Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Berkumpulnya Para Pengusaha 2


__ADS_3

"Pah kenalin ini Dion asisten Dayyan. Dan ini Bunda Aisyah sama Ayah Hermawan. Mereka orang tua nya Dion. Dion ini kekasih nya Anggi Pah anak nya Om Steven, sekretaris Dayyan" ucap Dayyan memperkenalkan keluarga asisten nya itu.


Satu per satu semua orang yang ada disana memperkenal kan diri mereka kepada orang tua Dion.


Mendapat sambutan hangat dari keluarga para pengusaha sukses itu, membuat kegelisahan dihati Bunda Aisyah menghilang.


"Baiklah karena semua sudah berkumpul. Jadi mari kita makan malam dulu sebelum acara BBQ" ajak Papa Doni kepada semua orang.


Acara makan malam pun dimulai. Yang biasa nya setiap makan malam dikeluarga mereka masing masing selalu hening tidak ada yang boleh bersuara. Tapi kali ini makan malam mereka penuh dengan kehangatan.


Selesai makan malam, dilanjut dengan acara BBQ sesuai permintaan Breena.


"Ayo sini Mbak Aisyah kita kumpul disini aja. Kita sama para Ibu Ibu saja. Biar para suami dan anak muda kumpul sendiri sendiri saja" ajak Mama Ratih karena dia tau kalau Bunda Aisyah merasa canggung diantara mereka semua.


Mommy Rianti pun langsung menggandeng tangan calon besan nya.


"Jangan canggung Mbak. Sahabat sahabat saya ini baik semua orang nya" ucap Mommy Rianti.


"Iya Mbak, saya hanya merasa tidak pantas saja berkumpul dengan para istri pengusaha" ucap Bunda Aisyah sambil menunduk.


"Kita semua sama Mbak. Tidak ada beda nya. Lagian itu hanya status, tapi nyata nya kan kita hanya manusia biasa" ucap Mama Ratih mencoba menenangkan hati Bunda Aisyah.


Bunda Aisyah pun mengangkat kepala nya dan tersenyum kepada semua Ibu Ibu.


"Terima kasih sudah mau menerima kehadiran saya" ucap Bunda Aisyah tulus.


"Mbak Aisyah kerja dimana?" tanya Mommy Aletha.


"Saya hanya seorang guru di SMA Mbak" ucap Bunda Aisyah tersenyum manis.


"Waaaahhhh itu pekerjaan yang mulia Mbak. Mengajarkan anak anak kita sampai pintar" ucap Mommy Aletha dengan riang nya. Bahkan ia sampai bertepuk tangan.


Aksi Mommy Aletha mengundang semua mata menatap kearah nya. Di bagian para suami hanya menggelengkan kepala mereka melihat tingkah istri dari Martin Anderson itu.


"Terima kasih Mbak. Ini memang cita cita saya dari kecil yang ingin menjadi seorang guru" ucap Bunda Aisyah


Dan obrolan mereka pun berlanjut, semua mereka perbincangkan. Bahkan Mama Ratih membuat grup WA khusus mereka berlima saja.


...----------------...


Sedangkan di para suami mereka lebih banyak membahas masalah bisnis. Namun dari keempat suami itu hanya Ayah Hermawan yang tak terlalu menanggapi pembicaraan mereka.


"Maaf Pak Hermawan, kenapa Anda sedari tadi hanya diam saja?" tanya Daddy Martin. Karena Ayah Hermawan diam saja


"Maaf Pak Martin bukannya saya tidak mau bergabung dengan pembicaraan kalian. Hanya saja saya yang seorang guru tidak mengerti dengan masalah bisnis" ucap Ayah Hermawan sungkan.


"Oohh maaf Pak Hermawan, kami tidak tau" ucap Papa Doni tak enak hati.


"Lu juga Stev kenapa nggak bilang kalau Ayah nya Dion ini seorang guru" omel Papa Doni.


