
Anggi dan Dion pun menuju ke ruang makan menyusul seluruh keluarga mereka. Mereka datang dengan bergandengan tangan. Kedua orang tua Anggi hanya bisa tersenyum melihat kemesraan putrinya. Sementara kedua orang tua Dion hanya menggelengkan kepala nya. Ini hal biasa bagi mereka.
"Maaf Pak. Mereka memang seperti ini kalau sudah bertemu" ujar Ayah Hermawan karena tak enak hati dengan tingkah anaknya itu.
"Iya tidak apa apa Pak. Saya memakluminya" jawab Daddy Steven sambil tersenyum.
"Ayo kita mulai makan malam nya" ajak Daddy Steven, ketika Anggi dan Dion sudah duduk dikursi meja makan.
Para istri pun langsung bergegas mengambilkan nasi beserta ikan dan sayur untuk suami mereka. Begitu pun dengan Anggi, dia juga langsung mengambilkan makanan untuk Dion.
Makan malam yang biasa nya hening di keluarga Danuarta karena Daddy Steven memang membiasakan kalau makan tidak boleh sambil berbicara. Namun untuk kali ini meja makan itu di hiasa dengan pembicaraan hangat.
Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai makan malam. Dan Anggi pun yang ingin membereskan meja makan, dilarang oleh Mommy nya.
"Jangan sayang. Kamu sudah lelah memasak tadi. Biar para pelayan yang membereskan nya" ucap Mommy Rianti, Anggi pun hanya bisa menurutinya.
"Bi Darmi. Tolong minta pelayan membersihkan meja makan nya iya. Lalu tolong buatkan minuman dan bawa kan puding yang tadi dibuat iya Bi" ucap Mommy Rianti lembut kepada kepala pelayan nya.
"Baik Nyonya"
Mommy Rianti pun mengajak Bunda Aisyah dan Anggi menuju ke ruang keluarga.
Diruang keluarga hanya terdapat Daddy Steven, Ayah Hermawan dan Dion saja. Sementara Thomas meminta izin ke kamarnya. Karena ia akan mengerjakan tugas kuliah nya.
"Dion bagaimana hubungan mu dengan putri Daddy?" tanya Daddy Steven tiba tiba.
"Hubungan kami baik Daddy tidak ada masalah"
"Lalu, kapan kamu akan melamar putri cantik Daddy ini?" tanya Daddy Steven dengan raut wajah seriusnya.
"Maaf Daddy, sebenarnya Dion beserta kedua orang tua Dion datang kesini bukan hanya untuk datang makan malam saja. Namun sebenarnya Dion juga Ayah dan Bunda ingin membahas perihal acara pertunangan Dion dan Anggi, Dad" jelas Dion.
"Terus kapan kalian akan bertunangan?" tanya Mommy Rianti dengan antusias.
"Maaf Mbak. Sebelum nya kami ingin mengatakan sesuatu" ucap Bunda Aisyah ragu ragu.
"Ada apa Mbak?" tanya Mommy Rianti yang melihat keraguan dimata calon besannya ini.
Bunda Aisyah menunduk. Ia pun menghela nafasnya berat. Ia merasa tak pantas jika anaknya bersanding dengan putri dari keluarga konglomerat ini.
"Maaf sebelumnya Mbak. Kami dari keluarga sederhana. Saya dan suami saya hanya seorang guru PNS di salah satu sekolah SMA Negeri. Sedangkan Dion hanya seorang asisten di perusahaan. Itu pun ia mendapatkan jabatan itu karena CEO perusahaan adalah sahabatnya dulu dari jaman mereka SMA sampai kuliah. Apa keluarga Mbak tidak masalah dengan status kami yang tidak ada apa apanya dengan keluarga Mbak?" tanya Bunda Aisyah sambil menunduk.
Mommy Rianti dan Daddy Steven pun saling menatap. Mereka mengerti apa maksud dari ucapan Bunda Aisyah ini.
"Kenapa Mbak Aisyah mengatakan seperti itu?" tanya Daddy Steven.
