
Hari ini Ani akan berangkat ke Jakarta diantar oleh Kang Ali dan Mbak Dina, sesuai dengan permintaan Dayyan tadi malam lewat sambungan telepon.
Dayyan mengabarkan kalau lusa mereka akan melakukan foto prewed di pulau pribadi Breena di dekat Kepulauan Derawan, Berau.
Niat hati pergi hanya bersama dengan Dion dan Anggi saja. Namun ntah datang dari mana Brian tiba tiba datang ke kantor Dayyan dan protes kepada Dayyan.
Flash Back
Tok tok tok
"Masuk" ucap Dayyan mempersilahkan tamu nya masuk.
Ceklek
Pintu pun terbuka, Brian berdiri didepan pintu dan menatap tak suka kepada Dayyan yang masih sibuk dengan berkas nya.
"Selamat pagi Pak Dayyan Pratama CEO Pratama.Corp. Kedatangan saya kesini ingin protes kepada Anda. Kenapa Anda menganak tiri kan Saya dan Ani. Kenapa Anda hanya mengajak Dion dan Anggi untuk foto prewed di pulau pribadi yang saya berikan untuk baby twins Anda. Sungguh Anda sangat tidak adil kepada kami berdua Bapak Dayyan" protes Brian memandang sinis kearah Dayyan.
Dayyan yang mendengar semua yang di ucapkan oleh Brian pun langsung menoleh kearah pintu ruangan nya.
"Oohh silah kan masuk Bapak Brian Anderson. Kenapa Anda protes tidak saya ajak untuk melakukan foto prewed di pulau hadiah dari Anda? Apakah Bapak Brian sudah bangkrut karena membeli 2 pulau pribadi sekaligus. Maka nya Anda jadi protes sekarang?" ucap Dayyan melanggati ucapan Brian tadi. Namun ada seulas senyum tipis di ujung bibir nya.
"Ooohh Tuhan Breena sungguh suami mu sangat menyebalkan. Bapak Dayyan yang terhormat, saya juga mau foto prewed disana" rengek Brian.
Ia tak mempedulikan lagi beberapa karyawan Dayyan yang menatap nya dari balik meja mereka. Yang penting dia juga ikut ke pulau itu.
"Baik lah karena saya lagi berbahagia karena istri saya hamil anak kembar, jadi kamu juga boleh ikut. Dengan catatan kamu juga harus membawa Quin. Kalian tidak boleh hanya berduaan saja nanti selama disana. Paham?" tanya Dayyan dengan tegas.
Senyum sumringah diperlihatkan oleh Brian. Ia pun dengan cepat berjalan dan duduk di kursi sebrang meja kerja Dayyan.
"Baiklah kapan kita berangkat nya?" tanya Brian antusias.
"Lusa. Jadi nanti malam aku akan menelpon Ani dan menyuruhnya datang ke Jakarta" ucap Dayyan santai.
"Oke kalau gitu Gue balik dulu. Mau nyiapin baju yang akan dibawa. Assalamualaikum" ucap Brian lalu ia melenggang keluar dari ruangan Dayyan tanpa menunggu jawaban dari Dayyan.
"Wa'alaikum salam. Dasar bucin" ucap Dayyan sambil menggelengkan kepala nya.
Flash Back Off
__ADS_1
Hampir 3 jam menempuh jalanan dari Bandung ke Jakarta, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Kang Ali pun sampai di rumah Gus mereka.
Breena pun segera keluar ketika mendengar suara klakson mobil.
"Mbak Ani" panggil Breena antusias.
Ia hanya diam di teras rumah nya. Ia tak mau lagi berlari. Karena teguran Anggi waktu ia berlari ke ruangan Dion, akhirnya ia pun mendapatkan teguran juga dari suaminya.
"Assalamualaikum Ning" ucap Ani dan Mbak Dina berbarengan.
"Wa'alaikum salam. Apa kabar Mbak?" tanya Breena sambil memeluk Ani.
"Alhamdulillah sehat Ning. Waahh dedek apa kabar sayang? Kangen nggak sama Bunda?" tanya Ani sambil mengelus perut Breena yang mulai sedikit membuncit itu.
"Kangen Bunda. Maka nya bunda disini aja iya sama dedek sama Umi" ucap Breena menirukan suara anak kecil.
"Iya nnati iya kalau Bunda uda nikah sama Daddy, pasti Bunda akan sering sering kesini"
Breena pun mengajak Ani dan Mbak Dina masuk ke dalam. Ia pun menunjukkan dimana kamar yang akan mereka tempati. Sedangkan Kang Ali akan menempati paviliun di belakang rumah, tempat khusus pekerja laki laki tidur.
Kamar yang di tempati Ani dan Mbak Dina pun berbeda. Mbak Dina dikamar tamu bawah sedangkan Ani dikamar atas didepan kamar utama.
"Mbak nanti jam berapa ke butik nya?"
"Sekitar jam 2 siang Ning. Kenapa? Ning mau ikut?" tanya Ani sambil mengelus perut Breena.
"Boleh?" tanya Breena semangat.
"Boleh dong tapi izin dulu sama Mas Dayyan iya. Mbak nggak mau Mas Dayyan nanti khawatir" ucap Ani lembut.
