Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Menerima Tawaran


__ADS_3

Cintya yang mendapat kan pertanyaan seperti itu lagi pun masih saja terdiam. Ia tak tau harus menjawab apa sekarang tentang pertanyaan yang kembali Dayyan ucap kan.


"Bagaimana Cintya?" kali ini Umma Hanum yang bertanya meminta jawaban yang pasti dari Cintya.


Cintya menatap satu persatu orang yang ada di ruangan itu yang juga menatap nya dengan senyum hangat mereka.


"Maaf Umma, apakah saya boleh memikir kan tawaran ini dulu? Saya juga harus meminta persetujuan dari anak anak saya Umma" jawab Cintya pelan.


"Baik lah, kami memberimu waktu satu hari untuk memikir kan nya terlebih dulu Cintya. Besok pagi kamu harus memberikan jawaban nya. Jadi sebisa mungkin untuk kamu benar benar memikir kan nya" ucap Dayyan tegas.


"Baik Gus. Kalau begitu saya permisi dulu semua nya. Saya mau berbicara dengan kedua anak saya dulu" pamit Cintya.


Dayyan hanya mengangguk kan kepala nya. Setelah itu Cintya berjalan menuju dimana keberadaan kedua anak nya tadi.


Begitu sampai di ruang bermain milik ketiga bayi Breena. Cintya langsung mengajak anak nya untuk kembali ke kamar mereka, karena ada yang ingin di sampai kan oleh Cintya.


Kedua anak nya pun menurut. Mereka berdua mengikuti langkah kaki Umi nya yang membawa mereka berdua ke kamar yang mereka tempati tadi malam.


"Ada apa Umi?" tanya putri pertama nya.


"Ada yang mau Umi sampai kan sama kalian berdua." ucap Cintya ragu.


Kedua anak nya terdiam. Mereka menatap Umi nya.


"Umi di tawarin bekerja di pesantren nya Abah jadi guru disana. Menurut kalian Umi menerima tawaran ini atau nggak?"


"Kenapa Umi harus bekerja? Bukan kah Abi sudah bekerja disana?" tanya anak kedua nya polos.


"Kita tidak bisa selalu bergantung dengan Abi kalian sayang. Kondisi keuangan Abi dan Umi sedang tidak baik. Sebenar nya Umi memang ingin mencari pekerjaan. Tapi Gus dan Umma sudah menawar kan Umi pekerjaan terlebih dulu" ucap Cintya tak sepenuh nya benar.


Ada kebohongan di kalimat yang ia kata kan. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin dia mengatakan hal yang sebenar nya kepada kedua putri nya yang masih kecil ini. Cintya tidak ingin kedua anak nya merasa minder karena kedua orang tua nya ternyata sudah bercerai.

__ADS_1


"Kalau memamg Umi mau dan bisa buat Umi bahagia, ambil saja tawaran dari Gus ganteng dan Umma pondok Umi. Tapi kalau Umi kerja disana, kita nanti tinggal dimana?" tanya putri pertama nya.


"Umi di kasih rumah disana sayang. Rumah khusus untuk para pengajar. Dan kalian juga bisa bersekolah disana juga. Bagaimana?" tanya Cintya lagi.


"Kalau memang itu yang terbaik. Kami setuju Umi" jawab putri pertama nya.


Cintya yang mendapati jawaban dewasa dari putri pertama nya pun tersenyum haru. Ia tak menyangka kalau putri nya sudah memiliki pemikiran yang dewasa. Pemikiran yang tidak sesuai dengan umur nya.


"Terima kasih sayang sayang nya Umi. Maaf iya kalau Umi membawa kalian kesini. Dan menjauh kan kalian dari Abi kalian" ucap Cintya penuh penyesalan.


"Tidak apa Umi. Lagian disana kan Abi sudah ada yang menemani nya" ucap putri kedua nya.


"Maksud kamu apa sayang?" tanya Cintya tak paham.


"Disana kan Abi sudah ada tante itu Umi. Tante yang selalu berpakaian seksi itu yang selalu menempel sama Abi, Umi. Kami tidak suka melihat tante itu deket deketin Abi. Tapi seperti nya Abi justru tidak keberatan dengan apa yang di lakukan tante itu sama Abi" ucap putri pertama nya.


