
Malam hari sebelum rapat pemegang saham.
Dimanaion Anderson tepatnya diruang kerja Daddy Martin, saat ini Brian dan Daddy Martin sedang mendiskusikan soal keputusan dari ancaman yang diberikan oleh Papa Doni dan Dayyan.
"Daddy bagaimana besok? Apa yang akan kita lakukan?" tanya Brian.
"Sebisa mungkin kita harus meyakinkan para pemegang saham agar mereka tetap meninvestasikan dana mereka di perusahaan kita"
"Lalu bagaimana ancaman itu Dad?"
"Daddy yakin mereka tidak akan melakukan itu. Daddy kenal betul dengan sahabat Daddy itu. Dia orang yang tidak tegaan sama orang lain" ucap Daddy Martin percaya diri.
"Daddy yakin mereka besok tidak akan datang?"
"Ya Daddy yakin sekali karena mereka biasanya hanya mengutus asisten mereka saja. Jadi kita tidak perlu takut"
"Jadi menurut Daddy kapan kita mengadakan konfrensi pers untuk mwngklarifikasi yang sebenarnya terjadi dad?"
"Daddy rasa lebih baik dan tepat setelah acara ulang tahun perusahaan. Kau tau kan Bri rapat pemegang saham dan ulang tahun pereusahaan kita itu hanya berbeda dua hari saja"
"Daddy yakin mereka akan sabar menunggu selama dua hari dari waktu yang mereka kasih itu?"
"Daddy sebenarnya juga tidak yakin mereka bisa bersabar. Tapi semoga saja mereka bisa mengerti dengan kondisi kita sekarang"
"Apa kita bagi waktu saja Dad?"
"Maksudmu?" tanya Daddy Martin bingung.
"Besok Daddy yang memimpin rapat nya dan aku yang akan mengadakan konfrensi pers itu" usul Brian.
"No! Kau besok harus ikut bersama Daddy di rapat pemegang saham" tolak Daddy Martin.
"Atau sebaiknya Brian kembali ke Jerman saja Dad?"
"Tidak. Sudah cukup kamu selama tiga tahun pergi meninggalkan keluargamu. Kalau kamu kembali lagi kesana, bagaimana dengan Quin? Apa kamu tidak memikirkan persaannya?"
"Ini tidak seperti yang aku harapkan Dad. Kupikir kepulangankukesini tidak akan menimbulkan masalah. Tapi ternyata justru masalah besar yang ada dihadapan kita saat ini" ucap Brian penuh menyesalan.
"Maka dari itu, ayo kita selesaikan semuanya. Ayo kita hadapi apa pun yang akan yerjadi nantinya. Daddy harap kamu tidak lagi bersikap sebagai lelaki pengecut. Sudah cukup kamu bersembunyi selama ini" ucap Daddy Martin menatap lurus kedepan.
"Kamu tau boy, selama ini Daddy banyak berhutang budi kepada keluarga Doni. Setelah orang tua Daddy meninggal waktu Daddy masih SMP dulu. Keluarga Doni lah yang rela membantu Daddy sampai sesukses seperti sekarang ini" lanjut Daddy Martin dengan wajah sendunya.
"Maafkan Brian Dad. Setelah acara ulang tahun perusahaan selesai, Brian akan mengadakan konfrensi pers. Agar semuanya selesai. Dan tidak ada lagi sakit hati atau pun dendam diantara keluarga kita dan keluarga Om Doni"
"Hmm. Istirahatlah boy ini sudah terlalu malam. Besok kita juga harus mempersiapkan diri kita apa pun yang akan terjadi"
"Iya. Daddy pun istirahat juga" ucap Brian kemudian ia kembali kekamarnya meninggalkan Daddy nya diruang kerjanya sendiri.
Selepas kepergian Brian, Daddy Martin mengambil bingkai foto dari dalam laci meja kerjanya. Ia memandang foto usang yang terdapat dua anak laki laki memakai baju seragam SMA. Itu adalah foto terakhir mereka dihari terakhir mereka sekolah dulu.
