Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bab 13. Ikut Ke Pengajian


__ADS_3

Selesai makan mereka berkumpul diruang keluarga ditemani dengan puding coklat kesukaan Breena.


Disitu Breena kembali manja, meminta disuapi puding coklatnya oleh sang Papa. Ia bahkan bergelayut manja dilengan sang Papa.


"Aduuhhh anak Papa kenapa hari ini manja banget sama Papa?" ledek Papa Doni.


"Iiihhhh Papaaaa" ucap Breena merajuk.


Kemudian ia pindah duduknya disamping sang suami, dan menekukkan wajahnya.


"Mas, Papa nakal ledekin Breena" adunya


"Ndak apa apa Nduk, Papa hanya bercanda itu" ucap Dayyan lembut dan mengelus kepala Breena.


Sedangkan Mama dan Papa nya justru malah tergelak ketawanya. Anaknya sudah seperti anak umur lima tahun yang manja banget. Pada hal anaknya sudah menikah.


"Kalian nginapkan?" tanya Papa Doni setelah meredahkan ketawanya.


Breena langsung menatap suaminya dengan wajah memohonnya.


"Maaassss" rengek Breena.


"Iya sayang, malam ini kita nginap disini. Tapi besok kita harus kembali. Karena mas harus ngisi pengajian di Masjid Al-Huda. Cukup jauh kalau berangkatnya dari sini" jelas Dayyan memberi pengertian pada Breena.


"Yyeeeeyyyy. Terima kasih Mas" jawabnya lalu memeluk suaminya lagi.


Yang lagi lagi hanya dibalas dengan elusan lembut dikepala Breena.


Hadeeehhh si Ustadz memang senang banget ngelus kepala Breena.


"Duuhhhh merasa dunia milik berdua iya Pah" ledek Mama Ratih.


"Mamaaa" rengek Breena yang semakin menyembunyikan wajahnya didada bidang Dayyan.


Hahahahaha


Semua orang tertawa melihat tingkah manja Breena.


Itu lah hal yang sangat dirindukan oleh kedua orang tuanya. Yaitu manjanya sang anak.


...----------------...


...----------------...


Keesokan harinya Dayyan bangun ketika ia mendengar suara adzan Subuh. Ia pun segera membangunkan istrinya yang masih tertidur nyaman didalam pelukannya.


"Sayang, bangun yuk. Uda Subuh ini" ucapnya sambil mengelus pipi istrinya.


"Emmmhhh Mass" panggilnya. Namun Breena malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Bangun sayang, uda Subuh. Nanti keburu waktunya habis loh" ucap Dayyan lagi.


"Iya Mas ini bangun kok" jawab Breena malas.


"Mas duluan aja kekamar mandinya. Mas kan mau ke Masjid sama Papa" lanjutnya.


"Mas ndak ke Masjid. Mas mau berjamaah sama kamu" ucap Dayyan lalu berjalan menuju kamar mandi.


Sedangkan Breena langsung menyiapkan baju kokoh dan sarung serta membentangkan sajadah untuk mereka.


...----------------...


Tepat pukul 10:00 WIB Dayyan dan Breena sudah bersiap menuju ke Masjid. Mereka mengurungkan niatnya untuk kembali kerumah mereka dahulu.

__ADS_1


Jadi mereka akan langsung ke Masjid, setelah acara selesai barulah mereka kembali kerumah.


"Mah, Pah, Dayyan sama Breena pamit dulu iya" pamit Dayyan pada kedua mertuanya.


"Hati hati bawa mobilnya iya nak. Sering seringlah main kesini kalau kalian tidak sibuk" pinta Mama Ratih yang saat ini sedang memeluk anaknya.


"Iya Mah. Kami sudah sepakat kalau nggak sibuk tiap weekend kami pasti kesini" jawab Breena.


"Kalau gitu kami jalan dulu Pah Mah" ucap Dayyan sambil memcium tangan mertuanya bergantian dengan sang istri.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Mobil yang dikendarai Dayyan pun mulai melaju meninggalkan rumah mewah keluarga Abraham.


Sesuai dengan jadwal, Dayyan dan Breena sudah sampai di Masjid sebelum masuk waktu Dzuhur.


