
Belum juga sampai di lantai ruangan Dokter kepala. Papa Doni dan Dayyan berpapasan dengan Mama Ratih yang juga akan turun kebawah ke ruangan operasi.
"Papa sama Ian mau kemana? Kenapa buru buru dan panik gitu? Ada apa?" tanya Mama Ratih geran dengan tingkah suami dan menantu nya.
"Breena ngambek Mah. Ini kami mau nyusul ke ruangan Dokter kepala. Mama mau kemana?"
"Mama mau ke ruang operasi Pah. 30 menit lagi ada jadwal operasi"
"Mama mau ijut sama kami nggak?" tanya Papa Doni.
"Masih sempat kaya nya ikut sama Papa. Iya uda Mama ikut sama Papa dulu aja baru ke ruang operasi"
Ketiga nya pun akhir nya pergi ke ruangan Dokter kepala. Wajah panik terlihat jelas di wajah dua lelaki beda usia itu. Sedang kan Mama Ratih yang hanya tau anak nya itu ngambek pun terlihat santai saja. Karena Papa Doni tidak mengatakan tentang ancaman Breena tadi.
...----------------...
Sementara itu di depan ruangan Dokter kepala, tidak ada satu pun yang bisa menghibur bumil yang sedang merajuk. Anita, Dokter Rini, dan beberapa perawat yang menyapa nya tadi pun menyerah membujuk Breena agar tak ngambek lagi. Tapi usaha mereka sia sia saja.
Beberapa Dokter KOAS yang melihat tingkah Breena pun ada yang penasaran dan ada juga yang terang terangan menyindir nya.
"Siapa sih dia nya sampai segitu nya di bujuk pun tetap aja ngambek. Kekanakan banget. Mana uda hamil lagi. Yakin dia bisa ikut KOAS?" ucap salah satu Dokter KOAA disitu yang wanita.
"Kita tidak tau dia siapa. Tapi dari sapaan perawat dan Dokter kepala, seperti nya dia anak dari petinggi di rumah sakit ini. Atau mungkin dia anak Dokter disini juga. Apa kalian tidak lihat bagaimana mereka tadi menghormati nya saat menyapa nya" tanya yang lain nya.
"Benar. Kita lihat saja sampai mana dia mau ngambek seperti itu. Dokter KOAS kok ambekan" sindir Dokter KOAS yang bertanya pertama kali.
Breena mendengar semua yang mereka kata kan. Tapi dia nggak peduli. Yang penting permintaan nya untuk tidak di istimewakan itu harus dilakukan oleh semua Dokter dan perawat yang bekerja di rumah sakit Papa nya.
Dari arah jauh, Dayyan melihat istri nya yang sedang duduk dengan tangan yang terlipat di dada dan bibir yang cemberut. Ia langsung berlari ke tempat istri nya.
"Sayang" panggil Dayyan dengan suara lembut nya.
__ADS_1
Breena pun langsung menoleh. Tapi wajah nya tetap masih saja cemberut.
"Umi kenapa cemberut begitu? Nggak biasa nya Umi itu seperti ini. Kenapa Hem? Umi ingin apa?" tanya Dayyan lembut sambil mengelus puncak kepala istri nya.
"Mereka jahat Mas. Mereka nggak mau ikutin permintaan Breena. Uda Breena bilang sama Papa, agar memberitahukan para pekerja disini kalau Breena nggak mau di istimewakan dan di hormati seperti ini. Tapi mereka tetap aja melakukan itu Mas. Breena mau nya itu di anggap sama seperti Dokter Dokter KOAS yang lain nya" ucap Breena kesal.
"Mungkin mereka lupa sayang. Uda iya jangan cemberut lagi iya" bujuk Dayyan.
Breena hanya diam. Ia masih ngambek sama Papa nya. Tak lama Papa Doni pun datang bersama dengan Mama Ratih. Mereka masih menggunakan jas Dokter nya.
"Dokter Doni, Dokter Ratih" sapa Dokter Kepala dan perawat sambil menunduk kan kepala mereka.
"Dokter Rini, apa kamu tidak mendapat kan email tentang permintaan saya beberapa hari yang lalu?" tanya Papa Doni dengan wajah datar nya.
