
Setelah kepergian Dayyan, semua Dokter KOAS pun di minta masuk ke dalam ruangan Dokter kepala yaitu Dokter Rini.
Di dalam ruangan Dokter Rini, mereka diminta untuk memperkenal kan diri terlebih dahulu. Setelah itu baru mereka akan di beri tahu kan tempat dimana mereka akan KOAS dan Konsulen nya.
Satu persatu ke sepuluh Dokter KOAS itu memperkenal kan diri mereka.
"Baik lah karena semua sudah memperkenal kan diri, sekarang giliran saya. Perkenal kan saya Rini Adira. Saya Dokter spesialis dalam. Dan saya juga berjabat sebagai Dokter kepala." ucap Rini dengan tegas.
"Sesuai arahan dari pemilik rumah sakit ini, Dokter Doni meminta saya membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Satu konsulen akan mendapat kan 2 Dokter KOAS. Dan untuk shift nya akan bergantian. Jadi kalaian tidak akan sama jam masuk nya. Apa kalian paham?" jelas Dokter Rini menatap satu persatu Dokter Dokter KOAs yang ada di depan nya.
"Jelas Dokter" jawab semua nya serempak.
Dokter Rini pun membagi kelompok mereka. Anita ternyata satu kelompok dengan Syeril. Mereka mendapat kan konsulen nya Dokter Ratih, dan Breena bersama Wily mendapat kan konsulen Dokter Doni. Breena pun cemberut ketika dia akan di bimbing oleh Papa nya. Anna dan Bayu mendapat kan konsulen nya Dokter stevy, Dokter bedah. Dian dan Syifa mendapat kan konsulen Dokter Laila, Dokter anak. Dan 2 lagi yaitu Ezra dan Nanda mendapat kan konsulen Dokter Radit yang bertugas di UGD.
"Apa ada yang keberatan dengan pembagian nya?" tanya Dokter Rini ketika melihat wajah murung nya Breena.
Breena pun angkat tangan. Ia ingin protes dan minta di ganti dengan Dokter lain nya.
"Dokter Rini, kenapa saya mendapat kan konsulen nya Dokter Doni? Apa itu tidak jadi masalah? Saya tidak mau kalau Beliau yang jadi Konsulen saya Dokter" protes nya.
"Saya hanya menyampai kan apa yang di perintah kan Dokter Breena. Selebih nya itu adalah keputusan dari pihak rumah sakit. Dan untuk Dokter Breena yang sedang hamil, maka Anda akan mendapat kan dua shift saja, pagi dan siang. Anda tidak perlu masuk di shift malam" jelas Dokter Rini dengam senyum jahil nya.
Breena hanya mendengus dan memalingkan wajah nya.
"Ini sama aja Papa tetap akan mengistimewakan diriku. Papa tidak adil. Lihat saja aku akan protes nanti sama Papa" ucap Breena dalam hati.
"Baiklah kalau begitu. Kalian boleh mendatangi konsulen kalian. Kalian nanti akan satu ruangan dengan konsulen kalian. Tetapi kalau kalian ingin berkumpul saat shift kalian bersamaan, kalian bisa berkumpul di ruangan khusus Dokter KOAS yang ada di lantai 2"
"Terima kasih Dokter" ucap semua nya kemudian mereka pun keluar dari ruang Dokter Rini dan menuju ke ruangan konsulen mereka.
__ADS_1
Breena dan Anita berjalan bersisian, di ikuti oleh Syeril dan Wily di belakang mereka. Breena berjalan dengan menghentak kan kaki nya. Ia sangat sebel dengan Papa nya.
Breena membawa ketiga teman nya itu ke lift khusus para petinggi rumah sakit. Hal itu membuat Syeril dan Wily merasa heran. Kenapa berani sekali Breena masuk ke lift khusus itu. Breena pun menekan tombol lift ke lantai 5. Dimana lantai 5 itu khusus ruangan Dokter Doni dan Mama Ratih serta kamar yang khusus untuk keluarga Abraham.
"Dokter Breena, apa kita tidak salah naik lift?" tanya Syeril ragu.
"Tidak. Kita memang mau menuju ke lantai 5. Ruangan Dokter Doni dan Dokter Ratih memang ada di lantai 5. Salah nya dimana Dokter Syeril?"
