
"Kalian ngapain ngambil uang sebanyak itu? Untuk apa?" tanya Dayyan tak percaya.
"Iya untuk liburan kita lah. Nggak mungkin kan kita datang ke rumah Umma nggak bawa uang. Mana mau kita makan gratis. Malu lah. CEO kok makan nya gratis" ucap Brian datar.
"Astafirullah. Umma pun juga nggak mungkin bilang sama kalian kalau kalian harus bayar uang makan. Bahkan Abah dan Umma dengan senang hati menjamu kalian semua. Umma juga nggak mengharap kan uang kalian. Bagi Umma itu yang penting anak anak nya kumpul" jelas Dayyan yang tak percaya dengan sahabat rasa saudara nya itu.
"Ya Allah kenapa Engkau kasih aku sahabat bahkan Kakak ipar yang tingkah nya absuard seperti mereka. Pantas lah lama nggak siap siap." keluh Dayyan.
"Iya kan kita juga nggak mungkin kan makan tidur di rumah Umma Mas. Malu dong Mas. Apa lagi kita banyak. Kasihan juga mbak khadamah yang nyiapin makan untuk kita semua. Belum lagi Bang Juan kata nya mau bawa sepupu nya Mbak Selvi. Jangan marah iya Mas." ucap Ani menjelas kan kenapa mereka mengambil uang segitu banyak.
"Tapi gimana cara nya kalian mencair kan uang segitu banyak?"
"Hehehehhe kan ada kertas sakti" ucap Ansel dan yang lain nya sambil menunjuk kan cek yang di bawa mereka.
Hhuuuffftttt
Dayyan hanya bisa menghela nafas nya melihat tingkah keempat pria yang ada di hadapan nya itu.
Tak lama berselang salah satu karyawan Arkam datang dan membisik kan sesuatu kepada Arkam. Arkam pun mengangguk kan kepala nya. Kemudian karyawan tersebut pergi meninggal kan mereka semua.
"Oke ayo ikut gue, uang nya uda bisa di ambil." ajak Arkam.
Para pria CEO itu pun beranjak dan berjalan mengikuti Arkam dari belakang.
Begitu mereka sampai di meja karyawan Arkam. Disana sudah terlihat empat buah koper yang berisi uang uang mereka.
"Oke ini uang kalian semua ada di dalam koper koper ini. Silah kan di cek terlebih dahulu" ucap Arkam sambil menyerah kan koper koper itu kepada Ansel dan yang lain nya.
Mereka pun hanya membuka koper tersebut. Kemudian menghitung tumpukan tumpukan uang mereka. Setelah selesai mereka menutup kembali koper tersebut dan tak lupa memasuk kan password di koper mereka masing masing.
Brian kemudian mengambil ponsel nya. Dan menghubungi salah satu bodyguard nya.
"Hallo Tuan"
"Pak tolong empat orang naik ke atas iya. Saya tunggu sekarang juga" ucap Brian. Setelah mengatakan itu Brian langsung menutup panggilan nya.
"Dia telepon siapa?" tanya Arkam berbisik.
"Bodyguard. Kau tau dia itu keturunan Anderson. Jadi kemana mana bawa bodyguard. Apa lagi istri nya baru saja melahir kan bayi laki laki empat puluh hari yang lalu. Cucu pertama laki laki keluarga Anderson. Jadi penjagaan nya pasti ketat" jelas Ansel berbisik juga.
__ADS_1
"Waaahhh ternyata jadi orang kaya enak juga iya. Bisa di jaga sama bodyguard" ucap Arkm bangga.
"Macam kau bukan orang kaya aja" sindir Ansel yang hanya memdapati cengiran khas nya Arkam.
Tak lama empat bodyguard yang di minta Brian pun datang juga.
"Pak tolong masuk kan koper koper ini ke bagasi mobil kami iya." perintah Brian.
"Baik Tuan" jawab ke empat nya serempak.
Mereka pun akhir nya membawa koper koper tersebut. Sepanjang jalan mereka keluar Bank menuju parkiran, semua nasabah memperhatikan mereka.
"Kira kira mereka membawa apa iya?"
"Entah lah. Tapi itu seperti nya uang deh"
"Tapi uang kok banyak banget iya"
Teller Bank yang merupakan istri dari Arkam pun tersenyum mendengar bisik bisik nasabah nya.
"Mbak itu apa iya isi nya?" tanya teman nya sesama teller.
