
Dengan surar tercekat Windy memanggil Ansel.
"Kak..."
Ansel tak menanggapi, ia hanya tersenyum dengan mata yang sudah sangat memerah karena menahan tangis nya.
"Sekali lagi maaf. Maaf karena sudah menyakiti Kakak" ucap Windy sekali lagi.
"Kakak sudah memaaf kan mu dari dulu Windy. Kamu jangan merasa bersalah lagi. Kalau kamu tetap memilih Kakak pun kamu tidak mungkin akan merasa tenang. Sebab ada janji diantara almarhum Ayah dan Ayah nya Andri. Dan Kakak juga tidak akan mau menikahi kamu setelah tau kamu menolak janji perjodohan itu demi Kakak" jeda Ansel menatap dalam mata Windy
"Berbahagia lah. Belajar lah mencintai nya. Dia lelaki yang sangat baik dan bertanggung jawab. Kakak yakin kamu pasti akan cepat mencintai nya. Hanya itu yang Kakak minta sama kamu Win. Kakak hanya ingin kamu bahagia. Maaf kan Kakak juga. Mungkin ada ucapan Kakak yang menyakiti hati mu. Maaf" lanjut Ansel dengan suara yang bergetar.
Semua yang melihat kedua anak muda itu menangis dan mencurahkan isi hati mereka pun hanya bisa terdiam. Bahkan Mommy Gantari sudah tak bisa menahan air mata nya lagi. Ia melihat sang anak yang rapuh namun beruhasa tegar menghadapi masalah percintaan nya.
"Kakak tidak ada salah sama sekali. Windy lah yang banyak salah. Maaf kan Windy"
Kedua nya masih saling berpelukan. Andri yang melihat calon istri nya berpelukan di depan mata nya dengan mantan kekasih nya sekaligus atasan nya pun hanya bisa diam dan pasrah. Cemburu? Itu uda pasti. Tidak ada yang tidak akan cemburu melihat calon istri nya berpelukan dengan pria lain. Apa lagi pria itu adalah mantan kekasih nya. Namun ia berusaha meredam kecemburuan nya itu.
Setelah puas memeluk Ansel untuk yang terakhir kali nya. Windy pun berjalan menghampiri Mommy Gantari yang duduk di sofa bersama suami nya.
Windy bersimpuh di kaki Mommy Gantari. Ia menunduk takut menatap Mommy yang dulu nya sangat menyayangi nya.
"Windy minta maaf Mom. Maaf sudah menyakiti hati putra Mommy. Windy tidak ada niat sedikit pun untuk melakukan itu ke putra kesayangan Mommy. Windy awal nya memang terpaksa menerima perjodohan ini Mom. Tetapi Windy berpikir lagi. Kalau Windy tidak mau menjadi anak yang durhaka dan memberat kan almarhum Ayah Windy disana, karena tidak bisa menepati janji nya yang belum ia wujud kan sebelum meninggal. Sekali lagi maaf kan Windy Mom. Maaf Windy" ucap Windy terisak di pangkuan Mommy Gantari.
Bukan nya menjawab Mommy Gantari justru mengangkat kepala Windy yang ada di pangkuan nya. Ia lalu memeluk Windy dengan erat. Kedua wanita beda usia itu pun sama sama menangis sesenggukan.
"Mommy sudah memaaf kan mu sayang. Maaf kan Mommy juga yang sudah berkata kasar sama kamu. Maaf. Mommy melakukan itu karena Mommy tidak terima kamu menyakiti hati putra Mommy" ucap Mommy Gantari di sela tangis nya.
__ADS_1
"Maafin Windy Mommy. Tolong jangan benci Windy. Bagaimana pun Mommy sudah Windy anggap sebagai Ibu Windy"
"Mommy tidak pernah membenci mu sayang. Mommy hanya kecewa. Kenapa setelah pertunangan kamu itu, kamu tidak langsung jujur sama kami. Hanya itu yang Mommy sesal kam dari kamu sayang"
Ya, mana mungkin Mommy Gantari membenci Windy. Sedangkan Mommy Gantari sangat menyayangi Windy.
"Terima kasih karena sudah memaafkan Windy dan tidak membenci Windy Mom"
"Sama sama sayang. Mommy harap kamu bahagia bersama dengan pilihan almarhum Ayah kamu. Ingat walau pun kamu tidak jadi dengan putra Mommy. Tapi kamu tetap akan menjadi anak Mommy" ucap Mommy Gantari dengan senyum hangat nya.
"Sekali lagi terima kasih Mom" ucap Windy tulus.
Lalu ia menghadap ke arah Daddy Calvin. Daddy Calvin langsung merentangkan kedua tangan nya. Menunggu Windy memeluk nya.
"Dad.." lirih Windy.
"Bukan Dad. Abang nggak pernah buat Windy nangis. Tapi ini semua karena ulah putra Daddy. Kenapa dia memilih menetap di Belanda. Apa dia takut tidak bisa melupakan putri Daddy yang cantik ini?" ucap Windy menimpali candaan Daddy Calvin.
