
Puas tertawa karena Abah Arsya dan Breena yang saling menggoda, para istri pun dengan sigap melayani suami mereka masing masing. Untuk yang belum sah atau yang menikah mereka memilih duduk di tempat yang berbeda. Walau pun masih satu tempat yang sama di barisan pemilik pondok, tapi mereka memisah kan diri.
Saat akan makan, salah seorang pengasuh anak Breena datang sambil menggendong Adga.
"Assalamualaikum Ning. Maaf kalau saya mengganggu" ucap salam pengasuh Adga.
"Wa'alaikum salam tidak kok Mbak. Ada apa?" tanya Breena menghentikan niat nya untuk menyuap kan makanan nya.
"Maaf Ning. Gus Adga sedari tadi menangis. Sudah saya kasih susu nya tapi Gus Adga tidak mau diam Ning" ucap nya sambil menunduk.
"Tidak apa apa Mbak. Iya uda mbak balik aja, biar Adga sama saya" ucap Breena dengan senyum manis nya sambil mengambil alih Adga ke gendongan nya.
"Sekali lagi maaf sudah mengganggu Ning" ucap nya merasa tak enak hati.
"Tidak apa apa Mbak. Terima kasih sudah di antar kan Adga nya. Oiya mbak dan yang lain nya uda makan malam kan?"
"Nggih Ning. Kami semua sudah makan tadi bergantian. Kalau begitu saya permisi Bah, Umma, Gus, Ning. Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam" jawab semua orang.
Pengasuh Adga itu pun pelan pelan mundur kebelakang dengan jalan jongkok. Begitu sampai di pintu dia baru berdiri dan meninggal kan aula.
Breena pun langsung tersenyum melihat putra sulung nya itu yang menatap nya. Dia mengelus pelan pipi Adga yang masih ada jejak air mata nya di pipi.
Dayyan yang melihat istri nya menghentikan niat nya untuk makan pun berinisiatif untuk menyuapi Breena.
"Aaaa Umi" ucap Dayyan sambil menyodor kan tangan nya ke arah mulut Breena.
Breena dengan senang hati menerima suapan dari suami nya. Breena dan Dayyan memilih makan malam dengan nasi box makanan cepat saji dari pada bakso. Maka nya Dayyan dengan mudah nya menyuapi Breena tanpa takut terkena ke anak nya.
__ADS_1
Setelah menyuapi Breena, Dayyan pun juga ikut makan. Jadi satu kotak nasi box itu di makan berdua oleh Dayyan dan Breena.
Semua interaksi Breena dan Dayyan di tatap oleh semua orang yang ada di dalam aula tersebut. Mereka tak menyangka kalau Gus mereka yang terkenal datar dan dingin itu bisa bersikap romantis juga sama istri nya di depan umum.
Tiga puluh menit kemudian, semua nya sudah selesai dengan makanan mereka masing masing. Para santri pun memilih untuk kembali ke kamar mereka masing masing sambil membawa nasi box dan roti atau cake milik mereka.
Sebelum pergi para santri putra menyempat kan untuk menyalami Abah Arsya, Gus Dayyan dan Gus Brian terlebih dahulu. Sedang kan yang santri putri menyalami Umma Hanum, Ning Breena dan ning Ani.
Begitu sampai di luar aula, para santri melihat beberapa mbak khadamah berdiri di balik meja yang terdapat banyak macam manisan. Santri laki laki lebih banyak memilih manisan salak. Tapi ada juga yang tidak mengambil manisan nya.
Sedang kan santri putri dengan sennag hati mereka memilih manisan mangga muda, Quini dan pepaya. Semua santri putri mengambil jatah manisan nya. Tak ketinggalan para ustadz dan ustadzah pun juga mengambil bagian mereka juga.
Di dalam aula hanya tertinggal keluarga Abah Arsya dan yang lain nya. Ada juga beberapa ustadz yang sedang berbincang dengan Dayyan.
