Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Mbak Ani Di Goda Ning Breena


__ADS_3

Malam itu semua orang merasa sangat bahagia. Terutama keluarga Danuarta dan keluarga Dion. Namun dibalik kebahagiaan itu, ada satu sosok yang terlihat sangat menyesal.


Setelah acara selesai semua para tamu pulang kerumah nasing masing.


Di kediaman Dayyan dan Breena. Mereka baru saja sampai dirumah mereka bersama Abah Umma dan Mbak Ani.


Dayyan dan Breena memang memilih pulang kerumah mereka karena merasa tak enak hati kalau tetap menginap dirumah Papa Doni bersama kedua orang tua nya.


Abah Arsya dan Umma Hanum masuk kedalam kamar mereka. Kamar yang biasa mereka tempati ketika menginap di rumah Dayyan. Tetapi Mbak Ani justru disuruh tidur dikamar tamu.


Mendapati kamar yang sangat mewah, Mbak Ani justru berkaca kaca. Selama ini keluarga Abah Arsya memang sangat baik kepada nya yang seorang yatim piatu ini. Bahkan keluarga Abah Arsya sudah menganggap nya sebagai anak mereka.


Mbak Ani merasa sangat beruntung dititipkan kepada Abah Arsya. Dia seperti memiliki keluarga baru.


Karena ia yang sudah merasa mengantuk. Mbak Ani pun cepat cepat membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Lalu ia pun segera tidur.


Sementara itu dikamar pasangan pengantin yang masih dikatakan baru itu, terlihat Breena sedang bermanja manja di dada bidang suaminya. Ia memeluk sang suami sambil mengelusi dada nya.


"Geli sayang" tegur Dayyan sambil memegang tangan sang istri.


"Hehehehe maaf Mas" ucap Breena sambil cengengesan.


"Kenapa hemm?" tanya Dayyan sambil mengeratkan pelukannya.


"Mas. Menurut Mas, apa Mbak Ani akan menerima Brian?" tanya Breena ragu.


"Menurut Mas iya. Mas bisa lihat kalau Ani pernah curi curi pandang ke Brian. Selain itu Mas lihat Ani juga menyayangi Quin. Jadi besar kemungkinan Ani akan menerima Brian" jawab Dayyan.


"Breena memang berharap kalau Mbak Ani yang jadi istri nya Brian Mas. Bukan tanpa alasan Breena menjodohkan mereka. Breena lihat Mbak Ani itu baik, orang nya tulus, juga penyayang. Bahkan ketika Breena disana, Breena bahagia Mas. Breena seperti memiliki saudara. Kasih sayang yang diberikan Mbak Ani itu seperti kasih sayang seorang Kakak. Bukan seperti orang lain" jelas Breena.


Dayyan hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sang istri. Ia juga begitu. Terkadang Mbak Ani seperti adik kandung nya ketika melihat Dayyan yang sedang sakit. Mbak Ani akan mengomeli nya kalau Dayyan tidak mau makan dan minum obat. Walau pun bukan anak kandung Abah dan Umma nya namun Dayyan sudah menganggap Mbak Ani itu adik nya. Adik yang selalu cerewet ketika ia sedang sakit.


"Sebenarnya kemarin itu Mas sholat istikhorah sayang. Sesuai dengan permintaan Abah. Mas berdoa semoga Ani memang berjodoh dengan Brian. Dan jawaban yang Mas dapat, sesuai dengan harapan kita. Jadi kita banyak berdoa saja kalau istikhorah Ani juga sama dengan kita" jelas Dayyan.


"Amiinn Mas" ucap Breena.


"Sayang boleh nggak?" tanya Dayyan dengan tatapan sayu nya.

__ADS_1


Breena yang paham pun menganggukan kepalanya. Dan malam itu mereka tutup dengan ibadah halal mereka sebelum mereka tidur.


...----------------...


Dua minggu kemudian dipesantren tepatnya di ndalem Abah Arsya, para khadamah sedang sibuk menyiapkan menu untuk makan siang keluarga Abah Arsya dan tamu nya. Sebab hari ini adalah tepat 2 minggu Ani akan menjawab ta'aruf dari Brian.


Walau pun para khadamah memasak untuk para tamu yang akan datang mengta'aruf Mbak Ani. Namun bukan berarti ia akan duduk dengan tenang, da menerima beres masakan begitu saja.


Tidak. Justru disini Mbak Ani lah yang terlihat begitu sibuk. Ia sibuk membuat masakan kesukaan Quin. Bukan hanya untuk Quin saja. Mbak Ani juga membuat puding kesukaan Brian. Ia tau itu karena bertanya dengan Breena. Ia pun tersenyum malu ketika mendapati godaan dari Breena.


"Ning" panggil Mbak Ani ketika ia mendapati Breena didapur.


"Iya kenapa Mbak?"


"Boleh nanyak sesuatu nggak Ning?" tanya Mbak Ani ragu.


"Mau tanya apa Mbak?" tanya Breena tanpa menoleh kearah Mbak Ani. Karena ia sedang membuatkan sarapan untuk suami nya.


