Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Pah, Juan Kembali


__ADS_3

Juan dan Selvi saat ini sudah berada di dalam ruang tamu rumah besar ini. Selvi menatap sekelilih ruangan. Terdapat banyak sekali foto foto Juan saat bayi dulu. Juga ada foto tumbuh kembang Juan, mulai dari tengkurep, belajar makan, belajar jalan, serta belajar menulis. Bahkan ada juga foto Juan yang sedang bermain lumpur, dengan wajah nya yang kotor dengan lumpur. Senyum Selvi terkembang melihat semua foto foto lucu Juan dulu saat masih bayi.


Sedang kan Juan, ia menatap salah satu foto dengan bingkai besar yang ada di tengah tengah ruanga itu. Foto diri nya saat berusia satu tahun yang sedang duduk di pangkuan Mama nya, dengan Ayah nya yang berdiri di belakang nya.


Juan memandang foto itu dengan mata yang berkaca kaca. Ia menghampiri foto tersebut. Tangan Juan terulur mengelus wajah Mama dan Papa nya. Lagi dan lagi tanpa terasa air mata Juan jatuh membasahi pipi nya.


"Pah, Juan kembali" lirih Juan di sela isak tangis nya.


Selvi yang mengerti perasaan Juan yang sedang kacau pun memeluk Juan dari belakang. Ia semakin mengerat kan pelukan nya mendengar tangis Juan yang sudah pecah.


"Ikhlas Abang. Selvi yakin Mama dan Papa pasti bahagia melihat Abang sekarang yang sudah kembali ke rumah ini dan membawa menantu mereka juga" ucap Selvi mencoba menenang kan Juan.


Juan tak menjawab, ia membalik kan tubuh nya dan langsung memeluk Selvi erat. Tangis nya masih terdengar. Selvi pun mengusap usap punggung Juan yang bergetar.


"Uda iya. Kalau Abang nangis gini nanti Mama juga ikutan nangis Bang. Apa Abang mau lihat Mama nangis melihat Abang seperti ini?" tanya Selvi yang langsung mendapat gelengan kepala dari Juan.


"Kalau gitu uda iya nangis nya" bujuk Selvi sambil menghapus air mata Juan. Kemudian ia mengecup sekilas bibir Juan.


"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah mau menerima Abang. Dan mau hidup bersama Abang. Jangan pernah tinggalin Abang sayang" pinta Juan.


"Apa pun yang terjadi aku nggak akan pernah ninggalin Abang" ucap Selvi tulus.


Juan pun membawa Selvi mengelilingi rumah nya. Setiap ruangan di perlihat kan oleh Juan. Ternyata rumah nya masih sama seperti terakhir kali ia meninggal kan rumah ini.


Juan membawa Selvi ke kamar kedua orang tua nya. Ia tersenyum menatap figura yang masih terpajang di atas pintu yang langsung berhadapan dengan tempat tidur kedua orang tua nya dulu.


"Sayang, ini kamar Mama dan Papa dulu nya. Semua ini masih sama seperti terakhir kali Abang tidur di kamar ini" ucap Juan sambil menatap ke sekeliling kamar orang tua nya.


"Ayo kita lihat walk in closed nya" ajak Juan sambil menarik tangan Selvi.

__ADS_1


Di walk in closed ternyata hanya tersisa tas, sepatu, dan aksesoris lain nya saja. Untuk pakaian sudah tidak ada.


"Kenapa tinggal ini aja iya sayang? Kemana semua pakaian Mama dan Papa iya?" tanya Juan heran.


"Mungkin uda di sumbang kan ke orang lain yang lebih membutuh kan Abang. Kan sayang kalau pakaian nya nggak kepakai dalam jangka waktu yang lama"


"Bisa jadi sayang. Tapi tak apa. Pakaian bisa beli lagi. Lihat lah tas tas ini masih sangat bagus sayang. Apa Daddy menyuruh pelayan untuk membersih kan nya setiap hari iya?"


"Bisa jadi Bang. Lihat lah tak ada sedikit pun debu di sini Bang. Ini seperti yang setiap hari di bersih kan. Tapi kenapa tadi kita nggak ada bertemu sama pelayan di rumah ini ya?" tanya Selvi yang mulai bingung.


