
Ustadzah Hana yang melihat Dayyan melindungi Breena dari lemparan gelasnya pun seketika terdiam. Ia tak menyangka Dayyan rela terluka untuk melindungi Breena. Ia semakin takut melihat darah yang keluar begitu deras dari kepala Dayyan.
Ustadzah Hana yang melihat semua orang fokus ke Dayyan dan Breena pun dengan langkah cepat pergi dari ruang tamu ndalem. Namun baru beberapa langkah, Mbak Ani dan Ustadz Fahmi memegang tangan Ustadzah Hana. Dan membawa Ustadzah Hana kembali duduk dikursinya, dengan tangan yang masih dipegangi oleh Mbak Ani dan Ustadz Fahmi.
Papa Doni yang melihat menantunya terluka langsung memeriksa kondisi kepala Dayyan. Ia berusaha menghentikan darah yang terus keluar dari kepala Dayyan. Tetapi tetap saja darah itu tak juga mau berhenti.
"Dayyan apa kamu mengidap hemofilia?" tanya Papa Doni karena ia melihat darah yang keluar tak mau berhenti.
Dayyan tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya karena ia merasakan pusing.
Hemofilia adalah penyakit yang menyebabkan darah sulit membeku. Kondisi ini dikarenakan adanya gangguan pendarahan karena kurangnya faktor pembekuan darah. Bila pengidapnya mengalami luka, maka pendarahan bisa berlangsung lebih lama dari keadaan normal.
"Breena ambilkan air dan es batu untuk mengkompres lukanya. Lalu kamu tekankan pada lukanya untuk mengurangi pendarahannya" perintah Papa Doni.
Breena yang mendapatkan perintah dari Papa nya segera membaringkan Dayyan di sofa dengan keadaan kepala yang lebih tinggi. Kemudian ia berlari dengan cepat menuju ke dapur mengambil baskom, air dan es batu serta kain untuk mengompres kepala Dayyan.
Setelah dari dapur, Breena langsung mengompres luka dikepala Dayyan dan menekannya. Tampak sekali wajah Breena yang sangat khawatir melihat kondisi suaminya. Seketika air matanya pun menetes.
"Jangan khawatir sayang. Mas baik baik saja. Jangan nangis ia" ucap Dayyan lembut.
Walau pun ia sudah merasakan lemas namun ia tak mau menunjukkan nya dihadapan Breena. Ia tak mau istrinya itu semakin khawatir.
Setelah memerintahkan Breena. Papa Doni pun kembali menatap kearah Ustadzah Hana dan kedua orang tuanya.
"Pak Andi apakah seperti ini cara anda mendidik anak anda? Berlaku kriminal, memfitnah dan mengancam. Apakah anda tau kalau anak anda bisa saya jebloskan kepenjara?" tanya Papa Doni datar.
"Maafkan saya Tuan. Saya juga tidak menyangka kalau anak saya bisa berbuat seperti itu" ucap Pak Andi menundukan kepalanya.
"Pak Hilman hubungi Jendral Wahyu sekarang juga dan minta ia segera datang kesini"
"Baik Tuan" ucap Pak Hilman.
Kemudian ia langsung menghubungi Jendral Wahyu dan memintanya datang ke pesantren Al-Hidayah. Setelah mendapatkan jawaban dari Jendral Wahyu. Pak Hilman pun kembali ke ruang tamu ndalem bergabung kembali dengan yang lainnya.
"Ustadzah Hana kelakuan anda tidak mencerminkan kalau anda adalah seorang pengajar dan seorang Ustadzah. Maaf dengan terpaksa saya memecat anda sebagai pengajar di pesantren saya. Saya tidak ingin anak anak santri saya meniru kelakuan anda yang tidak baik ini. Silahkan anda beresin barang barang anda nanti" ucap Abah Arsya tegas mengambil keputusan.
"Pak Kyai tolong jangan pecat saya Pak. Kalau saya keluar dari pesantren ini saya tidak bisa lagi melihat Gus Dayyan Pak Kyai" mohon Ustadzah Hana memelas.