"Astafirullah sayang. Kenapa kalian bicara seperti itu? Itu tidak baik sayang" tegus Cintya


"Maaf Umi. Kalau perkataan kami salah. Tapi kami pernah melihat Tante itu peluk Abi dan bahkan sampai mencium pipi Abi. Dan aneh nya Abi tidak marah Umi. Justru Abi membalas pelukan tante itu" ucap putri pertama nya sambil menunduk takut.


"Sering Umi. Ketika Umi pergi berbelanja"


Seketika sakit hati Cintya yang masih basah pun seketika kembali terbuka. Ia tak menyangka kalau suami nya dulu melakukan hal hal itu di rumah nya dan di depan anak anak nya.


"Uda iya Umi minta kalian jangan bilang sama siapa pun tentang masalah ini iya. Umi mohon simpan rapat rapat apa yang kalia. Ketahui dari setiap apa yang Abi kalian lakukan dulu" ucap Cintya yang di angguki oleh kedua putri nya.


...----------------...


Ke esokan hari nya, disaat semua orang sedang terlelap, Breena dan Dayyan terbangun karena mendengar suami tangisan seseorang.


Breena dan Dayyan langsung bangun dan melihat ketiga bayi nya malam ini tidur bersa mereka.

__ADS_1


Ternyata Adga menangis karena pempers nya basah. Alhasil Breena pun menggendong Andra dan membawa nya masuk ke dalam kamar mandi. Breena berniat memandi kan Andra sendiri hari ini.


"Oke sudah wangi. Dan nggak bau hacim lagi" ucap Breena sambil mendusel perut bayi nya.


Andra tertawa geli mendapat kan perlakuan seperti itu dari Umi nya. Sedangkan Adga yang batu saja terbangun dari tidur nya hanya menatap Umi dan adik nya itu biasa saja. Tidak ada kecemburuan yang terlihat di wajah tampan nya.


"Loohhh anak Umi yang besar uda bangun rupa nya iya. Kenapa nggak ada suara nya sayang?" tanya Breena menghampiri anak pertama nya yang hanya diam tak menanggapi godaan dari Umi nya.


"Duuhh si pendiam nya Umi. Mandi yuk sayang yuk. Biar makin ganteng kaya adik Andra" ajak Breena yang mengulur kan tangan nya dan mengambil Adga.


Tak lama berselang si anak tengah. Tuan putri Pratama pun terbangun. Seperti biasa kalau uda Deera bangun pasti selalu ramai dengan tangis nya. Dayyan pun langsung menggendong Baby Deera.


Melihat Abi nya, tangis yang ia keluar kan pun berhenti. Ntah lah kenapa anak perempuan nya ini suka sekali membuat suasana menjadi ramai karena suara tangis nya.


Selesai mengurusi dan memandi kan ketiga bayi kembar nya, Breena dan Dayyan langsung menuju ke ruang makan. Sedang kan ketiga anak nya berada di gendongan pengasuh nya masing masing.


Di ruang makan semua nya sudah berkumpul. Tinggal menunggu Dayyan dan Breena saja. Sarapan pun di mulai, seperti sebelum sebelum nya. Ketika makan hanya ada keheningan di atas meja itu.


Selesai sarapan, Cintya pun langsung mengutara kan jawaban nya tentang tawaran Dayyan tadi malam.


"Maaf Gus kalau saya mengganggu waktu nya. Saya mau memberikan jawaban tentang tawaran yang Gus dan Umma Hanum berikan pada saya" ucap Cintya membuka suara.


"Iya Cintya, apa jawaban kamu nak?" tanya Umma Hanum dengan suara lembut nya.


Cintya menatap satu persatu anggota keluarga Pratama dan Abraham itu.


"Cintya menerima tawaran itu Umma" ucap Cintya pelan.


"Alhamdulillah" jawab semua orang.


Mereka bahagia, Cintya mau menerima tawaran mengajar di pondok pesantren milik Abah Arsya.

__ADS_1


"Iya uda, kamu kesana nya nanti aja sekalian sama Umma dan Abah. Karena disini masih ada acara lagi. Ada pernikahan nya Juan dan Selvi. Serta kita juga mau ke mansion Danuarta untuk melihat kondisi Anggi yang kata nya lagi hamil" ucap Dayyan.


"Baik Gus. Terima kasih karena sudah mau memberikan saya kesempatan mengajar di pesantren" ucap Cintya tulus.


__ADS_2