
Sementara itu Breena yang mendengar suara helikopter langsung keluar dari ndalem. Breena memang tidak ikut berjamaah dimasjid. Karena kondisi tubuhnya yang kurang sehat.
Breena langsung berlari dan memeluk Papa nya. Ia menangis didalam pelukan sang Papa. Sedangkan Papa Doni yang merasakan kemejanya basah hanya bisa membiarkan anaknya menangis.
Papa Doni semakin yakin, jika telah terjadi sesuatu dengan anaknya.
"Apa yang terjadi sayang? Kenapa kamu sampai menangis seperti ini?" tanya Mama Ratih yang bingung dengan anaknya.
Breena tak menjawab, ia justru semakin mengeratkan pelukannya. Lama kelamaan Breena pun sampai pingsan. Sangkin terlalu lamanya ia menangis dan merasa tertekan.
Papa Doni yang merasakan tubuh anaknya yang luruh kebawah pun segera menggendong sang anak.
Ia yang berencana membawa anaknya ke rumah sakitnya yang ada di Bandung pun ditahan oleh Dayyan.
"Bawa kedalam aja Pah. Sini biar Dayyan aja yang gendong Breena Pah"
"Tidak usah biar Papa saja. Papa juga masih kuat untuk menggendong anak Papa" ucap Papa Doni dingin.
Papa Doni juga dapat melihat mata menantunya yang membengkak seperti habis menangis.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka?" tanya Papa Doni dalam hati.
Mereka semua menuju ke ndalem dengan tatapan semua mata memandang kearah mereka.
"Letakkan dikamar tamu saja Pah" ucap Dayyan sambil membuka pintu kamar tamu.
Umma Hanum dan Abah Arsya yang melihat Breena yang digendong oleh Papa Doni pub segera menghampiri besannya.
"Ada apa Dayyan? Kenapa dengan Breena?" tanya Umma Hanum khawatir.
"Breena pingsan Umma" jawab Dayyan dengan mata yang sudah berembun.
"Astafirullah ada apa lagi ini Dayyan?"
Dayyan yang ditanya seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia memandang sedih kearah Breena yang sedang diperiksa oleh Papa Doni.
Beberapa menit kemudian Papa Doni selesai memeriksa Breena. Ia pun menyelimuti tubuh anaknya. Tak lupa juga mencium kening anak kesayangannya.
Ketika ia berbalik badan, ia mendapati Dayyan yang sudah menangis melihat anaknya.
"Pah bagaimana dengan Breena?" tanya Dayyan khawatir.
"Breena kelelahan. Sebenarnya ada apa ini Dayyan? Dari pemeriksaan Papa, Breena seperti sedang tertekan. Apa kalian berantam?"
Dayyan tak menjawab. Ia hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Abah Arsya yang melihat anaknya tak sanggup untuk menjawab pun mengajak Papa Doni dan semuanya untuk berbicara didalam ruang kerjanya.
"Pak Doni bisa kita semua berbicara diruang kerja saya saja?" tanya Abah Arsya.
"Kenapa harus diruang kerja Pak Kyai?" tanya Papa Doni heran.
"Ini privasi Pak. Saya takut ada kuping yang mendengar apa yang akan kita bicarakan"
"Baiklah Pak Kyai. Tapi saya minta tolong salah satu mbak mbak santri ada yang menemani Breena" pinta Papa Doni.
"Iya Pak. Nanti ada Mbak Ani yang akan menemani Breena. Dia bisa dipercaya Pak. Karena hanya dialah mbak ndalem yang dekat dengan Breena. Ayo silahkan Pak kita keruang kerja saya" ajak Abah Arsya.
Kemudian mereka semua menuju ruang kerja Abah Arsya termasuk Pak Hilman, setelah Mbak Ani sudah berada didalam kamar yang ditempati Breena.
Sesampainya diruang kerja Abah Arsya. Papa Doni langsung mencecar menantunya.
