
Dua minggu kemudian setelah pembicaraan antara Breena dan Ansel tentang Windy. Ansel masih belum memutuskan untuk melakukan apa terhadap hubungan nya. Ia masih disibukan dengan pekerjaan kantor nya yang semakin banyak.
Hubungan nya dengan Windy pun masih baik baik saja. Namun tetap saja masih ada rasa khawatir di dalam hati nya. Kalau Windy memang benar benar akan KOAS di kampung nya seperti permintaan Ibu nya.
Berbeda dengan Breena dan Dayyan. Breena menikmati kehamilan nya. Ia jadi lebih manja lagi kepada suami nya. Bahkan Dayyan untuk kekantor saja pun akan di ikuti oleh Breena. Walau pun ada kekhawatiran kalau Breena kecapekan dan akan berimbas kepada kandungan nya. Namun Breena dengan cepat mengatakan kalau itu adalah kemauan baby twins. Jadi mau tidak mau Dayyan harus membawa Breena ke kantor. Walau pun dikantor ia akan mengganggu karyawan suami nya itu.
Seperti saat ini, Breena yang tiba tiba saja meminta di belikan crayon dan buku gambar. Dan ia mengatakan ingin melukis bersama dengan beberapa karyawan suaminya.
"Mas, Breena pengen di belikan crayon sama buku gambar" ucap tiba tiba yang masih memainkan ponselnya.
"Untuk apa sayang? Itu kan untuk anak kecil" ucap Dayyan sambio mengernyitkan alis nya.
"Iya untuk melukis lah Mas. Mas gimana sih. Breena tu pengen ngelukis bareng karyawan Mas tau" jawab Breena dengan bibir yang sudah manyun.
"Sekarang sayang?" tanya Dayyan tak percaya.
"Iya Mas. Uda iihhh aku mau hampirin Mbak Anggi dulu. Mau minta di belikan crayon sama buka gambar, terus mau ngajak Mbak Anggi sama beberapa karyawan Mas yang lain ngelukis disini" ucap Breena sambil bangkit dari sofa yang diduduki nya.
"Jangan nyuruh Anggi sayang. Biar Dion aja yang beli. Kasihan Anggi kalau harus mencari permintaan kamu itu"
"Iya uda nanti aku bilang sama Mas Dion. Aku mau nyamperin Mbak Anggi dulu" ucap Breena kemudian ia langsung keluar ruangan suaminya dan menghampiri meja Anggi.
"Mbak Anggi" panggil Breena tiba tiba dan itu sukses membuat Breena terkejut.
"Astafirullah Bu Breena. Ngagetin aja" protes Anggi sambil mengelus dada nya.
Breena hanya menyengir menampakkan gigi putih nya yang rapi.
"Mbak mgelukis yuk sama Breena" ajak nya.
"Ngelukis? Dimana Bu?" tanya Anggi heran.
"Diruangan Pak Bos Mbak. Mau iya?" mohon Breena dengan menampilkan wajah semenggaskan mungkin.
Anggi yang tak tahan di tatap seperti itu pun menganggukkan kepala nya.
__ADS_1
"Yyyeeeeyyyy bentar ia Mbak, Breena mau minta Mas Dion beliin crayon sama buku gambarnya dulu" ucap Breena riang, lalu ia berlari kecil menuju ruangan Dion yang ada di sebelah ruangan suaminya.
"Bu jangan lari lari, ingat ada twins di perut Bu" teriakan Anggi membuat fokus beberapa karyawan menatap ke arah Breena.
Breena pun langsung menghentikan langkah nya. Ia pun langsung melihat kearah perut nya yang masih rata.
"Maafin Umi sayang. Umi terlalu bahagia karena mau ngelukis. Ayo kita keruangan Uncle Dion minta di belikan crayon sama buku gambar" ucap Breena sambil mengelus perutnya.
Breena pun langsung melanjutkan jalan nya ke ruangan Dion.
Dan sesuai apa yang di minta Breena. Saat ini ia bersama Anggi, dan beberapa karyawan sedang melukis di dalam ruangan Dayyan. Tampak dari wajah beberapa karyawan itu yang terlihat prustasi. Bagaimana tidak, pekerjaan mereka banyak dan istri Bos nya justru minta ditemani ngelukis. Itu akan membuat mereka lembur untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.
Sedangkan Dayyan dan Dion pun justru sedang berbincang di atas sofa sambil memperhatikan Breena.
"Bagaimana persiapan pernikahan kamu sama Anggi?" tanya Dayyan tiba tiba.
