
"Mas benarkah yang dia bilang?" tanya Breena yang sudah mulai menangis.
"Tidak sayang. Dia memfitnah Mas. Itu semua tidak benar sayang. Kamu tau sendiri sayang bagaimana Mas mencintai kamu. Bahkan Mas harus bersabar menunggu kamu selama tiga tahun. Mas benar benar mencintai kamu sayang" ucap Dayyan meyakinkan Breena sambil mencoba meraih tangan Breena namun ditepis oleh Breena.
"Tapi apa yang kalian lakukan tadi itu uda keterlaluan Mas. Mas tau sendiri kalau Breena tidak bisa mentolelir kata pengkhianatan. Silahkan Mas talak Breena sekarang dihadapan orang tua kita Mas" pinta Breena.
"Pak Hilman ini berkas saya untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Besok Bapak sudah bisa mendaftarkannya kepengadilan" ucap Breena sambil menyerahkan beberapa berkas syarat untuk bercerai.
Pak Hilman yang diberikan berkas berkas itu pun menatap kearah Papa Doni meminta persetujuan. Ketika Papa Doni menganggukkan kepalanya, barulah Pak Hilman mengambil berkas tersebut.
"Saya akan memproses ini besok pagi Nona" ucap Pak Hilman sambil memeriksa berkas berkasnya.
Dayyan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Breena langsung berdiri dan menggelengkan kepalanya.
Begitu juga dengan para orang tua, mereka tak percaya kalau Breena sampai meminta cerai oleh Dayyan. Mama Ratih dan Umma Hanum berusaha untuk membujuk Breena agar tak meminta cerai.
"Sayang pikirkan lagi nak. Jangan gegabah meminta cerai sama suami kamu" ucap Mama Ratih menasehati.
"Benar nak, jangan langsung mengambil keputusan sendiri disaat kamu sedang emosi. Dipikirkan lagi nak" ucap Umma Hanum. Ia tak mau kehilangan menantu sebaik Breena.
"Benar kata Mama dan Umma mu nak. Tolong dipikirkan lagi. Kalian baru saja menikah tidak baik kalau karena masalah ini kalian sampai bercerai" ucap Abah Arsya.
"Tapi Breena tidak bisa berhubungan dengan seorang pengkhianat. Lebih baik Breena jadi janda dari pada harus dikhianati seperti ini" ucap Breena yang sekarang mulai keras kepala.
Sementara itu Ustadzah Hana yang mendengar permintaan Breena terang terangan tersenyum bahagia. Ia sangat bahagia akhirnya Breena meminta talak kepada suaminya.
Dayyan yang sudah dalam keadaan emosi pun, tanpa pikir panjang akan mentalak istrinya.
"Aurellia Abreena mulai ma-"
"Tunggu!" suara seseorang menghentikan ucapan Dayyan.
"Tunggu Gus. Saya akan memberikam bukti rekaman suara kalau yang dituduhkan ke Gus Dayyan itu tidak benar" ucap Ustadz Fahmi.
Sedari tadi memang Ustadz Fahmi berada di ndalem. Ia berdiri diteras ndalem agar bisa mendengar apa saja yang dibicarakan didalam itu. Dan ketika Dayyan akan mentalak Breena baru lah ia keluar untuk menyelamatkan pernikahan Gus dan Ning nya.
"Apa apaan kamu Fahmi!" bentak Ustadzah Hana menatap tajam kearah Ustadz Fahmi.
"Diamlah Hana. Apa yang kau lakukan ini sudah sangat keterlaluan. Tak seharusnya kau melakukan ini semua demi mendapatkan Gus Dayyan" ucap Ustadz Fahmi dingin.
"Apa maksudmu Ustadz Fahmi? Bukti apa yang kau maksudkan?" tanya Abah Arsya.
"Bukti kalau semua ini hanya akal akalan dan fitnah dari Ustadzah Hana Pak Kyai, agar Gus Dayyan dan Ning Breena bercerai" ucap Ustadz Fahmi.
Kemudian ia menyodorkan ponselnya kehadapan Abah Arsya.
__ADS_1
"Silahkan diputar Pak Kyai. Saya tadi sudah merekam pembicaraan kami" lanjut Ustadz Fahmi.
Papa Doni yang sudah tidak sabar pun langsung mengambil alih ponsel itu. Lalu memutar rekaman suara antar Ustadz Fahmi dan Ustadzah Hana.
