
Nova berjalan bersama Syila. Bukan Nova yang ingin, tapi Syila lah yang menggandeng tangan Nova membawa nya masuk kedalam butik milik nya.
U
Nova yang merasa tak enak pada Syila, melirik ke arah Angga. Namun Angga justru tersenyum dan mengangguk kan kepala nya.
Sesampai nya di dalam butik, Syila membawa Nova langsung ke dalam ruangan nya. Di ruangan itu Syila menduduk kan Nova di sofa, dan dia pun ikut duduk di samping Nova.
Ada kecanggungan di antara Nova dan Syila. Ralat hanya Nova lah yang merasa canggung. Bukan nya canggung saja tapi malu juga. Nova malu karena telah salah paham dan cemburu dengan perempuan yang ternyata sepupu calon suami nya itu.
"Kak Nova sama Bang Angga, ada apa kesini? Semalam abang cuma bilang kalau mau main ke butik nya Syila. Tapi abang nggak bilang kalau mau ajak kakak sekalian" tanya Syila memecah kan kecanggungan yang Nova rasakan.
"Emm, sebenar nya kami mau mencari baju muslim untuk saya" jawab Nova yang menunduk malu.
Iya malu mengatakan kalau dia akan berhijab. Tapi Syila yang memang dasar orang terlalu peka pun hanya tersenyum.
"Nggak usah malu Kak. Syila ngerti maksud kakak. Kakak mau berhijrah iya? Mau mulai berhijab iya?" tanya Syila dengan mata berbinar nya.
"Iya Syila. Soal nya besok kami mau liburan ke Bandung. Tepat nya ke rumah orang tua Dayyan. Disana itu pondok pesantren. Nggak mungkin kan hanya saya saja yang tidak memakai hijab. Sedang kan yang lain sudah menggunakan hijab" jelas Nova yang mendapat senyuman dari Syila.
"Syila boleh bertanya kak?" tanya Syila ragu.
"Boleh"
"Tapi maaf kalau pertanyaan Syila menyinggung perasaan kakak" ucap Syila yang hanya di jawab senyuman oleh Nova.
"Sebenar nya Kak mau berhijab itu apa karena akan ke pesantren atau memang dari hati kakak?" tanya Syila hati hati.
Nova terdiam mendapat kan pertanyaan seperti itu. Ia pun memandang Syila dengan tatapan yang sulit di arti kan.
__ADS_1
"Sebenar nya saya sudah lama ingin berhijab, tapi saya masih ragu. Setelah tadi malam Mas Angga ngajakin liburan ke pondok pesantren nya Dayyan. Hati saya jadi terketuk untuk memantap kan niat saya yang akan berhijab. Maka nya saya mengutarakan nya sama Mas Angga. Dan alhamdulillah nya Mas Angga pun mendukung keputusan saya. Dia langsung mengajak saya ke butik untuk membeli baju muslim" jelas Nova sambil tersenyum.
"Alhamdulillah. Kalau bwgitu ayo kak kita pilih pilih baju nya. Emm kakak mau baju yang model gimana?" tanya Syila yang antusias.
"Saya juga nggak tau yang gimana. Karena biasa nya kalau kita kita kumpul, terkadang mereka ada yang pakai gamis, ada yang pakai rok dan blouse gitu." jawab Nova yang kebingungan.
"Emm gimana kalau kita cari dulu yang cocok sama kakak. Terus nanti di cobain. Dan kita tanya sama Abang?" ucap Syila memberi pendapat.
"Boleh juga"
Akhir nya Nova dan Syila pun keluar dari ruangan kerja Syila yang ada di lantai dua. Mereka menuju ke lantai satu.
Di lantai satu Angga menaik kan sebelah alis mata nya melihat keantusiasan Syila yang membawa Nova ke beberapa baju yang di pajang.
"Lah uda seakrab itu mereka" ucap Angga yang merasa heran dengan kedekatan kedua wanita tersayang nya itu.
