
"Jadi?" tanya Ansel yang uda nggak sabar ingin mendengar cerita tentang Windy.
Breena menghela nafas nya kasar, ia menatap lekat ke arah Kakak sepupu nya itu.
"Windy anak tunggal Kak. Dia berasal dari kampung dan keluarga yang bisa dikatan menengah. Hidup mereka sederhana. Ayah nya hanya bekerja sebagai buruh pabrik, dan Ibu nya berjualan sembako di rumah mereka. Apa Kakak tau soal itu?" tanya Breena yang masih menatap lekat Kakak sepupunya.
Ansel menggeleng. Ia tidak pernah bertanya soal pekerjaan orang tua dari pujaan hatinya itu.
"Apa Kakak tidak pernah menanyakan soal ini?" tanya Breena memicingkan matanya.
"Nggak. Kakak nggak pernah bertanya soal privasi nya. Apa lagi pekerjaan orang tua nya. Kalau Kakak menanyakan itu. Bisa saja dia berfikir kalau Kakak akan memandang dia dari pekerjaan orang tuanya, bukan dari hati nya" jelas Ansel dengan tenang.
"Papa setuju sama pendapat kamu El. Nggak semua anak perempuan yang kita dekati bisa berpikiran luas. Bisa saja apa yang dibilang Kakak mu itu juga terjadi oleh Windy sayang" ucap Papa Doni membenarkan ucapan Ansel.
"Mama juga setuju, bukan nya maksud merendahkan. Kita tau keluarga kita cukup terpandang. Apa lagi El berasal dari keluarga yang memang memiliki perusahaan dimana mana. Daddy juga bukan berasal dari negara kita. Jadi besar kemungkinan, banyak yang berpendapat kalau Windy mau sama El itu karena harta bukan karena ia memang mencintai El" jelas Mama Ratih.
"Itu lah Mah. El pun cukup lama baru bisa mendapatkan hati Windy. Karena ada beberapa orang yang membully nya karena El mendekatinya" ucap Ansel pelan.
"Lalu apa yang kamu lakukan El ketika tau Windy di bully" tanya Papa Doni
"El memberinya pengertian Pah. Walau apa pun yang mau dikatakan semua orang. Mau dibilang windy matre, cuma mau pamor karena pacaran sama anak pengusaha kaya. Mau dibilang nggak sadar diri karena status sosial kita yang berbeda. El tetap bilang sama Windy, yang jalani kita, mereka nggak akan tau bagaimana hubungan kita. Jadi biarkan aja mereka mau bicara apa. Jangan pernah didengerin dan dimasukan hati" jelas Ansel.
Apa yang dikatakan Ansel membuat senyum terbit di keempat wajah yang sedang mendengarkan ucapan nya.
"Kau tau Kak, Windy bisa masuk ke kampus di jurusan kedokteran juga karena beasiswa" ucap Breena dengan senyum mengembang nya.
"Kamu serius Dek? Bukan nya dia jalur mandiri?" tanya Ansel tak percaya.
"Serius Kak. Nggak ada yang tau kalau dia anak beasiswa. Hanya Adek dan Anita yang tau. Karena dari awal masuk kuliah, Windy hanya berteman dengan kami. Awal berteman pun itu karena tugas kelompok. Adek yang melihat tidak ada satu pun teman sekelas Adek yang tidak mau mengajak Windy dikelompok nya. Jadi Adek dan Anita berinisiatif mengajak Windy. Kamu tau Kak respon Windy seperti apa? Dia bahagia Kak. Karena kami mau berteman dengan nya" jelas Breena lagi.
"Kenapa tidak ada yang mau berteman dengan nya Dek?" tanya Ansel yang masih sangat penasaran.
"Karena Windy anak nya sebenarnya pemalu dan pendiam Kak. Setelah gabung sama Adek dan Anita, dia berubah jadi cerewet seperti sekarang. Hahahahah" tawa Breena di ujung ceritanya.
__ADS_1
Dayyan yang mendengarkan cerita Breena pun hanya menggelengkan kepala nya. Ia tak menyangka istrinya itu mampu merubah teman nya yang pemalu dan pendiam itu jadi cerewet.
"Terus apa lagi Dek?"
"Ayah Windy sudah meninggal 2 tahun yang lalu Kak. Dan Ibu nya sekarang tinggal sendirian dikampung. Disana mereka sudah tidak punya saudara satu pun. Setelah selesai kuliah, sebenarnya Ibu nya memintanya untuk kembali ke kampung dan melanjutkan KOAS nya dirumah sakit daerah saja yang dekat rumah mereka. Apa Windy ada cerita tentang ini sama Kakak?"
"Nggak ada Dek. Windy nggak ada cerita tentang ini. Kapan kamu tau ini Dek?" tanya Ansel yang mulai gusar. Ia tak mau jauh dari kekasih hatinya.
"Sekitar sebulan lebih Kak. Adek uda membujuk Windy untuk KOAS juga di rumah sakit Papa. Tapi kaya nya nggak berhasil deh Kak. Kemarin itu sempat di iya kan. Tapi kaya nya dia berubah pikiran lagi. Karena memang Ibu nya hanya tinggal sendirian disana" jelas Breena.