Dayyan keluar dari dalam mobilnya kemudian memutari mobil dan membukakan pintu untuk Breena. Dayyan berjalan menggandeng tangan Breena, membawa Breena ketempat panitia berkumpul.


Banyak pasang mata yang menatap kearah pasangan pengantin baru itu. Mereka bertanya tanya siapa perempuan yang digandeng oleh Ustadz Dayyan.


"Assalamualikum" Dayyan dan Breena mengucap salam setelah mereka masuk keruang panitia.


"Wa'alaikum salam" jawab semua panitia melihat kearah pintu. Ternyata Dayyan dan seorang gadis cantik disampingnya yang masuk.


Semua yang ada diruangan itu terbengong melihat kearah Dayyan.


"Maaf Ustadz, bolehkah kami tau siapa gadis yang bersama dengan Ustadz?" tanya salah satu panitia wanita memecah keheningan yang tiba tiba melanda.


"Perkenalkan ini istri saya, Abreena" Dayyan memperkenalkan istrinya, sedangkan Breena tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya didada.


"Wwaaaahhh ternyata Ustadz jomblo kita sudah sold out" heboh salah satu panitia pria yang disambut tawa panitia yang lain.


"Sayang kamu mau duduk bareng sama mas didepan atau bagaimana?" tanya Dayyan.


"Emmhhh kalau Breena duduk dibarisan jamaah wanita boleh ndak Mas?" tanya Breena ragu suaminya mengizinkan.


"Boleh sayang yang penting kamu nyaman. Apa perlu ditemani salah satu panitia wanita disana?" tanya Dayyan lagi memastikan.


"Ndak usah Mas, biar Breena gabung sama Ibu Ibu yang lain saja"


Tak lama terdengar suara adzan Dzuhur berkumandang. Breena segera pamit pada suaminya.


"Mas, Breena duluan iya" pamitnya lalau mencium tangan suaminya.


"Iya sayang. Nanti kalau sudah selesai pengajiannya tunggu mas dimobil iya" ucapnya sambil menyodorkan kunci mobilnya.


Seperti biasa kalau sudaj jadwal pengajian, maka setiap Dzuhur Ustadz Dayyan yang akan menjadi Imamnya. Banyak yang terpesona oleh suara Ustadz Dayyan setiap ia menjadi imam.


Pengajian pun dimulai setelah sholat Dzuhur. Sepertk biasa Breena selalu memilih duduk dibarisan terakhir dan dipojok.


Ustadz Dayyan menyampaikan pengajian mereka dengan tema keikhlasan hati dalam menerima takdir dari Allah.


Setiap menyampaikan ceramahnya, Ustadz Dayyan selalu menyelipkan candaan candaannya, agar Ibu Ibu yang mendengarnya tidak bosan dan mengantuk.


Sesekali Ustadz Dayyan melirik kearah istrinya dan melemparkan senyuman manisnya. Yang tentu saja dibalas Breena dengan senyum malu malunya.


Terlihat banget kalau si Ustadz bucin banget sama istrinya.


"*Senyum Ustadz Dayyan manis banget. Wajahnya jadi semakin bertambah tampan. Kira kira Ustadz sudah punya istri belum iya?" tanya Ibu Ibu pada temannya yang duduk disamping Breena.


"Belum tau. Tapi tadi saya lihat kalau Ustad datang bersama seorang gadis cantik dan menggandeng tangannya" jawab temannya.

__ADS_1


"Siapa iya gadis itu? Saya ingin banget menjodohkan Ustadz sama anak saya"


"Saya juga tidak tau siapa, karena baru kali ini lihat Ustadz bawa seorang gadis. Coba aja duku kamu kenalkan sama Ustadz. Mana tau jodoh kan kita tidak ada yang tau. Ustadz juga kelihatannya sudah mapan itu" saran sang teman.


"Nanti aku coba deh setelah pengajian ini selesai" antusias si Ibu itu. Yang tidak tau kalau disebelah duduknya adalah istri dari Ustadz Dayyan*.


Breena yang mendengar bisik bisik dari kedua Ibu Ibu itu pun seketika jadi cemberut. Ustadz Dayyan yang tiba tiba bersitatap dengan istrinya mengerutkan keningnya.


"Ada apa dengan istriku. Kenapa cemberut gitu wajahnya" ucapnya dalam hati.


