Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Cita Cita Quin


__ADS_3

Ketika pintu masuk Bank di buka oleh salah satu bodyguard Brian, semua mata memandang ke arah pintu tersebut.


Masuk lah Brian dan Ani, Ansel dan Windy, Angga dan Nova, serta Tunangan Anita dan Anita. Mereka masuk saling bergandengan.


Semua mata para nasabah pun melotot tak percaya menatap maha karya Tuhan di hadapan mereka saat ini.


Wajah tampan dan Cantik yang mempesona setiap insan pun terpampang jelas di hadapam mereka.


Ansel maju menuju ke custemur service yang duduk dekat dengan pintu masuk.


"Permisi Mbak, apa kepala cabang nya ada?' tanya Ansel sopan.


"Iya Pak ada. Ada yang bisa di bantu Pak?" tanya sang custemer service itu.


"Bisa tolong panggil kan beliau Mbak. Maaf kalau sebelum nya kami belum buat janji. Tapi ini urgent Mbak" pinta Ansel.


"Sebentar iya Pak, saya hubungi terlebih dahulu"


Setelah mengatakan itu custemer service itu pun menghubungi kepala cabang Bank tersebut.


"Maaf Pak telah membuat Anda menunggu. Beliau akan turun ke bawah. Jadi Bapak dan yang lain nya bisa menunggu nya terlebih dahulu di sofa yang tersedia" ucap sang custemer service itu.


"Terima kasih iya Mbak"


Ansel pun kemudian mengajak yang lain nya untuk duduk sembari menunggu si kepala cabang datang.


Sementara itu Syeril sendiri memilih kengambil uang di ATM saja. Dia hanya mengambil uang tabungan nya sedikit saja. Karena memang dia tak memiliki cukup banyak uang.


Setelah mengambil uang nya di ATM, Syeril memutus kan untuk menunggu di mobil bersama dengan Quin dan para pengasuh anak anak Briam serta pelayan nya.


"Onty, apa Onty teman nya Umi Breena?" ranya Quin penasaran.


"Iya Quin. Onty teman KOAS nya Umi Breena di rumah sakit" ucap Syeril lembut.


"Berarti Onty bisa ngobatin orang sakit juga dong" tanya Quin yang semakin antusias.


"Alhamdulillah bisa sayang. Kenapa?"


"Nanti kalau Quin uda besar, Quin juga mau kaya Onty, Umi Breena,Kakek Doni, Nenek Ratih sama Daddy Ibra juga. Quin mau jadi dokter juga nanti nya" ucap Quin semangat.

__ADS_1


"Kenapa Quin nggak mau jadi pengusaha aja, biar bisa gantiin Daddy Quin di perusahaan nanti nya?" tanya Syeril memancing Quin untuk mengungkap kan semua cita cita nya.


"Nggak mau Onty. Jadi pengusaha itu sibuk. Kerjaan nya banyak. Quin mau jadi dokter aja. Biar bisa ngobati orang orang yang sakit sama bantuin Daddy Ibra di rumah sakit juga"


"Daddy Ibra itu siapa nya Quin?" tanya Syeril penasaran.


"Daddy Ibra itu kakak nya Daddy Onty. Dia juga seorang dokter di rumah sakit milik Opa."


"Oohhh. Kalau memang Qui. Mau jadi dokter. Berarti Quin yang belajar yang rajin juga pintar. Biar bisa mengobati orang orang yang sakit." pesan Syeril.


"Siap Onty"


...----------------...


Ansel dan yang lain nya pun menunggu sampai sekitar 10 menit. Akhir nya kepala cabang Bank tersebut pun datang juga.


Kepala cabang yang tak lain bernama Arkam itu pun langsung mendatangi Custemer service nya untuk menanyakan tamu yang mencari nya tadi.


"Li, dimana tamu nya?" tanya Arkam yang tak melihat kesekeliling nya.


"Disana Pak. saya meminta mereka untuk menunggu Anda di sofa Pak"


Arkam pun langsung mendatangi Ansel dan yang lain nya. Dia masih belum melihat keberadaan Ansel. Karena Ansel memang sedang memunggungi nya.


