
Semua Ibu Ibu melihat ke arah si Ibu pendatang baru itu. Mereka. Tak percaya kalau Ibu itu tak tau siapa Breena.
"Kamu nggak tau siapa itu Ning Breena?"
Ibu pendatang baru itu pun menggeleng kan kepala nya.
"Yakin kamu nggak tau?" tanya Ibu yang lain nya.
Si Ibu pendatang baru itu kembali menggeleng kan kepala nya.
"Ning Breena itu anak tunggal dari pemilik rumah sakit Abraham. Rumah sakit milik orang tua nya itu ada di semua kota besar dan kecil di Indonesia. Rumah sakit nya juga bagus. Termasuk ke dalam rumah sakit elit." jelas si Ibu yang rumah nya berada di samping kanan pondoj pesantren.
"Ooohhhh" jawab si Ibu pendatang baru.
Sebenar nya di insecure melihat Breena tadi. Wajah cantik nan meneduhkan itu terlihat jelas di wajah Breena. Bentuk tubuh yang ideal setelah melahir kan. Dan yang terakhir, dia anak orang kaya juga. Berbeda dengan nya yang hanya anak dari orang biasa.
Tapi Ibu itu masih ada niat nya untuk menggoda Dayyan. Ia pun masih berpikir kalau Dayyan adalah lelaki yang gampang di goda.
Di lapangan yang tak jauh dari pondok pesantren, Dayyan dan yang lain nya pun berlari mengelilingi lapangan tersebut. Mereka yang memang biasa menjaga postur tubuh nya pun dengan semangat berlari nya.
Biasa nya kalau di Jakarta mereka akan jogging di sekitar komplek rumah mereka saja. Sebab disana masih bagus udara nya.
Dari kejauhan Dion melihat kedatangan istri nya dan yang lain nya. Dion pun berlari menghampiri istri nya yang tampak senang bisa berjalan jauh.
"Sayang kenapa kesini?" tanya Dion yang mulai khawatir dengan kondisi istri nya yang sedang hamil, bukan nya istirahat justru datang menghampiri nya.
"Ikut Breena, Mas. Ngantarin minum untuk kalian. Tadi kalian lupa bawa minum nya" jawab Anggi dengan senyum manis nya.
"Kalau kamu capek gimana"
"Nggak akan Mas. Lagian Ibu hamik itu bagus jalan jalan pagi. Biar mudah nanti lahiran nya Mas" jawab Anggi menenang kan suami nya.
"Benar gitu Bree?" tanya Dion ke Breena.
__ADS_1
"Benar Mas. Breena dulu juga gitu. Apa lagi Breena bawa tiga sekaligus loh Mas." jawab Breena.
Mereka pun langsung menuju ke para suami yang sudah selesai berlari. Lalu memberikan minuman yang di bawa ke para suami dan calon suami mereka. Di lapangan itu mereka memilih duduk di atas rumput.
"Agenda kita hari ini apa?" tanya Ani.
"Ke kebun strawberry Mbak. Breena uda bilang semalam pas di jalan sama Mas Dayyan. Gimana mau kan?" tanya Breena sama yang lain nya.
"Mau dong. Jam berapa kita pergi nya?" tanya Anggi yang semangat ingin memetik strawberry.
"Jam 10:00 gimana?"
"Oke jam 10:00 kita pergi" jawab para wanita kompak.
"Kalau gitu ayo kita kembali. Kita belum sarapan dan kita juga harus bersiap siap" ajak Dayyan yang sudah berdiri dan mengulur kan tangan nya membantu Breena berdiri.
Akhir nya mereka pun memutus kan untuk kembali ke pondok. Mereka berjalan berpasangan. Kecuali Nova, Anita dan Syeril. Tidak mungkin mereka berjalan bersama calon suami mereka. Bisa bisa mereka akan jadi bahan gunjingan, karena belum halal.
Dayyan dan Breena berjalan sambil menggendong Adga dan Deera. Sedang kan Andra berada di stoller nya.
Di tengah perjalanan mereka mendengar suara bising yang tiba tiba datang dari atas langit. Mereka semua kompak melihat ke arah atas.
Di atas langit, ada sebuah helikopter yang terbang mendekati pondok pesantren. Helikopter yang bertulis kan ABREENA itu menyita perhatian mereka semua.
Tak terkecuali Ibu Ibu yang sedari tadi tak selesai juga berbelanja nya di tukang sayur. Mereka juga melihat ke arah helikopter itu berada.
Breena menepuk kening nya melihat siapa yang ada di dalam helikopter mewah itu. Bagaimana tidak, dia terlalu hafal dengan helikopter itu. Heli pemberian Papa nya saat ia umur 19 tahun. Hadiah ulang tahun nya.
"Niat banget Papa yang mau datang kesini. Naik heli lagi. Mau buat geger lagi itu pasti" ucap Ansel.
"Ntah lah Kak. Papa kan memang gitu. Kalau malas bawa mobil iya naik Heli. Heran sama Papa. Pada hal cuma Bandung loh." omel Breena.
"Mungkin Papa naik heli karena mau ngecek rumah sakit yang ada disini juga sayang. Uda yuk. Itu Papa uda mau nyampe mendarat loh" ucap Dayyan lalu mengajak yang lain nya berjalan kembali.
__ADS_1
"Itu heli siapa?" tanya si ibu pendatang baru.
"Oohhh itu mah punya orang tua nya Ning Breena" jawab para Ibu Ibu yang sudah pernah melihat orang tua Breena datang naik helikopter.
"Sewa iya?"
"Iya nggak mungkin lah. Ibu nggak lihat di body heli itu ada tulisan ABREENA.. Itu arti nya heli itu milik Ning Breena.
Ibu si pendatang baru itu pun cepat cepat menyelesai kan belanja nya. Begitu pun dengan yang lain nya. Karena mereka sudah terlalu lama belanja..
Sedang kan di pesantren, semua santri melihat ke sumber suara bising yang tiba tiba datang.
Abah Arsya dan Umma Hanum pun juga melihat nya. Mereka tersenyum melihat helikopter milik besan nya sudah mendarat sempur nya di halaman luas pondok pesantren mereka.
Papa Doni turun terlebih dahulu, lalu mengulur kan tangan nya membantu Mama Ratih turun.
Mereka berjalan menuju ke arah Abah Arsya dan Umma Hanum yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Assalamualaikum besan" ucap Papa Doni dan Mama Ratih.
"Wa'alaikum salam. Saya pikir siapa itu yang datang. Ternyata besan kita yang datang" ucap Abah Arsya.
"Maaf besan harus bawa heli lagi. Karena nanti mau ngecek rumah sakit yang ada disini sama yang lain nya. Biar lebih cepat naik heli aja dari pada naik mobil" jelas Papa Doni.
"Iya benar itu besan. Kalau naik mobil lama. Belum lagi kalau macet" ucap Abah Arsya membenar kan ucapan Papa Doni.
"Anak anak kemana ini Umma?" tanya Mama Ratih yang tak mendapati keberadaan anak, menantu dan cucu nya.
"Oohh lagi nyusul Dayyan sama yang lain nya Bu Ratih. Tadi Dayyan jogging sama para suami. Tapi lupa bawa minum, jadi Breena sama yang lain nya nyusul sekalian bawa minum untuk mereka" jelas Umma Hanum.
"Si kembar juga di bawa?"
"Iya Bu Ratih. Iya uda ayo kita tunggu di dalam saja" ajak Umma Hanum.
__ADS_1
Mereka berempat pun akhir nya menuju ke rumah Abah Arsya. Menunggu kedatangan Dayyan dan yang lain nya.