__ADS_1
"Maaf Pak. Sebenarnya saya merasa tak pantas jika anak saya bersanding dengan putri kalian. Dulunya saya berpikiri kalau Anggi berasal dari keluarga sederhana. Sehingga saya merasa cocok dengan Anggi. Saya menyayangi Anggi melebihi sayang saya kepada anak saya sendiri. Kami bertemu pertama kali ketika ada acara amal dari sekolah kami di panti asuhan tempat Anggi dulu. Saya langsung jatuh hati kepada Anggi. Berharap Anggi akan menjadi menantu saya. Dan keinginan saya terkabulkan ketika Dion membawa Anggi kerumah saya untuk pertama kalinya dikenalkan sebagai kekasihnya. Namun ketika melihat rumah kalian yang mewah ini, dan ternyata Anggi anak dari salah satu keluarga konglomerat, saya jadi merasa tak pantas berbesanan dengan kalian" jelas Bunda Aisyah dengan lirih. Ia bahkan tak sadar telah meneteskan air matanya.
Dion hanya bisa menunduk. Ia juga sebenarnya merasa tak pantas dengan Anggi setelah mengetahui kenyataan bahwa Anggi anak orang kaya.
Ayah Hermawan hanya menggenggam erat tangan istrinya yang tiba tiba saja kalut dengan kenyataan yang ada.
Sementara Anggi sudah meneteskan air matanya menatap Bunda Aisyah. Perempuan yang sudah di anggapnya sebagai Ibu nya ini merasa kecil dengan keluarga nya.
"Bunda" panggil Anggi lirih. Namun tak ada jawaban dari Bunda Aisyah.
Anggi pun bersimpuh dihadapan Bunda Aisyah. Ia menghapus air mata yang membasahi pipi Bunda dari kekasihnya.
"Kenapa Bunda berbicara seperti itu? Apa bunda tidak ingin Anggi menjadi menantu Bunda?" tanya Anggi dengan wajah yang merajuk.
"Bukan begitu sayang. Bunda sangat ingin kamu yang menjadi menantu Bunda. Tapi kenyataan kalau status kita berbeda sayang. Kamu tau sendiri bagaimana sederhana nya keluarga Bunda. Kami hanya seorang PNS, dan keberuntungan ada di Dion karena ia bersahabat dengan Dayyan ketika dibangku SMA sampai kuliah. Itu pun karena Dion mendapatkan beasiswa" jelas Bunda Aisyah.
"Itu sama saja Bunda tidak mengharapkan Anggi jadi mantu Bunda" ucap Anggi lagi yang kini memajukan bibirnya.
"Tidak sayang, kamu salah. Bunda bahkan sangat mengaharapkan kamu jadi mantu Bunda" ucap Bunda Aisyah cepat karena ia tak ingin Anggi memikirkan kalau ia tak menginginkan nya.
"Kalau begitu Bunda jangan bicara seperti itu. Anggi bahkan juga tak menyangka kalau Anggi ini anak dari salah satu pengusaha terkenal. Bunda tau bagaimana dulu hidup Anggi di panti. Bagaimana Anggi berharap bisa bertemu dengan keluarga kandung Anggi. Dan kenyataan itu terjadi Bunda. Harapan Anggi didengar oleh Allah. Doa doa Anggi dikabulkan. Anggi bertemu dengan keluarga kandung Anggi. Dan tentang status keluarga Anggi, mungkin ini adalag bonus yang diberikan oleh Allah kepada Anggi Bunda. Jadi Bunda jangan pernah mengatakan kalau keluarga Bunda tidak pantas bersanding dengan keluarga Anggi" jelas Anggi sambil memegang tangan Bunda Aisyah.
Bunda Aisyah pun menangis mendengar ucapan Anggi.
"Hati mu terlalu tulus sayang. Ini yang Bunda suka dari dulu. Kamu orang yang tulus" kemudian Bunda Aisyah pun memeluk Anggi.
"Anggi juga menyayangi Bunda. Bunda uda seperti Ibu buat Anggi"
Setelah puas menumpahkan kegundahan hatinya. Bunda Aisyah pun melepas pelukan Anggi. Dan Anggi kembali duduk disamping Mommy nya.
Mommy Rianti tersenyum bangga kepada putrinya. Ia tak menyangka putrinya itu sudh sangat dewasa dan memiliki hati yang tulus.
"Maaf Ibu Aisyah. Sebenarnya kami tak pernah memandang status dari seseorang. Jika mereka bisa menerima Anggi dan menyayangi Anggi seperti anaknya sendiri. Itu uda dari cukup untuk kami. Bahkan kalian mau menerima Anggi dengan tangan berbuka yang dibesarkan di panti asuhan. Jadi jangan khawatirkan kalau kami tak menerima kalian" jelas Daddy Steven.
"Terima kasih Pak. Sudah mau menerima kami" ucap Ayah Hermawan.
