Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Permintaan Maaf Andri


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh tunangan nya Windy pun berhenti tepat di depan pintu utama. Ibu Windy pun kembali mengagumi mansion mewah itu.


"Mereka benar benar kaya iya Win? Lihat lah dari jauh saja rumah nya sudah terlihat mewah. Apa lagi dari dekat seperti ini semakin terlihat mewah nya" ucap Ibu Windy mengagumi mansion Bagaskara.


"Memang mewah Bu. Karena Daddy Calvin itu anak satu satu nya. Mommy nya Daddy tinggal di Belanda bersama suami nya. Perusahaan Bagaskara setara dengan perusahaan Anderson" jelas Windy yang hanya di angguki oleh Ibu nya. Sebab Ibu nya sama sekali tidak mengenal perusahaan itu.


"Walau pun mereka kaya. Tapi mereka itu sangat sederhana Bu" ucap tunangan Windy tiba tiba.


"Kamu kenal sama keluarga mereka nak?"


"Kenal Bu. Sebenar nya Andri bekerja di perusahaan cabang mereka yang di ada di kota kita. Hanya saja mungkin karena mereka jarang ke perusahaan cabang itu, jadi mereka tidak mengenali Andri" jelas Andri.


Perkataan Andri membuat Windy dan Ibu nya terdiam. Bahkan Windy sampai tak percaya kalau ternyata tunangan nya itu bekerja di perusahaan mantan kekasih nya.


'Kenapa semua jadi serba terhubung seperti ini? Dari Breena yang akhirnya berhubungan dengan Brian yang jadi adik ipar angkat nya. Sekarang Andri yang ternyata bekerja di perusahaan nya Daddy Calvin. Bagaimana ini?' ucap Windy dalam hati.


"Ayo kita turun" ajak Andri tunangan nya Windy.


Windy dan Ibu nya pun hanya menurut saja. Mereka turun dari mobil dan melangkah kan kaki nya ke pintu utama mansion mewah Bagaskara.


Windy pun menekan bel mansion mewah. Dan menunggu pelayan membuka kan nya.


Sementara itu di dalam mansion mewah itu. Keluarga Bagaskara sedang mau makan malam bersama untuk yang terakhir kali nya. Sebab besok Ansel akan terbang ke Belanda.


Ia akan menetap disana. Tinggal bersama Grandma dan Grandfa nya. Ansel juga tidak tau sampai kapan ia akan menetap disana. Mungkin hanya untuk menyembuhkan hati nya. Atau mungkin untuk selama nya. Dan mencari jodoh orang sana. Bisa jadi.


Ting Tong


Suara bel berbunyi tepat ketika Mommy Gantari akan menyendok kan nasi ke dalam piring suami nya.


"Mbak tolong buka kan pintu nya iya" ucap Mommy Gantari lembut.


"Baik Nyonya"


Pelayam itu pun berjalan menuju ke pintu utama.


Ceklek


"Selamat malam Mbak Dini" sapa Windy ketika melihat pelayan yang bernama Dini yang membuka kan pintu untuk nya.


"Selamat malam Nona Windy. Silah kan masuk. Tuan dan Nyonya sedang makan malam Nona" ucap Dini mempersilahkan masuk tamu nya.

__ADS_1


"Silah kan duduk Nona Tuan. Saya panggil kan dulu Tuan Ansel nya"


"Tidak usah Mbak Dini. Biar Mommy dan yang lain nya menyelesai kan makan malam nya" tolak Windy ketika Dini akan memanggil Keluarga Ansel. Sebab Windy tak ingin mengganggu waktu makan malam mereka.


"Kalau begitu biar saya buat kan minum dulu Nona" pamit Mbak Dini undur diri.


Mbak Dini pun berjalan menuju dapur. Tiba di ruang makan, ia di berhentikan oleh Mommy Gantari.


"Siapa yang datang Mbak?" tanya Mommy Gantari menghentikan makan nya.


"Nona Windy Nyonya, bersama seorang pria dan seorang wanita paruh baya"


"Windy? Mau apa dia kesini Mbak?" tanya Mommy Gantari yang sudah berubah datar.


"Maaf Nyonya saya tidak tau. Tadi sudah saya kata kan untuk memanggil Tuan Ansel. Tapi kata nya tidak usah Nyonya. Jadi mereka menunggu di ruang tamu" jelas Mbak Dini.


"Ajak mereka kesini Mom. Bagaimana pun menjamu tamu itu penting. Walau pun kita tidak tau apa tujuan mereka kesini" ucap Daddy Calvin tegas.


Tanpa menjawab, Mommy Gantari pun meninggalkan makan malam nya. Dan menghampiri Windy di ruang tamu.


"Windy"


"Apa yang kamu lakukan Windy?" ucap Mommy Gantari dengan suara yang meninggi.


"Maafin Windy Mom. Maaf sudah membuat Mommy marah. Maaf sudah menyakiti hati anak Mommy. Maafin Windy Mom" ucap Windy yang sudah meneteskan air mata nya.


"Bangun Windy" ucap Mommy Gantari sembari membantu Windy berdiri. Namun Windy masih kukuh bersimpuh di kaki Mommy Gantari.