"Mah Pah, El harus gimana ini Mah? El nggak mau jauh dari Windy Mah" rengek Ansel pada Mama Ratih.
"Coba kamu bicarakan lagi sama Windy sayang. Atau kamu datangi kerumah nya. Sampaikan kepada Ibu nya kalau kamu mau melamar Windy" saran Mama Ratih.
"Apa harus seperti itu Mah?" tanya Ansel putus asa.
"Apa yang di bilang Mama benar Kak. Dayyan pun kemarin gitu juga. Kakak tau kan kami bahkan tidak pernah saling bertegur sapa. Tapi karena Dayyan sudah mencintai Breena selama 3 tahun secara diam diam. Dayyan berani kan diri untuk melamar Breena kepada Mama Papa. Dan alhamdulillah di terima. Walau pun Dayyan tau kalau awal awal pernikahan Breena seperti terpaksa. Tapi lihat lah sekarang, uda ada baby twins di dalam perut nya Breena" jeda Dayyan. Ia menatap penuh cinta kearah istrinya.
"Jadi saran Dayyan. Ikuti apa kata Mama tadi Kak. Kalau Kakak uda yakin ingin memperistri Windy, dan memang Allah menetapkan Windy sebagai jodoh Kakak. Insya Allah, Allah pasti akan memudahkan langkah baik Kakak. Istikhorah dulu Kak biar lebih mantap dan yakin" lanjut Dayyan sambil menepuk pundak Kakak sepupu istri nya itu.
"Iya Pah nanti El sholat istikhorah untuk meyakinkan nya lagi" jawab El lirih.
"Uda ah Breena mau istirahat. Pinggang Breena uda pegel rasa nya" ucap Breena sambil memijit pinggang nya.
"Mas gendong" pinta nya manja.
Tanpa mengatakan apa pun, Dayyan langsung menggendong Breena bridal style. Lalu ia pamit kepada semua orang untuk ke kamar duluan.
Sedangkan Mama Ratih dan Papa Doni masih berbincang dengan Ansel di ruang keluarga.
...----------------...
Dikost-an Windy. Ia sedang menelpon Ibu nya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Ibu"
"Wa'alaikum salam nak. Kamu sehat? Kuliah kamu gimana? Kapan kamu lulus nak?" tanya Ibu Windy beruntun.
"Bu satu satu nanyak nya" omel Windy
"Iya maaf nak. Ibu kan pengen tau"
"Oke Windy jawab satu satu. Kabar Windy sehat Bu. Kuliah Windy juga uda selesai Bu tinggal wisuda nya aja 2 bulan lagi. Ibu datang iya ke wisuda nya Windy" bujuk Windy.
"Iya nak Ibu pasti datang di wisuda kamu. Ibu bangga sama kamu nak, kamu bisa jadi seorang dokter. Kalau saja kamu tidak dapat beasiswa itu, pasti kamu hanya bisa lulus SMA saja nak" ucap Ibu Windy sedih.
"Iya Bu. Alhamdulillah Windy dapat beasiswa jadi bisa mengabulkan cita cita Almarhum Bapak. Emmhh Bu"
"Iya ada apa nak?"
"Apa Windy boleh KOAS di rumah sakit milik keluarga nya Breena Bu?" tanya Windy hati hati.
"Apa kamu sangat ingin KOAS disana nak?" tanya Ibu Windy sedih.
"Iya Bu. Tapi jika Ibu tidak mengizinkan, Windy KOAS dikampung aja Bu" ucap Windy lirih.
"Nanti kita pikirkan lagi iya nak. Kamu tau kan Ibu sendirian di kampung ini. Ibu hanya ingin masa tua Ibu bersama kamu Nak. Ibu juga sekarang uda sakit sakitan. Ibu hanya ingin dirawat sama Kamu" jelas Ibu Windy.
"Iya Bu Windy tau. Nanti kalau Ibu uda kesini kita bahas lagi iya Bu. Banyak yang mau Windy kata kan sama Ibu secara langsung"
"Iya nak. Dua minggu sebelum kamu wisuda Ibu datang ke kota iya"
"Iya Bu nanti Windy jemput di terminal iya. Iya uda Ibu istirahat iya. Ini uda malam. Ibu jaga kesehatan iya Bu. Assalamualaikum" pamit Windy.
"Wa'alaikum salam"
Panggilan pun terputus dengan Windy yang menghela nafas kasar. Iya sedang dilema memilih antara Ibu nya dan Ansel. Iya menyayangi Ibu nya tetapi ia tidak bisa meninggalkan Ansel tanpa kepastian hubungan mereka. Apa lagi Ansel banyak yang menyukai.
__ADS_1
Dan satu lagi yang membuat nya dilema. Tawaran pekerjaan setelah iya KOAS. Ia tau bekerja di Abraham Hospital itu gaji nya sangat tinggi. Dengan gaji yang tinggi itu ia bisa membawa Ibu nya tinggal di Jakarta dan merawat Ibu nya langsung.