Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Mengunjungi Wildan dan Mencabut Laporan


__ADS_3

Malam hari nya, Anggi mendorong kursi roda Bu Ayu menuju ke ruang makan. Di ruang makan semua orang sudah berkumpul termasuk Thomas yang jarang berada di mansion.


Makan malam pun dimulai, dengan para istri yang melayani suami mereka masing masing. Dan Anggi yang juga melayani Bu Ayu sebab Bu Ayu yang memang belum bisa bergerak bebas.


Selesai makan malam, semua nya berkumpul di ruang keluarga. Mereka berbincang sambil menikmati cemilan yang sudah dibuat oleh pelayan sore tadi.


"Maaf Pak Steven, apakah saya boleh mengatakan sesuatu?" ucap Bu Ayu tiba tiba.


"Iya kata kan Bu. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Daddy Steven.


"Apa saya boleh tau siapa yang menabrak saya?" tanya Bu Ayu ragu.


Sebab selama ia sadar, tidak ada satu pun orang yang membahas siapa pelaku yang sudah menabrak nya. Maka dari itu malam ini ia bertanya hal yang menurut nya sangat penting.


"Apa Bu Ayu sudah siap mendengar nama pelaku nya?" tanya Daddy Steven tegas. Ia hanya ingin memastikan kesiapan Bu Ayu.


"Saya siap Pak. Apa orang itu orang yang saya kenali?" tanya Bu Ayu yang semakin penasaran.


"Iya. Ibu sangat mengenal nya. Bahkan Ibu juga merawatnya dan membesarkan nya juga"


Ucapan Daddy Steven semakin membuat Bu Ayu penasaran. Ia bahkan menatap ke arah Anggi meminta penjelasan atas ucapan dari Daddy Steven.


"Si—Siapa dia Pak?" tanya Bu Ayu terbata.


Semua nya diam. Tak ada yang mau menyebut nama orang itu. Bu Ayu yang melihat keterdiaman mereka pun semakin di buat penasaran.


"Anggi. Apa kamu juga mengenal nya nak?" tanya Bu Ayu dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Anggi hanya mengangguk kan kepala nya. Ia tak sanggup untuk menatap wajah Bu Ayu.


"Siapa nak. Bilang sama Bunda?" desak Bu Ayu.


"Janji iya Bunda nggak akan marah kalau mendengar nama nya"


"Iya Bunda janji"


Sebelum menjawab, Anggi kembali menatap Daddy nya. Daddy Steven pun mengangguk kan kepala nya.


"Wildan"


Satu kata yang di ucapkan Anggi sukses membuat air mata Bu Ayu menetes. Bu Ayu meremas dada nya yang sesak. Ia tak menyangka anak yang dirawat nya, di besarkan nya dari bayi, tega melakukan hal yang sangat kejam kepada nya. Apa salah nya sehingga ia tega melakukan hal itu.


"Kamu serius Nak. Bener dia yang melakukan nya?" tanya Bu Ayu tak percaya.


"Iya Bunda. Anggi bahkan sudah bertemu dengan nya saat Bunda sedang menjalankan operasi" ucap Anggi yang menunduk sambil meremas tangan nya.

__ADS_1


"Lalu apa yang membuat nya tega melakukan ini nak?"


"Dendam Bu Ayu" jawab Mommy Rianti yang melihat anak nya tak sanggup menjawab pertanyaan Bu Ayu.


"Dendam? Bagaimana bisa dia mempunyai dendam kepada saya? Bahkan selama ini saya lebih menyayangi nya dari anak anak yang lain" ucap Bu Ayu tak percaya.


"Dia dendam sama Anggi dan Bunda. Karena dia melihat Bunda yang seperti sangat menyayangi Anggi dari pada menyayangi nya. Karena itu lah dia nekat menabrak Bunda kemarin" ucap Anggi dengan suara bergetar nya.


"Astafirullah. Pada hal Bunda lebih menyayangi nya. Kamu tau nak, Wildan itu sebenar nya anak dari adik suami Bunda. orang tua nya meninggal beberapa hari sebelum suami Bunda meninggal. Maka nya dia Bunda yang merawat nya. Memang Bunda tidak pernah mengatakan hal ini. Mungkin karena itu maka nya dia dendam sama Bunda" ucap Bu Ayu yang sudah terisak.


