Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bab 40. Kehebohan di Al-Hidayah


__ADS_3

Kembali ke Ustadzah Hana.


Saat ini ia sedang berjalan menuju ke asrama para Ustadz dan ustadzah. Langkah kaki Ustadzah Hana harus terhenti karena dihadang oleh Ustadz Fahmi. Ia memandang tajam kearah Ustadzah Hana.


"Apa ini ulahmu Hana?"


"Apa?" tanya Ustadzah Hana pura pura tidak tau apa maksud Ustadz Fahmi.


"Aku tau ini ulahmu Hana. Kamu mau merusak rumah Tangga Gus Dayyan dan Ning Breena kan" tuduh Ustadz Fahmi.


"Jangan menuduhku Ustadz Fahmi. Apa kau memiliki bukti kalau ini adalah rencanaku?" tanya Usyadzah Hana dengan senyum mengejeknya.


"Aku memang tidak memliki bukti. Tapi aku tau kalau ini semua rencanamu. Karena hanya kaulah Hana yang tidak menyukai pernikahan Gus Dayyan dan Ning Breena. Kau sungguh berubah Hana. Kau bukan seperti Hana yang ku kenal dulu" ucap Ustadz Fahmi dengan nada suara kecewanya.


"Iya kau benar Fahmi. Ini memang rencanaku. Kau tau kenapa?" tanya Ustadzah Hana yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Ustadz Fahmi.


"Karena Ning Breen atelah mengambil milikku. Seharusnya akulah yang menjadi istrinya Gus Dayya. Bukan dia yang hanya anak manja dan tak paham agama itu" ucap Ustadzah Hana merendahkan Ning Breena mereka.


"Lalu apa kau yang pantas untuk Gus Dayyan? Kau memang orang yang paham agama Hana. Tapi kepintaranmu itu kau salah gunakan untuk merendahkan istri Gus mu sendiri. Seharusnya kau bisa membantunya agar ia lebih paham tentang agama dan hidup di lingkungan pesantren ini. Bukan malah kau rendahkan seperti itu" nasihat Ustadz Fahmi.


"Sudahlah Fahmi ini tidak ada hubungannya denganmu. Yang pasti mereka nanti malam akan bercerai dan akulah yang akan menjadi istrinya Gus Dayyan" ucap Ustadzah Hana percaya diri.


Kemudian ia melanjutkan langkah kakinya menuju kekamarnya. Meninggalkan Ustadz Fahmi yang menantapnya tak percaya.


"Astafirullah kau sungguh sudah berubah Hana. Kau sungguh berdosa telah memisahkan istri dari suaminya. Aku tak menyangka kau akan seperti ini Hana" ucap Ustadz Fahmi memandang punggung Hana yang sudah menjauh dengan tatapan kecewanya.


Kemudian Ustadz Fahmi mengambil ponselnya yang ada didalam saku celananya. Ia pun mematikan perekam suara yang ada dilayar ponselnya.


"Semoga dengan rekaman ini rumah tangga Gus Dayyan dapat terselamatkan" ucap Ustadz Fahmi penuh harap.


Tanpa sepengetahuan Ustadzah Hana tadi. Ustadz Fahmi sengaja menghadang jalannya dan memancingnya agar mau mengakui perbuatannya tadi.


...----------------...


Sedangkan Ustadzah Hana didalam kamarnya sedang memandangi foto foto Gus Dayyan yang sengaja ia tempelkan didinding kamarnya. Ia fengan senyum mengembang mengelus pipi Gus Dayyan.


"Sebentar lagi kita akan bersama Dayyan. Kau akan menjadi milikku. Ha ha aha aha" ucap Ustadzah Hana dengan senyum menyeringainya.


"Oiya aku harus menelpon Bapak dan Ibu supaya mereka bisa segera datang kesini" ucapnya lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Ibunya.


"Hallo Assalamualaikum teh" ucap Bu Risty.


