
Setelah kejadian yang tidak mengenak kan itu, dan penangkapan para koruptor di perusahaan nya. Dayyan srmakin posesif kepada istri nya. Bahkan Breena di larang oleh nya untuk melakukan pekerjaan apa pun. Breena hanya di perboleh kan untuk makan tidur dan menonton tv saja.
Untuk Pak Haris selama 3 hari ia di siksa oleh anak buah Daddy Steven. Kedua tangan dan kaki nya patah. Bahkan beberapa gigi nya juga putus. Wajah nya penuh lebam. Setelah 3 hari di siksa ia di serah kan ke kantor Polisi untuk mempertanggung jawab kan perbuatan nya.
Sedang kan Pak Hasan. Ia harus menjalani operasi untuk mengeluarkan dua peluru yang ada di tangan dan kaki nya. Pihak Polisi yang melihat peluru itu pun langsung memanggil pemilik peluru.
Anggi di temani oleh Dion dan Aji mendatangi kantor polisi untuk memenuhi panggilan nya. Di kantor Polisi Anggi mendapat kan berbagai pertanyaan begitu pun juga dengan Dion. Karena mereka juga sebagai saksi dari kejadian waktu itu.
"Dari mana kamu mendapatkan pistol serta peluru ini Nona Anggi?" tanya Polisi itu dengan tatapan tajam nya.
"Dari Daddy saya" jawab Anggo santai. Bagaimana tidak santai, Anggi bahkan memiliki surat izin dan sertifikat menembak nya.
"Daddy kamu? Bisa kamu tunjuk kan surat kepemilikan nya?"
"Bisa surat itu ada bersama Uncle Aji. Dan untuk masalah ini Bapak tanyakan saja langsung sama beliau" balas Anggi jengah.
Ia tau kalau Polisi ini hanya akan mempersulit nya. Jadi ia akan menyerahkan masalah ini kepada Aji saja.
Polisi itu pun memanggil Aji untuk masuk dan di mintai keterangan nya. Sebelum Polisi itu bertanya, Aji sudah terlebih dahulu mengeluarkan apa yang akan di tanya kan oleh Polisi itu.
Dari surat izin menggunakan senjata api, sertifikat menembak. Dan yang terakhir Aji keluarkan adalah tanda pengenal nya di kelompok mafia yang sangat di segani oleh pemerintah sampai saat ini.
Polisi itu pun terkesiap melihat itu semua. Ia menatap tak percaya ke arah ketiga orang yang duduk di hadapan nya.
"Maaf Pak Aji. Apa ini maksud nya kelompok Mafia yang di pimpin oleh Tuan Steven Danuarta?" tanya Polisi itu ragu.
"Hmm" jawab Pak Aji dengan aura dingin nya.
"Ja–Jadi Nona ini anak nya Tuan Danuarta?"
"Hmm"
"Maaf Nona saya tidak tau." ucap Polisi itu.
"Bisa kah kami pergi dari sini sekarang?" tanya Pak Aji yang sudah mulai jengah dengan Polisi itu yang bertele tele.
"Bisa Pak silah kan. Pemeriksaan nya pun sudah selesai"
Setelah mendapatkan izin dari Polisi itu, Anggi, Dion dan Pak Aji pun meninggalkan ruangan Polisi itu dan kembali ke kediaman mereka masing masing.
Beberapa hari telah berlalu, hari ini adalah hari yang di tunggu tunggu oleh Breena dan sahabat nya. Ya hari ini mereka akan melaksanakan wisuda mereka yang sudah mereka tunggu tunggu.
Breena sedang di rias oleh MUA pesanan suami nya. Ia ingin istri nya tampil cantik di acara wisuda nya nanti.
__ADS_1
"Mas, gimana semua nya bisa datang kan nanti?" tanya Breena dari balik cermin rias nya.
"Iya sayang. Mereka semua juga sedang bersiap kok" jawab Dayyan tanpa melihat istri nya.
"Abang Ansel datang juga kan Mas?" tanya Breena lagi.
"Iya tapi seperti nya sedikit terlambat. Karena dia ada meeting kata nya sayang"
"Iya uda nggak papa. Yang penting datang. Breena mau foto sama semua orang nanti" ucap Breena semangat.
"Apa pun itu semua kemauan princess akan selalu di turuti" ucap Dayyan santai.
Breena tak lagi bersuara. Ia fokus memperhatikan sang MUA yang sedang memoles wajah cantik nya.
Setelah selesai, Breena berganti baju. Kali ini ia tak memakai baju gamis nya. Melain kan, ia memakai kebaya. Kebaya berwarna nude itu sangat cantik di tubuh nya. Apa lagi kebaya itu memperlihatkan perut nya yang menonjol.