"Emmm ini bukan nya lift khusus petinggi iya? Apa kita tidak akan terkena masalah telah masuk ke lift ini?" tanya Syeril takut.
"Oohhh tenag Dokter Syeril. Selagi kita menaiki nya bersama Breena, semua tidak akan menjadi masalah. Hahaha" bukan Breena yang menjawab melain kan Anita.
"Kenapa begitu?" tanya Wily yang sedari tadi hanya diam.
"Kalian akan tau jawaban nya nanti setelah sampai di lantai 5" ucap Anita membuat Syeril dan Wily saling berpandangan. Sedangkan Breena hanya cemberut.
Sementara itu di belakang mereka berempat tadi, ke enam Dokter KOAS yang lain nya memandang heran ke arah Breena.
"Aku juga nggak tau. Tapi kalau dari yang aku lihat tadi, seperti nya dia anak yang berpengaruh di rumah sakit ini. Atau dia anak dari salah satu petinggi di rumah sakit ini" ucap Nanda
"Apa kalian nggak tau kalau dia adalah anak dari pemilik rumah sakit ini? Apa kalian tidak lihat bagaimana tadi perawat dan Dokter Rini menyapa nya sambil menunduk hormat?" tanya Nanda
"Iya aku melihat nya. Dan itu juga aneh sih sebenarnya. Kenapa sampai sehormat itu kalau dia bukan siapa siapa di rumah sakit ini. Apa kamu tau siapa pemilik rumah sakit ini Nda?" tanya Syifa.
"Dokter Doni Abraham. Rumah sakit ini milik keluarga Abraham. Dan istri nya Dokter Doni adalah Dokter Ratih" jelas Nanda karena memang dia tau siapa pemilik rumah sakit ini.
"Pantas saja dia begitu di hormati orang dia anak dari pemilik rumah sakit ini. Pasti ia akan di istimewakan disini. Apa lagi dia lagi hamil. Cih anak manja" ucap Anna sinis.
"Wajar dong dia manja. Dia kan anak tunggal. Uda pasti rumah sakit ini akan jatuh ke tangan nya. Apa lagi suami nya juga anak tunggal. CEO Prtama.Corp dan anak Kyai pemilik pondok pesantren. Uda nggak di ragu kan lagi kekayaan mereka" ucap Dian.
__ADS_1
"Kamu kok tau?" tanya kelima teman nya kompak.
"Karena aku lulusan pondok pesantren mereka. Gus Dayyan itu orang yang dingin tapi dia baik. Dia baru bersikap hangat kalau sama keluarga nya saja. Selain itu jangan harap bisa melihat senyum nya yang manis itu. Bahkan para santri putri pun banyak yang terpesona sama beliau. Uda ach aku mau ke ruangan Dokter Laila. Ayo Syifa kita kesana"
Setelah mengatakan itu, Dian pun menarik tnagan Syifa untuk segera pergi ke ruangam Dokter Laila yang ada di lantai 2. Begitu pun dengan yang lain nya juga. Mereka akhir nya bubar dan menuju ke ruangan konsulen mereka.
...----------------...
Sesampai nya di lantai 5 Breena langsung berjalan ke ruangan Papa nya. Sampai di depan ruangan nya, bertepatan pintu juga terbuka dan ternyata Damian pah yang keluar dari ruangan Papa Doni.
"Nona Muda" sapa Damian menunduk kan kepala nya hormat.
"Please Mas Dami jangan kaya Dokter Rini. Disini Bree itu KOAS Mas. Bukan sebagai anak Papa" omel Breena yang tak suka dengan perlakuan Damian.
Damian yang di omeli pun tersenyum manis. Pria dingin itu senang melihat Breena mengomeli nya.
"Mas rindu omelan kamu Dek" ucap Damian lembut.
"Huugghh" dengus Breena.
"Mas Dami nggak rindu sama Anita yang cantik ini?" goda Anita.
"Tidak" jawab Damian datar dan dingin.
"Ck. Sama Breena aja lembut banget. Sama aku langsung berubah dingin" ucap Anita jengah.
"Uda ach Papa ada kan Mas?" tanya Breena.
"Ada Dek. Didalam sama Tuan Muda Dayyan. Kamu masuk aja Dek"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Damian pun berlalu dari sana kembali ke ruangan nya.