Hampir dua jam akhirnya pengajian itu pun telah selesai. Semua Ibu Ibu sudah mulai keluar dari dalam Masjid. Tinggal beberapa saja.


Berbeda dengan Breena yang masih memilih duduk ditempatnya dengan wajah yang masih tetap cemberut.


Dayyan segera menghampiri istrinya dan duduj dihadapan sang istri. Memperhatikan wajah cemberut istrinya yang menurutnya menggemaskan.


Hal itu justru membuat Breena semakin cemberut. Karena ia baru menyadari kalau suaminya begitu tampan dan mempesona.


"Bisa nggak sih kalau Mas Dayyan itu disuruh dirumah aja. Nggak usah keluar keluar dari rumah. Pesonamu keterlaluan Mas. Sainganku banyak banget. Belum kelar urusan dengan Ustadzah Hana. Lah sekarang malah mau tambah lagi" gerutu Breena dalam hati.


"Kenapa heum? Mas perhatikan dari tadi wajahnya cemberut terus?" tanya Dayyan yang uda sangat penasaran.


"Sebel tau" jawab Breena memanyunkan bibirnya.


"Sebek kenapa sayangnya Mas ini?" tanya Dayyan sambil mengelus pipi Breena.


Tingkah Dayyan diperhatikan oleh Ibu Ibu yang masih ada disana.


"Sebel sama Ibu Ibu tadi yang duduk disamping Breena. Masa katanya mau jodohin anaknya sama Mas. Breena nggak mau dimadu Mas. Mas Dayyan cuma milik Breena" rengeknya manja.


"Jadi karena itu istri kesayangan Mas ini cemberut heum?"


Yang hanya dibalas anggukan oleh Breena yang tetap dengan bibir manyunnya.


"Dengarkan Mas sayang" ucap Dayyan sambil menaikkan dagu Breena agar menatap kearahnya.


"Mas itu dapetin kamu aja lama sayang. Mas harus nunggu kamu itu selama tiga tahun. Selama itu juga mas shalat Istikhoroh. Dan selama tiga tahun juga jawaban Istikhoroh Mas selalu sama, yaitu kamu yang selalu hadir didalam mimpi Mas sambil menggendong seorang anak laki laki. Apa iya Mas harus meninggalkan kamu yang sudah lama Mas tunggu demi wanita lain yang bahkan belum pernah Mas kenal sekalipun. Dan ingat sayang, Mas tidak ingin memiliki istri lebih dari satu walau pun agama kita memperbolehkan asalkan bisa adi. Mas hanya ingin anak yang lahir dari rahim kamu sayang. Hanya kamu Ibu dari anak anak Mas" ucap Dayyan lembut sambil tersenyum manis dan mengelus kepala Breena.


Mendengar jawaban Dayyan, membuat pipi Breena memerah dan panas. Ia tak tau dari mana suaminya yang seorang Ustadz bisa berbicara manis seperti itu.


"Jadi jangan cemberut lagi iya. Sampai kapan pun Mas hanya milik kamu seorang sayang" jedanya lalu ia tersenyum jahil.


"Kamu ndak malu diliatin sama Ibu Ibu yang lain yang masih ada disini?" lanjutnya.


Breena langsung memeluk suaminya dan menyembunyikan wajah malunya didada bidang sang suami.


"Mas malu iihhh" rengeknya manja membuat Dayyan tertawa.


"Anna uhibbuka fillah sayang" ucapnya lirih lalu mencium kening istrinya dan membalas pelukan sang istri.


"*waahhh ternyata Ustadz sudah mempunyai istri"


"iya mana cantik banget lagi istrinya. Dan terlihat manja banget sama Ustadz"


"pupus sudah harapan kita punya menantu idaman seperti Ustadz Dayyan"


"Ustadz juga terlihat bucin*"


Itulah bisik bisik yang dilontarkan Ibu Ibu pengajian yang hanya dibalas senyuman oleh Dayyan.


"Iya uda kita pulang yuk. Kamu belum lihat rumah kita loh sayang" ajak Dayyan.


Setelah pamit dengan panitia acara. Dayyan dan Breena langsung pulang menuju rumah yang selama ini disiapkan oleh Dayyan untuk Breena.

__ADS_1


Rumah impian Breena.


__ADS_2