"Dayyan bisa kamu jelaskan ada apa ini sebenarnya? Papa sampai heran Breena menelpon Papa dan menyuruh Papa segera kesini bersama Pak Hilman pengacara keluarga Papa. Apa terjadi sesuatu disini Dayya"
Dayyan pun menganggukkan kepalanya. Kemudian ia memceritakan semua kejadian dari awal sampai ia membentak Breena. Breena yang meminta pisah dengannya. Dan Breena yang akan melamar seorang wanita untuk menjadi istrinya.
Papa Doni yang mendengar itu mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.
"Papa menyerahkan Breena kepadamu karena Papa percaya kamu bisa membahagiakannya Dayyan. Tapi kenapa kamu justru membentaknya?" tanya Papa Doni geram dengan kelakuan Dayyan.
"Pah maafkan Dayyan Pah. Dayyan tidak sadar telah membentak Breena. Dayyan pikir Breena sudah keterlaluan Pah telah berbicara seperti itu kepada salah satu Ustadzah disini. Dayyan tidak tau kalau Ustadzah itu akan merebut Dayyan dari Breena Pah" jelas Dayyan sambul bersimpuh dikaki Papa Doni.
"Iya Mah. Dayyan sudah punya buktinya. Bukti itu diberikan oleh Mbak Ani Mah. Dia yang merekam kejadian dari awal Ustadzah itu mendekati Dayyan sampai pertengkaran Dayyan dan Breena tadi"
"Terus apa rencana kamu setelah ini Dayyan?" tanya Papa Doni yang ingin tau sampai mana usaha menantunya itu untuk membuktikan kalau ia tidak bersalah.
"Dayyan ingin tau Pah sampai mana dia berusaha memfitnah Dayyan dan Breena nanti dihadapan semua orang. Dan setelah itu Dayyan akan mengeluarkan bukti yang Dayyan punya untuk menendangnya dari pesantren ini" ucap Dayyan dengan mata yang berkilat penuh amarah.
Papa Doni yang melihat itu pun tersenyum menyeringai.
"Baiklah berarti kita semua sudah sepakat untuk membiarkan wanita itu memfitnah kamu dan Breena dihadapan semua orang. Karena kita sudah mengambil kesepakatan ini. Jadi ayo kita keluar, kita tunggu kedatangan mereka" ucap Abah Arsya.
Kemudian semua orang keluar dari ruang kerja Abah Arsya dan menuju keruang tamu, kecuali Dayyan ia akan menunggu dikamar tamu .
Ketika keluar dari ruang kerja Abah Arsya. Mbak Ani menghampiri Dayyan memberitahukan kalau Breena sudah sadar dan mencarinya.
Sesampainya dikamar Dayyan langsung naik keatas tempat tidur dan membawa Breena kedalam pelukannya.
...----------------...
Sementara itu dihalaman ndalem sebuah mobil baru saja terparkir dengan sempurna. Sepasang paruh baya itu turun dari dalam mobil disambut dengan senyum sumringah dari anaknya.
__ADS_1
"Bapak Ibu ayo kita segera ke ndalem" ajak Ustadzah Hana yang langsung menarik tangan kedua orang tuanya.
Kedua paruh baya itu dibuat bingung dengan sikap anaknya.
"Assalamualaikum" ucap salam kedua orang tua Ustadzah Hana ketika mereka sudah sampai diteras ndalem.
"Wa'alaikum salam. Silakan masuk Bapak Ibu Ustadzah Hana. Pak Kyai dan keluarga sudah menunggu didalam" ucap Mbak Dina mempersilahkan tamu yanh ditunggu tunggu masuk.
"Terima kasih Mbak" ucap sopan Bu Risty.
Kemudian mereka ikut masuk mengikuti Mbak Dina. Sesampainya didalam Ustadzah Hana dan kedua orang tuanya menyalami keluarga Kyai Arsya dan yang lainnya. Dan ketika Pak Andi akan menyalami Papa Doni, ia pun dibuat terkejut karena atasannya selaku pemilik rumah sakit tempatnya bekerja ada disini.
"Tuan Doni" sapa Pak Andi sambil membungkukkan badannya.