"Jadi Wildan anak dari adik suami Bunda?"


"Iya nak. Maka nya Bunda sangat menyayangi nya. Lalu dimana dia sekarang nak?"


"Saya memasuk kan nya kedalam penjara Bu Ayu. Maaf karena saya tidak tau kalau dia sebenar nya keponakan Bu Ayu" ucap Daddy Steven yang merasa bersalah telah memasuk kan Wildan ke dalam penjara.


"Pak Steven. Boleh kah saya memohon untuk nya agar di bebas kan?" mohon Bu Ayu sambil menyatukan kedua tangan nya di dada.


"Semua keputusan ada di tangan Ibu. Kalau memang mau di bebas kan, besok kita bisa mengunjungi nya sambil mencabut laporan nya"


"Terima kasih Pak. Terima kasih untuk kebaikan nya.


"Sama sama Bu. Nanti saya akan menghubungi pengacara saya, untuk membebaskan nya besok"


"Terima kasih sekali lagi Pak. Terima kasih" ucap Bu Ayu yang terisak.


Ke esokan hari nya, tepat pukul 09:00 pagi. Keluarga Danuarta beserta Bu Ayu pun telah sampai di kantor polisi. Tak lama berselang pengacara keluarga Danuarta pun datang. Mereka langsung masuk dan menemui petugas yang sedang berjaga.


Bu Ayu, Anggi dan Mommy Rianti masuk ke ruangan khusus untuk tamu yang menjenguk tahanan. Sedangkan Daddy Steven dan Pengacara keluarga nya menemui kepala polisi yang menangani kasus mereka untuk mencabut laporan.


Di ruang tunggu, Wildan masuk kedalam ruangan itu di iringi oleh dua anggota kepolisian. Tak lupa tangan Wildan yang masih di borgol.


Melihat kedatangan Wildan. Bu Ayu langsung menatap nya dengan mata yang berkaca kaca. Lalu ia merentangkan kedua tangan nya. Wildan yang melihat itu langsung berlari dan masuk ke dalam pelukan Bu Ayu.


Kedua nya saling terisak. Menumpahkan kesedihan dihati mereka. Bu ayu menciumi wajah Wildan dengan sayang.


"Maafin Wildan Ibu. Maafin Wildan" ucap Wildan di sela tangis nya.


"Ibu sudah memaafkan mu sayang"


"Maafin kesalahan Wildan Bu" ucap Wildan lagi sambil mencium kaki Bu Ayu.


Bu Ayu hanya bisa mengelus kepala dan punggung Wildan. Ia tak mampu untuk membangun kan tubuh Wildan karena punggung dan kaki nya yang masih belum pulih.


"Bangun nak. Ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu" pinta Bu Ayu.

__ADS_1


Wildan pun menurut. Ia duduk di hadapan Bu Ayu yang duduk di atas kursi roda nya.


"Apa Ibu boleh tau apa alasan kamu melakukan ini nak?" tanya Bu Ayu lagi. Ia hanya ingin mendengar langsung dari mulut keponakan nya itu.


"Maafin Wildan Bu. Wildan pikir Ibu sudah tak menyayangi Wildan lagi sejak Anggi datang di panti. Wildan dendam melihat Ibu yang lebih sering menghabis kan waktu sama Anggi ketimbang sama Wildan. Menurut Wildan, Ibu telah melupakan Wildan. Maafin Wildan Bu. Maaf" ucap Wildan yang kembali terisak. Ia hanya bisa menundukkan kepala nya.


"Ibu sudah memaafkan kamu nak. Ibu tak mungkin menaruh dendam dan marah sama kamu" ucap Bu Ayu dengan suara lembut nya.


"Kenapa Bu? Kenapa Ibu tidak dendam dan marah sama Wildan?" tanya Wildan tak paham dengan ucapan Bu Ayu.


"Kamu tau kan siapa nama kedua orang tua kamu?"