"Hehehe gue lupa" ucap Daddy Steven cengegesan.


"Pak Hermawan guru dimana?" tanya Abah Arsya.


"Saya guru di SMA Negeri Pak Kyai. Alhamdulillah saya dan istri saya sudah PNS" jelas Ayah Hermawan.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Jangan Panggil Pak Kyai, Pak Hermawan. Panggil aja Arsya. Seperti nya umur Bapak lebih tua dari pada umur saya" pinta Abah Arsya.


"Tidak sopan kalau saya hanya memanggil njenengan dengan nama saja Pak Kyai. Bagaimana kalau saya panggil Pak Arsya saja?"


"Tidak masalah Pak Hermawan. Senyaman nya Bapak saja"


"Oiya gue punya rencana mau ngumumin soal Anggi yang sudah ketemu" ucap Daddy Steven tiba tiba.


"Kapan?" tanya Daddy Martin.


"5 hari lagi. Dan ....."


"Dan apa?"


"Dan dihari itu juga Anggi juga akan mengadakan pertunangannya dengan Dion" ucap Daddy Steven memberitahu kabar bahagia nya.


"Wwwaaaahhhh akhirnya sahabat kita yang satu ini mau mantu. Apa kau juga sudah tidak sabar Stev ingin memiliki cucu seperti ku?" goda Daddy Martin.


"Iya kau benar. Kalau dulu aku tak bisa merawat Anggi. Kalau sekarang aku mau merawat cucu ku sendiri" jelas Daddy Steven.


"Kita sama Stev. Aku juga uda nggak sabar ingin memiliki cucu, bukan begitu besan?" tanya Papa Doni.


"Iya Pak Doni. Saya juga sudah tidak sabar juga. Tapi sepertinya kita harus menunggu Pak Doni"


"Benar besan, kita harus menunggu. Semoga saja secepatnya diberikan keparcayaan untuk anak kita segera memiliki momongan dari Allah"


"Amiiinnn" ucap semua orang.


"Tapi Stev. Dimana kamu menemukan Anggi?" tanya Papa Doni yang penasaran.


"Di panti asuhan Ibu Ayu, di pinggiran kota Jakarta. Ternyata selama ini Anggi juga mencari keberadaan kami. Tetapi karena kami yang sudah tinggal di London setelah 5 tahun penculikan Anggi. Maka nya ia tak bisa menemukan kami" jelas Daddy Steven.


"Iya Pak Doni. Dan sekarang panti asuhan itu sudah berada dibawah naungan pesantren saya Pak" Jelas Abah Arsya.


"Oiya Pak Arsya. Apakah benar Breena akan menjodohkan Brian dengan santri Pak Arsya?" tanya Daddy Martin.


"Iya Pak Martin, Breena sudah menyampaikan maksudnya tadi malam kepada kami. Hanya saja keputusan ada di tangan anak angkat saya itu. Saya memiliki tanggung jawab yang besar kepadanya Pak setelah orang tua nya meninggal, termasuk dengan jodoh nya. Namun saya tidak akan menghalangi siapa pun untuk meminangnya Pak. Asalkan lelaki itu dan keluarga nya mau menerima dia dengan baik dan mampu menjaganya dari keluarga tiri Almarhum Ayah nya" jelas Abah Arsya


"Semoga saja anak angkat Anda mau dijodohkan dengan anak saya Pak Arsya. Kita tau sendiri kalau anak saya itu seorang duda beranak satu. Saya juga ingin mencari jodoh untuk anak saya yang bisa menerima keberadaan cucu saya juga"


"Kita doakan saja Pak Martin, semoga mereka memang berjodoh"


"Ammiiinnn" jawab semua para suami.


Perbincangan pun terus berlanjut.


...----------------...


Sementara itu di perkumpulan para anak muda sedang terjadi kehebohan.