"Iya Pak Andi Firmansyah. Anda salah satu staff administrasi di rumah sakit saya yang ada di Bandung. Ada apa anda kerumah besan saya?" tanya Papa Doni bingung.
Karena Papa Doni belum tau kalau anak Pak Andi adalah wanita wanita yang membuat anaknya sampai pingsan karena kebanyakan menangis dan tertekan.
"Saya ayah dari Ustadzah Hana Tuan. Tadi anak saya menelpon dan meminta saya dan istri saya untuk datang kesini Tuan" ucap Pak Andi sopan.
"Maaf Pak Kyai. Ini sebenarnya ada apa iya sampai saya dan istri saya dipanggil kesini?" lanjut Pak Andi yang kini sudajlh menatap Abah Arsya.
Belum sempat Abah Arsya menjawab pertanyaan ayah Ustadzah Hana, dari kamar tamu keluar Dayyan dan Breena. Mereka keluar karena mendengar suara beberapa orang yang berbincang.
Breena memilih duduk diantara Mama Ratih dan Umma Hanum. Sementara Dayyan duduk disebelah Abah Arsya.
"Pak Andi staff administrasi senior di rumah sakit Abraham cabang Bandung. Jadi anda orang tua dari Ustadzah Hana?" tanya Breena dengan aura tegasnya.
"Iya Nona. Saya orang tua dari Ustadzah Hana. Ada apa iya Nona?" tanya Pak Andi yang takut dengan aura yang dikeluarkan oleh Breena. Karena setaunya Breena orang yang lembut bukan tegas seperti sekarang.
"Saya disini dihadapan suami saya, kedua orang tua saya dan kedua mertua saya serta Pak Hilman selaku pengacara saya. Akan melamar anak anda untuk menjadi istri suami saya" ucap Breena dengan suara dinginnya.
"Maaf Nona Breena. Kenapa anda melamar anak saya untuk suami anda?" tanya Bu Risty.
"Putri anda berpelukan ditempat umum bersama suami saya dihalaman pesantren. Apakah itu pantas dilakukan oleh seorang Ustadzah? Jadi dari pada menimbulkan fitnah lebih baik menikahkan saja mereka" ucap Breena dengan senyum mengejeknya.
"Sayang, Mas sudah jelaskan sama kamu. Mas bukan memeluknya tapi Mas reflek memegang tangannya karena ia mau terjatuh. Niat Mas hanya ingin menolongnya sayang" ucap Dayyan menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Benar Pak. Gus Dayyan tadi sore memelukku bahkan ia juga mencium bibirku Pak. Bahkan sebelum ia memelukku, Gus Dayyan juga berjanji akan menikahiku dan menceraikan Ning Breena" ucap Ustqdzah Hana berbohong.
"Benarkah seperti itu Mas?" tanya Breena tak percaya.
"Tidak sayang. Dia memfitnah Mas sayang. Tidak mungkin Mas melakukan itu. Dia berbohong sayang" bela Dayyan.
"Tapi itu kenyataannya Gus. Gus Dayyan berkata seperti itu tadi. Bahkan Gus juga bilang kalau Gus sebenarnya tidak mencintai Ning Breena. Gus menikahinya karena Gus tau kalau Ning Breena anak orang kaya. Dan Gus cuma mengincar rumah sakit mereka yang ada di Bandung. Karena rumah sakit itu mau Gus jadikan apartemen mewah" fitnah Hana agar Breena dan keluarganya membenci Dayyan dan menyuruh Breena bercerai dengan Dayyan.
__ADS_1
"Kau! Kau jangan mengarang cerita Hana! Aku tak pernah berkata seperti itu. Bahkan tanpa harta dari keluarga Breena pun aku bisa membangun apartemen mewah tanpa harus meminta minta dan merebut milik orang lain!" bentak Dayyan. Emosinya sudah mulai memuncak dibuat Ustadzah Hana.
"Tapi itu lah yang Gus katakan tadi. Aku tidak berbohong Ning Breena" ucap Ustadzah Hana pura pura sedih.