Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kabar Bahagia Dari Dion


__ADS_3

Setiba nya di ruangan Mama Ratih, Anggi langsung di minta naik ke atas ranjang periksa. Mama Ratih mengoles kan gel di perut Anggi, lalu mulai melakukan pemeriksaan.


Di layar monitor terlihat satu kantung bayi yang sudah tumbuh di dalam rahim Anggi. Dion yang melihat itu tak henti henti nya mengucap kan alhamdulillah dan terima kasih kepada Anggi. Dia juga menciumi wajah cantik istri nya itu sebagai bentuk bahagia nya.


"Lihat lah dia sudah sebesar ini ternyata. Kenapa kalian tidak menyadari kehadiran nya?" tanya Mama Ratih yang terus menggerak kan alat pemeriksaan nya.


"Maaf Mah. Anggi takut mengecewakan Mas Dion kalau hasil nya negatif. Maka nya Anggi sudah nggak mau lagi memeriksa nya" ucap Anggi sedih.


Melihat wajah sedih istri nya itu, Dion langsung memeluk sang istri.


"Maaf sayang" lirih Dion yang di balas anggukan oleh Anggi.


"Setiap Anggi telat datang bulan, Anggi langsung memberitahu Mas Dion, dan besok nya sebelum di cek, Anggi justru sudah datang bulan duluan Mah. Sudah berkali kali seperti itu. Jadi karena takut hasil nya mengecewakan, kami memilih pasrah Mah. Dan tidak terlalu memikir kan tentang anak" jelas Dion.


"Tapi setelah berbincang dengan Dayyan sewaktu di Jepang saat tau Ani sudah melahir kan. Dayyan menyaran kan untuk kami periksa kesehatan kami dan melakukan program hamil. Anggi dan Dion juga sudah sepakat untuk melakukan program hamil dan melakukan bayi tabung Mah. Tapi Allah berkata lain. Sebelum kami melakukan itu ternyata dia sudah tumbuh duluan di rahim Anggi" lanjut Dion dengan wajah berbinar nya.


"Alhamdulillah kalau begitu. Anggi masih bisa hamil alami. Tidak perlu bantuan program bayi atau pun bayi tabung. Lihat lah ternyata dia sudah 15 minggu umur nya. Uda hampir empat bulan ternyata" ucap Mama Ratih.


"empat bulan?" tanya Mommy Rianti tak percaya.


Begitu pun dengan Anggi dan Dion. Mereka saling lirik. Tak percaya kalau selama ini Anggi sudah membawa bayi nya dalam kesibukan yang sangat luar biasa. Dari kesibukan kantor, kesibukan mengurus acara aqiqah Baby kembar tiga nya Breena. Acara pertunangan Juan dan Selvi. Bahkan kemarin ia juga meninggal kan istri nya itu mengurus perusahaan bersama Abah Arsya. Sungguh Dion merasa sangat bersalah karena sudah membiar kan Anggi melakukan kesibukan sebanyak itu.


"Iya hampir empat bulan. Minggu depan sudah empat bulan usia kehamilan nya"


"Sayang jadi selama ini kamu sudah hamil cucu Mommy. Apa kamu tidak merasakan kehadiran nya?" tanya Mommy Rianti.


"Anggi nggak ada merasakan apa apa Mom. Baru kemarin waktu di tinggal Mas Dion ke Jepang baru Anggi merasakan mual dan nggak selera makan" jelas Anggi.


Pemeriksaan pun selesai. Mama Ratih menghapus gel di perut Anggi. Setelah nya Dion membantu Anggi turun dari ranjang pemeriksaan.


"Ini Mama resep kan vitamin dan penguat kandungan iya. Di minum sampai habis" pesan Mama Ratih.

__ADS_1


"Saran Mama kamu jangan terlalu lelah iya sayang. Di jaga kehamilan nya"


"Iya Mah. Terima kasih"


"Makasih iya Tih, kami nggak nyangka kalau Anggi sudah hamil selama ini" ucap Mommy Rianti dengan senyum bahagia nya.


"Iya selamay iya Ri, bentar lagi kamu juga akan memiliki cucu" canda Mama Ratih di sambut kekehan Mommy Rianti.


