Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bab 37. Kemarahan Breena dan Pertengkaran Pertama


__ADS_3

Sementara itu dihalaman depan ndalem Dayyan masih menunggu kedatangan Kang Amin untuk membawakan barang barang yang dibawanya tadi. Dayyan berdiri sambil menyender dimobilnya.


Melihat Dayyan yang sedang sendirian, membuat salah satu Ustadzah mendekati Dayyan. Dia adalah Ustadzah Hana.


Sedari tadi dia sudah berdiri tak jauh dari mobil Dayyan. Dia juga melihat bagaimana Umma Hanun dan Dayyan yang begitu menyayangi Breena. Dan juga ia mendengar aduan Breena tentang bagaimana Dayyan memanjakannya dirumah mereka yang di Jakarta. Serta Breena yang bersikap manja pada mertua dan suaminya.


Ustadzah Hana membenci semua yang dilihatnya. Ia merasa kalau keluarga Dayyan begitu berlebihan memperlakukan Breena.


"Lihat dan tunggulah Breena. Aku akan merebut semua yang seharusnya menjadi milikku darimu. Kau sungguh tak pantas mendapatkan perlakuan baik dari keluarga Kyai Arsya. Aku akan merebut tahtamu sebagai istrinya Gus Dayyan. Dan aku akan mengusirmu dari rumah Gus Dayyan. Karena hanya aku yang akan menjadi ratu dirumah itu" gumam Ustadzah Hana dengan senyum liciknya sambil berjalan mendekat kearah Dayyan.


"Assalamualaikum Gus" sapa Ustadzah Hana dengan senyum semanis mungkin.


"Wa'alaikum salam Ustadzah. Ada apa?" tanya Dayyan datar.


"Tidak ada apa apa Gus. Tadi saya lihat Anda sendirian disini. Jadi saya hampiri Anda. Kalau boleh tau Gus sedang apa?" tanya Ustadzah Hana dengan suara yanh dibuat buatnya selembut mungkin.


"Sedang menunggu Kang Amin" jawab Dayyan datar


"Ada perlu apa Gus sama Kang Amin?"


"Mau saya suruh angkat barang barang saya"


"Apa perlu saya bantuin Gus?" ucapnya menawarkan dirinya.


"Tidak perlu. Biar Kang Amin saja" ucap Dayyan menolak bantuan yang Ustadzah Hana tawarkan.


Dan mengalirlah pembicaraan mereka berdua. Sampai Dayyan lupa menyusul istrinya masuk kedalam kamarnya.


Sedangkan didalam kamar Breena sudah menggerutu menunggu Dayyan yang tidak juga menyusulnya.


"Ini Mas Dayyan kemana sih? Uda tau kalau aku mau istirahat itu harus mandi dulu. Ini malah nggak nyusul nyusul. Mana baju masih dimobil lagi. Nggak mungkin aku sore sore gini uda pakai baju tidur kan" omel Breena mondar mandir didalam kamarnya menahan geram.


"Mana gerah banget lagi. Aku susulin aja deh" lanjutnya kemudian Ia kemuar dari dalam kamarnya.


Diruang tengah ia bertemu dengan Kang Amin yang sedang membawa kardus berisi buah buahan yang dibawanya tadi dari rumah.


"Loh Kang Amin disini? Terus Mas Dayyan mana Kang?" tanya Breena karena tak melihat suaminya.


"Eeehhh Ning Breena" ucap Kang Amin sambil menunduk.


"Iya Kang. Mas Dayyan mana kok nggak bareng sama Kang Amin?"


"Emmm... Anu Ning ... Itu" ucap Kang Amin terbata.

__ADS_1


"Ngomong yang benar Kang. Breena nggak ngerti kalau Kang Amin ngomong seperti itu" ucap Breena kesal.


"Maaf Ning. Gus Dayyan diluar lagi ngobrol sama Ustadzah Hana" ucap Kang Amin pelan.


Breena yang mendengar itu merasa kesal sama suaminya. Bukannya mikirin istrinya malah ngobrol sama Ustadzah Hana pula.


"Terima kasih Kang" ucap Breena langsung keluar menuju suaminya.


Sampai diluar Breena menahan amarahnya melihat Dayyan memeluk Ustadzah Hana.


Sedangkan Ustadzah Hana yang melihat Breena keluar dari ndalem pura pura tersandung dan menjatuhkan tubuhnya kearah Dayyan. Dengan reflek Dayyan langsung memegang tangan Ustadzah Hana. Sehingga ketika orang yang melihatnya dari arah belakang, melihat mereka seperti sedang berpelukan.


Breena yang tak tahan melihat adegan itu pun langsung berjalan mendekati suaminya.


Ekhem


Deheman Breena membuat Dayyan sadar dari lamunannya. Iya langsunh melepaskan tangannya dan berbalik menghadap kebelakangnya.


Betapa terkejutnya ia melihat istrinya sudah berdiri dibelakangnya dengan mata yang menatapnya tajam.


"Maaf kalau saya mengganggu adegan romantis kalian berdua. Saya hanya ingin mengambil baju saya saja dimobil" ucap Breena.


"Sa-sayang. Mas bisa jelasin. Ini nggak seperti yang kamu lihat" ucap Dayyan mendekati Breena.


Dayyan berusaha memegang tangan Breena namun ditepis oleh Breena. Sedangkan Ustadzah Hana hanya tersenyum melihat pasangan didepannya yang sebentar lagi akan bertengkar.


"Saya permisi, silahkan dilanjutkan. Mumpung lagi sepi jadi tidak ada yanh melihat adegan romantis kalian" sindir Breena.


