Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Cintya Tiba di Pondok Pesantren


__ADS_3

Di bandar udara Internasional Husein Sastranegara, seorang wanita cantik yang hanya menggunakan baju sederhana nya. Wanita itu sedang berjalan dengan tangan kanan yang mendorong troli berisi tiga koper, tangin kiri memegang tangan anak bungsu nya. Dan anak sulung nya yang memegang baju wanita itu.


Dengan senyum mengembang yang tak pernah pudar di wajah cantik nya. Wanita itu terlihat sangat bahagia kembali ke tanah air nya. Tempat yang menyimpan banyak cerita suka duka nya dulu.


Wanita itu adalah Cintya beserta dua anak gadis kecil nya. Cintya membawa kedua anak nya mencari taksi, yang bisa mengantar kan nya ke pesantren milik Kyai Arsya.


"Umi, apa kita langsung menuju ke rumah nya Abah Pondok?" tanya si sulung.


"Iya sayang. Sesuai dengan yang di bilang sama Om ganteng. Kalau kita harus ke rumah Abah Pondok ketika kita sudah tiba di Indonesia" jawab Cintya lembut.


"Horee hoorree ketemu Abah Pondok sama Umma pondok lagi" teriak kedua anak nya yang begitu gembira karena mereka akan kembali ke pondok pesantren itu.


Begitu mendapat kan taksi, Cintya segera menaik kan ke dua anak nya ke dalam mobil, tak lupa ia juga meminta bantuan kepada sang supir untuk membantu nya menaik kan koper koper nya ke dalam bagasi. Setelah itu baru Cintya naik.


"Pak, kita ke pondok pesantren Al-Hidayah iya Pak" ucap Cintya lembut tak lupa dengan senyum manis nya juga.


"Baik Nona"


Setelah mengatakan itu, sang supir pun langsung melajukan mobil nya menuju ke pondok pesantren Al-Hidayah milik Kyai Arsya.


Hampir tiga jam perjalanan yang di tempuh oleh nya untuk dapat sampai di pondok pesantren itu. Selama di perjalanan kedua anak Cintya pun tertidur di pangkuan nya.


Cintya sendiri lebih memilih membaca musraf nya. Sambil sesekali membenahi kepala anak nya yang tergeser.


Tak terasa tempat yang di tuju Cintya pun sudah ada di depan mata nya. Pondok pesantren tempat nya dulu menimba ilmu. Tempat nya dulu bertemu dengan Rendra dan juga tempat nya dulu menikah dengan Rendra dan hidup selama setahun di lingkungan pondok sebelum suami nya dulu di tugas kan mengurus perusahaan yang ada di Jepang.


Cintya memperhatikan setiap sudut pondok pesantren itu. Seketika dada nya begitu sesak. Bayang bayang ia bersama suami nya dulu pun berseliweran di ingatan nya.


Cintya membuang nafas nya kasar. Ia memantap kan hati untuk masuk kedalam pondok pesantren dan menuju ke rumah Abah Arsya.


"Assalamualaikum" ucap Cintya ketiga mereka sudah berada di dekat pintu masuk rumah tersebut.


"Wa'alaikum salam" jawab Kang Amin.


Kang Amin mengamati siapa wanita beserta kedua anak yang berada di hadapan nya ini. Sementara Cintya tersenyum melihat Kang Amin yang seperti tidak mengenali nya.


"Assalamualaikum Kang Amin. Sehat?" ucap Cintya lagi.


Kang Amin pun tersadar mendengar suara khas nya Cintya.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Astafirullah Cintya?" kejut Kang Amin.


"Iya Kang. Ini Cintya" ucap Cintya dengan senyum manis nya.


"Ayo masuk Cintya. Kenapa mau kesini nggak ngabarin dulu" ajak Kang Amin masuk.


"Dadakan Kang. Oiya Kang, Abah sama Umma ada?"


"Sayang sekali, Abah sama Umma lagi di Jakarta. Mungkin beberapa hari lagi pulang" jawab Kang Amin


"Ke Jakarta? Ngapain?"


"Itu lihat cucu sekalian lihat Mbak Ani melahirkan. Kamu masih ingat kan sama Mbak Ani? Salah satu Mbak Ndalem di sini"


"Ingat Kang yang orang nya kecil kecil itu kan?"