"Iya Mbak. Bentar iya Breena telepon Mas Dayyan dulu"
Breena pun menelpon suami nya. Dan alhamdulillah suami nya mengizinkan. Jadi nanti Breena akan ikut ke butik bersama dengan Ani.
Tepat pukul 13:00 siang, Breena dan Ani bersama Mbak Dina dan Kang Ali berangkat ke butik yang sudah sangat terkenal dikalangan pengusaha.
Kalau ada yang bertanya kenapa Brian tidak menjemput Ani? Jawaban nya adalah, karena Dayyan melarang Brian untuk pergi berduaan dengan Ani. Jadi demi tidak menimbulkan fitnah, Ani akan berangkat dari rumah nya bersama orang dari pesantren juga. Sedang kan Brian langsung berangkat dari kantor.
Menempuh perjalanan selama 50 menit. Akhirnya mobil yang di kendarai oleh Kang Ali pun sampai di butik itu. Terlihat di parkiran sudah terdapat mobil Brian dan Dion disana.
__ADS_1
Iya hari ini mereka sepakat akan feeting baju untuk acara akad nikah dan resepsi berbarengan. Karena mengingat besok mereka akan pergi untuk melakukan foto prewed.
Breena dengan semangat menggandeng tangan Ani masuk ke dalam butik. Dan di ikuti oleh Mbak Dina dari belakang. Sedangkan Kang Ali hanya menunggu di dalam mobil.
"Mbak Anggi" panggil Breena saat melihat Anggi yang sedang memilih beberapa dress.
"Adek uda datang? Ddduuhhh ponakan Onty juga ikut iya" ucap Anggi sambil mengelus perut Breena.
Iya salah satu kesukaan Breena sekarang adalah, perut nya di elus sama orang terdekat nya. Dan Dayyan pun membiarkan nya saja. Bukan tak pernah melarang. Namun ketika dilarang yang ada Breena malah menangis sejadi jadinya. Lucu sekali memang bumil satu ini.
"Iya Onty. Dedek ikut sama Umi dan Bunda. Mau minta di beliin baju juga sama Daddy Brian" ucap Breena santai.
Brian yang baru datang pun mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Breena.
"Permisi Nyonya Aurellia Abreena. Apakah Anda bisa mengulang kembali kata kata Anda tadi?" ucap Brian berbicara secara formal.
"Oohh ada Tuan Brian Anderson. Dedek ikut sama Umi dan Bunda, mau minta dibeliin baju juga sama Daddy Brian. Apakah Tuan keberatan?" tanya Breena seformal mungkin.
"Oohhh astaga, Apakah Bapak Dayyan sudah bangkrut Ibu negara. Sampai sampai Anda minta saya beliin Anda baju juga? Bu, kami kesini itu untuk feeting baju bukan mau berbelanja" protes Brian kesal.
Kemarin ia dibuat kesal oleh Dayyan dan hari ini ia di buat kesal oleh Breena. Bener bener pasangan yang sangat serasi.
"Sembarangan kalau ngomong. Abi nggak bangkrut iya kan Dek. Memang Dedek aja yang mau minta beliin ke Daddy iya kan. Kalau Daddy nggak mau beliin berarti besok Daddy nggak usah ikut aja iya Dek ke pulau yang dibeliin Daddy untuk Dedek" ucap Breena sambil mengelus perut nya.
"Huufftt bener bener kalian sangat cocok. Suami istri suka nya buat orang kesal. Baik lah untuk anak anak Daddy. Kalian boleh beli baju yang mana Umi kalian mau" ucap Brian final.
"Terima kasih Daddy. Dedek pilih pilih baju dulu. Daddy sama Bunda lanjut aja feeting nya" ucap Breena tanpa rasa bersalah.
"Ayo Mbak Dina temani saya pilih pilih baju" ajak Breena yang langsung menarik tangan Mbak Dina.
"Dduuhhh gemesin banget sih. Untung istri Bos. Kalau nggak uda aku cubit itu pipi nya" ucap Anggi yang gemas dengan tingkah Breena.
"Sabar Mbak Anggi. Maklum ibu hamil jadi banyak mau nya, karena hormon nya selalu berubah ubah" ucap Ani.
"Iya uda ayo kita mulai feeting nya. Ini feeting yang terkahir kan. Besok kita uda terbang ke Kalimantan Timur untuk foto prewed. Jadi nggak mungkin ada waktu lagi kalau mau feeting lagi" ucap Dion.
Anggi bersama Ani pun menuju keruangan ganti khusus wanita, sedangkan Brian dan Dion menunggu di sofa yang ada di butik itu. Mereka tidak hanya duduk diam menunggu saja. Tetapi mereka juga mengawasi Breena dari jauh. Bahkan bukan hanya Breena. Ani pun tak luput dari pengawasan mereka. Sebab Ani masih belum bisa leluasa berada diluar area pesantren.
......................
__ADS_1
Sementara itu disebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Seorang pria paruh baya sedang meratapi nasib nya. Ia sangat menyesali perbuatan nya 26 tahun yang lalu. Ia sangat ingin meminta maaf kepada keluarga Danuarta. Ketika mendengar kabar pernikahan putri dari keluarga Danuarta itu, dia pun menangis sejadi jadi nya. Ia pun bertekat ingin meminta maaf secara langsung kepada keluarga Danuarta.