"Wa'alaikum salam. Bu dimana?" tanya Ustadzah Hana.


"Dirumah teh, ada apa?"


"Ibu sama Bapak bisa datang ke pesantren Al-Hidayah nggak?"


"Bisa. Emang nya ada apa sih teh?"


"Ning Breena mau melamar Hana untuk jafi istrinya Gus Dayyan Bu. Ibu sama Bapak bisakan datang?"


"Apa terjadi sesuatu teh? Kenapa Ning Breena mau melamarmu?"


"Uda Ibu sama Bapak datang aja. Jangan sampai terlambat Bu. Ba'da Isya harus sudah sampai disini iya. Kalau bisa pun Bapak sama Ibu datangnya sebelum Isya" ucap Hana karena ia tidak ingin Bapak dan Ibunya tau rencana jahatnya.


"Iya uda ini Ibu mau bilang ke Bapak dulu. Assalamualaikum"


Tanpa menjawab salam dari Ibunya. Ustadzah Hana langsung mematikan teleponnya. Ia lalu membaringkan tubuhnya menatap kelangit langit kamar asramanya. Ia tersenyum membayangkan akan menjadi istri dari Gus Dayyan.


...----------------...


Diruang aula asrama khusus Ustadzah juga sama hebohnya. Mereka tak bisa mempercayai apa yang dilakukan oleh teman sesama Ustadzah mereka.


"Ustadzah Hilma. Apa kamu percaya dengan kejadian tadi?" tanya Ustadzah Salma.


"Tidak Ustadzah. Karena setau saya, Gus Dayyan itu sangat menjaga jarak dari yang namanya bukan muhrim" jawab Ustadzah Hilma.


"Saya juga tak percaya" ucap Ustadzah Diana menggantungkan ucapannya.


"Kenapa?" tanya beberapa Ustadzah yang ada disana.


"Apa kalian tidak memperhatikan sikap Ustadzah Hana yang selalu mencari kesempatan untuk dekat dengan Gus Dayyan?" tanya Ustadzah Diana yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh yang lainnya.

__ADS_1


"Apa kalian juga tidak menyadari kalau selama ini Ustadzah Hana juga menyukai Guse?" tanya Ustadzah Diana lagi.


Dan lagi lagi hanya dibalas gelengan kepala.


"Ustadzah Diana tau dari mana?" tanya Ustadzah Salma.


"Dari tatapan matanya Ustadzah Hana. Dia selalu menatap Guse dengan tatapan yang memuja. Dan kalian tau kalau dikamar Ustadzah Hana penuh dengan foto foto Guse?"


Semua tampak terkejut mendengar kenyataan yang baru saja mereka ketahui.


"Bemarkah Ustadzah?"


"Iya dan saya tau ketika saya tidak snegaja melewati kamarnya yang pintunya hanya tertutup separuh. Kalian tau saya melihat dia sedang mengelus wajahnya Guse"


"Apa yang akan terjadi nanti iya Ustadzah? Saya dengar Ning Breena mau melamarnya untuk jadi istrinya Gus Dayyan loh. Kasihan banget Ning Breena. Belum ada genap sebulan menikah uda ada aja cobaannya" ucap salah satu Ustadzah disitu merasa kasihan dengan Ning mereka.


"Kalian tau nggak sih berita yang lagi heboh sekarang ini?" tanya Ustadzah Hilma.


"Berita apa?"


"Berita tentang mantan kekasih Ning Breen yang kembali dan membawa anak perempuan berusia hampir tiga tahun"


"Serius?" ucap mereka kompak.


"Iya serius. Nih lihat aja" ucap Ustadzah Hilma sambil menyerahkan ponselnya.


Semua Ustadzah yang disitu pun menatap tak percaya. Yang membuat mereka heran itu kenapa Ning mereka juga dibawa bawa didalam berita tersebut.