"Bangun atau Mommy tidak akan memaaf kan mu sampai kapan pun" ucap tegas Mommy Gantari sukses membuat Windy bangun dan berdiri di hadapan Mommy Gantari.


"Hapus air mata mu Win. Mommy tak suka melihat nya" perintah nya lalu menghampiri Ibu nya Windy.


"Selamat datang di mansion kami Bu. Kami sedang makan malam. Ayo Bu, kita makan malam bersama. Setelah itu baru kita bahas apa yang seharus nya di bahas" ajak Mommy Gantari lembut.


Ibu nya Windy menatap anak nya. Ia bingung harus melakukan apa. Menyetujui nya atau menolak nya.


"Terima kasih Nyonya. Tapi kami menunggu disini saja" tolak Andri.


Mommy Gantari memandangi Andri dengan lekat. Ia seperti pernah melihat lelaki di depan nya itu.


"Kamu.... Kamu Andri. Direktur pemasaran di perusahaan cabang Bagaskara Corporation di Semarang bukan?" tanya Mommy Gantari ragu.

__ADS_1


Andri tersenyum di lalu mengangguk kan kepala nya.


"Benar Nyonya" jawab nya sambil tersenyum.


"Kalau begitu ayo kita ke ruang makan. Suami dan anak saya sudah menunggu kalian disana" paksa Mommy Gantari.


Akhir nya Windy dan keluarga nya pun terpaksa menerima ajakan sang pemilik rumah.


Dengan suasa canggung, makan malam itu pun akhir nya selesai juga. Daddy Calvin mengajak mereka semua untuk berbincang di ruang tamu.


Mbak Dini menyuguhkan minuman dan cemilan untuk menrmani perbincangan mereka.


"Jadi ada apa kalian datang kesini?" tanya Daddy Calvin tenang.


"Saya kesini untuk meminta maaf kepada Tuan Ansel, Tuan. Karena secara tidak langsung kalau saya telah merebut kekasih nya" ucap Andri sambil menunduk.


"Hanya itu?" tanya Ansel datar.


"Iya Tuan. Maaf karena janji perjodohan yang dilakukan oleh Ayah saya dan Ayah Windy. Sehingga saya merebut kebahagian Tuan. Jujur saya juga sebenar nya tidak tau kalau kekasih Windy ternyata Tuan Ansel. Kalau saya tau saya juga berusaha untuk menolak perjodohan ini. Tapi semua sudah terlambat Tuan. Undangan pernikahan kami sudah disebar. Dan minggu depan kami sudah menikah. Saya tidak mungkin membatalkan pernikahan ini dan membuat malu keluarga saya di kampung" jelas Andri yang merasa bersalah.


"Saya memang merasa sakit hati. Saya kecewa dengan Windy. Kenapa dia tidak jujur saat dia sudah bertunangan dengan lelaki lain. Saya seperti tidak di anggap oleh nya. Bahkan saya berada disana ketika kalian saling bertukar cincin. Yang saya sesal kan, kenapa kamu tidak langsung berbicara dengan Kakak Win? Walau pun kamu jujur, pasti Kakak dulu akan memaklumi nya. Dan tidak sesakit ini rasa nya" jeda Ansel.


Ia menatap dalam ke arah Windy. Tatapan cinta yang masih sama seperti 2 bulan yang lalu. Ansel pun kemudian tersenyum melihat Windy yang sedari tadi tak berani menatap nya.


"Lihat Kakak Win" pinta Ansel. Tapi Windy masih saja menunduk. Tak sanggup melihat wajah Ansel.


"Windy" panggil Ansel tegas. Yang langsung membuat Windy menatap nya.


"Kita sudah menyelesai kan semua nya kemarin waktu di Berau. Semua sudah jelas. Kakak sudah memaaf kan mu. Kakak sudah ikhlas melepas kan mu Win. Bukan kah kemarin itu Kakak minta agar kamu bahagia selalu?"


Windy hanya mengangguk kan kepala nya. Ia tak sanggup untuk berkata kata.


"Jangan nangis lagi. Kalau kamu terus terusan nangis. Itu seperti kamu tidak bahagia bersama dengan calon suami mu. Kakak tau dia pria yang baik. Dia pasti bisa membahagia kan kamu Win. Percaya sama Kakak" ucap Ansel lembut.


Windy semakin sesenggukan mendengar kata kata yang di lontarkan oleh Ansel. Tanpa sadar ia berlari dan memeluk erat lelaki yang dulu nya menjadi orang yang paling di cintai nya itu. Ia menangis di pelukan Ansel untuk yang terakhir kali nya. Ansel pun membalas pelukan Windy.


"Jangan nangis lagi iya. Janji sama Kakak, kamu harus bahagia. Dia pria baik. Pasti dia tidak akan menyakiti kamu. Kakak minta maaf kalau ada salah sama kamu iya. Uda jangan nangis lagi" ucap Ansel lembut sambil mengelus kepala Windy.


Windy pun hanya mengangguk kan kepala nya. Lalu ia menatap wajah tampan Ansel yang memerah karena menahan tangis.


"Kak....."

__ADS_1


__ADS_2