__ADS_1
"Maafkan aku Doni. Maaf sudah menyakiti hati putri kesayanganmu. Aku pun tak tau kenapa anakku tega mengkhianati putrimu yang cantik itu. Aku merindukanmu Doni. Aku rindu dengan sahabat terbaikku. Sahabat yanh sudah menganggapku saudara. Apakah hubungan kita yang buruk ini bisa membaik lagi seperti dulu? Apa yang harus aku lakukan Doni untuk memperbaiki hubungan persahabatan kita yang sudah hancur ini? Aku harap keluargaku masih pantas mendapatkan Maaf dari mu Doni. Terutama maaf dari putri cantikmu itu" Gumam Daddy Martin lirih sambil menghapus air matanya.
Ia menyimpan kembali foto usang itu kedalam laci meja kerjanya. Lalu ia menghapaus air matanya sebelum keluar dari ruang kerjanya itu.
...----------------...
Pagi hari semua anggota keluarga Anderson sedang menyantap sarapan mereka masing masing.
"Dad nanti Mom mau ke mansion Danuarta. Mom rindu dengan Rita Dad. Sudah lama banget Mom tidak bertemu dengannya" ucap Mommy Aletha meminta izin.
"Pergilah Mom. Hari ini Daddy dikantor sedikit sibuk. Jadi tidak bisa menemani Mommy ke mansion mereka"
"Terima kasih Dad. Quin apa Quin mau ikut dengan Oma nanti bertemu dengan teman Oma?" ajak Mommy Aletha.
"Daddy boleh Quin ikut dengan Oma?" tanya Quin meminta izin sama Daddy nya.
"Boleh sayang. Tapi ingat tidak boleh nakal iya. Oke?"
"Siap Kapten" ucap Quin dengan hormat kearah Daddy nya.
Tingkah lucu Quin membuat suasana sarapan mereka penuh dengan tawa.
"Baik lah kalau begitu kami berangkat dulu Mom. Bye cucu Opa" ucap Daddy Martin kemudian memcium kening istri dan cucunya.
Daddy Martin dan Brian pergi dengan satu mobil. Karena Brian lagi malas nyetir mobil sendiri.
Hampir satu jam dijalan. Akhirnya mereka sampai diperusahaan mereka.
Sesampainya mereka diruangan Daddy Martin, Gabriel pun menyusul masuk kedalam ruangan CEO nya itu.
"Selamat pagi Tuan Besar dan Tuan Muda" sapa Gabriel sambil membungkukkan badannya.
"Bacakan agendaku hari ini Gabriel" pinta Daddy Martin.
"Hari ini hanya ada rapat dengan para pemegang saham pukul 11:00WIB nnti Tuan. Selebihnya hanya menandatangani dokumen yang audah saya cek ulang" jelas Gabriel.
"Baiklah kau boleh kembali Gabriel"
"Hmm Tuan"
"Ada apa Gabriel?"
"Maaf Tuan saham kita hari ini menurun sebanyak 25% Tuan" ucap Gabriel hati hati.
"Apa kau sudah mencari penyebabnya?"
"Penyebabnya karena berita kemarin Tuan. Ada beberapa pemegang saham yang berencana menarik saham mereka Tuan. Dan ada juga beberapa proyek yang mereka batalkan Tuan"
"Terima kasih infonya Gabriel. Nanti dirapat pemegang saham saya akan mengusahakan membujuk mereka agar tidak menarik saham mereka. Kau boleh kembali Gabriel dan jangan lupa siap kan dokumen yang dibutuhkan untuk rapat nanti"
__ADS_1
Mendapat perintah dari Tuan nya. Gabriel pun langsung mengerjakannya.
Tepat pada pukul 11:00 WIB Tuan Martin, Brian dan Gabriel memasuki ruang rapat. Terlihat disana semua para pemegang saham sudah berkumpul.
Tuan Martin pun melangkah menuju kursi dan duduk dikursi kebesarannya. Diikuti oleh Brian yang duduk disebelah kanan nya dan Gabriel disebelah kirinya.
