
"Daddy memang memiliki beberapa rencana. Tapi kembali lagi sama keadaan. Kalau hanya Daddy yang bertindak rasa nya ini seperti Daddy tidak mengharga posisi nya Doni." ucap Daddy Steven.
"Kenapa begitu Dad?" tanya Dayyan yang tak paham maksud Daddy Steven.
"Daddy memang tak menyukai apa yang telah di lakukam wanita itu. Apa lagi sampai menunjuk kan hasil USG juga. Ini sangat berat untuk Breena. Apa kau yakin kalau istri mu itu baik baik saja Ian?" tanya Daddy Steven tak langsung mengatakan apa maksud nya.
"Ian rasa Breena juga tidak baik baik saja Dad. Ia pasti terguncang mendapatkan kabar ini" ucap Dayyan menunduk lesu.
"Iya kau benar. Breena memang sedag tidak baik baik saja Ian. Maka dari itu Daddy mau kita semua berembuk di rumah nya Doni. Kita cari jalan keluar untuk menuntaskan apa yang telah di buat oleh wanita itu"
"Tapi Ian tidak bisa masuk ke dalam rumah Papa Doni Dad. Bahkan satpam pun mengusir Ian setiap kali Ian datang kesana" ucap Dayyan sedih.
"Bisa. Kau bersama Daddy di mobil Daddy. Nanti orang tua mu biar satu mobil bersama Martin. Kita jangan naik mobil mu" ucap Daddy Steven mengutarakan niat nya.
"Benar apa kata Daddy mu itu Ian. Kita kesana jangan membawa mobil mu. Daddy nanti juga akan membawa Mas Ibra dan dokter kandungan yang bertugas di rumah sakit Mas mu." ucap Daddy Martin menimpali.
"Kenapa bawa Dokter juga Dad?"
"Untuk memastikan hasil USG nya nak. Kalau kita meminta bantuan Ratih, Doni pasti tidak akan percaya dan tidak akan mengizin kan nya. Jadi lebih baik kita pakai dokter dari rumah sakit Mas mu saja"
"Baik lah Dad. Kalau begitu Ian akan menelpon Abah dan meminta mereka untuk datang kesini. Kalau gitu Ian permisi dulu Dad. Masih ada kerjaan di kantor" pamit Dayyan yang langsung menyalami dan mencium tangan kedua Daddy nya.
Kedua Daddy itu pun menatap iba dan sedih ke arah Dayyan. Bagaimana tidak, ia yang biasa nya selalu ceria kini tidak ada lagi keceriaan di wajah nya.
"Semoga masalah ini cepat teratasi. Aku kasihan melihat Dayyan seperti itu. Ia seperti putus asa menghadapi masalah ini" ucap Daddy Martin menatap Dayyan iba.
"Kau benar Martin. Ini pasti sangat menyakit kan untuk semua nya. Mereka yang sedang bahagia menantikan kelahiran buah hati mereka. Justru di guncang masalah seperti ini. Tuduhan perselingkuhan itu sangat menyakit kan untu princess kita. Maka nya aku membantu nya mencari tau apa yang sebenar nya terjadi. Terlebih dia juga sudah ikut andil menjaga dan melindungi putri ku selama Anggi bekerja di perusahaan milik nya" ucap Daddy Steven.
"Iya dan aku harap semua akan kembali seperti semula. Iya uda kalau gitu aku pergi dulu. Aku merindukan cucu cantik ku itu" ucap Daddy Martin terkekeh.
__ADS_1
"Iya pergi lah, aku juga mau melanjutkan pekerjaan ku"
...----------------...
Setelah keluar dari markas Daddy Steven, Dayyan bukan melajukan mobil nya ke kantor. Melainkan ke rumah Papa Doni. Ia rindu sekali dengan istri nya itu. Ia berharap bisa melihat sang istri.
Melaju selama 45 menit, Dayyan pun sampai di seberang rumah Papa Doni. Bukan Dayyan tak ingin masuk ke rumah mertua nya itu. Tapi Dayyan tak mau ia di usir secara paksa lagi. Jadi Dayyan akan memantau istri nya dari kejauhan saja.