"Maaf Dokter. Saya belum memeriksa email. Saya tidak tau tentang permintaan itu Dokter" ucap Dokter Rini dengan tenang. Karena ia tau Dokter Doni tidak akan marah kalau tidak ada yang mengusik nya.
"Lalu bagaimana dengan kalian?" tanya Papa Doni kepada perawat disana.
"Baik lah kalau begitu, lakukan apa yang ada di dalam email yang saya kirim itu mulai hari ini. Dan jangan lupa untuk mengingatkan rekan rekan kalian yang lain nya juga" ucap Papa Doni sengaja menjeda ucapan nya.
"Biar princess kita nggak ngambek lagi. Susah kalau ngambek. Apa lagi dia lagi hamil gitu" ucap Papa Doni sepelan mungkin yang hanya bisa di dengar oleh perawat dan Dokter Rini.
Setelah mengatakan itu. Papa Doni oun menghampiri anak nya yang sedang di bujuk oleh menantu nya.
"Princess" panggil Papa Doni.
Breena tak menjawab, dia justru mengalihkan pandangan nya ke arah yang lain.
"Waahh Mah, princess kita lagi ngambek ini. Duuhh gimana ini Mah. Pada hal Papa punya rencana mau baberque loh di rumah. Papa mau ngundang semua nya biar rumah kita ramai. Tapi kalau princess kita ngambek. Kaya nya rencana itu Papa batal kan aja deh" ucap Papa Doni sengaja mengatakan mau membuat acara baberque'an dengan yang lain nya.
Breena pun membulat kan mata nya. Bagaimana bisa rencana itu di batalin, sedang kan dia uda ngiler begitu mendengar kata baberque.
__ADS_1
"Stoooppp oke Breena nggak ngambek lagi. Tapi tetap harus memperlakukan Breena seperti Dokter yang lain nya. Jangan di hormati seperti biasa nya. Kalau nggak Breena akan terbang ke Belanda nyusul Kak Ansel di rumah GrandMa" ancam Breena lagi.
"Duuhh Pah, kok makin jauh gitu ancaman nya. Ke Belanda Pah. Terus nanti siapa yang jadi anak Mama?" goda Mama Ratih.
"Iya tetap Breena dong Mah" protes Breena langsung di tanggapi dengan kekehan oleh Mama Ratih dan Papa Doni. Sedangkan Dokter Rini hanya menggelengkan kepala nya.
"Iya uda kalau gitu jangan ngambek lagi iya. Kan mau KOAS kan? Lihat tuh kaju di lihatin sama teman teman KOAS kamu yang lain nya" ucap Mama Ratih sambil menunjuk kearah Dokter KOAS yang lain nya.
Breena pun langsung menyembunyikan wajah nya di dada bidang sang suami. Seketika tawa terdengar disana.
"Dokter Rini kalau begitu jangan perlakukan putri ku seperti biasa nya. Perlakukan dia seperti Dokter KOAS lain nya"
"Baik Dokter Doni"
"Mama pergi dulu iya sayang. Ada operasi 10 menit lagi" pamit Mama Ratih kemudian mencium pipi putri nya.
"Papa juga pamit iya. Mau balik ke ruangan Papa. Papa masih ada perlu sama suami kamu sayang. Kamu jangan ngambek lagi iya" ucap Papa Doni.
Breena pun hanya mengangguk kan kepala nya. Kemudian ia beralih menatap suami nya. Seakan mengerti, Dayyan langsung menanyakan apa yang di mau oleh istri nya.
"Mau apa Umi?" tanya Dayyan lembut.
"Abi, Dedek mau jalan jalan nanti setelah pulang. Boleh?" ucap Breena dengan mata yang menggemaskan.
"Anak Anak Abi mau kemana Hem?" tanya Dayyan sambil mengelus perut Breena.
"Mau shooping, boleh Abi? Tapi shooping nya sama Aunty Anggi, Aunty Ani, Aunty Selvi dan Aunty Anita"
"Boleh sayang. Apa nanti Abi bilang sama semua Aunty nya kamu iya. Kalau gitu jangan buat Umi ngambek lagi iya sayang sayang nya Abi. Kalian harus baik budi di dalam sini iya"
"Oke Abi. Kami janji" ucap Breena menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
Dayyan kemudian berlalu dari hadapan Breena setelah mencium puncak kepala Breena dan anak anak nya.