"Saya mau nanyak, eemmm anu Ning" ucap Mbak Ani terbata. Ia pun sebenarnya malu untuk menanyakan hal ini.


"Emmm Ning tau nggak makanan kesukaan nya Mas Brian?" tanya Mbak Ani sambil menunduk malu.


Breena tak langsung menjawab. Ia mematikan terlebih dahulu kompor listrik nya. Kemudian ia menatap Mbak Ani dengan tatapan yang sulit di artikan. Dapat ia lihat wajah Mbak Ani yang bersemu merah ketika menanyakan hal itu.


"Kenapa Mbak Ani nanyak itu? Apa Mbak Ani akan membuatkan nya nanti ketika mereka datang ke pesantren?" goda Breena dengan senyum jahilnya.


Mbak Ani pun tersenyum malu. Dengan ragu ia menganggukan kepala nya.


"Baiklah akan Breena kasih tau. Mbak ani cukup buatkan Mas Brian Ayam panggang madu. Capcai udang, eemmm dia juga suka sup iga Mbak. Terus buat kan dia puding coklat sama puding buah Mbak. Kalau masalah buah dia suka semua nya. Dia tidak ada alergi dengan buah" ucap Breena sambil memikirkan apa lagi makanan kesukaan mantan calon tunangan nya itu.


"Itu saja Ning?" tanya Mbak Ani memastikan.


"Iya deh kaya nya Mbak. Dulu itu dia sering minta itu masa Breena" ucap Breena yakin setelah ia mengingat kembali apa saja makanan kesukaan Brian.


"Terima kasih Ning info nya" ucap Mbak Ani dengan senyum sumringah nya.


"Iya Mbak sama sama. Iya uda Breena mau panggil Mas Dayyan dulu. Mbak panggil Abah sama Umma iya, biar kita serapan bersama" pinta Breena sebelum ia pergi.

__ADS_1


"Nggih Ning"


"Mbak tolong ini disiapkan di meja makan iya. Saya mau ke kamar dulu" pinta Breena denga lembut kepada pelayan yang selalu menunggu nya ketika ia sedang memasak.


"Baik Nona" jawab kompak pelayan tersebut.


Ekhem


Deheman seseorang membuyarkan lamaunan Mbak Ani yang sedang senyum senyum sendiri.


"Umma" panggil Mbak Ani.


"Hayo lagi lamunin apa?" goda Umma Hanum.


"Nggak lamunin apa apa Umma" ucap Mbak Ani mengulum senyumnya.


"Uda siap masakan nya Nduk?"


"Nggih Umma. Uda siap semua nya. Apa keluarga Mas Brian sudah datang Umma?" tanya Mbak Ani penasaran.


"Mereka masih dijalan Nduk. Iya uda kalau sudah siap. Kamu tinggal kan saja. Nanti sisa nya biar dikerjakan sama yang lain saja. Kamu bersih bersih dulu sana. Masa calon suami mau datang kamu masih sibuk di dapur. Kan nggak enak dilihat nya" goda Umma Hanum lagi.


"Nggih Umma. Setelah ini Ani kekamar bersih bersih"


"Nduk, Umma doakan semoga nanti kamu bahagia bersama mereka. Kamu dilindungi dan dijaga oleh mereka. Sebenarnya Umma masih takut untuk melepasmu. Tapi Umma tidak bisa menahanmu disini terus. Maafkan Umma kalau Umma ada salah sama kamu iya. Umma sayang sama kamu. Seperti sayang Umma ke Mas mu. Umma tidak pernah membedakan kalian berdua. Kamu uda seperti anak Umma sendiri" ucap Umma Hanum yang tanpa sengaja mata nya meneteskan bulir air asin yang membasahi pipinya.


"Umma" ucap Mbak Ani sambil memeluk Umma Hanum.


Mbak Ani menangis dipelukan Umma Hanum.


"Terima kasih untuk selama ini Umma. Umma sudah berusaha keras melindungi Ani dari keluarga tiri Ayah. Ani sangat beruntung dipertemukan oleh kalian. Maafkan Ani untuk semua kesalahan Ani Umma. Sampai kapan pun Umma dan Abah akan tetap Ani anggap orang tua Ani. Doakan Ani Umma semoga pilihan Ani ini tidak salah" ucap Ani yang sudah sesenggukan.


"Umma selalu mendoakam kebahagiaan setiap anak anak Umma. Iya uda kamu bersiap iya. Sebentar lagi keluarga mereka akan datang" pinta Umma Hanum lagi.


"Iya Umma. Kalau gitu Ani kekamar dulu iya Umma" ucap Ani lalu ia berjalan menuju kelantai dua. Dimana letak kamar nya yang berada di ndalem.


Iya Ani memang memiliki kamar sendiri di ndalem, selain kamar di asrama. Ia akan menggunakan kamar itu ketika ia ingin menyendiri dan merindukan orang tua nya.

__ADS_1


__ADS_2