Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kebahagian


__ADS_3

Dayyan terus mengusap perut Breena dengan lembut. Bahkan sesekali ia menciumi perut Breena yang masih rata itu. Sambil berbicara didepan perut Breena.


"Baik baik didalam perut Umi iya sayang. Jangan buat Umi kamu susah iya nak. Abi bahagia kamu sudah hadir didalam perut Umi"


Ia pun juga membacakan sholawat diperut istrinya.


Mama Ratih dan Papa Doni yang sudah berdiri dipintu pun terharu melihat semua yang Dayyan lakukan.


Dapat mereka lihat binar bahagia dari mata Dayyan. Dan betapa sayang nya Dayyan kepada putri satu satunya mereka.


Mama Ratih pun menghapus air matanya yang sudah menetes tanpa izin itu.


"Dayyan" panggil Papa Doni.


"Pah Mah" ucap Dayyan lalu ia berdiri dari kursi disamping Breena.


"Selamat iya nak, kamu akan menjadi seorang Ayah" ucap Mama Ratih dengan binar bahagia nya.


"Terima kasih Mah" ucap Dayyan


"Jaga putri dan cucu Papa Nak. Mereka harta berharga yang Papa miliki" pesan Papa Doni sambil menepuk bahu Dayyan.


"Pasti Pah. Pasti Dayyan akan menjadi istri dan calon anak Dayyan" ucap Dayyan tegas.


"Nanti setelah Breena sadar, Mama akan memeriksa nya. Biar kita tau uda usia berapa calon anak kalian" ucap Mama Ratih sambil mengelus kepala putrinya.


Papa Doni pun mendekat kearah sang putri kemudian mencium kening putrinya dengan sayang.


"Apa kamu sudah mengabarkan orang tuamu nak?" tanya Papa Doni.


"Belum Pah. Dayyan tidak membawa ponsel. Tadi Dayyan buru buru bawa Breena kerumah sakit karena Breena sudah terlalu lemas" jelas Dayyan.


"Iya uda biar Papa yang menelpon Abah mu nanti. Papa sama Mama izin keluar dulu iya. Pasien Papa masih ada yang harus di periksa. Kamu jagain istri kamu sendirian dulu iya. Nanti setelah Papa sama Mama selesai, kami segera kesini"


"Terima kasih iya Pah" ucap Dayyan tulus.


"Ayo Mah kita dinas lagi" ajak Papa Doni sambil terkekeh.


Dayyan pun kembali duduk disisi brangkar Breena setelah kedua mertuanya pergi. Ia masih setia menggenggam erat tangan Breena yang tak terpasang infus.


Lama menunggu Breena sadar, Dayyan pun tertidur menelungkupkan kepala nya di brangkar Breena.


Sementara itu Papa Doni menelpon besan nya. Dia mengabarkan kalau Breena sedang berada dirumah sakit.


"Hallo Assalamualaikum besan" ucap Papa Doni ketika panggilan nya dijawab Abah Arsya.


"Wa'alaikum salam Pak Doni. Ada apa ini pagi pagi begini sudah menelpon saya" tanya Abah Arsya yang masih membaca kitab kuning nya.


"Begini besan, saya mau menyampaikan kalau Breena masuk rumah sakit" ucap Pap Doni sengaja tidak langsung memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.


"Innalillah. Kenapa dengan Breena Pak Doni?" tanya Abah Arsya khawatir.


"Tenang besan. Breena tadi muntah muntah, lalu dibawa Dayyan ke rumah sakit. Tapi dijalan Breena sudah pingsan. Dan setelah diperiksa dokter mengatakan kalau kita akan menjadi kakek besan"


"Kakek?" tanya Abah Arsya bingung.

__ADS_1


"Iya Besan, Breena hamil dan kita akan menjadi kakek"


"Alhamdulillah ya Allah. Baiklah Pak Doni kami akan berangkat kesana sekarang"


"Iya besan kami tunggu disini. Hati hati dijalan besan. Assalamualaikum" ucap Papa Doni kemudian mematikan panggilan nya.


"Wa'alaikum salam. Umma Umma" teriak Abah Arsya memanggik istrinya.


"Apa apa Abah? Kenapa teriak teriak" tanya Umma Hanum yang datang menghampiri suaminya.


"Ayo kita ke Jakarta Umma"


"Ngapain kesana Abah. Kita kan baru saja pulang dari sana"


"Breena hamil Umma. Kita akan jadi kakek dan nenek" ucap Abah Arsya bahagia.


"Alhamdulillah. Ayo Abah kita kesana. Ani ayo Nduk kita ke Jakarta lagi. Mbak mu hamil Nduk. Kamu akan mempunyai kepokan" ucap Umma Hanum bahagia.


"Iya Umma. Ayo kita siap siap"


Kemudian Abah Arsya, Umma Hanum dan Ani pun bersiap untuk bertolak ke Jakarta. Kabar bahagia ini pun dengan cepat menyebar di area pesantren. Banyak para santri, Ustadz dan Ustadzah yang mendoakan Breena dan calon anaknya.


...----------------...


Beberapa jam kemudian akhirnya Breena sadar. Ia mengerjapkan kedua matanya. Dan merasakan tangannya yang digenggam erat.


Ia pun melihat kearah tangan nya. Ia mendapati suaminya tertidur sambil duduk. Kemudian Breena mengelus kepala Dayyan.


Dayyan yang merasa tidurnya terusik pun akhirnya membuka matanya. Dayyan terkejut melihat istri tercintanya sudah sadar dan tersenyum menatapnya. Masih tampak pucat diwajah cantik istrinya itu.


"Sayang. Kamu uda sadar" ucap Dayyan dengan binar bahagia nya.


"Kamu pingsan sayang tadi waktu Mas membawa mu kerumah sakit"


"Breena kenapa Mas?"