"Uang" jawab Alya singkat.
"Kamu tau siapa yang di jumpai Pak Arkam tadi di lantai ini?" tanya Alya yang langsung mendapat gelengan kepala.
"Mereka para CEO pengusaha muda. Mereka orang orang kaya. Salah satu dari mereka itu sahabat nya Pak Arkam." jelas Alya.
"Ooohhhh jadi mbak, seberapa banyak uang dalam satu koper itu iya?" tanya teman nya penasaran.
"5 M" ucap Alya singkat.
"Mbak yakin?"
Alya pun langsung mengangguk kan kepala nya.
Teman Alya sesama teller itu pun melotot tak percaya. Untuk apa uang sebanyak itu untuk mereka.
"Uda nggak usah di pikirin. Kita lanjut kerja aja yuk. Bentar lagi juga uda mau jam makan siang. Nasabah kita masih banyak hari ini"
__ADS_1
Akhir nya teman Alya pun kembali melayani nasabah nasabah mereka.
Ansel dan yang lain nya pun pamit kepada Arkam dan yang lain nya. Karena mereka akan melanjut kan perjalanan mereka.
"Kam, gue pamit iya. Kita semua mau melanjut kan perjalanan lagi. Takut nya nanti kesorean kali sampai sana nya." pamit Ansel sambil menepuk bahu sahabat nya itu.
"Iya kalian hati hati iya. Makasih sudah merampok Bank gue. Akhir nya kami jadi miskin juga" canda Arkam yang mendapat kekehan dari karyawan nya.
"Nggak akan miskin. Besok juga uang Lo uda kembali" ucap Ansel ketus.
"Iya uda kalau gitu kita semua pamit iya"
"Oiya Pak Arkam. Jangan lupa es dawet nya nanti di bagi bagi kan sama nasabah dan karyawan Bapak. Kalau masih lebih, bagi kan saja sama orang lain pengguna jalan." ucap Dayyan
"Iya Pak. Nanti sekalian sama nasi kotak nya juga. Karena kan sebentar lagi uda jam makan siang" ucap Angga yang membuat Arkam terkejut.
"Nasi kotak?"
"Iya Pak Arkam. Saya sudah memesan nasi kotk untuk karyawan Bapak disini yang sudah mau membantu kami memcair kan uang kami yang Bapak bilang merampok Bapak itu" canda Angga dengan kekehan nya.
"Alhamdulillah. Terima kasih Pak Angga. Semoga lancar rezeki nya" ucap Arkam yang sangat sangat berterima kasih karena nasabah dadakan nya ini sudah berbaik hati membeli kan nya nasi kotak untuk karyawan nya semua.
Setelah mengatakan itu, Ansel dan yang lain nya pun berjalan keluar dari Bank milik Arkam. Sepanjang jalan lagi lagi mereka menjadi pusat perhatian. Apa lagi ketiga anak Breena yang memang mencuri perhatian semua orang.
Ansel dan yang lain nya pun menuju ke mobil mereka masing masing. Sedang kan Dayyan berjalan menuju ke penjual es dawet.
"Pak maaf baru di bayar sekarang. Jadi berapa total semua nya Pak?" ucap Dayyan tak enak hati.
"Tidak apa apa Pak. Semua ada 150 bungkus Pak, satu bungkus nya Rp. 5.000. Jadi semua nya Rp. 750.000 Pak" ucap penjual es dawet itu.
Dayyan pun langsung mengeluar kan dompet nya dan mengambil uang sebanyak sepuluh lembar.
"Ini iya Pak. Terima kasih karena sudah menjual es dawet nya untuk saya" ucap Dayyan sambil menyerah kan sepuluh lembar uang berwarna merah.
"Ini lebih Pak uang nya" ucap penjual es tersebut.
"Nggak papa Pak. Untuk Bapak aja. Rezeki Bapak hari ini" ucap Dayyan menolak kembalian uang nya.
"Alhamdulillah. Terima kasih Pak. Terima kasih. Akhir nya anak saya bisa bayar uang sekolah juga"
__ADS_1
Dayyan pun kembali mengeluar kan dompet nya. Lalu menyerah kan sepuluh lembar uang berwarna merah nya lagi.
"Ini Pak. Tambahan untuk bayar uang sekolah anak Bapak. Segera di bayar kan Pak. Biar anak bapak bisa bersekolah lagi"