merdunya..


Kedua orang tua Abreena dan para kerabatnya juga sudah berada di pesantren.


Walau pun acaranya hanya diadakan didalam lingkungan pesantren, tetapi acara syukuran ini sangat mewah.


Sebab selain sebagai pemilik pondok, Abah Arsya juga seorang pengusaha dibidang properti. Yang sekarang usaha itu dilanjutkan oleh Ustadz Dayyan.


Iya Ustadz Dayyan lebih memilih melanjutkan usaha Abah nya dari pada mengurus pondok pesantren milik Abah nya. Alasannya karena ia masih muda, belum menikah dan belum siap untuk melanjutkan kepemimpinan Abah nya.


Dayyan saat ini sedang duduk diruang keluarga bersama sepupunya. Ia sudah bersiap sedari tadi dan sekarang sedang menunggu istrinya yang sedang didandani.


Abreena didalam kamarnya sedang didandani oleh seorang MUA. Wajah cantiknya membuat pekerjaan mereka lebih mudah. Apa lagi Abreena meminta make up no make up. Karena ia tidak suka make up yang tebal tebal.


Tidak sampai satu jam make up Abreena pun sudah jadi. Para MUA memuji kecantikannya yang sungguh alami.


"Ning sangat cantik. Tidak dipakaikan make up saja tadi sudah terlihat cantik. Apa lagi sekarang malah bertambah cantiknya" puji MUA tersebut sambil merapikan alat tempur make up nya.


"Mbak bisa aja mujinya sampai berlebihan seperti itu. Saya biasa saja loh mbak" ucap Breena merendah.


"Ning beneran cantik, sungguh beruntung Guse mendapatkan mbak" puji asisten MUA tadi.


Yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Breena.


"Kalau begitu kami pamit dulu iya Ning"


"Iya mbak terima kasih iya atas kerja kerasnya. Maaf kalau saya merepotkan mbak mbak nya" ucap Breena.


Setelah tim MUA keluar, Abreena pun dituntun oleh Ibu dan Mertuanya untuk menghampiri Ustadz Dayyan.


Ustadz Dayyan yang mendengar langkah kaki dari arah tangga pun berdiri dari duduknya. Ia begitu terpesona oleh kecantikan istrinya.


"Mas, mau sampai kapan kamu bengong terus? Kalau mas tidak mau membawa mbak Breena kepelaminan, biar aku saja yang menggantikan posisi mas disana" goda Rama sambil menepuk keras bahu abang sepupunya itu.


Mendapat pukulan yang keras itu menyadarkan Istadz Dayyan dari bengong nya.

__ADS_1


"Sakit tau Rama pukulanmu. Mas juga ndak mau kalau kamu yang gantiin mas diatas pelaminan. Lagian kamu juga sudah punya istri, enak aja mau dua kali naik kepelaminan" protes Dayyan yang langsung mendapatkan ledekan dari para sepupunya.


"Kamu loh mas senang banget godain mas Dayyan" tegur Syifa istrinya Rama.


"Hehehehe lucu sayang" jawab Rama yang hanya mendapat gelengan kepala dari istrinya.


"Sudah sudah sekarang kita semua pergi ke aula saja, biar acaranya segera dimulai" titah Umma Hanum yang langsung dipatuhi oleh yang lain.


Dayyan dan Abreena beserta para keluarga pun berjalan menuju aula tempat acaranya. Disepanjang perjalanan mereka, banyak yang terpesona oleh kecantikan Breena.


"Cantik banget iya istrinya Guse" ucap salah satu santri putri.


"Iya kita mah kalah cantiknya. Kira kira istrinya Gus perawatan wajahnya mahal ndah iya?" tanya santri putri satunya lagi.


"Itu wajah aslinya tau. Ning Breena memang bener bener cantik alami. Ndak di make up aja uda cantik, apa lagi dipakaikan make up begitu lebih cantik lagi. Pada hal make up nya itu tidak tebal" ujar salah satu santri yang bertugas sebagai khadamah di ndalem.


"Kamu tau dari mana?" tanya yang lain penasaran.


"Kemarin aku lihat di ndalem waktu masak bareng Bu Nyai" jawabnya.


Ustadz Dayyan yang mendengarnya pun hanya tersenyum bangga.


Setelah rombongan pengantin dan keluarganya sudah memasuki aula dan menduduki tempatnya masing masing.