"Jadi kapan kita akan mengadakan acara pertunangannya?" tanya Mommy Rianti memecahkan suasana haru diruang keluarga itu.
"Bagaimana Dion? Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?" tanya Ayah Hermawan kepada anaknya yang sedari tadi hanya menunduk.
"Dion serahkam semuanya kepada Anggi dan keluarga aja Ayah"
"Hmmm bagaimana kalau minggu depan saja?" tanya Daddy Steven memberi saran.
"Apa tidak terlalu mepet Pak acaranya?" tanya Ayah Hermawan.
__ADS_1
"Tidak Pak. Pertunangannya kita adakan minggu depan, sekalian saya akan mengumumkan tentang putri saya yang telah ditemukan" jelas Daddy Steven.
"Iya Dad, Mommy setuju. Minggu depan saja acaranya. Bagaimana Mbak Aisyah?" tanya Momny Rianti yang sangat antusias.
"Saya tergantung sama anak anak saja Mbak. Bagaimana Dion, Anggi kalian setuju kalau minggu depan pertunangannya? Tanya Bunda Aisyah.
"Dion setuju Bunda. Bagaimana sayang?" tanya Dion menatap kekasihnya dengan binar penuh cinta.
Anggi yang ditanya seperti itu pun wajahnya merona. Dengan malu malu ia mengganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah" ucap semua orang yang melihat anggukan kepala Anggi.
"Baiklah kalau begitu minggu depan acara pertunangannya dan sekalian memperkenalkan Anggi. Terus kapan rencana pernikahannya." tanya Daddy Steven lagi.
"Dad kenapa langsung membahas pernikahan juga?" protes Anggi.
"Iya biar sekalian sayang. Atau kamu mau sekalian menikah saja minggu depan?" goda Daddy Steven.
"Daddy. Anggi memang ingin menikah dengan Mas Dion. Tapi tidak secepat ini Dad. Banyak yang harus dipersiapkan juga" protes Anggi yang membuat semua orang tertawa lucu melihat wajah Anggi.
"Iya Daddy hanya memberi saran aja sayang. Kalau kamu mau biar minggu depan sekalia. acara pernikahan nya" ucap Daddy Steven tanpa rasa bersalah.
"Pertunangan aja dulu Dad. Karena dikantor lagi banyak pekerjaan. Daddy tau sendirikan keributan apa yang telah dibuat sama atasan Dayyan diacara malam itu?"
"Iya Daddy tau. Atasan kamu itu bisa bisa nya membuat berita seperti itu. Bahkan dia kompak dengan mertuanya. Kompak mengerjain keluarga Anderson, agar mereka sadar dengan perbuatan dan keegoisan mereka" omel Daddy Steven yang tak menyangka dengan tingkah laku mertua dan menantu itu.
"Dion juga tak menyangka Dad. Dion pikir mereka serius melakukan itu. Sampai Dion sudah menyiapkan berkas yang diperlukan untuk menarik sahamnya. Lah rupa nya mereka hanya bercanda" keluh Dion yang ditanggapi tawa renyah Daddy Steven.
"Jadi minggu depan kita akan mengadakan acara pertunangan dan perkenalan Anggi saja kan?" tanya Mommy Rianti lagi untuk memastikan.
"Iya Mom" jawab Anggi.
"Bagaimana kalau acara pernikahannya 2 bulan dari acara pertunangannya saja?" saran dari Ayah Hermawan.
"Bagaimana Dad?" tanya Mommy Rianti.
"2 bulan lagi, sepertiny pekerjaan Daddy juga tidak banyak Mom. Jadi Daddy oke aja. Bagaimana dengan kalian? Apa pekerjaan kalian aman?" tanya Daddy Steven.
"Sepertinya aman juga Dad. Kalau pun nggak aman, Dion akan tetap mengambil cuti Dad nanti bersama Anggi" ucap Dion yang juga menyetujuinya.
"Baiklah, jadi besok Mommy akan menghubungi pihak EO untuk mempersiapkan acara minggu depan. Mbak Aisyah besok kita ke butik iya untuk mempersiapkan baju yang akan keluarga kita kenakan nanti"
"Boleh Mbak, tapi saya bisa nya sedikit sore Mbak. Karena besok jam mengajar saya penuh Mbak sampai sore"
"Nggak masalah Mbak. Besok Mbak hubungi saya saja kalau uda pulang dari mengajar"
__ADS_1
"Baik Mbak"
Anggi bahagia melihat kedekatam kedua keluarga ini. Keluarga yang begitu disayanginya.