"Iya uda kalau gitu kami pamit iya Tih. Makasih bantuan nya. Maaf uda merepot kan dan mengganggu malam malam begini"


"Nggak papa Ri, kami juga tadi masih berkumpul di rumah Dayyan"


"Iya uda ayo kita pulang" ajak Daddy Steven.


"Kami pun juga mau pulang. Pulang ke rumah Dayyan. Mau kumpul sama cucu cucu ku" goda Papa Doni.


"Hei, aku juga sebentar lagi punya cucu. Bukan kau saja yang memiliki cucu" protes Daddy Steven yang disambut kekehan yang lain nya.


Sampai di parkiran mereka berpisah. Dan kembali ke kediaman mereka masing masing.


Sesampai nya di mansion Danuarta. Mommy Rianti mengambil foto hasil USG milik Anggi. Dia memfoto nya dan mengirim foto itu di grup mereka.


Seketika grup mereka pun ramai dengan kata kata selamat atas kehamilan yang di tunggu tunggu oleh Anggi dan keluarga nya.


Di dalam kamar Anggi dan Dion. Dion sedang menelpon orang tua nya sambil memeluk Anggi dari belakang. Tak lupa tangan nya mengelus perut Anggi. Rasa nyaman yang di rindukan Anggi selama seminggu ini yang tak ia rasakan dari suami nya.


"Besok Bunda sama Ayah ke mansion Danuarta setelah pulang ngajar iya nak." ucap Bunda Aisyah.


"Iya Bunda. Kami tunggu iya Bun" jawab Dion yang masih setia mengelus perut Anggi.


"Anggi mau di masakin apa besok Sayang?"

__ADS_1


"Bentar Bun, Dion tanya kan dulu sama Anggi"


Setelah mengatakan itu Dion melihat istri nya. Ternyata istri nya itu sudah tertidur nyenyak. Dion pun terkekeh melihat istri nya itu.


"Bun, besok Dion kabarin iya Anggi mau makan apa. Anggi nya sudah tidur Bun"


"Iya nak. Besok jangan lupa kabarin Bunda iya. Kamu juga jaga Anggi iya nak. Jangan biar kan Anggi kelelahan. Kamu juga harus tanya Anggi bagaimana dengan masalah pekerjaan nya nanti. Apa dia masih mau kerja atau berhenti. Semua harus kalian bahas dari hati ke hati dengan pikiran dan hati yang dingin. Kamu tau nak, hormon Ibu hamil itu cepat berubah nya" ucap Bunda Aisyah.


"Iya Bun. Besok akan Dion tanyakan. Iya uda Bunda istirahat lah. Besok kami tunggu kedatangan Bunda dan Ayah. Salam sama Ayah iya Bun. Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam. Langsung istirahat iya nak. Bunda tau kamu pasti sangat lelah"


"Iya Bunda"


Setelah mengatakan itu panggilan telepon nya pun di putus. Dion kembali memeluk istri nya. Ia kembali mengelus perut sang istri. Tak lama Dion pun ikut memasuki alam mimpi nya dengan senyum yang mengembang.


Pagi hari nya di rumah Dayyan dan Breena terjadi kehebohan. Ketiga bayi mereka tak berada di dalam kamar mereka. Bahkan ketiga pengasuh nya juga tidak terlihat dimana pun.


Breena sudah menangis mencari dimana keberadaan ketiga anak nya. Sedang kan Dayyan berusaha menenang kan sang istri. Ia berpikir siapa yang membawa pergi ketiga anak nya.


"Mbak, dimana yang lain nya? Umma, Abah, Mama, Papa, Cintya dan kedua anak nya?" tanya Dayyan pada salah satu pekerja rumah nya.


"Kami tidak tau Gus. Maaf" ucap nya sambil menunduk.


Dayyan pun menelpon salah satu anak buah Daddy Steven dan meminta nya untuk mencari keberadaan kedua orang tua nya dan mertua nya, serta ketiga anak nya dan yang lain nya.


Tapi belum sempat telepon itu terputus, dua mobil masuk kedalam halaman rumah nya. Ia memperhatikan mobil tersebut yang ternyata adalah mobil orang tua nya dan mertua nya.


Umma Hanum dan Mama Ratih turun sambil menggendong Adga dan Andra. Sedang kan Deera di gendong oleh Abah Arsya.


"Kalian kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2