"Assalamualaikum warrohmatullahi wabarakatuh. Terima kasih untuk para Kyai dan Bu Nyai dari pondok pondok pesantren yang sudah berkenan meluangkan waktunya untuk datang diacara syukuran saya. Semoga doa yang dipanjatkan dari para Kyai dan Bu Nyai membawa keberkahan dalam rumah tangga saya. Terima kasih untuk para tamu yang lain yang juga sudah menyempatkan waktunya. Disini saya ingin memperkenalkan istri saya Aurellia Abreena. Wanita satu satunya yang bisa membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Wanita yang selalu saya langitkan namanya disepertiga malam saya. Wanita yang selalu hadir didalam mimpi saya selama tiga tahun ini. Terima kasih sudah mau menerima saya sebagai suami kamu. Lelaki yang belum pernah kamu kenal, yang masih memiliki banyak kekurangannya. Saya berjanji akan berusaha membuat kamu selalu bahagia ketika bersama saya ya zawjati" ucap Ustadz Dayyan yang tersenyum melihat kearah istrinya, lalu mencium kening Breena dengan lembut dan lama.


"Breena yang mendengar semua yang dikatakan oleh Ustadz Dayyan pun sampai menangis haru. Ia bisa merasakan cinta yang diberikan oleh Ustadz Dayyan. Tetapi sampai saat ini, dia belum bisa membalas perasaan suaminya. Walau pun dihatinya sudah ada rasa nyaman bila berada didekat suaminya.


Acara terus berlanjut banyak yang mengucapkan selamat berbahagia dan mendoakan semoga pernikahan mereka sakinnah mawaddah warrohmah.


Musik dari para pemain hadroh pun terus terdengar. Namun tiba tiba saja Dayyan turun dari pelaminan dan meninggalkan Breena sendirian disana. Ia terus berjalan menuju kepemain hadroh. Lalu ia mengambil alih micropon yang digunakan vokalis hadroh tersebut.


"Permisi semua untuk para tamu undangan silakan menikmati hidangan yang tersedia. Disini saya akan menyanyikan satu buah lagu yang saya persembahkan untuk istri tercinta saya"


Kemudia para pemain hadroh melai memainkan alat hadroh mereka sesuai dengan lagu yang diminta oleh sang Gus.


Anna bansa nafsii habiibii anna bansaa esmii


(Aku lupa diriku sayang aku lupa namaku)


Habibi ana bansa lamma bakun wayaak

__ADS_1


(Sayang aku lupa saat bersamamu?


Wi bala'i nafsii habibi me'aak wi nefsii


(Dan aku menemukan diriku sayang saat bersamamu)


Akamil ba'i 'umrii wa e'isyuh me'ak


(Dan aku ingin terus menjalani sisa hidupku bersamamu)


Men elleila da albii lik men elleila da rouhi fiik


(Mulai malam ini hatiku adalah milikmu mulai malam ini jiwaku ada didalam dirimu)


Men elleil da ana hashuf ya habibi al haya bae'nik


(mulai malam ini aku akan melihat sayangku hidup dengan matamu)


Ana bansa nafsii habiibii ana bansaa esmii


(Aku lupa diriku sayang aku lupa namaku)


Habibi ana bansa lamma bakun wayaak


(Sayang aku lupa saat bersamamu)


Wi bala'i nafsii habibi me'aak wi nefsii


(Dan aku menemukan diriku sayang bersamamu)


Akamil ba'i 'umrii wa e'isyuh me'ak


(Dan aku ingin terus menjalani sisa hidupku bersamamu)


Melihat suaminya terus bernyanyi untuknya Breena tersenyum terus. Pipinya yang sudah merah bertambah merah merona.


Semua orang suka cita atas syukuran pernikahan Abreena dan Dayyan.


Bahkan banyak yang merasa iri dengan keromantisan yang ditunjukkan oleh Dayyan untuk istrinya.


Banyak para Ning dari pondok pesantren lain yang merasa iri pada Abreena, karena terlalu dicintai oleh Dayyan.

__ADS_1


Salah satunya adalah seorang wanita yang sedari dulu mencintai Dayyan. Namun cintanya harus kandas karena Dayyan lebih memilih menikahi wanita lain.


"Aku akan berusaha untuk merebutmu darinya Dayyan, karena aku lah yang pantas untuk bersanding denganmu. Apa pun caranya akan aku lakukan Dayyan" ucapnya dalam hati. Siapa lagi kalau bukan Ustadzah Hana.


__ADS_2