
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian di pondok pesantren Al-Hidayah, dimana seorang wanita yang berpakaian sexy meminta pertanggung jawaban Dayyan atas kehamilan nya.
Kehidupan Dayyan berubah menjadi kacau. Ia menjadi dingin dengan siapa pun. Dia juga tidak bisa melihat istri yang sangat di cintai nya itu yang sedang mengandung anak kembar nya.
Papa Doni memutus semua komunikasi nya. Bahkan ketika Dayyan nekat mendatangi rumah mertua nya itu. Bukan bertemu dengan istri nya, yang ada dia di usir langsung oleh Papa Doni.
Dayyan semakin tak terurus. Wajah nya kusut dan pipi nya pun mulai terlihat tirus. Bahkan tbuh tegap nya sudah tak terlihat lagi. Dayyan bahkan tak sempat makan untuk menjaga kesehatan nya. Ia menyibuk kan diri nya di kantor nya.
Dion dan Anggi yang melihat atasan sekaligus sahabat yang sudah di anggap saudara itu merasa kasihan dengan nasib rumah tangga Dayyan.
Dayyan masih berusaha mendapatkan bukti bukti dari rekaman CCTV yang ada di hotel tempat nya menginap beberapa minggu yang lalu.
Namun usaha nya gagal, karena ada yang menghapus video CCTV yang mengarah ke kamar hotel nya. Bahkan yang di restauran hotel pun juga di hapus.
Ia sangat murka ketika mendapatkan kabar itu dari orang suruhan nya.
Tetapi Dayyan tak menyerah. Ia berusaha mencari dan membayar hacker terbaik untuk memulihkan rekaman CCTV itu. Namun sampai sekarang, usaha nya belum juga membuah kan hasil.
"Ian makan dulu. Lo harus tetap sehat untuk mendapat kan rekaman CCTV itu. Ingat Ian, Breena dan kedua calon anak Lo masih membutuh kan diri Lo" ucap Dion menasehati sahabat nya itu.
"Gue masih kenyang. Lo sama Anggi aja makan duluan. Nanti kalau Gue lapar, Gue pasti makan kok. Lo tenang aja" ucap Dayyan tanpa menoleh kearah Dion.
Huuffttt
Dion hanya bisa menghela nafas nya kasar. Sahabat nya itu jadi gila kerja sejak di tinggal istri nya.
__ADS_1
...****************...
Di kediaman Doni Abraham.
Kondisi Breena pun tak jauh berbeda dengan suami nya Dayyan. Breena juga terlihat tak memiliki semangat hidup lagi. Tatapan mata nya kosong. Tak ada lagi senyum manis yang selalu menghiasi wajah cantik nya.
Breena juga mengurung diri nya di dalam kamar. Ia bahkan terkadang melewati makan siang dan malam nya.
Kali ini Breena sangat terpuruk. Ia merasa di khianati oleh suami nya sendiri. Suami yang sudah mengobati trauma nya. Namun justru suami nya lah yang kembali menggoreskan luka yang begitu dalam untuk nya. Apa lagi saat ini ia sedang hamil.
Karena keterpurukan nya menghadapi masalah nya ini, Papa Doni menyuruh Breena berdiam diri di rumah saja. Papa Doni juga yang mengurus surat cuti nya Breena dengan alasan cuti hamil. Pada hal Papa Doni melakukan itu agar orang lain tak mengetahui apa yang telah terjadi dengan anak nya.
Jujur saja, Papa Doni dan Mama Ratih sangat mengkhawatir kan kondisi anak nya. Terutama kondisi mental anak nya.
Seperti saat ini, Breena sedang duduk di balkon kamar nya menghadap ke arah taman halaman belakang. Ia duduk dengan tatapan mata kosong nya sambil mengelus perut buncit nya.
