
Matahari telah terbenam menampilkan warna jingga yang sangat indah. Begitu juga lah yang terjadi dengan pasangan halal yang tiba tiba mengganggu sesi foto calon pengantin. Yang tak lain mantan kekasih si istri dan adik angkat sang suami.
Dengan dalih ngidam mau tak mau pasangan calon pengantin beserta anak si calon pengantin pria pun juga mengajak pasangan halal itu.
Tetapi bagi Brian itu bukan lah mengganggu melainkan sebuah keberuntungan. Iya keberuntungan untuk nya memeluk pinggang si calon pengantin wanita nya. Walau pun tidak di izin kan bersentuhan kulit. Tetapi itu sudah membuatnya bahagia.
Setelah mereka selesai berfoto, mereka pun kembali ke villa. Dan si fhotograper pun memperlihatkan hasil jepretan kamera nya ke pada calon pengantin.
Dan betapa bahagia nya Brian melihat begitu cantik dan bagus nya foto foto mereka. Apa lagi foto yang memeluk Ani.
"Mas, tolong foto yang ini di potong iya, terus dicetak ukuran besar. Karna mau saya letak kan didalam kamar saya" pinta Brian.
"Oke Mas siap. Jadi uda fiks ini kan Mas foto foto nya? Apa mau ditambah lagi besok?" tanya si fhotograper.
"Lihat besok deh Mas. Atau nanti saya tanya dulu sama calon istri saya"
"Oke Mas"
Setelah itu Brian pun menuju ke kamar nya. Didalam kamar ia melihat pemandangan yang tak pernah dilihat nya selama ada Quin.
Didalam kamar itu Ani sedang memakai kan pakaian Quin. Karena Quin yang meminta mandi lagi setelah selesai foto.
Dulu sewaktu ia masih bersama mantan istrinya. Mantan istri nya itu sekali pun tidak pernah mau memandikam dan memakaikan Quin baju.
Melihat perbedaan antara mantan istri nya dan Ani pun dapat membuat Brian melihat siapa yang tulus dan tidak. Dan ia sangat beruntung Quin dan dirinya mendapatkan pasangan dan ibu sambung yang memiliki hati yang lembut dan tulus.
"Daddy" panggil Quin saat melihat Daddy nya berdiri di pintu masuk.
"Anak Daddy sudah mandi, sudah cantik lagi" puji Brian sambil mencium pipi anak nya.
"Iya Dad dimandiin Bunda"
"Bilang apa sama Bunda sayang?"
"Terima kasih Bunda. Quin sayang Bunda" ucap Quin dan meminta gendong kepada Ani.
"Bunda juga sayang sama Quin" ucap Ani memeluk Quin yang sudah berada digendongan nya.
"Sama Daddy nya Quin sayang nggak Bun?" goda Brian membuat rona merah dipipi putih dan mulus Ani.
"Bunda sayang Quin dan Daddy" ucap Ani dengan malu malu.
"Daddy juga sayang kalian berdua" ucap Brian menahan diri nya agar tak memeluk dua wanita kesayangan nya itu.
Malam hari nya mereka semua berkumpul di luar Villa. Karena Breena meminta makan malam mereka dengan BBQ.
Semua orang menikmati acara malam itu. Tak terkecuali Ansel yang walau pun hati nya lagi sakit namun ia tetap menikmati acara itu. Dia tetap tersenyum dan memanfaatkan waktu nya disana untuk menghilangkan rasa sakit nya.
Namun berbeda dengan Windy, ia terlihat murung. Sebab Ansel yang selalu menghindar dan menjaga jarak dari nya. Ia masih berpikir mungkin Ansel belum mengetahui apa yang terjadi dirumah Ibu nya. Maka nya ia masih bersikap biasa saja.
Ia masih bertanya tanya ada apa dengan Ansel. Breena pun masih berusaha untuk menahan dirinya agar tak menegur Windy. Windy sahabat nya. Dan Ansel Kakak nya. Jelas dia akan membela Ansel apa pun yang terjadi. Karena disini memang Windy lah yang bersalah. Karena tidak mengatakan sejujur nya kepada Ansel dan Breena.
Entah dari mana asalnya. Tiba tiba Juan datang membawa gitar ditangan nya. Ia pun mulai memainkan gitar itu dan bernyanyi. Suara Juan yang merdu membuat suasana menjadi syahdu.
__ADS_1
"Abang" panggil Breena berteriak.
"Kenapa Princess? Manggil nya nggak teriak bisa kan?" tegur Juan menatap jengah princess mereka.
Breena hanya tersenyum dengan manis nya.
"Gue kok nggak enak iya lihat Lu senyum senyum gitu" ucap Juan lagi.
"Nyanyi dong Bang" pinta Breena manja.
"Kan Abang uda nyanyi dari tadi"
"Bukan lagu itu Bang" rajuk Breena.