"Mas Brian, perkenalkan ini nama nya Mbak Ani yang Breena ceritakan semalam itu"


Brian menatap kearah wanita yang duduk bersebrangan dengan nya. Wanita yang berada tepat disebelah kiri Breena. Karena yang berada disebelah kanan nya ada sang suami yang dalam mode manja.


"Brian" ucap Brian sambil menjulurkan tangan nya.

__ADS_1


"Ani" ucap Mbak Ani yang mengatupkan kedua tangan nya.


Brian yang uluran tangan nya tak diterima pun segera menarik nya.


"Maaf Mas bukan tidak sopan tidak menerima uluran tangan Mas. Tapi maaf bukan muhrim Mas" ucap Mbak Ani sambil menunduk.


"Tidak apa apa Mbak. Maaf"


"Mbak Ani ini yang cantik ini nama nya Quin. Dia anak nya Mas Brian" ucap Breena.


"Aunty cantik sekali. Daddy, Quin mau seperti aunty Ani" ucap Quin


"Maksud nya sayang?" tanya Brian tak paham.


"Quin mau seperti Aunty Ani yang memakai penutup kepala itu Daddy"


"Ini namanya Hijab sayang. Apa Quin juga mau menggunakan hijab seperti Aunty?" tanya Mbak Ani lembut.


"Iya mau Aunty mau" ucap Quin antusias.


"Besok iya Quin. Malam ini Aunty tidak punya hijab untuk anak anak. Besok Aunty belikan untuk Quin iya"


"Beneran Aunty?" tanya Quin berbinar.


"Iya sayang. Besok Quin datang kesini lagi iya" pinta Mbak Ani yang dibalas anggukan semangat oleh Quin.


"Aunty boleh pangku?" tanya Quin tiba tiba.


Semua orang menatap kearah Quin. Terutama Brian. Ia tak percaya anak nya minta pangku oleh orang lain. Karena setau Brian, anak nya ini sedikit sulit untuk menerima orang baru.


"Boleh dong. Sini duduk sama Aunty" ucap Mbak Ani sambil menepuk paha nya.


Dengan semangat Quin duduk dipangkuan Mbak Ani. Dan mereka berdua pun sibuk dengan obrolan mereka sendiri tanpa menghiraukan keberadaan yang lain nya.


"Bri, apa itu beneran putrimu?" tanya Ibra yang menatap tak yakin kearah keponakannya.


"Iya Mas, itu Quin putri ku"


"Tapi...."


"Tapi kenapa Mas Ibra?" tanya Breena penasaran.


"Tapi bukan seperti Quin yang biasanya Dek. Quin itu sulit dekat sama orang yang baru dia kenal" jelas Ibra.


"Tapi itu buktinya Quin langsung cepat dekat sama Mbak Ani" ucap Anggi yang ikut menyimak obrolan mereka.


"Maka nya itu Nggi, Mas Ibra heran"


"Itu sih tanda nya kalau Quin mau Mommy baru Mas Ibra" ucap Breena memberi kode kepada Brian.


"Ayo Mas Bri segera di ta'aruf Mbak Ani nya" goda Breena yang mendapat cubitan manja dari suaminya di hidung nya.


"Sayang biar kan Brian memikirkan ini dulu" tegur Dayyan.


"Tapi kan nggak ada salah nya Mas" ucap Breena kekeh yang masih ingin menjodohkan Brian dengan Mbak Ani.

__ADS_1


Brian tak menjawab apa yang menjadi kehebohan disana. Ia hanya menatap kearah putrinya dan wanita yang ingin dijodohkan dengan nya.


Tampak sekali kalau wanita itu sangat baik, lembut, sholeha, dan ke Ibuan. Bahkan Quin tak segan segan untuk bermanja dengan nya. Berbeda sekali sikapnya dengan wanita yang pernah dekat dengannya dulu sewaktu mereka masih di Jerman.


__ADS_2