"Tau Bu. Lalu apa hubungan nya?"


"Kamu tau, Ibu mu adalah adik dari suami Ibu. Kamu adalah keponakan Ibu. Jadi bagaimana bisa Ibu dendam dan marah sama keponakan Ibu sendiri. Apa lagi kamu melakukan semua ini bukan karena dendam. Kamu hanya slah paham saja selama ini nak" ucap Bu Ayu sambil mengelus kepala Wildan sayang.


Wildan yang mendengar sebuah fakta yang selama ini tak ia ketahui pun hanya bisa terdiam membatu. Ia tak menyangka selama ini di rawat oleh keluarga dari Ibu nya. Pantas saja Bu Ayu lebih memprioritaskan nya dulu dari pada anak anak yang lain.


Wildan kembali menangis. Ia kembali bersimpuh di kaki Bu Ayu. Ia menyesali semua perbuatan nya. Ia sangat menyesal telah mencelakai Ibu yang selama ini sudah membesarkan nya.


"Maafin Wildan Bu. Maafin Wildan. Wildan tak tau kalau ternyata Bu Ayu keluarga Wildan. Sekali maafin Wildan Bu" ucap Wildan penuh penyesalan.


"Sebelum kamu meminta maaf. Ibu sudah memaafkan kamu lebih dulu nak. Ibu harap kamu mau berubah. Kalau kamu merasa ada yang mengganjal di hati mu. Ibu minta mulai saat ini kamu lebih baik bertanya. Jangan sampai karena masalah salah paham sampai membuat kamu menjadi dendam. Selama ini Ibu selalu berusaha untuk mencari mu nak. Setelah kamu keluar dari panti secara tiba tiba tanpa bilang sama Ibu. Ibu selalu memikir kan kamu. Ibu bahkan sangat mengkhawatirkan diri mu ketika berada diluaran sana nak. Kembali lah kepanti. Di panti ada Ibu sebagai keluarga mu satu satu nya yang masih hidup" ucap Bu Ayu. Wildan hanya bisa mengangguk kan kepala nya didalam pelukan Bu Ayu.


"Sekarang bangun lah. Kembali ke sel tahanan dan bereskan barang barang kamu yang ada. Kita pulang iya. Kamu mau kan?" tanya Bu Ayu dengan senyum manis nya.


"Pu–pulang Bu?" tanya Wildan terbata dan tak percaya.


"Iya kita pulang. Pak Steven sudah membebaskan kamu nak. Pak Steven dan Pengacara nya sedang mencabut laporan nya"


"Terima kasih Bu. Terima kasih. Terima kasih Anggi. Terima kasih telah membebaskan aku" ucap Wildan dengan tangis nya yang kembali pecah.


Tak lama Daddy Steven dan Pengacara nya masuk ke ruangan mereka. Wildan langsung berlari dan bersujud di kaki Daddy Steven.


"Terima kasih Pak. Terima kasih sudah mau mencabut laporan nya dan membebaskan saya. Terima kasih" ucap Wildan sambil memeluk kaki Daddy Steven.


Daddy Steven menepuk punggung Wildan.


"Berubah lah. Jangan lagi melakukan hal yang membahayakan dirimu sendiri. Maaf kalau anak buah saya sudah menghajar mu kemarin"


"Iya Pak. Saya janji saya akan berubah. Saya akan menjaga dan merawat Bu Ayu untuk menebus kesalahan saya" ucap janji Wildan.


"Iya kamu memang harus menjaga dan merawat Bu Ayu sampai sembuh. Tapi bukan di panti tapi di mansion saya" ucap Daddy Steven tegas.


"Baik Pak"

__ADS_1


Setelah nya Wildan pun kembali ke sel tahanan nya untuk membereskan barng barang nya. Sedangkan keluarga Danuarta serta Bu Ayu dan Pengacara nya sudah menunggu kedatangan Wildan di halaman kantor polisi.


Wildan keluar dari kantor polisi dengan senyum nya yang merekah. Ia menghampiri Bu Ayu kemudian mendorong kursi roda Bu Ayu ke mobil Keluarga Danuarta.


__ADS_2