"Kamu sejak kapan muntah muntah sayang?"


"Uda beberapa hari ini Mas. Emang kenapa Mas?" tanya Breena yang masih bingung kenapa suaminya menanyakan itu.


Dayyan pun membawa tangan istrinya keperut rata Breena.


"Kamu tau sayang disini uda ada kehidupan. Buah cinta kita sayang. Dia sudah hadir didalam rahim kamu" ucap Dayyan dengan senyum sumringahnya sambil mengelus perut Breena.


"Breena hamil Mas?" tanya Breena ragu.


"Iya sayang. Kamu hamil. Terima kasih sudah bersedia hamil anak Mas" ucap Dayyan sambil mencium tangan Breena.


"Serius Mas?" tanya Breena tak percaya.


Bagaiman ia mau percaya, bahkan mereka saja baru melakukan nya beberapa minggu yang lalu. Bagaimana mungkin bisa secepat itu ia bisa hamil. Ini sungguh diluar nalar nya.


"Mas serius sayang. Nanti kita periksa ke Mama iya. Ini Mas panggilkan dokter dulu untuk meriksa kamu. Abis itu kita keruangan Mama iya" ucap Dayyan lembut.


Breena hanya bisa menganggukan kepala nya. Ia masih merasa tak percaya.

__ADS_1


Dokter pun masuk ke ruangan Breena dengan senyum manis nya.


"Sudah sadar Nona. Sekarang apa yang Nona rasakan?" tanya dokter itu sambil memeriksa Breena.


"Saya tidak merasakan apa apa dokter. Cuma terkadang mau tiba tiba muntah" ucap Breena.


"Itu hal yang wajar Nona. Kalau gitu saya rujuk langsung iya keruangan Nyonya Ratih. Biar bisa dipastikan kandunganya sudah berapa minggu" jelas dokter tersebut.


Setelah selesai memeriksa, dokter itu pun meminta suster untuk mengantarkan Breena ke ruangan Nyonya Ratih.


Dengan duduk di kursi roda, Breena didorong oleh suster. Sedangkan Dayyan berjalan disisi kanan nya sambil menggenggam tangan Breena.


Sesampainya diruangan Mama Ratih, suster yang membawa Breena pun menyerahkan surat rujukan nya kepada suster yang berjaga diluar ruangan Mama Ratih.


Suster itu pun langsung menyuruh Breena langsung masuk kedalam ruangan Mama Ratih terlebih dahulu, setelah pasien yang didalam ruangan Mama Ratih keluar. Namun ditolak oleh Dayyan.


"Nona bisa masuk terlebih dahulu tanpa harus menunggu antrian" ucap suster tersebut dengan sopan.


"Tidak perlu suster. Biar kami ikut mengantri saja. Kasian para ibu ibu yang sudah menunggu antrian duluan" tolak Dayyan langsung.


"Nggak Papa Mas. Kalau bisa kita yang terakhir aja biar bisa lebih lama didalam ruangan Mama" ucap Breena.


"Apa Nona mau menunggu diruangan saya dulu?" tawar suster itu.


"Tidak usah suster, saya menunggu disini saja"


"Kalau ada sesuatu yang Nona inginkan, beri tahu saya saja Nona"


"Iya terima kasih suster"


Breena dan Dayyan pun kini sudah duduk dikursi tunggi dengan para Ibu Ibu hamil lain nya.


Banyak para ibu yang memperhatikan Breena yang duduk dikursi roda. Bahkan ada beberapa yang terang terangan menyindirnya.


"Cantik sih tapi kalau duduk dikursi roda tetap saja cantik nya berkurang" sindir salah satu Ibu hamil.


Breena dan Dayyan pun hanya mengulas senyum saja.


Suster yang mendengar sindiran itu pun langsung membalas sindiran Ibu hamil tadi.


"Maaf iya Bu, Nona kami bukan lumpuh seperti yang ibu pikirkan. Ia baru saja dirawat di kamar lantai 5. Kamar khusus untuk keluarga Abraham. Biar ibu tau orang yang Ibu sindir itu anak satu satunya dari pemilik rumah sakit ini. Dan biar Ibu tau, dokter kandungan ibu itu adalah Mama nya Nona Kami. Dokter Ratih. Jadi tolong dijaga ucapan Ibu" tegur suster itu yang geram ketika Nona Muda nya disindir seperti itu.


"Uda suster tidak apa apa, beliau tidak tau kalau istri saya abis dirawat" ucap Dayyan sambil melirik ibu hamil tadi.


Suster tadi pun pamit dan masuk kedalam ruangan Mama Ratih. Dan mengatakan kalau Breena sudah berada diluar ruangan nya.


Mama Ratih pun langsung keluar. Ia menghampiri Breena lalu berjongkok didepan Breena yang duduk di kursi roda.


"Sayang kamu sudah sadar? Sejak kapan? Kenapa tidak memberi tahu Mama?" tanya Mama Ratih beruntun.


"Baru sekitar 30 menit Mah. Breena juga langsung kesini kok. Mama jangan khawatir gini dong"


"Gimana Mama nggak khawatir, kamu pingsan begitu tadi sampai lama banget baru sadarnya. Yuk langsung Mama periksa aja Yuk" ajak Mama Ratih.


"Jangan Mah. Nggak enak sama ibu ibu yang sudah antri duluan. Kami nanti saja kalau sudah nomor antrian kami" tolak Dayyan halus.

__ADS_1


"Duuhh mantu Mama kok perhatian banget sih. Iya uda Mama lanjut lagi iya. Biar cepat periksa cucu oma ini" ucap Mama Ratih sambil mengelus perut rata putrinya.


Kemudian Mama Ratih pun kembali melanjutkan tugas nya.


__ADS_2