"Selamat siang Tuan Nona, ada yang bisa saya bantu?" tanya Arkam ramah.


Ansel pun langsung membalik kan tubuh nya, lalu menatap kearah sahabat lama nya itu.


"Hay Bro" sapa Ansel yang membuat Arkam terkejut.


Arkam tak percaya kalau saat ini Ansel ada di hadapan nya. Bukan nya dia sedang berada di Belanda. Tapi kenapa saat ini berada di Indonesia.


"Ansel? Lo beneran ada di Indo? Sejak kapan? Bukan nya Lo ada di Belanda?" tanya Arkam beruntun sambil memeluk Ansel.


"Lo kebiasaan kalau nanyak nggak pernah bisa satu pertanyaan. Bosen Gue jawab nya. Inti nya uda 3 bulanan lah gue balik ke Indo" balas Ansel malas.


"Kenapa nggak ngabarin gue" protes Arkam.


"Emang Lo siapa yang harus gue kasih kabar? Lo bukan pacar gue, apa lagi bini gue. Nih kenalin ini baru bini gue. Cantik kan" ucap Ansel bangga mengenal kan Windy pada sahabat nya itu.

__ADS_1


Arkam melongo melihat kecantikan Windy. Ia tak percaya teman nya yang dingin itu bisa menikahi wanita secantik Windy.


Ansel yang gemes dengan Arkam pun langsung meraup wajah Arkam biar dia sadar.


"Biasa aja lihat nya" omel Ansel.


Hehehehe


"Arkam sahabat nya Ansel semasa masih bayi sampai sekarang" ucap Arkam sambil mengulur kan tangan nya.


"Windy" balas nya sambil membalas jabatan tangan Arkam.


Arkam pun yang merasa kan lembut dan halus nya tangan Windy sampai lupa melepas kan jabatan tangan nya.


"Lepas. Jangan lama lama ntar yang ada lo naksir lagi sama bini gue. Gue aja dapat kan nya penuh perjuangan kok"


"Yeeee aneh Lo. Terus lo kesini mau ngapain? Nggak mungkin kan seorang Ansel Ivander Bagaskara. pewaris tunggal Bagaskara Grup nyamperin gue kesini karena rindu sama Gue" ucap Arkam percaya diri.


Brian dan yang lain nya yang mendengar ucapan super PEDE dari Arkam pun menahan tawa mereka. Merek tak percaya kalau Ansel mempunyai sahabat seperti ini.


"PEDE banget lo. Gue kesini mau narik duit. Bank lo ada sediain duit banyak nggak?" tanya Ansel ketus.


Ansel tak menyangka kalau sahabat nya ini berubah jadi semakin super percaya diri seperti ini.


"Ada deh kaya nya. Emang lo mau narik uang berapa?"


"Gue mau ngerampok uang di Bank Lo. Jadi siap siap aja kalau uang kas di Bank lo ini ludes sama kita semua." ancam Ansel dengan senyum menyeringai nya.


"Waaahhh gila Lo. Masa lo mau ngerampok di Bank gue. Bangkrut yang ada gue nya. Bisa bisa gue di pecat ini sama atasan gue" omel Arkam yang tak terima kalau uang di Bank nya ludes di tarik semua.


"Lo perhatiin wajah wajah para pria itu. Lo perhatiin satu satu" ucap Ansel menarik Arkam menatap ke para CEO itu.


Arkam pun melakukan nya. Ia semakin tak percaya siapa yang di lihat nya.


"Lo kenal sama salah satu di antara mereka?"


"Iya. Dia Brian Anderson, CEO AD GRUP. Mantan kekasih nya si dedek gemes kan" ucap Arkam spontan.


Brian yang di sebut kan pun menatap datar ke arah Arkam. Sedang kan Ansel sudah hampir menyembur kan tawa nya.

__ADS_1


"Eeehhh tunggu dulu. Duuhhh ada dedek Nova. Waaahhh uda lama banget kita nggak jumpa ia. Makin cantik aja sih Dek pakai hijab kaya gini" puji Arkam yang tak melihat situasi.


__ADS_2