"Terus lagu apa princess?" tanya Juan lembut.
"Emm lagu Korea iya"
"Nooo princess, Abang mu ini nggak ngerti lagu lagu gituan" tolak Juan.
"Iiisshh Abang nggak asik" rajuk Breena lalu ia pun menghampiri suami nya.
"Lahhh merajuk dia nya" ucap Juan terkekeh.
"Kenapa sayang?" tanya Dayyan sambil mengelus kepala Breena.
"Abang jahat nggak mau nyanyi logu Korea Mas" adu Breena.
"Kakak benar. Nanti Breena adukan sama Daddy Martin. Biar Abang dimarahin"
"Laahh bocil aduan" ledek Juan.
"Bocil tapi uda ada bocil di perut aku" ucap Breena bangga yang membuat semua orang geleng kepala.
"Iya uda Kak Ansel mau nyanyi lagu apa?" tanya Breena.
Ansel tak menjawab dia langsung memainkan gitar ditangan nya.
Ini cerita tentang hati yang terluka
Tentang rasa yang kecewa
Bertahan dalam dilema
Ingin bahagia
Tapi sakit ku terima
Kini lelah ku karena
Telah kulakukan segalanya
Pergi sulit bertahan sakit
__ADS_1
Kisah ini sungguh lah pahit
Sampai kapan aku terima
Diriku yang selalu terluka
Pergi sulit bertahan sakit
Dunia ini terasa sempit
Ingin pergi tapi tak bisa
Karena diriku masih mencinta
Lagu Reza Pahlevi - Pergi Sulit Bertahan Sakit
Suara merdu Ansel membuat beberapa orang disana terdiam. Terutama Windy. Ia seperti tersindir dengan lagu yang dibawa kan Ansel. Namun ia masih berpikir positif.
Lalu Ansel melanjutkan nyanyi lagu Geisha - Lumpukanlah Ingatanku.
Dan itu semakin membuat Windy menundukkan kepalanya. Tanpa terasa ia meneteskan air matanya.
Breena yang melihat kearah Windy hanya tersenyum sinis. Ia tak menyangka sahabatnya tega melukai hati Kakak nya.
Selesai menyanyikan dua lagu, Ansel menyerahkam gitar nya kembali kepada Juan.
"Elah Bro lagu Lu galau semua. Kenapa Lu?" tanya Juan penasaran yang hanya dibalas senyuman kecut Ansel.
"Galau Bro? Patah hati?" ejek Juan lagi.
"Maybe" jawab Ansel singkat. Lalu ia pun kembali duduk disamping sang Adik. Dan membawa adik nya kedalam pelukan nya.
Apa yang dilakukan Ansel membuat para lelaki bersorak.
"Lu salah orang Bro. Itu bini nya orang yang Lu peluk" ejek Juan lagi.
"Masa bodoh. Mau bini orang. Mau tunangan orang. Yang penting dia wanita kesayangan Gue setelah Mommy Gue dan Mama Ratih. Bukan wanita milik orang lain" sindir Ansel.
Entah kenapa ia malam ini ingin menyindir Windy. Entah karena ia terlalu kecewa atau terlalu sakit memikirkan pengkhianatan dan ketidak jujuran nya Windy.
Windy pun sadar, kalau Ansel memang sedang menyindir nya.
"Sakit Dek. Kenapa dia tega sakitin Kakak Dek? Apa salah Kakak? Kalau memang dia uda nggak cinta lagi kenapa harus seperti ini Dek? Dan kenapa dia nggak ada ngasih penjelasan sama Kakak?" bisik Ansel lirih dengan bahu yang begetar.
Breena tau Kakak nya itu sedang menangis. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya aja. Sedangkan Dayyan menepuk bahu nya.
Semua orang yang menyaksikan itu hanya bisa diam. Menatap penuh tanda tanya ada apa dengan Ansel. Kenapa dia harus menangis sampai seperti itu. Tatapan mereka pun beralih kearah Windy yang hanya bisa menundukkan kepala nya.
Iya Windy sekarang sudah mulai sadar kenapa Ansel berubah akhir akhir ini. Uda bisa ditebak nya kalau Ansel sudah tau tentang pertunangan nya waktu itu. Mau menjelaskan nya pun dia bingung harus memulai dari mana.
"Kakak yang sabar. Mungkin ini yang lebih baik untuk hubungan Kakak sama dia. Kalau memang Kakak mau ke tempat Grandma, Adek nggak bisa larang. Karena Adek tau Kakak pasti butuh tempat untuk menenangkan hati Kakak. Pergi lah Kak. Dan kembali lah ketika hati Kakak sudah menemukan tambatan hati yang baru" ucap Breena lirih.
Berat bagi nya mengizinkan Ansel pergi meninggalkan nya. Namun demi memperbaiki hati Ansel yang terluka. Ia harus ikhlas
__ADS_1