Sedang kan Dayyan memakai kemeja batik senada dengan bawahan kebaya Breena.
"Sudah selesai semua nya sayang?" tanya Dayyan sambil memeluk istri nya dari belakang.
"Sudah Mas. Ayo kita berangkat"
Sebelum pergi Dayyan menyempatkan mencium perut buncit Breena. Kemudian ia mengeluar kan sebuah kalung bermatakan berlian. Ia memakai kan di leher sang istri.
"Terima kasih Mas"
"Sama sama sayang. Kamu cantik menggunakan kalung itu" puji Dayyan.
Breena pun hanya bisa menampilkan senyum malu malu nya.
"Ya uda ayo kita berangkat. Yang lain juga uda pada berangkat" ajak Dayyan sambil menggapit pinggang Breena.
Dayyan dan Breena pun memasuki mobil nya. Dayyan melajukan mobil nya menuju ke kampus Breena.
Setelah beberapa menit menghabis kan waktu di jalanan, akhir nya Breena dan Dayyan telah sampai di kampus Breena.
Di parkiran Breena bisa melihat keluarga nya dan yang lain nya sudah berkumpul. Minum Ansel karena ia masih bekerja.
Breena dan Dayyan pun bergabung dengan semua keluarga nya. Tak lama Anita datang bersama dengan kedua orang tua nya.
Papa Anita yang merupakan seorang pengusaha pun menyapa semua para pengusaha yang berkumpul di rombongan nya Breena.
Mereka pun berbincang bincang sebelum memasuki ruangan Aula yang dipakai untuk Wisuda.
__ADS_1
"Na, tau Windy dimana nggak?" tanya Anita yang penasaran karena satu lagi sahabat nya belum terlihat keberadaan nya.
"Nggak tau" jawab Breena singkat.
Anita yang mendapati jawaban Breena seperti itu pun mengernyit kan alis nya. Ia bingung melihat sikap cuek Breena.
"Lo kenapa?"
"Nggak papa. Ayo masuk bentar lagi acara di mulai" ajak Breena sengaja menghindari pertanyaan dari Anita.
Anita pun semakin di buat heran dengan sikap Breena. Bagaimana pun mereka sudah bersahabat lama. Baru kali ini ia melihat sikap Breena seperti ini pada sabahat nya.
Baru aja beberapa langkah, suara dari seseorang menghentikan langkah nya. Termasuk juga langkah Breena.
"Nit" panggil Windy sedikit berteriak.
"Windy" panggil Anita dengan senyum hangat nya.
Anita melihat Windy yang datang bersama dengan Ibu nya dan seorang laki laki muda di sebelah nya.
"Siapa dia?" tanya Anita dalam hati.
"Lo apa kabar Nit?" tanya Windy ketika sudah berada di dekat sabahat nya itu.
"Alhamdulillah Gue sehat. Lo gimana?"
"Gue juga sama sehat" jawab Windy.
Breena sedari tadi memperhatikan lelaki yang ada di samping Windy. Ia melihat dari atas kebawah, berulang kali untuk memastikan penglihatan nya.
"Oohh ini rupa nya. Masih gantengan lagi Kakak Gue" sindir Breena pedas. Lalu iya melanjut kan perjalanan nya.
Semua keluarga Breena pun juga ikut masuk ke dalam aula yang sudah disiap kan. Termasuk juga Mommy Gantari dan suami nya.
Mommy Gantari sengaja berjalan di paling belakang. Windy yang melihat nya ingin menegur. Namun melihat tatapan tak bersahabat dari Mommy Gantari ia jadi mengurungkan niat nya untuk menegur Mommy Gantari. Mommy yang dulu sangat menyayangi nya. Kini tatapan sayang itu pun sudah lenyap berganti dengan tatapan kekecewaan.
"Tumben Mommy nya Kak Ansel nggak nyapa Lo Win? Biasa nya kan Mommy selalu senang kalau bertemu sama Lo. Ini kenapa sikap nya jadi berubah. Breena juga ikutan berubah gitu sama Lo" tanya Anita yang memang ia tidak mengetahui masalah yang terjadi antara Windy dan Ansel.
Windy tak membalas. Ia hanya tersenyum masam ke arah sahabat nya itu.
Ibu nya pun juga memperhatikan Mommy Gantari dan Breena. Ia paham betul kenapa sikap baik mereka bisa berubah seperti itu.
Sedangkan lelaki yang berada di sebelah Windy hanya bisa diam. Ia sama sekali tak mau ambil pusing dengan hal ini.
__ADS_1