"Tidak bisa. Keputusan saya sudah final. Tidak ada maaf untuk kelakuan kamu yang sudah kelewat batas ini" tegas Abah Arsya.
"Dan untuk anda Pak Andi. Mulai saat ini anda juga saya pecat. Jadi mulai besok anda sudah tidak perlu lagi datang kerumah sakit saya" ucap Papa Doni menatap tajam kearah Pak Andi.
Pak Andi dan Bu Risty hanya mampu menundukkan kepalanya. Mereka nemar benar malu dengan kelakuan anaknya.
Tak lama Jendral Wahyu pundatang bersama beberapa bajudannya. Abah Arsya mempersilahkan mereka semua untuk duduk.
"Ada apa Doni? Kenapa sahabat lama ku ini memintaku datang kesini?"
"Wahyu, aku mau kau tangkap wanita itu" ucap Papa Doni sambil menunjuk Ustadzah Hana yang sedari tadi dipegang oleh Mbak Ani dan Ustadz Fahmi.
__ADS_1
"Dia sudah memfitnah menantuku. Mengancam anak ku. Dan dia melempar anakku dengan gelas. Namun malah menantuku yang terluka karena melindungi anakku. Nanti Pak Hilman akan ikut bersamamu untuk membuat laporannya" tegas Papa Doni.
"Baiklah ini bisa jadi laporan pencemaran nama baik, perbuatan tidak menyenangkan dan kekerasan. Apa ada bukti lainnya?"
"Ini" ucap Papa Doni sambil menyerahkan rekaman suara dan video dari dua ponsel.
"Dan kau bisa lihat sendiri keadaan menantuku bagaimana. Besok orangku akan mengantarkan surat fisum ke kantormu" lanjutnya sambil menunjuk kearah menantunya.
"Baiklah aku terima laopranmu. Untuk saksi besok akan aku panggil kekantorku. Untuk meminta keterangan dari mereka. Ajudan bawa wanita itu"
Para ajudan Jendral Wahyu pun membawa Ustadzah Hana. Dan Ustadzah Hana pun memberontak ketika dibawa oleh para polisi. Ia terus berteriak meminta dilepaskan.
Kejadian Ustadzah Hana yang ditangkap polisi pun menjadi tontonan para santri dan Ustadz serta Ustadzah.
Kemudian Jendral Wahyu pun segera pamit untuk memproses masalah ini. Diikuti oleh Pak Hilman sebagai pengacara Papa Doni.
"Tuantolong maafkan anak saya. Saya berusaha akan menasehatinya agar ia berubah menjadi lebih baik lagi Tuan" mohon Pak Andi.
"Tidak Pak Andi. Anakmu sudah sangat keterlaluan. Kau tau bagaimana keluargaku. Kami bukan orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Walau pun kami memaafkannya tetapi hukum tetap akan berjalan" tegas Papa Doni.
Dengan terpaksa Pak Andi membiarkan putrinya ditangkap oleh polisi. Karena memang putrinya lah yang bersalah.
Kedua orang tua Ustadzah Hana pun akhirnya pamit karena mereka merasa sudah sangat malu dengan keluarga Papa Doni dan Abah Arsya.
Breena yang sedari tadi mendengarkan apa yang diucapkan oleh para lelaki paruh baya itu. Namun ia tidak menggubrisnya. Fokusnya saat ini adalah mengobati Dayyan.
Melihat keadaan Dayyan yang sudah mendingan karena tadi telah diberikan suntikan untuk menghentikan pendarahannya. Breena meminta izin kepada Abah Arsya untuk memanggil beberapa kang ndalem untuk membawa Dayyan kekamar mereka.
"Tidak ada kata terima kasih nak. Kau putri Papa satu satunya. Apa pun akan Papa lakukan untukmu sayang" ucap Papa Doni membalas pelukan anaknya dan mencium kening Breena.
"Rawat suamimu sayang. Ia begitu mencintaimu. Sampai ia tidak memperdulikan hemofilianya. Kau tau sendiri nak bagaiman keadaan orang yang mengidap hemofilia itu kalau sudah terluka" pesan Papa Doni dengan yang dibalas senyum manis oleh Breena.
