
Suasana diruang rapat pun sekarang kian memanas. Karen perdebatan perdebatan yang dimulai oleh Papa Doni. Iya Papa Doni sengaja melakukan hal itu, agar para pemegang saham mulai goyah dengan niat mereka yang belum sepenuhnya yakin antara bertahan atau mundur dan menarik semua saham mereka.
Papa Doni hanya menyeringai melihat situasi didalam ruangan rapat ini. Sedangkan Daddy Martin memandang sahabatnya dengan tatapan sendunya.
"Aku yakin ini caramu agar mereka juga menarik sahamnya. Aku pasrah Doni kalau ini memang jalannya kami memdapatkan karma dari keluargamu" ucap Daddy Martin dalam hati.
Sementara iti diluar ruang rapatDayyan dan Breena juga berdebat. Breena berusaha merayu suaminya untuk tidak ikut masuk. Namun Dayyan tetap kekeh kalau Breena harus masuk.
"Mas, Breena tunggu diluar aja iya"
"No sayang. Kamu juga harus masuk"
"Tapi Mas, Breena nggak paham tentang perusahaan" tolak Breena.
"Kamu tidak perlu capek untuk memikirkannya sayang karena itu tugas Mas. Kamu hanya perlu duduk cantik dan menandatangani dokumen yang berhubungan dengan perusahaan ini"
"Tapi Mas" rengek Breena yang tetap saja tidak diperdulikan oleh Dayyan.
"Ayo masuk sayang. Didalam suasana nya sudah memanas" ajak Dayyan.
Ia langsung menggenggam tangan Breena dengan tangan kirinya. Dan tangan kanan nya dipakai untuk mengetuk pintu.
Dayyan memgetuk pintunya sebanyak tiga kali lalu membuka lebar pintunya.
"Maaf kalau saya terlambat" ucap Dayyan kemudian ia berjalan ke arah kursinya yang diduduki oleh Dion tadi.
Semua orang melihat kearah Dayyan yang baru saja datang bersama dengan seorang wanita berhijab. Semua orang yang ada disana mengenali siapa wanita yang dibawa oleh Dayyan. Dia adalah Aurellia Abreena, anak tunggal Doni Abraham. Dan sekarang ia datang bersama dengan CEO Pratama.Corp. Bisik bisik pun mulai terdengar lagi.
"*CEO Pratama.Corp datang bersama anak Tuan Doni. Ada hubungan apa diantara mereka?"
"Yang kudengar mereka sudah menikah"
"Benarka, putri Tuan Doni sudah kenikah dengan CEO Pratama.Corp. Kapan?"
"Belum lama kurang lebih satu bulanan lah. Tapi kenapa ia juga ikit kedalam rapat pemegang saham ini?"
"Entahlah. Aku juga bingung*"
__ADS_1
Dayyan dan Breena berjalan menghampiri Papa Donid dan tak lupa mereka juga menyalaminya.
"Pah" sapa Dayyan.
"Kenapa lama sekali sampainya?"
"Anak Papa tadi biat kejutan dulu di pesantren. Dia nyanyi pakai bahasa korea Pak" goda Dayyan.
"Mas" rengek Breena malu pipinya sudah semerah tomat.
"Hahaha dia malu itu Dayyan. Ternyata anak Papa bisa malu juga iya" goda sang Papa yang ikutan menghajilin anak nya.
"Iya sudah sekarang kita duduk. Biar rapatnya diteruskan lagi" ajak Papa Doni.
Interaksi ketiganya diperhatikan sama semua orang yang berada didalam ruanh rapat itu. Tak terkecuali Brian. Ia diam mematung menatap Breena dengan pandangan sedih. Dulu Breena bersikap manja hanya padanya. Namun sekarang Breena bersikap seperti itu kepada suaminya. Dihatinya ada sedikit rasa kecewa dan tak terima ketika Breena bersikap manja kepada orang lain.
"Maaf Tuan Dayyan. Boleh saya bertanya?" tanya seorang lelaki paruh baya yannlg duduknya tepat dihadapan Dayyan.
"Iya Tuan. Anda ingin bertanya apa?" jawab Dayyan sopan.
"Kita tau kalau anda sudah menikah dengan putrinya Tuan Doni. Tapi kenapa anda juga membawa istri anda kerapat pemegang saham ini Tuan?" tanya nya dengan sopan.
Semua orang pun menganggukan kepala nya. Sekarang mereka mengerti memgapa putri Tuan Doni dari rekan kerja mereka juga ikut andil dalam rapat pemegang saham ini.
Breena hanya bisa menampilkan senyum manisnya saja.