Semua orang dengan tenang mendengarkan rekaman suara itu. Setelah selesai semua mata menatap tajam kearah Ustadzah Hana, tak terkecuali Pak Andi dan Bu Risty.
"Apa ini yang kau ajarkan kepada anakmu Pak Andi?" tanya Papa Doni yang sudah beralih menatap tajam Pak Andi.
"Maaf Tuan, saya tidak tau kalau anak saya berani bersikap seperti itu" ucap Pak Andi menundukkan wajahnya.
"Lalu mengapa anakmu sampai berniat merebut milik orang lain? Kau tau milik siapa yang direbutnya? Iya milik putri kesayanganku. Dan kau pun tentu saja tau bagaimana kalau aku sudah bersikap dengan orang yang berniat jahat dengan anakku"
"Kamu Ustadzah disini Hana. Kamu bilang kamu lebih paham agama dari pada istriku. Tapi apakah seperti ini kelakuan orang yang paham agama itu? Kau sudah mencoreng statusmu yang kau bangga banggakan itu Ustadzah Hana" jeda Dayyan.
"Bahkan istri istri Nabi pun tak pernah ada yang sepertimu ini kelakuannya. Mereka yang dipilih Nabi bukan mereka yang merebut Nabi dari istrinya" lanjut Dayyan.
"Oiya saya lupa kalau saya masih memiliki bukti yang lainnya dan juga saksi"
"Mbak Ani" panggil Dayyan pada salah satu mbak ndalem kesayangan Breena.
Mbak Ani yang tiba tiba saja dipanggil pun datang tergopoh gopoh dari arah dapur.
"Nggih Gus"
"Nggih Gus. Yang saya lihat tadi Ustadzah Hana menghampiri Gus Dayyan yang sedang menunggu Kang Amin. Dan ketika Ustadzah Hana mengajak berbicara, Gus Dayyan lebih banyak menundukkan kepala. Gus dayyan juga tidak ada memeluk dan mencium Ustadzah Hana. Tapi Gus Dayyan hanya memegang tangan Ustadzah Hana. Karena tadi yang saya lihat Ustadzah Hana pura pura terjatuh ketika melihat Ning Breena keluar dari ndalem" jelas Mbak Ani menatap tak suka kearah Ustadzah Hana.
"Kau berbohong Mbak Ani. Bu, Pak itu tidak benar. Dia berbohong. Kenapa kau tega memfitnahku Mbak Ani? Padahal aku tidak pernah menyusahkanmu" tuduh Ustadzah Hana pura pura menangis.
"Saya tidak berbohong. Saya berkata jujur Ning Breena. Ning Breena sudah termaka oleh fitnahannya Ustadzah Hana. Saya melihat dan mendengar langsung apa saja yang dibicarankan Ustadzah Hana dan Gus Dayyan. Ning Breena harus percaya sama saya. Tidak mungkin saya berbohong sama Ning Breena" ucap Mbak Ani menatap sendu kearah Ning nya itu.
"Apa Mbak Ani punya bukti?" tanya Breena lirih.
"Punya Ning. Saya memvideonya dari awal Ustadzah Hana memdekati Gus Dayyan samapi Gus Dayyan yang membentak Ning Breena"
"Dimana buktinya Mbak? Boleh saya lihat"
"Buktinya sudah saya serahkan sama Gus Dayyan Ning"
"Mas" panggil Breena lembut.
Dayyan yang mendengar suara lembut istrinya pun mulai tersenyum lagi. Kemudian ia mengeluarkan ponsel Mbak Anu dari dalam saku celananya. Dan menyerahkannya ke Breena.
Breena mengambil ponsel itu dan mulai memutar video yang direkam oleh Mbak Ani. Tidak hanya Breena saja yang melihatnya, tetapi Mama Ratih dan Umma Hanum pun Juga ikut melihatnya.
Setelah selesai melihat video itu, Breena langsung menatap tajam kearah Ustadzah Hana.
__ADS_1
"Pak Andi silahkan anda lihat kelakuan anak anda" ucap Breena menyerahkan pinsel yanh dipegangnya.
Pak Andi dan Bu Risty pun menonton video itu. Seketika rahang Pak Andi mengeras. Ia jiga menatap tajam kearah anaknya.