"Selamat siang semuanya. Maaf kalau saya terlambat" ucap Tuan Martin mengedarkan pandangannya.
Dan tiba tiba matanya bertubrukan dengan mata sahabatnya. Papa Doni sudah duduk manis dikursinya. Untuk pertama kali ia menghadiri rapat pemegang saham ini.
"Doni. Dia datang. Bagaimana ini? Tapi aku tidak melihat menantunya. Dan hanya diwakilkan oleh asistennya saja" ucap Tuan Martin dalam hati.
Sedangkan Papa Doni yang melihat sabahatnya itu terkejut dengan kehadirannya pun ia hanya tersenyum miring.
"Baiklah karena semua peserta rapat sudah datang. Mari kita mulai rapat ini" ucap Tuan Martin berusaha tenang karena terintimidasi oleh tatapan Papa Doni.
Rapat pun dimulai. Brian yang akan bertugas menjelaskan semuanya. Dan ide ide apa saja ia sampaikan agar para pemegang saham mau bertahan di perusahaan mereka.
Papa Doni yang melihat usaha sahabat dan anaknya untuk mempertahankan para pemegang saham, lagi lagi hnya tersenyum miring yang ia tunjukkan.
"Apakah Tuan Brian yakin itu akan berhasil?" tanya salah satu lelaki paruh baya.
"Saya yakin Tuan. Kalau ini akan menaikkan saham kita kembali. Dengan meluncurkan proyek ini kita bisa membantu rakyat menengah yang belum memiliki hunian tetap untu membeli hunian mereka sama kita. Kita juga akan melakukan promosi untuk 100 orang pembeli pertama akan mendapatkan diskon sebesar 20%" jelas Brian mencoba meyakinkan.
"Anda yakin? Itu terlalu tinggi diskon nya kalau kita membeli diskon sebanyak itu? Anda yakin keuntungan yang akan kita dapatkan akan sesuai dengan target kita?" tanya salah satu pemegang saham yang lain.
"Iya Tuan, saya yakin keuntungan yang akan kita dapatkan akan melebihi dari target yang akan kita tentukan" ucap Brian yang masih berusaha meyakinkan semua pemegang saham.
"Dengan saham yang menurun sebanyak 25% dan banyak proyek yang dibatalkan. Belum lagi skandal anda. Saya tidak yakin kalau proyek kali ini akan berhasil. Bisa saja proyek ini ngangkrak nantinya" ucap Papa Doni tiba tiba.
Setelah Papa Doni selesai menyuarakan apa yang ada dipikirannya. Seketika ruang rapat itu menjadi riuh dengan bisikan bisikan para pemegang saham lainnya.
"Tidak ada salahnya kita mencoba Tuan Doni" ucap Tuan Martin karena melihat anaknya yang hanya terdiam.
"Kami menanam saham disini dengan modal yang cukup besar. Kami membutuhkan keuntungan dari modal yang kami tanamkan itu. Dengan proyek yang masih coba coba itu seperti yang kalian jelaskan tadi. Sama saja seperti kami yang sia sia menanam modal kami diperusahaan ini" ucap Papa Doni dengan senyum yang meremehkan.
"Saya menanam modal disini sebanyak 55%, dan ketika proyek itu ngangkrak dan saya menarik modal saya. Apa yang akan terjadi dengan perusahaan ini. Bisa saja perusahaan ini bangkrut" ucap Paap Doni santai.
Ketika Brian hendak menjawab ucapan Papa Doni, pintu ruang rapat pun diketuk dari luar.
Tok Tok Tok
"Maaf kalau saya terlambat"
...----------------...
MAAF BARU BISA UP HARI INI. DAN KEBETULAN BADAN JUGA UDA MENDINGAN.
SESUAI JANJI HARI INI BAKALAN UP 2 BAB.
__ADS_1
NANTI MALAM ADA 1 BAB LAGI YANG AKAN DI UP.
TERIMA KASIH UNTUK PARA READERS YANG UDA MENDOAKAN SAYA CEPAT SEMBUH.