Dayyan masih berusaha menggapai tangan istrinya. Namun lagi lagi ditepis oleh Breena.


"Tolong jangan menyentuh saya Ustadz setelah tangan Anda menyentuh perempuan lain. Saya takut tubuh saya gatal gatal setelah disentuh oleh tangan bekas menyentuh tubuh perempuan lain" sindir Breena yang langsung mengambil handsanitizer didalam tasnya kemudian menyemprotkan ketangannya.


Ustadzah Hana yang melihat tingkah Breena itu merasa sangat terainggung. Ia pun mengepalkan kedua tangannya menahan emosinya.


"Sayang tidak perlu sampai seperti itu. Mas tidak memeluknya. Kamu salah paham sayang. Tadi Ustadzah Hana mau terjatuh. Mas reflekmenolongnya. Mas hanya memegang tangannya" jelas Dayyan.


"Ohh iya? Apa ada buktinya? Disini hanya ada kalian berdua. Apa ada saksinya kalau yang Mas bilang itu adalah kebenarannya?" pertanyaan Breena langsung memojokkan Dayyan.


Karena disana memang hanya ada mereka berdua tadi. Jadi tidak mungkin ada saksi yang membelanya.


"Apa karena aku belum bisa menjadi istrimu sesungguhnya Mas?"


Dayyan yang ditanya seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia menatap sedih kearah Breena yang sekarang sudah menatapnya kecewa dengan mata yang sudah berkaca kaca.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tidak bisa bersabar untuk menungguku Mas?"


Lagi lagi pertanyaan Breena hanya dibalas gelengan kepala oleh Dayyan.


"Apakah gelas Ustadzah. Wanita berhijab syar'i. Paham agama pantas melakukan itu Ustadzah Hana? Anda dulu menghina saya karena saya bukan orang yang paham agama yang dinikahi oleh seorang yang bergelas Gus dan Ustadz. Saya tidak setara dengan anda paham agama. Apakah menurut anda pantas seorang yang bergelar Ustadzah memeluk suami orang didepan umum? Apakah itu tidak murahan namanya?" cerca Breena menahan amarahnya.


"Breena cukup. Ini hanya salah paham. Kamu sudah kelewatan Breena!" bentak Dayyan. Untuk pertama kalinya ia membentak Breena.


"Kamu membelanya Mas?" tanya Breen yang tak menyangka Dayyan rela membentaknya dihadapan Ustadzah Hana.


"Ha ha ha ha. Kamu membentakku dihadapannya Mas? Ini kah yang kamu bilang kalau kamu mencintaiku selama tiga tahun ini? WOW" ucap Breena sambil bertepuk tangan dengan air mata yang sudah mengalir.


Bentakan Dayyan tadi membuat Umma Hanum dan Abah Arsya keluar dari dalam rumah dan mendekati Dayyan.


"Ada apa ini?" tanya Kyai Arsya.


"Abah, yang seorang Kyai terkemuka. Bolehkah Breena bertanya?"


"Boleh. Ada apa nduk?" tanya Abah Arsya lembut.


"Apakah seorang Ustadzah yang paham agama boleh memeluk suami orang didepan umum? Dan apakah istri dari lelaki itu tidak pantas marah ketika miliknya disentuh oleh wanita lain? Dan apakah pantas lelaki itu membentak istrinya demi membela wanita lain itu?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu nduk? Itu semua tidak diperbolehkan. Itu hukumnya jatuh ke zina nduk" jawab Abah Arsya.


"Apakah yang seperti itu harus dinikahkan Abah?"


"Iya. Agar tidak menimbulkan fitnah"


"Selamat Abah, Umma. Sebentar lagi kalian akan memiliki menantu. Selain karena mereka yang sudah berpelukan didepan umum. Abah dan Umma juga memiliki menantu yang paham agama, dan juga seorang Ustadzah. Bukan seperti Breena yang sama sekali tidak paham tentang agama"


Abah Arsya dan Umma Hanum yang mendengar ucapan menantunya hanya bisa saling menatap. Mereka tidak tau apa yang telah terjadi disini.


Sedangkan Dayyan hanya bisa menundukkan wajahnya. Sementara itu Ustadzah Hana menampilkan raut sedihnya. Tapi dibalik itu ada senyum tipis disudut bibirnya.


"Dan untukmu, selamat Ustadzah Hana. Keinginanmu untuk menjadi istri dari Mas Dayyan sebentar lagi akan terkabulkan. Panggil orang tuamu kesini. Karena aku yang akan melamarmu dan menyerahkan suamiku kepadamu" ucap Breena yang menatap Ustadzah Hana dengan senyum kemenangan yang mengembang dibibirnya. Ia bahagia karena Breena mengatakan akan melamarnya untuk suaminya.


Sedangkan Abah Arsya dan Umma Hanum semakin dibuat terkejut dengan ucapan Breena.


"Maaf Abah Umma, Breena masuk kedalam dulu. Breena mau membereskan barang barang Breena yang ada dikamar Mas Dayyan. Karena mulai malam ini kamar itu bukan kamar Breena lagi" pamit Breena pada kedua mertuanya.


Breena langsung pergi dari hadapan mereka semua. Sepanjang jalan Breena menghapus air matanya.


Hatinya sakit melihat suaminya berpelukan dengan wanita lain. Wanita yang menaruh hati pada suaminya. Bahkan hatinya kembali sakit ketika suaminya membentaknya demi membela wanita lain.

__ADS_1


"Sayang" panggil Dayyan yang mengejar istrinya.


Namun diacuhkan oleh Breena. Breena tetap berjalan menuju kamar suaminya.


__ADS_2