"Iya uda Breena nyusuk Mas Dayyan dulu Pah Mah Umma Abah" pamit Breena.
"Jangan lupa buatkan kami cucu sayang. Mama sudah tidak sabar memeriksa kandunganmu dan membantumu melahirkan cucu Mama" goda Mama Ratih yang mencoba mencairkan suasana.
"Mama" rengek Breena malu dengan pipi yang merona.
Hahahhaha
Tawa semua orang yang ada diruang tamu itu.
Kemudian Breena berlari menuju kekamarnya, meninggalkan para orang tua yang masih asyik berbincang diruang tamu.
Sesampainya dikamar, Breena melihat suaminya yang sudah duduk bersandar dikepala ranjang mereka.
"Mas" panggil Breena yang berjalan mendekati suaminya.
"Sini sayanh duduk dekat Mas" pinta Dayyan sambil menepuk sisi ranjang disebelahnya.
__ADS_1
Breena pun tersenyum dan dengan senang hatj ia menaiki ranjang mereka dan duduk disebelah suaminya. Dayyan pun membawa Breena kedalam pelukannya dan meletakkan kepala Breena bersandar didada bidangnya.
"Apa masih sakit Mas?" tanya Breena sambil mengelus kepala suaminya yang terluka.
"Tidak sayang. Karena ada istri cantik Mas yang merawat Mas" goda Dayyan.
"Mas gombal" ucap Breena sambil memukuk dada Dayyan pelan.
"Terima kasih sudah melindungi Breena Ma. Dan maaf karena Breena tadi tidak mempercayai kamu Mas" ucap Breena dengan mata yang sudah berkaca kaca menatap Suaminya.
Dayyan segera mencium kedua mata Breena. Lalu mengeratkan pelukannya.
"Apa pun akan Mas lakukan untuk kamu sayang. Bahkan nyawa Mas sekalipun akan Mas pertaruhkan untuk melindungi kamu" ucap Dayyan.
"Terima kasih sudah mencintai Breena selama ini Mas" ucap Breena dengan berani mengecup bibir suaminya sekilas.
Cup
"Jangan menggoda Mas sayang"
"Breena tidak menggoda Mas. Apa salahnya kalau Breena mencium suami Breena sendiri" protes Breena.
Cup
Breena kembali mencium bibir suaminya.
"Sayang jangan menggoda Mas sekarang. Mas masih lemas sayang. Mas belum sanggup meladeni godaanmu itu" ucap Dayyan lemas memperingati istrinya.
Hahahha
Breena hanya tertawa menanggapi ucapan suaminya. Dayyan yang melihat tawa Breena pun hanya mengulas senyumnya.
"Anna uhibbuka fillah sayang" ucap Dayyan kemudian mencium kening Breena.
Mendengar ungkapan perasaan suaminya, pipi Breena pun merona. Tak terasa bulir bening menetes melewati sudut matanya. Breena yang pernah trauma dengan yang namanya laki laki pun kini kembali mempercayai kalau tak semua laki laki itu sama.
"Kenapa diam hem? Nggak mau balas ucapan Mas?" goda Dayyan.
"Ahabbaka-lladzii ahbabtanuu lahu" balas Breena pelan karena ia masih malu malu mengungkapkan perasaannya.
Dayyan yang mendengar jawaban istrinya sangat bahagia. Cintanya yang ia jaga selama tiga tahun akhirnya terbalaskan juga. Dayyan pun mencium kening Breena dan mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah membalas cinta Mas. Ayo kita sama sama bangun rumah tangga kita menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah" ujar Dayyan yang juga mulai meneteskan air mata bahagianya.
"Amin. Terima kasih Mas sudah mau mencintai Breena selama ini" balas Breena.
"Breena mau minta Mbak Ani mengantarkan makan malam kita kekamar. Mas harus makan dan istirahat biar cepat pulih" ucap Breena melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang.
"Siap Bu dokter" ucap Dayyan dengan senyum yang mengembang.
__ADS_1
Setelah itu Breena pin keluar dari kamarnya dan menuju kedapur mencari Mbak Ani.