"Apa kalian tidak merindukan Umi mu ini nak? Kenapa kalian tak pernah lagi bergerak dan menentang perut Umi? Apa kalian marah dengan Umi karena menjauh kan kalian dengan Abi kalian? Maaf kan Umi sayang. Mungkin untuk saat ini memang lebih baik kita dirumah Oma dan Opa dulu. Umi butuh waktu untuk menenang kan hati dan pikiran Umi. Maaf kan keegoisan Umi kalau nanti kalian tumbuh tanpa kasih sayang Abi kalian. Sekali lagi Umi minta maaf sayang. Setelah kalian lahir, Umi akan membawa kalian ke luar negeri. Kita hidup bertiga disana iya sayang sayang nya Umi" ucap Breena dengan derai air mata yang membanjiri wajah cantik nya yang mulai terlihat tirus.
Breena terus mengajak anak nya berbicara. Tanpa dia ketahui Mama Ratih dan Papa Doni mendengar semua ucapan nya. Mereka sangat terkejut mendengar niat Breena yang akan membawa anak anak nya keluar negeri.
Tak sanggup mendengar curahan hati putri nya, Mama Ratih dan Papa Doni memilih pergi meninggalkan kamar Breena.
Ketika mereka sudah berada di luar kamar, ponsel Papa Doni bergetar. Terlihat di layar ponsel nya tertera nama Daddy Steven. Papa Doni pun langsung mengangkat telepon nya.
"Ada apa Stev?"
__ADS_1
"Ke markas sekarang. Ada yang mau Gue tunjukin sama Lo. Ini menyangkut hidup dan masa depan nya Princess kita. Jangan lupa bawa juga istri Lo. Karena dia juga di butuh kan saat ini" ucap Daddy Steven tanpa basa basi meminta Papa Doni dan Mama Ratih untuk datang ke markas nya.
"Kalau ini berhubungan dengan lelaki itu. Gue uda nggak peduli. Apa pun yang mau di lakukan nya terserah" ucap Papa Doni menolak permintaan Daddy Steven.
"Lo akan menyesal kalau Lo nggak datang dan melihat apa yang akan Gue tunjukin ke Lo Don"
"Gue nggak peduli. Yang pasti setelah anak mereka lahir, Gue yang langsung menggugat laki laki itu ke pengadilan agama" ucap Papa Doni lalu mematikan ponsel nya.
Bukan ia tak mau menuruti permintaan sahabat nya itu. Tetapi ia sudah terlanjur kecewa dengan menantu satu satu nya.
"Siapa Pah?"
"Steven. Uda nggak usah di bahas Mah. Papa titip Breena iya Mah. Papa ada operasi siang ini" ucap Papa Doni lalu ia berlalu dari hadapan istri nya setelah mencium kening sang istri.
...----------------...
Sementara itu di markas nya Daddy Steven menghembuskan nafas nya kasar. Ia tau bagaimana keras kepala nya Doni. Kalau ia sudah berkata A maka sampai kapan pun tetap akan A. Dan tidak akan bisa berubah ke B atau pun ke C.
Sebenar nya Daddy Steven meminta Papa Doni untuk menemui nya di markas karena ia ingin menunjuk kan hasil penyelidikan yang di lakukan oleh anak buah nya selama dua minggu ini. Namun seperti nya harapan nya untuk menunjuk kan itu harus sirna. Karena Papa Doni menolak untuk datang ke markas nya.
Mau tidak mau, Daddy Steven pun akhir nya menelpon Dayyan. Dan meminta nya untuk datang ke markas saat itu juga.
Walau pun awal nya ia tetap mendapat kan penolakan dari Dayyan. Namun itu tak bertahan lama, karena ketika ia mengatakan kalau ia akan menunjuk kan hasil penyelidikan nya mengenai wanita yang bernama Hana yang mengaku sedang mengandung anak nya itu. Akhir nya Dayyan pun mengatakan akan datang nanti setelah ia selesai meeting dengan rekan bisnis nya.
"Lo mau kemana Bos?" tanya Dion ketika melihat Bos nya seperti ingin keluar.
__ADS_1
"Ke markas Daddy, ada urusan"
Setelah mengatakan itu Dayyan pun langsung meninggalkan Dion yang sedari tadi menatap punggung nya