"Seingat Abang, dulu tempat tinggal untuk pelayan itu ada di paviliun belakang sayang. Sengaja di pisah sama Papa dulu nya. Coba nnati kita lihat kebelakang iya. Sekalian kita lihat halaman belakang rumah ini"


Lalu Juan berjalan menuju ke aalah satu lemari yang ada disana. Ternyata yang di tuju Juan adalah brangkas Mama nya, yang digunakan untuk menyimpan perhiasan nya.


Sebenar mya itu bukan seperti kotal brangkas. Itu adalah bagian lemari yang sengaja di pesan khusus. Karena lemari itu menggunakan sandi untuk membuka nya.


"Ini kira kira apa iya sandi nya sayang?" tanya Juan yang mustahil bisa di jawab oleh Selvi.


"Selvi nggak tau Bang. Coba nanti Abang tanyakan sama Daddy. Mana tau Daddy tau apa sandi nya"


"Iya uda sekarang kita ke taman belakang yuk. Abang mau lihat pohon yang dilu abang tanam nama Mama masih hidup apa sudah mati" ajak Juan antusias.


"iya ayo"


Juan dan Selvi pun meninggal kan kamar itu dan menuju ke halaman belakang.. Ketika mereka menuju ke taman belakang, mereka berpapasan dengan kepala pelayan disana.


Kepala pelayan itu pun berhenti dan memandang wajah Juan dengan intens. Seketika mata nya berkaca kaca melihat anaj majikan nya sudah kembali.


"Ju" panggil nya lirih yang masih bisa di dengar oleh Juan dan Selvi.

__ADS_1


Juan dan Selvi pun menghentikan langkah nya tepat di depan kepala pelayan itu.


"Juju nya Mbok" lirih nya lagi.


"Maaf anda siapa iya?" tanya Juan bingung.


"Ini Mbok Ju, Mbok Fatimah. Mbok yang jaga kamu dulu. Yang selalu main dengan mu kalau Tuan dan Nyonya sedang sibuk. Kamu lupa sama Mbok Ju?" tanya Mbok Fatimah yang sudah menangis.


Juan memandang wajah wanita tua itu. Ia kembali mengingat siapa wanita yang ada di hadapan nya ini. Lama ia mengingat nya, akhir nya Juan pun memeluk wanita tua itu.


"Mbok Mah, Mbok kesayangan Juju" ucap Juan yang suara nya sudah bergetar.


"Iya ini Mbok Mah nya Juju. Kamu uda besar sekarang Ju. Kamu tampan, wajah mu sangat mirip dengan Tuan Ju" ucap Mbok Fatimah sambil mengelus wajah Juan.


"Apa kabar Mbok? Juju senang bisa bertemu Mbok lagi. Juju pikir Mbok uda nggak kerja disini"


"Mbok tetap disini Ju, Tuan Martin meminta Mbok jadi kepala pelayan di rumah ini. Tuan Martin dulu bilang, kamu akan kembali ke rumah ini kalau kamu sudah menikah. Apa sekarang kamu sudah menikah Ju?"


Juan pun menepuk kening nya karena lupa memperkenal kan Selvi pada Mbok Fatimah. Lalu ia menatap Selvi dengan wajah yang memohon maaf. Sedang kan Selvi hanya tersenyum dan geleng kepala.


"Ini Selvi Mbok. Dia istri ku. Kami baru menikah kemarin Mbok" ucap Juan memperkenal kan Selvi.


"Selvi Mbok. Salam kenal" ucap Selvi sambil mencium tangan Mbok Fatimah.


Mbok Fatimah yang mendapat perlakuan seperti itu menatap tak percaya pada Selvi. Baru kali ini ada yang mau mencium tangan nya. Biasa nya orang kalau berkenalan dengan nya cukup menjabat tangan. Tapi ini bahkan memcium tangan nya juga.


"Sama Mbok Fatimah Nona. Kepala pelayan di rumah ini."


"Senang berkenalan dengan Mbok Fatimah"

__ADS_1


__ADS_2