"Iya. Mbak Ani tiga hari yang lalu melahir kan. Jadi Abah sama Umma memutus kan ke Jakarta, sekalian mau lihat ketiga anak nya Guse" ucap Kang Amin ramah.


"Kira kira kapan kembali nya iya Kang?" tanya Cintya yang mulai gelisah.


Bagaimana ia tak gelisah, ia tak tau harus kemana lagi sekarang. Dia memang memiliki rumah di Bandung, rumah nya dulu bersama suami nya. Tapi sekarang ia sudah bercerai dengan sang suami. Tak mungkin dia kembali ke rumah itu. Satu satu nya tempat yang bisa dia mintai tolong memang di pondok pesantren ini, sesuai perintah Gus Dayyan ketika ia masih di Jepang kemarin.


Cintya menunduk. Ia tak mungkin menceritakan masalah rumah tangga nya dengan Kang Amin yang bukan siapa siapa nya.


"Kalau memang sangat penting. Kamu bisa hubungi Umma dulu Cintya"


"Tapi aku tak punya nomor nya Umma lagi Kang. Karena ponsel ku sempat rusak waktu di Jepang. Ketika di perbaiki semua data yang ada di ponsel ku hilang semua"


"Sebentar, biar tak telepon Abah dulu"


Setelah mengatakan itu Kang Amin pun pergi mengambil ponsel nya yang ada di kamar asrama nya.


"Umi, dimana Abah Pondok?" tanya putri pertama nya Cintya.


"Abah pondok lagi di Jakarta sayang. Lihat cucu nya"


"Yaaaaa berarti nggak bisa jumpa Abah dong Mi" ucap putri nya lesu.


"Kita tunggu nanti iya. Kita hubungi dulu Abah" bujuk Cintya yang di tanggapi anggukan lesu dari putri pertama nya.

__ADS_1


Tak lama Kang Amin pun datang tergopoh gopoh membawa ponsel nya. Ia langsung menghubungi Abah Arsya.


"Assalamualaikum Kang Amin. Ada apa?" tanya Abah Arsya ketika menjawab panggilan Kang Amin.


"Wa'alaikum salam Abah. Maaf Abah kalau saya mengganggu. Di ndalem ada Cintya Abah, istri nya Rendra bersama kedua anak nya. Dia datang mencari Abah dan Umma."


"Terus masalah nya apa Kang Amin?"


"Dia nanyak kapan Abah dan Umma pulang"


"Kemungkinan kami akan lama disini Kang. Mungkin dua minggu lagi kami akan kembali ke Bandung"


"Sebentar Abah, biar saya sampai kan dulu. Seperti nya ada hal penting yang ingin di sampai kan oleh Cintya ke Abah dan Umma"


Setelah mendapat kan izin, Kang Amin pun menatap ke arah Cintya yang masih gelisah.


"Cin, Abah dan Umma kemungkinan dua minggu lagi baru kembali. Bagaimana?" tanya Kang Amin.


"Boleh Cintya bicara sama Umma Kang?"


"Maaf Abah, Cintya bilang boleh berbicara dengan Umma sebentar?" tanya Kang Amin yang masih terhubung dengan Abah Arsya.


"Sebentar iya Kang. Saya kasih kan dulu sama istri saya ponsel nya"


"Iya Bah"


Kang Amin pun langsung memberikan ponsel nya kepada Cintya. Lalu dia meninggal kan Cintya dan kedua anak nya di ruang tamu.


"Hallo Assalamualaikum Cintya" sapa Umma Hanum dengan suara lembut nya.


Cintya yang mendengar suara lembut itu pun langsung menetes kan air mata nya.


"Wa'alaikum salam, Umma." ucap Cintya dengan suara bergetar nya.


"Lohh ada apa Cintya? Kenapa suara kamu seperti itu?" tanya Umma Hanum panik.


"Umma, Cintya ada di pondok. Gus Dayyan meminta Cintya datang ke pondok. Tapi kata Kang Amin, Umma dan Abah lagi pergi ke Jakarta. Umma apa boleh Cintya bertemu dengan Umma?"


"Boleh kamu besok ke Jakarta aja. Besok minta antar kan sama Kang Amin ke rumah Dayyan di Jakarta. Kamu sekarang istirahat aja dulu. Umma tunggu besok di rumah Dayyan iya nak iya" ucap Umma Hanum lembut.

__ADS_1


"Terima kasih Umma. Terima kasih"


__ADS_2