"Saya tidak yakin kalau Ning Breena sedang baik baik saja sekarang" ucap Ustadzah Salma yang diangguki oleh yang lainnya.


Akhirnya mereka pun membubarkan diri mereka karena mendengar suara adzan Magrib.


...----------------...


Sedangkan di Jakarta


Setelah Breena menelpon Papa nya. Papa Doni pun langsung menghubungi Pak Hilman.


"Hallo selamat sore Tuan Doni"


"Iya Tuan. Saya masih dikantor yang ada di Jakarta sekarang. Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"Bisakah Pak Hilman berangkat ke Bandung sekarang bersama saya? Tadi Breena menelpon saya dan meminta saya ke Bandung sekarang bersama anda Pak. Saya juga tidak tau apa yang telah terjadi disana sampai ia membutuhkan pengacara"


"Bisa Tuan. Kalau begitu saya akan langsung berangkat sekarang Tuan"


"Kita berangkat bersama Pak Hilman. Capten Vincent sudah menunggu kita di rooftoof rumah sakit saya. Pak Hilman tunggu disana aja"


"Baik Tuan, saya akan kesana sekarang"


Selesai menghubungi Pak Hilman. Papa Doni langsung bersiap akan pergi ke rumah sakitnya. Ia akan menyusul istrinya terlebih dahulu.


Beberapa menit kemudian Papa Doni twlah sampai di rumah sakitnya. Bertepatan juga dengan Pak Hilman yang baru sampai juga.


"Tuan Doni"


"Pak Hilman. Anda duluan saja ke rooftoof. Saya mau menghampiri istri saya dulu"


"Baik Tuan silahkan" ucap Pak Hilman mempersilahkan Papa Doni keruangan istrinya.


Sesampainya diruangan istrinya. Papa Doni melihat masih ada beberapa ibu hamil dan suaminya yang sedang menunggu antrian untuk diperiksa.


Papa Doni pun langsung mendekati suster yang berjaga diluar ruang praktek istrinya.


"Dokter Doni" sapa sang suster.


"Sus masih banyak iya yang belum diperiksa?"


"Iya dokter. Hari ini banyak ibu hamil yang sudah jadwal mereka diperiksa"


"Bisa tidak dialihkan ke dokter lain sus? Saya ada urusan urgent ini sus sama istri saya. Siapa dokter kandungan yang juga praktek sus?"


"Dokter Wilda dokter"

__ADS_1


Papa Doni pun langsung menghubungi dokter Wilda.


"Hallo dokter Doni"


"Hallo. Dokter Wilda bisakah saya minta tolong kepada anda saat ini?"


"Iya dok. Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Wilda heran.


"Saya ada urusan Urgen saat ini bersama istri saya. Kami harus ke Bandung sekarang juga. Tapi pasien istri saya masih ada beberapa orang dok. Bisakah mereka saya alihkan ke dokter saja?"


"Bisa Dikter. Pasien saya juga tidak banyak hari ini"


"Terima kasih dokter Wilda. Nanti saya minta susuter disini untuk mengantarkan mereka keruangan anda"


"Sama sama dokter Doni"


Setelah panggilan terputus dan pasien yang sedari tadi berada didalam ruangan Mama Ratih keluar. Papa Doni langsung masuk kedalam ruangan Mama Ratih.


"Mah ayo sekarang kita ke Bandung. Ini urgent Mah. Uda nggak ada waktu lagi. Capten Vincent dan Pak Hilman sudah menunggu diatas" ajak Papa Doni yang sudah menarik tangan Mama Ratih.


"Tunggu dulu Pah tas Mama ketinggalan" ucap Mama Ratih sambil mengambil tas nya yang berada diatas mejanya.


Sampai diluar ruangan Mama Ratih dibuat kebingungan.


"Loh Pah pasien Mama kemana semua?"