Breena yang sudah mulai merasa lelah pun memilih pamit dengan suami nya untuk kembali ke ndalem terlebih dahulu.
"Abi" panggil Breena pelan.
"Umi balik ke ndalem duluan iya. Umi lelah. Adga juga ud tertidur lagi. Boleh?" tanya Breena manja.
"Boleh sayang. Abi sebentar lagi iya balik nya. Masih ngobrol sama beberapa ustadz"
"Iya Abi. Kalau gitu Umi pergi dulu Abi" ucap Breena sambil mencium tangan suami nya.
Dayyan pun tak ketinggalan, dia mencium kening Breena lalu mencium pipi gembul nya Adga.
"Umi hati hati iya" ucap Dayyan yang hanya di balas anggukan oleh Breena.
Breena pun pergi bersama dengan Umma Hanum dan para wanita. Karena mereka merasa lelah abis perjalanan jauh.
__ADS_1
Sedangkan para pria sendiri masih asyik berbincang di dalam aula. Apa lagi mereka yang memang baru datang ke pondok pesantren. Mereka menanyakan beberapa kegiatan yang dilakukan di pesantren tersebut dari awal bangun tidur sampai mau tidur lagi.
Jam sudah menunjuk kan pukul 23:00 malam. Dayyan pun langsung pamit dengan yang lain nya untuk kembali ke ndalem karena hari sudah semakin malam. Ia takut istri dan Umma nya tak bisa menjaga ketiga bayi nya. Karena para pengasuh hanya di tugas kan sampai ketiga anak Dayyan dan Breena sampai tidur malam saja. Merek tidak akan menunggui anak anak nya 24 jam seperti di Jakarta.
"Maaf Ustadz, karena uda hampir larut, saya permisi dulu. Takut istri saya dan Umma tak bisa menjaga ketiga anak saya" pamit Dayyan pada para ustadz.
"Iya silah kan Gus. Maaf sudah menahan Guse disini untuk berbincang dengan kami" ucap salah satu ustadz disana.
"Tidak apa apa Ustadz. Kalau begitu saya permisi ustadz, Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
Kepergian Dayyan pun di lihat dengan yang lain nya. Mereka pun juga pamit untuk kembali ke kamar mereka masing masing.
Sampai di kamar nya, Dayyan melihat istri nya yang sudah tertidur di atas tempat tidur nya bersama dengan Andra anak bungsu nya. Dayyan pun melihat ke dalam box bayi yang lain nya. Ternyata kedua anak nya yang lain masih tertidur myenyak. Mungkin tadi Andra menangis karena haus.
Dayyan pun langsung pergi ke kamar mandi untuk membersih kan diri nya terlebih dahulu. Lalu mengganti baju tidur nya. Setelah itu Dayyan berjalan mendekati kedua anak nya lagi. Tak lupa Dayyan memberikan ciuman nya di pipi dan kening kedua anak nya.
"Selamat tidur sayang sayang nya Abi" ucap Dayyan lembut.
Setelah itu dia pun langsung pergi ke tempat tidur nya. Dia juga melakukan hal yang sama dengan Breena dan Andra. Dayyan mencium pipi dan kening Breena dan Andra.
"Selamat tidur sayang. Selamat tidur bidadari nya Abi" ucap Dayyan pelan.
Setelah itu Dayyan pun juga ikut tidur di samping Andra. Dengan tangan yang memeluk tubuh kedua kesayangan nya.
Hal yang sama pun terjadi di kamar nya Brian. Brian yang masuk ke dalam kamar nya sudah melihat Ani yang tertidur sambil memeluk tubuh baby Keenan.
Senyum bahagia Brian tak luntur dari wajah nya setiap melihat kedua orang kedua kesayangan nya yang sedang tertidur.
__ADS_1
Dalam hati nya Brian selalu bersyukur bisa menikahi gadis sebaik Ani. Tak hanya baik dalam bersikap dan bertutur kata. Tapi baik dari dalam hati nya lah yang selalu membuat Brian terus jatuh cinta sama istri nya berkali kali.