Sudah lebih dari dua jam Dayyan berdiam diri di dalam mobil sambil menatap balkon kamar istri nya. Berharap sang istri akan keluar dan dudumdi kurai balkon yang ada disana.
Dan apa yang dilakukan Dayyan pun tak sia sia. Breena akhir nya duduk di balko kamar mereka sambil mengelus perut buncit nya.
Dayyan terkesiap melihat penampilan istri nya. Breena hanya mengenakan daster panjang dan hijab. Tubuh nya terlihat kurus namun perut nya tetap buncit. Wajah nya juga tak secerah biasa nya. Ada mendung di wajah cantik istri nya.
Begitu pun dengan Dayyan. Ia berkaca kaca melihat keadaan istri nya.
Tanpa Dayyan sadari, sedari Breena keluar ke balkon, ia sudah melihat mobil suami nya terparkir di sebrang rumah Papa nya. Breena menatap sendu ke arah mobil itu.
"Breena tau itu kamu Mas. Kamu kembali mengunjungi kami. Maaf kan kami yang belum bisa kembali bersama kamu. Maaf kan Breena yang sudah menjauh kan kamu dengan anak anak mu ini Mas. Cepat lah mencari bukti itu Mas. Agar kita secepat nya berkumpul kembali" lirih Breena.
Setelah puas memandangi wajah istri nya, Dayyan pun memutus kan pulang ke rumah nya. Karena ia akan menunggu kedatangan Abah dan Umma nya.
...---------------...
Malam hari nya Dayyan membawa Abah dan Umma nya ke mansion milik keluarga Anderson. Mereka akan berkumpul di Mansion itu.
Sesampai nya disana, terlihat sudah ada mobil Daddy Steven dan Mas Ibra.. Ternyata mereka semua sudah berkumpul.
"Ian, kamu sudah siap?" tanya Daddy Martin.
__ADS_1
"Ian sudah siap Dad" jawab Dayyan penuh semnagat.
Entah kenapa malam ini dia seperti mendapatkan semangat nya kembali. Ia begitu bersemangat ingin bertemu dengan istri nya.
"Ayo kita berangkat" ajak Daddy Steven.
Dayyan, Abah Arsya, Umma Hanum, Ibra, Daddy Steven, Daddy Martin dan satu orang dokter kandungan pun pergi menuju ke rumah Papa Doni. Mereka menggunakan dua mobil, milik Daddy Martin dan Daddy Steven.
Seperti yang di katakan Daddy Steven tadi, mereka berhasil masuk tanpa di periksa oleh satpam rumah itu.
Saat ini mereka sedang menunggu Papa Doni dan istri serta anak nya. Dayyan sedari tadi duduk gelisah. Ia sangat takut bertemu dengan Papa mertua nya.
"Mau apa kalian datang ke rumah ku?" tanya Papa Doni dengan nada sinis nya.
"Tenang lah Don. Kami kesini ingin menunjuk kan bukti kalau Dayyan tidak bersalah dalam masalah ini" ucap Daddy Steven.
"Omong kosong. Semua yang kita lihat hari itu sudah membukti kan kalau dia telah mengkhianati putri ku"
"Kau salah Don. Dayyan tak bersalah. Ia di jebak oleh rekan bisnis nya dan wanita itu" ucap Daddy Steven.
"Apa maksud mu Stev?"
"Dayyan jelaskan apa yang kamu lihat tadi" pinta Daddy Steven.
Dayyan pun langsung menjelas kan semua nya yang dia lihat di laptop Daddy Steven. Dia juga menceritakan semua yang di lakukan nya selama berada di Bogor. Dia juga menceritakan bagaimana usaha nya untuk mendapat kan video itu. Walau pun hasil nya selalu gagal.Breena yang mendengar apa yang di ucap kan suami nya menangis sesenggukan di pelukan Mama nya. Sedangkan Papa Doni mengepal kan tangan nya.
"Kalau Papa tidak percaya. Papa bisa lihat video ini Pah" ucap Dayyan sambil menghadapkan laptop Daddy Steven kearah Papa Doni.
Papa Doni, Mama Ratih dan Breena pun kompak melihat video yang ada di laptop tersebut. Lagi lagi tangis Breena pecah. Begitu pun dengan Mama Ratih dan Umma Hanum. Mereka juga ikut menangis.
__ADS_1