"Uda Papa alihkan ke dokter Wilda. Ayo Mah uda nggak ada waktu lagi"


Kemudian dua orang penguasa rumah sakit Abraham itu pun berjalan tergesa menuju lift khusus yang akan mengantarkan mereka ke rooftoof.


Sampai dirooftoof, Papa Doni dan Mama Ratih langsung masuk kedalam helikopter mereka. Ketika semua sudah duduk dan menggunakan sabuk pengaman serta penutup telinga. Capten Vincent pun segera menerbangkan helikopter itu menuju kealamat yang sudah diberikan oleh Breena tadi.


Disepanjang perjalanan Mama Ratih masih dibuat bingung dengan apa yang telah terjadi. Ia melihat raut khawatir diwajah suaminya.


Selama hampir 50 menit mereka mengudara, akhirnya helikopter yang membawa Papa Doni pun pelan pelan mendarat diarea lapangan pesantren tren yang luas.


Desingan suara mesin dan baling baling helikopter itu membuat semua santri dan santriwati yang baru saja selesai sholat magrib berhamburan keluar dari masjid. Tak hanya para santri saja, tetapi Ustadz dan Ustadzah pun juga ikut keluar.


Mereka penasaran siapa yang datang kepesantren menggunakan helikopter mewah itu.


Ketika mereka menatap helikopter itu, mereka dibuat mengaga ketika melihat body helikopter itu bertuliskan "ABREENA". Mereka semua berpikir sekaya apa Ning mereka itu.


Setelah mesin dimatikan dan baling baling helikopter itu juga sudah tidak berputar lagi. Capten Vincent pun turun lalu membukakan pintu helikopter itu agar Tuan nya keluar.


"Terima kasih Capten" ucap Papa Doni ketika ia sudah turun terlebih dahulu.


Lalu Papa Doni membantu Mama Ratih turun. Disusul oleh Pak Hilman.


Lagi lagi para Ustadzah dibuat tercengang dengan apa yang digunakan oleh Mama Ratih.


Baju rancangan desainer ternama dari luar negeri dilapisi oleh Jas putih dokter kebanggaannya. Sepatilu dari brand terkenal juga tas dari brand terkenal yang limited edition.


Memang mereka pernah melihat Breena menggunakan tas tangan dari brand terkenal. Namun ketika mereka melihat Mama ning mereka menggunakan barang barang dari brand terkenal dari baju tas sepatu, membuat mereka tercengang.


Bisik bisik pun mulai terdengar.


"Itu orang tua Ning Breena?" tanya salah satu Ustadzah disana.


"Iya" jawab singkat Ustadz Fahmi yang berdiri tak jauh dari para Ustadzah.


"WOW. Ternyata Ning kita anak sultan. Lihat saja Mama nya semua yang dipakainya dari brand terkenal semua" ucap Ustadzah itu heboh.


"Kira kira sekaya apa mereka iya?"


"Yang saya tau mereka pemilik rumah sakit Abraham. Disetiap kota ada cabang rumah sakit mereka. Dan walau pun mereka suktan, tapi yang saya tau mereka ramah dan baik sama semua orang. Mereka tidak pernah membeda bedankan antara majikan dan pembantu. Kita semua tau bagaimana kelakuan Ning Breena selama disini. Dia tak segan segan jalan beriringan dengan mbak ndalem. Bahkan saya pernah melihatnya berjalan dengan mbak ndalem sambil menggandeng dan merangkul mbak ani, mbak ndalem yang selalu bersamanya" puji salah saty ustadzah yang memang tau bagaimana keluarga Breena.


"Salut aku sama keluarga mereka. Walau pun kaya mereka tidak membatasi diri mereka dengan pembantu" puji Ustadzah yang lainnya.


Ustadzah Hana yang mendengar pujian yang dilontarkan oleh Ustadzah yang lainnya pub mengepalkan kedua tangannya. Kebenciannya kepada Breena semakin bertambah.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


Hari ini 1 bab dulu ia. Ini pun sudah 1800 kata.


__ADS_2