Sedangkan Bu Risty menundukkan kepalanya. Ia malu dengan kelakuan anaknya. Bagaimana bisa anak kebanggaannya berniat merusak rumah tangga anak dari pemilik pesantren tempatnya mengajar. Bu Risty sungguh malu dengan kelakuan ankanya. Namun bagaimana pun ditetap harus membela anaknya walau pun itu salah.
"Itulah bukti yang sebenarnya terjado dihalaman ndalem tadi sore. Saya tidak pernah menyentuh anak anda. Bahkan mencium anak anda pun saya tidak ada niatan. Bagi saya istri saya hanya Breena saja. Tidak ada didalam keluarga kami itu poligami. Walau pun itu diperbolehkan oleh agama" ucap Dayyan dengan aura dinginnya mengintimidasi orang tua Ustadzah Hana.
"Maafkan saya Gus. Maafkan kelakuan anak saya" ucap Pak Andi menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya Tuan. Karena anak saya sudah menyakiti Nona Breena" lanjut Pak Andi menatap Papa Doni.
"Saya tidak akan memaafkan anak anda Pak Andi. Anak anda sudah memfitnah menantu saya dan mengadu domba mereka. Bahkan anak anda pernah secara terang terangan mengancam anak saya" ucap Papa Doni.
"Maafkan kelakuan anak saya Tuan Doni. Mungkin anak saya melakukan ini karena terlalu mencintai Gus Dayyan" ucap Bu Risty yang masih membela anaknya.
"Ck. Dia bukan mencintai menantu saya. Tapi dia terobsesi dengan menantu saya Bu Risty" ucap Mama Ratih kesal.
"Tapi tidak ada salahnya kau Gus Dayyan memiliki dua istri Nyonya Ratih. Mungkin saja Nona Breena tidak bisa memberikan layanan yang memuaskan untuk Gus Dayyan. Tidak ada salahnyakan kalau Gus Dayyan menjadikan anak saya istri keduanya. Anak saya juga mencintai Gus Dayyan" ucap Bu Risty merendahkan Breena dihadapan semua orang.
Dayyan dan Papa Doni pun menatap tajam Bu Risty. Mama Ratih dan Umma Hanum menatap tak percaya. Bagaimana bisa dia yang seorang Ibu malah mendukung kelakuan anaknya yang tidak benar itu.
"Sampai kapan pun saya tidak akan pernah mau menikahi anak anda Bu Risty!" ucap Dayyan tegas menatap tajam Bu Risty.
Dayyan sangat emosi mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Bu Rity tadi.
"Begitukah Bu? Lalu kalau saya tanya, apakah Ibu bersedia jika suami Ibu menikah lagi dengan wanita yang menyukainya? Dengan jabatannya yang sebagai staff administrasi senior di rumah sakit kami sudah pasti gajinya tinggi, bukan lagi gaji UMR. Bagaimana perasaan Ibu?" tanya Breena dengan senyum manisnya.
"Kenapa jadi kesaya? Iya sudah pasti saya tkdak mau kalau suami yang saya cintai menikahi wanita lain" ucap Bu Risty tidak terima dengan ucapan Breena.
"Begitu juga dengan saya. Saya juga tidak terima kalau suami yang saya cintai menikahi wanita lain. Saya tidak bisa hiduo berbagi yang sudah menjadi milik saya" ucapan Breena pun sukse membungkam mulut Bu Risty.
"Kau serakah Ning Breena" ucap Ustadzah Hana tiba tiba sambil menunjuk Breena.
"Iya untuk kali ini aku memang harus serakah. Aku bisa berbagi apa saja yang menjadi milikku. Tapi tidak dengan berbagi suami" ucap Breena tegas.
Ustadzah Hana yang mendengar jawaban Breena semakin menambah kebenciannya. Lalu ia mengambil gelas minumnya dan dengan cepat melemparkan gelas itu kearah Breena.
Dayyan yang melihat gerak gerik Ustadzah Hana yanh tidak baik itu, dengan cepat menghampiri Breena dan memeluknya. Dayyan membawa kepala Breena kedada bidangnya. Otomatis kepala Dayyan lah yang terkena lemparan gelas itu. Seketika garah segar mengalir dari kepala Dayyan dengan deras. Semua orang yang melihat itu menjadi panik.
"Mas" ucap Breena lirih dan bergetar.
"Mas baik baik saja sayanv. Jangan khawatirkan Mas" ucao Dayyan sambil tersenyum manis menenangkan Breena yang khawatir.
Dayyan pun memberikan kecupan dikeningnya Breena.
__ADS_1