Rapat pun kembali dilanjutkan. Perdebatan demi perdebatan pun tak bisa terelakkan lagi. Semua orang siap mengeluarkan argumen argumen mereka.
"Mohon tenang semuanya. Kami akan berusaha keras untu menaikkan harga saham kita" ucap Brian.
"Dengan cara apa? Membiarkam begitu saja berita anda yang sedang viral. Dan memojokkan orang lain yang tidak bersalah masuk kedalam kambing hitam anda. Atau dengan cara membuat proyek yang anda jelaskan tadi dengan siruasi seperti ini harga saham yang kian menurun. Yang ada perusahaan ini akan bangkrut dan bisa jadi perusahaan ini diakuisisi oleh perusahaan yang lainnya" ucap Dayyan memandangi Brian.
Brian pun hanya diam. Ia tak bisa menjawab apa yang akan diucapkan Dayyan. Melihat keterdiamam Brian, Dayyan pun menyeringai.
"Saran saya segera lakukan konfrensi pers, saya yakin kalau belum mau mengungkapkan fakta dari skandal anda itu dulu" ucap Dayyan meremehkan.
Dan lagi dan lagi ruang rapat pun kembali memanas membuat Brian semakin terpojok.
__ADS_1
"Baiklah karena hasil dari rapat ini belum menemukan titik terangnya. Jadi rapat akan kita tunda. Kami akan berusaha mencari cara untuk menaikkan kembali harga saham diperusahaan kami" ucap Daddy Martin mengakhiri rapat yang semakin memanas.
"Kalau memang tidak ada titik terangnya Tuan Martin, saya akan menarik semua saham saya" ucap salah satu pemegang saham.
"Kami pun juga begitu. Lebih baik kami menarik saham kami dari pada kami harus kehilangan uang kami karena kebangkrutan" ucap pemegang saham yang lain.
Brian hanya bisa tertunduk ketika mendengar ancaman dari pemegang saham yang lainnya. Belum juga selesai kasus nya bersama Papa Doni dan Dayyan, kini pemegang saham yang lainnya pun juga berniat menarik saham mereka.
Setelah mengucapkan itu semua pemegang saham keluar dari ruang rapat. Tertinggal Papa Doni, Dayyan dan Daddy Martin.
Sedsngkan Breena izin ketoilet sebentar. Brian yang melihat Breena keluar pun memutuskan untuk kembali keruangannya. Tanpa mereka sadari kalau sebenarnya ia akan menyusul Breena.
Menunggu beberapa menit, akhirnya Breena pun keluar dari dalam toliet. Brian pun menghentikan langkah kaki Breena dengan cara menghadang jalan Breena.
"Bisa kita bicara Bee" pinta Brian
"Bicaralah" jawab Breena datar.
"Apa kabar Bee?" tanya Brian basa basi.
"Tidak sebaik setelah berita skandalmu itu" jawab Breena ketus.
"Maaf kan aku Bee. Aku masih saja menjadi seorang pengecut yang tidak bisa mengakui kesalahanku" ucap Brian menyesal.
"Iya itu lah dirimu. Aku beruntung terlepas dari pria pengecut sepertimu. Dan dinikahi oleh lelaki baik dan sholeh seperti Mas Dayyan" ucap Breena sinis.
Kemudian ia pergi dari hadapan Brian.
Sememtara itu diruang rapat. Papa Doni menatap tajam sahabatnya.
"Waktumu tinggal hari ini Martin. Kau yang akan melakukannya atau aku da menantu ki yang akan melakukannya. Pilihan ada ditanganmu. Jadi kalau aku atau menantuku yang akan melakukannya, bersiap lah untuk kehilangan dua pemegang saham terbesar di perusahaanmu. Bukan hanya itu saja, aku juga akan menarik semua saham ku serta semua dokterku yang ada di rumah sakit milik anakmu itu" ucap Papa Doni dengan senyum yang sulit diartikan.
"Aku tau kau tak sejahat itu dengan sahabat lama mu ini" ucap Daddy Martin percaya diri.
"Iya itu dulu sebelum anakmu menyakiti hati putriku. Dan sekarang kita lihat saja apa yang akan kulakukan nantinya untuk mengungkap kebenaran yang ada" ucap Papa Doni dengam senyum meremehkan.
"Ayo kita pergi Dayyan" ajak Papa Doni yang sudah berdiri dari kursinya.
__ADS_1
"Ingat Tuan Martin saya tidak pernah main main dengan ucapan saya" ucap Dayyan lalu segera menyusul mertuanya.
Setelah kepergian Papa Doni dan Dayyan. Daddy Martin memijit kepalanya. Ia pusing dengan masalah yang terus menghampirinya.