"Semua uda hampir 80%. Tinggal feeting baju pengantin untuk yang terakhir kali nya sama foto prewed. Untuk undangan dan gedung semua diserahkan sama WO. Aku dan Anggi tinggal terima beres aja. Yang ngurus semua nya Mommy dan Bunda" jelas Dion sambil menatap Anggi penuh cinta.
"Terus mau prewed dimana?" tanya Dayyan lagi yang tetap tak mengalihkan tatapan nya dari sang istri.
"Gimana kalau di pulau pribadi nya Breena yang di dekat Kepulauan Derawan, Berau. Nanti bisa juga kan sekalian ke pulau itu juga" saran Dayyan.
"Boleh juga itu. Tempat nya juga cantik dan cocok untuk foto prewed" ucap Dion antusias.
"Iya tinggal bilang sama Anggi aja. Nanti aku juga ajak Breena, mau ajak dia liburan kesana"
"Iya harus lah ajak Breena. Kan yang punya tempat dia nya. Nggak mungkin kan kami datang kesana sendirian. Nanti dikara apa gitu sama penjaga nya" sewot Dion yang mendapat kekehan dari Dayyan.
"Gimana hubungan Mommy sama Bunda?"
"Uda alhamdulillah dekat. Tau sendiri kan Bunda itu gimana. Dia sebenarnya takut aku nikahin Anggi"
"Takut kenapa?" tanya Dayyan tak mengerti.
"Yang Bunda takutin itu karena kita beda status sosial nya. Anggi ternyata anak pengusaha kaya. Bunda takut tidak bisa membahagiakan Anggi nantinya. Pada hal dari dulu Bunda itu bahagia banget aku pacaran sama Anggi. Sampai Bunda pun juga ikut membujuk Anggi segara menikah sama ku. Tapi ditolak Anggi terus karena belum menemukan orang tua kandung nya. Dan sekarang setelah ketemu, malah jadi Bunda yang takut" ucap Dion menatap lurus kedepan.
__ADS_1
Sebenarnya ia pun juga memiliki ketakutan yang sama dengan Bunda dan Ayah nya. Namun masih bisa ia sembunyikan.
"Jangan takut. Yakin lah sama Anggi. Walau pun fakta nya dia anak dari pengusaha kaya raya tetapi dia masih mau hidup sederhana seperti dulu saat ia di panti"
"Iya setelah Anggi dan Mommy memberikan pengertian kepada Bunda. Bunda jadi yakin dan percaya diri. Bahkan sekarang mereka lebih sering menghabiskan waktu bertiga. Setiap hari minggu, Mommy selalu mengajak Bunda dan Anggi jalan, berbelanja. Menghabiskan uang Daddy kata nya" ucap Dion tersenyum tipis mengingat saat Bunda nya menolak ajakan Mommy Rianti berbelanja.
"Semoga kau bahagia Dion. Kau sahabat ku dna kau juga uda ku anggap saudara ku. Percayalah mereka orang orang yang sangat baik. Mereka tidak pernah memandang seseorang itu dari status sosial nya. Kau akan bahagia bersama keluarga Danuarta" ucap Dayyan memberi semangat pada Dion.
"Iya aku juga percaya itu. Dan memang benar Keluarga Danuarta orang yang sangat baik"
Tiba tiba pembicaraan mereka terputus karena ucapan dari seseorang.
"Mas" ucap Breena pelan.
"Iya kenapa sayang? Uda selesai?" tanya Dayyan lembut.
"Belum" jawab Breena sambil menggelengkan kepalanya. Tak lupa bibir nya yang manyun juga.
"Terua kenapa sayang?" tanya Dayyan yang mulai panik.
"Ngantuk Mas" rengek Breena.
"Mau pulang apa tidur di kamar Mas?" tanya Dayyan lembut sambil mengelus kepala Breena.
"Dikamar Mas yang disini aja. Breena uda ngantuk banget. Mau tidur sambil peluk" rengek Breena manja.
"Oke kalau gitu kita beresin dulu iya lukisan nya. Baru kita tidur iya" bujuk Dayyan.
"Biar Anggi aja Bos. Kasihan Bu Bos uda ngantuk banget mata nya" ucap Anggi.
"Makasih iya Nggi. Nanti di letak di meja aja iya. Jangan di buang" pesan Dayyan.
Dayyan pun segera menggendong Breena menuju kamar nya yang ada didalam ruangan kerja nya.
Sedangkan Dion dan Anggi membersihkan lukisan mereka. Dan karyawan yang lain pun uda kembali ke ruangan nya masing masing.
__ADS_1