Mommy Gantari dan Andri pun tertawa melihat candaan mereka berdua. Berbeda dengan Ansel yang mendengus melihat nya. Bagaimana bisa Daddy nya dan mantan kekasih nya kompak seperti itu menyindir nya yang akan menetap di Belanda.
"Ohh ayo lah Dad. Kau tau sendiri. Aku kesana bukan karena tidak bisa move on. Tapi masalah di kantor yang ada di Belanda menanti ku sebagai pewaris Bagaskara. Bukan hanya itu Dad. Apa Daddy lupa kalau Mommy Daddy lah yang meminta ku kesana. Dia bahkan memaksa ku dan meneror ku Dad setiap hari" keluh Ansel mengeluarkan uneg uneg nya karena tingkah Mommy dari Daddy nya itu.
"Tapi kan memang benar kau kesana juga karena lagi patah hati. Kalau tidak kau tidak akan mau menetap di mansion GrandMa mu itu" sindir Daddy Calvin.
"Iya terserah kau saja Dad" pasrah Ansel. Lalu tatapan nya beralih ke arah Andri.
"Tolong jaga dia Ndri. Dia wanita tersayang ku yang ke 4 setelah Mommy, Mama Ratih dan Breena. Dia sangat berarti di hidup ku. Jika kau sekali saja menyakiti nya. Aku akan membawa nya ke tempat yang tidak bisa kau temu kan" ucap Ansel santai namun bernada ancaman.
__ADS_1
"Bapak tenang saja. Aku akan selalu membahagia kan nya. Dan aku tidak akan mungkin menyakiti nya. Apa lagi mendua kan nya. Bahkan aku sampai umur ku sekarang, aku belum pernah jatuh cinta sama wanita mana pun. Tapi ketika melihat Windy, aku baru merasakan itu. Jadi tidak mungkin aku menyakiti wanita pertama yang aku cintai kecuali Ibu ku sendiri" jelas Andri dengan tenang.
"Iya ku pegang janji mu"
Setelah mengatakan itu. Pembicaraan pun berlanjut ke hal yang lain nya. Tetapi sedari tadi Ibu nya Windy hanya diam dan mengamati semua yang terjadi di depan mata nya.
"Ibu baru tau sekarang. Ada orang kaya yang tidak memandang rendah orang miskin seperti kita Nak. Ibu bisa lihat kehangatan keluarga mereka. Dan bagaimana mereka menerima kehadiran mu dan menyayangi mu seperti putri mereka sendiri. Maaf kan Ibu yang harus merenggut semua kebahagiaan mu dari keluarga mereka. Maaf Nak. Bukan Ibu sengaja. Hanya saja janji Ayah mu dulu harus di tepati. Ibu tidak mau memberatkan Ayah mu disana Nak. Semoga Andri bisa menghapus luka mu dan mengganti kan nya dengan kebahagiaan yang seharus nya kau dapat kan Nak. Dan semoga kau bisa secepat nya mencintai calon suami mu ini. Dia juga lelaki baik baik nya. Keluarga nya juga keluarga baik baik. Mereka juga yang sudah membantu kita setelah Ayah mu sudah tiada Nak. Maaf kan ke egoisan Ibu karena memaksa muenerima perjodohan ini" ucap Ibu nya Windy dalam hati menatap kehangatan keluarga kaya mantan kekasih putri nya.
Setelah berbincang cukup lama. Akhir nya Windy dan keluarga nya pun pamit pulang. Sebab, besok pagi pagi sekali mereka harus kembali ke kampung untuk mengurus pernikahan nya Windy.
Windy pun menyerahkan sebuah undangan ke Mommy Gantari.
"Mommy datang iya. Maaf bukan untuk memamerkan kebahagiaan kami atas pernikahan ini. Tapi Windy hanya ingin melihat Mommy datang di pernikahan Windy. Walau pun bukan Windy dan Kak Ansel yang menikah. Tapi Windy sangat berharap kehadiran Mommy dan Daddy" mohon Windy penuh harap.
"Insya Allah kalau Mommy dan Daddy ada waktu luang. Kami pasti datang"
"Hanya Mommy dan Daddy saja yang kau undang Win?" tanya Ansel sinis.
"Lalu siapa lagi? Semua sahabat ku sudah ku undang" jawab Windy sambil berpikir.
"Kau sungguh kejam Win. Kau tak mengundang ku?" protes Ansel.
"Di undang pun percuma El. Kau tak ada di Indo saat Windy menikah"
Jawaban dari Daddy Calvin membuat Ansel terdiam. Ia berpikir sejenak.
"Bener juga" jawab Ansel polos. Dan sukses membuat semua orang yang ada di situ berdecak sebel dengan ucapan nya.
__ADS_1
Windy dan keluarga nya pun akhir nya meninggal kan mansion mewah keluarga Bagaskara dengan senyum yang mengembang. Ia sangat bahagia dan bersyukur. Keluarga Bagaskara tak membenci nya. Dan sudah memaaf kan nya.