"Abang macam nggak tau aja. Adik abang itu kan orang yang terlalu peka. Jadi dia bisa cepat akrab sama orang yang baru di kenal. Apa lagi orang itu adalah orang kesayangan abang nya." ucap Reza yang tak merasa heran dengan tingkah istri nya.
Syila dengan antusias memilih kan baju baju yang menurut nya cocok untuk Nova. Setiap baju yang di ambil Syila dan di cocok kan ke tubuh Nova pun, begitu menurut nya cocok akan langsung di serah kan ke salah satu karyawan nya.
Nova yang merasa pusing dengan apa yang di lakukan oleh Syila pun menatap ke arah Angga. Tatapan Nova menyirat kan permohonan.
Angga yang merasa calon istri nya itu mulai pusing pun , langsung berdiri dan menghampiri adik nya. Dia menghentikan semua yang di lakukan oleh adik nya.
"Cukup dek. Lihat uda sebanyak apa yang kamu pilih kan" ucap Angga yang membuat Syila langsung menatap ke arah karyawan nya yang sudah kesusahan memegang baju pilihan nya.
"Hehehhe khilaf bang" ucap Syila yang meringis dengan kelakuan nya.
Angga pun hanya menggeleng kan kepala nya. Adik nya memang seperti ini jika sudah suka sama seseorang.
__ADS_1
"Iya uda kalau gitu langsung di coba aja kak" ucap Syila yang masih antusias.
"No no no. Kamu mau buat calon istri abang kelelahan karena mencoba pakaian yang kamu pilih kan ini?"
Syila meringis malu. Dia pun bersembunyi di balik tubuh suami nya. Tapi kepala nya masih menyembuk menatap kearah Nova dan Angga.
"Langsung bayar aja iya sayang. Nanti kamu tinggal pilih aja mana yang menurut kamu cocok di bawa untuk liburan kita nanti. Tapi kalau menurut Mas, kalau di pesantren lwbih bagus pakai gamis aja dan hijab yang menutup ke dada. Kalau di villa nya Abang Juan kamu bisa pakai rok dan tuniq, dan jangan lupakan hijab yang menutupi dada juga" ucap Angga memberikan masukan pilihan untuk Nova.
"Iya Mas. Nanti bantu Nova pilihin nya iya. Nova masih bingung mau bawa yang mana"
"Iya. Ya uda ayo kita bayar. Abis itu kita ke rumah Gus Dayyan. Kita belum bilang kalau kita akan ikut sama mereka"
Nova pun hanya mengangguk kan kepala nya. Dia pun berjalan ke arah kasir di ikuti Angga dan karyawan yang membawa baju pilihan Syila tadi.
"Berapa Mbak?" tanya Nova ketika semua baju nya sudah selesai di hitung.
"Total nya semua Rp. 35.793.290 Nona" ucap sang kasir.
Ketika Nova masih sibuk mengambil kartu kredit nya. Sebuah kartu sudah terlebih dulu di sodor kan ke sang kasir. Nova pun melihat kearah belakang nya. Ternyata Angga yang melakukan itu.
"Mas"
"Biar Mas bayar nya sayang" ucap Angga santai.
"Tapi itu mahal Mas. Pakai uang Nova aja iya" ucap Nova yang tak enak hati belanjaan nya di bayarin oleh Angga.
Bukan karena dia tak mau di bayarin. Tapi status nya yang masih calon istri, membuat nya tak pantas mendapat kan perlakuan seperti itu. Apa lagi yang di bayar itu sampai 35 juta.
"Nggak papa sayang. Biar Mas aja. Lagian kamu nggak pernah kan mau Mas bayarin. Jadi untuk kali ini aja. Biar Mas yang bayarin iya. Hitung hitung untuk semangat kamu yang ingin berhijrah. Semoga istikomah hijrah nya."
__ADS_1
Nova hanya bisa pasrah kalau calon suami nya sudah berkata seperti itu. Akhir nya dia pun membiar kan Angga yang membayar belanjaan nya.